
"Permisi, bisa tolong buka pintunya? Aku ingin memeriksa Nona Elea" ucap Reinhard pada penjaga yang berdiri di depan pintu kamar rawat istrinya Gabrielle.
Penjaga itu menatap curiga kearah Reinhard. Sadar kalau dirinya sedang di curigai, Reinhard segera mengeluarkan kartu namanya. "Astaga kalian ini, aku adalah direktur rumah sakit yang di rekrut langsung oleh Tuan Muda kalian. Bukankah kalian juga sudah sering melihatku keluar masuk ke kamar ini? Masih saja di curigai."
"Maaf dokter Reinhard, kami hanya merasa aneh saja dengan sikap anda. Tidak biasanya anda meminta izin untuk masuk ke dalam" sahut salah satu penjaga sambil terus menelisik tubuh dan wajah dokter di hadapannya.
Reinhard mendengus. "Gabrielle, awas saja kau. Bisa-bisanya kau membuat pengaturan seperti ini untuk dokter yang menangani istrimu. Huh, tunggu dan lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu nanti!."
Mendengar gerutuan Reinhard, barulah penjaga itu percaya kalau dokter di hadapannya bukanlah dokter palsu. Mereka lalu membukakan pintu dan mempersilahkan Reinhard untuk masuk ke dalam.
"Silahkan dokter Reinhard, maaf atas kelancangan kami barusan."
"Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi kenapa kalian seperti itu. Ya sudah, aku masuk dulu. Kalian berjagalah dengan benar. Oh iya, aku nanti akan membawa Nona Elea untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nanti tolong kalian bantu ya, aku kekurangan tenaga medis karena para perawat sedang sibuk menangani pasien yang terus berdatangan" ucap Reinhard sambil melihat jam di tangannya.
"Baik dokter Reinhard!."
Setelahnya Reinhard segera datang menemui Elea. Dia tersenyum melihat gadis kecil itu yang tengah tertawa sambil menonton komedi lawak di televisi. Tak ingin membuatnya terkejut, Reinhard mengetuk meja yang berada tak jauh dari pintu.
"Permisi Nona, apa aku boleh masuk?."
Elea yang sedang tertawa langsung terdiam setelah mendengar sebuah suara. Dia lalu menoleh. "Kak Reinhard, Kakak di sini?."
"Iya" sahut Reinhard sambil berjalan menuju ranjang tempat Elea berada. "Apa yang sedang kau lakukan, Elea?."
Tiba-tiba tengkuk Elea meremang. Dia menatap lekat kearah pria yang sedang tersenyum aneh padanya. "Dokter Jackson, apa itu kau? Aku,aku bisa mengenali suaramu!."
Langkah Reinhard terhenti kemudian dia menyeringai lebar. Dia lalu mengeluarkan jarum suntik yang dia sembunyikan di balik jas dokter yang di kenakannya. "Oh sayangku, tidak kusangka kau bisa mengenali penyamaranku dengan begitu mudah. Ck, ternyata kau jauh lebih pintar dari para penjaga yang berada di depan pintu kamar ini. Aku jadi semakin menginginkanmu, sayang!."
Bibir Elea gemetar hebat. Dia lalu melihat kearah ponsel yang tergeletak di meja samping ranjang tidurnya. Sadar akan kemana arah pergerakan Elea, dengan cepat Jackson mengambil ponsel tersebut kemudian menonaktifkannya. Dia lalu membuang ponsel tersebut ke dalam tong sampah.
"Uppss, sepertinya kau tidak bisa menghubungi dewa pelindungmu, sayang. Maaf ya, aku tidak sengaja membuangnya" ejek Jackson sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"M,mau mau apa kau orang jahat. Pe,pergi, jangan ganggu aku lagi!" usir Elea ketakutan. "Paman penjaga, tolong aku. Ada, ada penjahat di sini. Tolong aku Paman, toloooooong....!."
Jackson terbahak-bahak melihat gadis kecilnya berteriak meminta pertolongan. Dengan kasar dia mencengkeram dagu Eleanor hingga membuatnya jatuh terbaring di ranjang. Dia lalu menaiki tubuh Elea, mengabaikan lenguh kesakitan akibat lukanya yang tertindih.
"Toloooong... Paman penjaga, tolong aku!" teriak Elea sekencang-kencangnya sambil berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku penjahat, lepasssss..!."
"Tidak semudah itu aku melepaskanmu sayang. Um, bagaimana kalau sebelum pergi dari sini kita bernostalgia tentang kenangan tujuh tahun lalu? Kau pasti ingat betul kan kalau aku belum menyelesaikan apa yang tertunda malam itu? Eleanor, kau terus membuatku gila setelah malam itu. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menuntaskannya, aku tidak mau menunda-nunda lagi sayangku...!."
Tok, tok, tok
"Nyonya Elea, dokter Reinhard, apa di dalam baik-baik saja?."
Jackson segera menutup wajah Elea menggunakan bantal saat mendengar suara penjaga. Dia menggeretakkan gigi menahan amarah karena merasa terganggu.
Sial, sial, sial
"Eeemmmpphhh.... Emmpptthhhhhh..." Elea mencoba berteriak meskipun wajahnya tertutup bantal. Dia baru terdiam saat merasakan sebuah suntikan di lengan kanannya. 'Kak Iel, tolong selamatkan aku...'
Jackson tersenyum kemudian turun dari atas tubuh Eleanor. Dia lalu membuka bantal yang menutupi wajahnya, dengan penuh obsesi dia menelusuri bibir gadis kecilnya yang sudah memucat. "Sayang, kau terlalu berani mencari perhatian dari pria lain. Jadi jangan salahkan aku terpaksa menyuntikmu dengan obat bius. Emm, sayang sekali sepertinya aku masih belum bisa membawamu pergi dari sini sekarang. Paman penjagamu itu bisa-bisa curiga jika aku membawamu paksa."
"Ssstttt, Nona Elea sedang istirahat setelah aku memberinya obat. Kalian jangan mengganggunya!."
Seakan tak percaya, penjaga itu melongok masuk untuk memastikan kebenaran dari perkataan Reinhard. Dia baru merasa lega setelah melihat dengan matanya sendiri kalo Nyonya kecil mereka tengah tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit. Setelah itu dia buru-buru meminta maaf pada dokter yang tengah menatap mereka dengan kesal.
"Maaf dokter Reinhard, tadi kami mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Jadi kami perlu memastikan kalau keadaan Nyonya kecil baik-baik saja. Sekali lagi kami minta maaf, dokter Reinhard" ucap penjaga sungkan.
Rahang Jackson mengetat saat penjaga ini menyebut Eleanor sebagai Nyonya kecil mereka. Ingin sekali rasanya dia memenggal kepala pria keparat ini. Berani-beraninya dia mengatakan hal menjijikkan seperti itu pada gadis kecilnya. Membuatnya sangat muak.
"Nona Elea berteriak karena dia takut pada jarum suntik yang aku bawa, bukan karena aku yang ingin melakukan hal buruk padanya. Pikiran kalian terlalu jauh, aku di sini di minta untuk mengobati istri Tuan Muda kalian, bukan untuk mencelakainya. Jadi lain kali jangan berfikiran yang aneh-aneh terhadapku. Oke?" sahut Jackson sembari menahan gejolak emosinya.
"Baik dokter Reinhard. Sekali lagi kami minta maaf" ucap penjaga kemudian membungkukkan badan.
__ADS_1
Reinhard mengangguk. Dia lalu beranjak pergi dari sana dengan membawa kekesalan terhadap penjaga yang berbicara dengannya tadi. Sambil mengawasi keadaan, Jackson membuka wajah palsu yang dia gunakan untuk menyamar sebagai Reinhard, dokter yang di percaya Gabrielle untuk merawat Eleanor. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam mobil dimana Fendry sudah menunggunya.
"Jalan!."
"Kau tidak jadi menculik Elea?" tanya Fendry sambil menghidupkan mesin mobil. "Jangan bilang kau ketahuan oleh penjaga yang berjaga di sana, Jack."
"Diamlah. Keadaan tidak memungkinkan saat aku ingin membawa Eleanor keluar dari sana. Penjaga yang berada di sana cukup teliti, mereka mendengar suara jeritan Eleanor saat aku sedang menyiksanya" jawab Jackson kesal. "Shitttt, awas saja, lain kali aku pastikan tidak akan gagal lagi. Kau pikirkan lah cara untuk menembus keamanan di sana Fendry!."
"Baiklah!."
Tanpa di ketahui oleh Jackson, di samping mobil mereka tadi sebenarnya ada seseorang yang sedang mengawasinya. Dialah wanita paling berbahaya di Keluarga Ma, Liona Serra. Saat Jackson sedang menyusup ke kamar Elea, Fendry datang melapor pada tuannya. Dia menjelaskan dengan sangat rinci apa saja yang akan di lakukan oleh pembunuh berdarah dingin itu.
"Honey, bagaimana menurutmu?" tanya Greg sambil membelai rambut wanita yang sedang duduk menyender di dadanya.
"Biarkan saja, toh Jackson tidak berhasil membawa menantu kita keluar. Sepertinya kali ini Gabrielle cukup siaga dengan menempatkan anak buah yang cerdik untuk menjaga istrinya" jawab Liona santai.
Greg mengangguk. "Apa kita perlu memberitahukan hal ini padanya?."
"Tidak perlu, Greg. Nanti Gabrielle akan tahu sendiri setelah Elea mengatakan padanya kalau dia mendapat kunjungan tak terduga dari Jackson."
"Ya sudah kalau begitu menurutmu. Oh ya Hon, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke rumah Cleo saja. Aku dengar dia sedang sangat sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan untuk putri kita" ajak Greg. "Astaga, kita yang jadi orangtua kandungnya Grizelle malah asik berduaan, sementara dia yang hanya bibinya sibuk mengambil alih bagian yang seharusnya menjadi tugas kita. Dunia sudah terbalik rupanya!."
Liona tersenyum. Dia lalu meminta Hansen untuk melajukan mobil menuju kediaman adik iparnya. Sebenarnya bukan maksud hati ingin mengabaikan hal bahagia ini, hanya saja menurut Liona Cleo lebih berhak melakukannya karena sejak Grizelle masih bayi dia sudah memimpikan hal ini. Anggap saja Liona menyerahkan Grizelle sepenuhnya demi untuk menjadi pelipur lara setelah Cleo sadar telah kehilangan Ariana, putri yang dia damba-dambakan sebelum kejadian naas itu merenggutnya....
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...