Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Orang Ketiga


__ADS_3

Peluh membasahi tubuh dua anak manusia yang baru saja menyelesaikan hajat besar mereka. Gabrielle dan Elea, sepasang suami itu nampak terengah-engah setelah mengarungi badai di lautan kenikmatan.


"Aku lelah Kak Iel" bisik Elea dengan mata setengah terpejam.


Gabrielle tersenyum. Karena kesal keinginannya yang terus tertunda, dia tadi benar-benar tidak membiarkan Elea istirahat barang sejenak. Gabrielle terlalu bernafsu sampai-sampai dia tidak mempedulikan rengekan istrinya yang terus mengeluh kelelahan.


"Kak Iel aku lelah" rengek Elea kemudian menatap suaminya dengan sayu. "Aku benar-benar sangat lelah Kak."


"Iya sayang aku tahu. Sekarang tidurlah, kali ini aku tidak akan mengganggumu lagi" sahut Gabrielle sambil mengulum senyum.


"Kalau sudah tidak mau mengganggu lagi kenapa tangan Kakak masih ada di bawah sana? Singkirkan!" omel Elea pelan.


"Hehe, aku hanya ingin menjaga milikku saja, sayang. Tidurlah, aku janji tidak akan melakukan apapun lagi padamu!.


"Bohong!.


"Tidak" kilah Gabrielle.


"Benar?" bisik Elea dengan mata yang kembali terpejam.


Gabrielle mengangguk. Satu tangannya dia gunakan untuk mengusap keringat yang masih membasahi wajah Elea. Dia kemudian tersenyum ketika mendengar suara dengkuran halus yang menandakan kalau istrinya sudah terlelap.


"Maaf sayang, tubuhmu benar-benar membuatku hilang kendali. Kau sangat candu asal kau tahu" bisik Gabrielle sambil terus menatap wajah cantik istrinya.


Elea menggeliat ketika merasa terganggu saat Gabrielle menyentil ujung hidung mungilnya. Dia bergumam, yang mana membuat suaminya terkekeh pelan.


"Sangat menggemaskan!.


Setelah memastikan Elea benar-benar terlelap, dengan hati-hati Gabrielle bergerak turun dari atas ranjang. Dia mengambil pakaian yang tergeletak di lantai, memakainya sambil terus memperhatikan tubuh polos istrinya dimana banyak bercak keunguan yang dia tinggalkan disana. Gabrielle gila, dia tadi menggempur Elea bagai orang kesetanan. Sekejab Gabrielle langsung ingat kalau dia dan Elea bercinta tanpa memakai pengaman.


"Astaga, apa yang aku lakukan? Bagaimana kalau Elea hamil?" ucap Gabrielle kebingungan.


Was-was akan bahaya tersebut Gabrielle segera mengambil ponselnya. Dia menjauh dari dekat ranjang kemudian menghubungi Reinhard.


"Hmmm, ada apa Gab? Kakek dan Paman Bryan baik-baik saja kan?.


Ekor mata Gabrielle melirik kearah ranjang saat mendengar suara gumaman. Dia baru menjawab pertanyaan Reinhard ketika melihat Elea sudah kembali terlelap.


"Aku lupa meminta Elea meminum obat pencegah kehamilan, Rein. Bagaimana ini? Mana aku memasukkan semua benih-benih kecebong itu di dalam rahimnya. Bagaimana kalau mereka semua hidup!" jawab Gabrielle dengan suara sepelan mungkin.


Lama Gabrielle menunggu jawaban dari Reinhard. Hal itu membuatnya menjadi semakin khawatir. Dia merutuki kebodohannya yang dengan sengaja menyirami rahim istrinya. Sembari membatin, Gabrielle memukuli kepalanya sendiri. Dia benar-benar di buat ketakutan oleh perbuatannya sendiri.


"Seharusnya benih kecebongmu tidak lolos seleksi, Gab. Karena seingatku tanggal-tanggal ini Elea tidak sedang dalam masa subur. Itu hanya dugaanku saja ya, hasil akhirnya semua tergantung tangan Tuhan. Dan kau.... sebaiknya bersiap untuk segala kondisi, Gab. Pikirkan cara untuk meyakinkan Elea agar dia bersedia menggugurkan bayinya jika benih kecebong yang kau tuai itu benar-benar hidup!.

__ADS_1


Nafas Gabrielle bagai terhenti begitu mendengar peringatan dari Reinhard. Dadanya berdebar kuat.


"M-maksudmu aborsi? Elea harus melakukan aborsi jika dia sampai mengandung, begitu?" tanya Gabrielle dengan suara bergetar.


"Iyalah. Kan aku sudah bilang padamu kalau rahim Elea itu sangat lemah. Akan sangat beresiko jika dia harus hamil di usianya yang sekarang. Perlu waktu setidaknya dua atau tiga tahun lagi untuk rahimnya siap di buahi. Aku tidak bermaksud menakutimu Gab, tapi ini adalah kenyataan yang harus kalian terima. Bersabarlah, kalian hanya perlu menunggu beberapa tahun untuk bisa memiliki anak, bukan berarti tidak bisa mempunyai anak. Kau paham kata-kataku kan?.


Gabrielle mengangguk perlahan.


"Baiklah, aku tutup dulu telfonnya!" ucap Gabrielle kemudian memutuskan panggilan.


Dengan langkah gontai Gabrielle berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia menghampiri Elea di ranjang, menatapnya penuh rasa bersalah sambil membenahkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Sayang, tolong maafkan aku. Sepertinya aku tidak akan bisa memenuhi keinginanmu yang ingin memberiku keturunan dalam waktu dekat ini. Kesehatanmu jauh lebih utama, karena kau adalah segala-galanya bagiku."


Tak tahan akan perasaan bersalahnya Gabrielle memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia membutuhkan udara segar setelah mendengar kata aborsi dari Reinhard tadi. Sambil melamun, Gabrielle berjalan menuruni anak tangga. Dia berniat pergi ke halaman belakang rumah ayah mertuanya.


Ares yang kebetulan belum tertidur tidak sengaja melihat bayangan Tuan Muda-nya yang sedang berjalan sendirian. Khawatir terjadi sesuatu, dia segera pergi menyusulnya. Ares mengernyitkan kening melihat wajah Tuan Muda-nya terlihat murung. Dan sekarang dia benar-benar yakin ada sesuatu yang telah terjadi pada banteng pencemburu itu.


"Tuan Muda, apa yang anda lakukan di tengah malam begini?.


Gabrielle menghela nafas kemudian menoleh.


"Kau belum tidur?.


"Belum, Tuan Muda. Anda sendiri kenapa belum tidur, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?.


"Elea harus di aborsi jika dia sampai mengandung anakku, Res. Karena tadi, tadi aku lupa memintanya untuk meminum obat penunda kehamilan. Aku harus bagaimana Res kalau benih-benih itu sampai tumbuh di rahimnya? Hati Elea pasti akan sangat hancur jika di minta untuk membuang calon anak kami" jawab Gabrielle mengeluarkan keluh kesahnya.


Ares tersenyum.


"Aku sedang ketakutan setengah mati dan kau malah tersenyum seperti ini? Kau cari mati ya Res!' sembur Gabrielle emosi.


"Maaf Tuan Muda, saya tidak bermaksud seperti itu" sahut Ares cepat. "Tuan Muda, anda tidak perlu risau mengenai hal itu lagi karena sebelumnya saya sudah melakukan persiapan untuk mencegah kalau-kalau masalah seperti ini terjadi."


Mata Gabrielle memicing.


"Lanjutkan!.


"Minuman yang di nikmati Nyonya Elea saat makan malam tadi sebenarnya sudah saya campurkan obat yang di berikan oleh dokter Reinhard. Bukannya saya lancang, saya hanya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di harapkan jika seandainya anda lupa untuk meminta Nyonya Elea meminum obat tersebut. Jadi sebelum pelayan membawa makan malam ke kamar anda, saya sudah lebih dulu mencampurkan obat ke dalamnya. Maaf jika tindakan saya membuat perasaan anda menjadi tidak nyaman, Tuan Muda!" jelas Ares kemudian membungkukkan badan.


Greeppp


Ares kaget setengah mati saat dia di peluk oleh Tuan Muda-nya. Setelah itu dia tersenyum sembari mengusap punggung pria yang sedang memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah menyelamatkan istriku, Res. Terima kasih!" ucap Gabrielle terharu. "Astaga, akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang. Huffttt, sekali lagi terima kasih, kau benar-benar penyelamat hidupku Res, kau pahlawanku!.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk memastikan kebahagiaan di hidup anda dan Nyonya Elea, Tuan Muda. Tidak perlu sungkan" jawab Ares.


"Tetap saja malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau kau tidak memberitahu hal ini padaku, Res. Huffttt astaga, rasanya aku seperti baru keluar dari dalam penjara yang sangat gelap. Dadaku sangat plong sekarang!.


Gabrielle melepaskan pelukannya kemudian menepuk bahu Ares beberapa kali. Asistennya satu ini memang selalu bisa di andalkan dalam segala hal. Gabrielle tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika saja Ares tidak menaburkan obat pencegah kehamilan ke dalam makanan yang di nikmati oleh Elea tadi. Hidup istrinya pasti akan sangat hancur jika di paksa untuk membunuh bayi mereka.


"Apa kau ada permintaan?.


"Permintaan? Apa maksud anda, Tuan Muda?" tanya Ares bingung.


"Malam ini kau telah menyelamatkan hidupku, Res. Jadi aku akan mengabulkan apapun yang kau minta sebagai ucapan rasa terima kasihku padamu. Apapun itu asalkan masih di batas wajarku sebagai seorang manusia biasa!.


Seulas senyum muncul di bibir Ares. Ini yang dia suka dari Tuan Muda-nya. Majikannya ini tak pernah lupa untuk membalas kebaikan dari orang yang telah berjasa dalam hidupnya.


"Ayo cepat katakan padaku apa yang kau inginkan, Res!" desak Gabrielle.


"Hanya satu yang saya inginkan, Tuan Muda!.


"Apa?.


"Hiduplah dengan bahagia bersama Nyonya Elea. Karena kebahagiaan kalian adalah puncak dari kesuksesan saya selama mengabdi kepada anda" jawab Ares di barengi dengan senyum ketulusan.


Gabrielle tertegun.


"Ini sudah malam, sebaiknya anda segera pergi istirahat di kamar. Kasihan Nyonya Elea sendirian disana" ucap Ares.


"Ares?" panggil Gabrielle.


"Iya, Tuan Muda!.


"Kau akan menjadi orang ketiga dalam hidupku setelah istri dan keluargaku. Terima kasih, aku bangga memiliki saudara sepertimu" ucap Gabrielle kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.


Ares menatap kepergian Tuan Muda-nya dengan penuh rasa haru. Kata saudara benar-benar sangat mengena di hatinya.


"Ayah, Ibu.. Aku akan memegang janjiku pada kalian untuk selalu melindungi Keluarga Nyonya Besar Liona. Karena tanpa kebaikan hatinya kita semua tidak akan bisa mempunyai kehidupan yang bahagia seperti sekarang. Nyonya Besar Liona adalah pahlawan yang sebenarnya, dan kita adalah orang yang paling beruntung karena bisa menjadi bagian dari wanita luar biasa itu. Terima kasih Nyonya Besar Liona, terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini!.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2