Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Bawang Merah


__ADS_3

Elea menatap takjub rumah megah milik neneknya. Rumah ini mungkin hampir sama besarnya dengan rumah megah milik suaminya. Sebelum keluar dari dalam mobil, Elea menatap lekat kearah dua orang yang berdiri di sebelah neneknya. Keningnya mengernyit.


"Sayang, ada apa?" tanya Gabrielle heran melihat istrinya terdiam seperti orang meragu.


"Wanita dan pria itu... Mereka sepertinya bukan orang baik Kak" jawab Elea. "Jangan-jangan wanita itu adalah si bawang merah yang tinggal di rumah ini."


"Bawang merah?."


"Iya bawang merah" sahut Elea. "Si pemeran antagonis, orang jahat yang selalu mengganggu dan menyakiti si bawang putih!."


Bibir Gabrielle berkedut. Entah darimana istrinya mendapat kata-kata nyeleneh begini. Setahunya, bawang merah dan bawang putih adalah nama makanan yang di gunakan koki untuk menjadi bumbu pelengkap di dapur. Tapi ya sudahlah, suka-suka istrinya mau menjuluki kedua orang itu seperti apa. Yang jelas, Gabrielle tidak akan membiarkan siapapun menyakiti istrinya. Dia sebelumnya juga sudah di beritahu oleh neneknya Elea kalau di rumah ini ada dua ekor siluman yang harus di waspadai. Dan kedua siluman tersebut adalah si bawang merah yang menurut istrinya adalah orang jahat.


"Biarkan saja mereka mau berbuat apa. Asal tidak mengganggumu maka aku tidak akan mempedulikan mereka!" ucap Gabrielle kemudian mencium tangan Elea. "Kita masuk?."


"Baiklah...!."


Bak seorang pelayan, Gabrielle melindungi kepala Elea agar tidak terantuk bagian atas mobil. Dia mengulurkan tangan, tersenyum sambil mempersilahkan istrinya keluar dari dalam mobil.


"Silahkan, Tuan Putri!."


"Apalah Kak Iel ini, aku kan jadi malu" ucap Elea tersipu.


"Oh ayolah Gabrielle, Elea.. Berhenti bermain drama raja dan ratu di sini. Lihat, kaki semua orang itu sudah berjangkar karena menunggu kalian sejak tadi!" sindir Levi sambil memutar bola matanya jengah.


Saat berangkat kemari, Reinhard dan Levi berada di mobil yang berbeda. Dan mereka sudah cukup lama berdiri di sana menunggu pasangan suami istri ini keluar dari dalam mobil.


"Galak sekali sih" celetuk Elea lirih.


"Aku mendengarnya, Elea!."


"Hehehe, maaf lah Kak!."


Levi mendengus. Dia lalu menoleh saat merasakan elusan lembut di punggungnya.

__ADS_1


Clarissa yang melihat cucunya sudah datang segera berjalan menghampiri. Senyumnya nampak merekah saat merentangkan kedua tangannya kearah Elea.


"Elea, sayangku, kemarilah Nak. Grandma sangat merindukanmu!."


Kimmy dan Fulgi sangat kaget mendengar nama gadis yang kini sedang berada di pelukan Clarissa. Keduanya saling menatap dengan kening mengerut.


"Ma, bukankah nama anak Bibi itu Sandara? Lalu kenapa dia memanggilnya Elea?" bisik Fulgi sambil terus memperhatikan gadis yang menjadi rivalnya. "Dia juga terlihat masih sangat muda."


"Entahlah, Mama pun bingung. Atau jangan-jangan wanita tua ini berniat mengelabui kita berdua dengan sengaja menggantikan Sandara dengan gadis itu?" sahut Kimmy menerka-nerka.


Setelah saling bingung dan menebak siapa gadis yang bernama Elea, Kimmy memutuskan untuk datang mendekat. Dia sangat penasaran dengan gadis ini.


"Ekhmmm Clarissa, siapa dia?."


Clarissa melepaskan pelukannya kemudian menggenggam tangan cucunya dengan lembut. Dengan senyum merekah dia memperkenalkan Elea pada Kimmy.


"Namanya Elea. Dia adalah cucuku, anaknya Sandara" jawab Clarissa sambil tersenyum. "Sayangku, perkenalkan, dia adalah Bibimu. Namanya Kimmy, dan pria yang di sana adalah putranya, kau bisa memanggilnya Fulgi!."


Gabrielle mengepalkan tangan saat dia menangkap raut kebencian di wajah Kimmy dan Fulgi begitu mereka di beritahu siapa istrinya. Tak ingin terjadi sesuatu, Gabrielle segera menarik Elea ke pelukannya. Clarissa yang sadar akan perlakuan Gabrielle hanya tersenyum kecil. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung saat cucunya di rebut paksa seperti itu.


Tatapan Elea menyendu saat sapaannya di abaikan begitu saja oleh kedua orang itu. Sedetik kemudian dia di buat kaget oleh kata-kata pedas yang terlontar dari mulutnya Levi.


"Cih, sudah menumpang masih saja kalian bersikap acuh pada cucu si pemilik rumah. Dasar tidak tahu diri, muka tembok!."


"Apa kau bilang?" sentak Kimmy tak terima.


"Aku bilang kau dan putramu itu tak tahu diri dan bermuka tembok. Kenapa memangnya? Tidak suka? Mau protes? Iya?" tantang Levi tanpa merasa takut sedikitpun.


Dari awal melihat kedua makhluk astral ini Levi sudah mencium aroma yang tidak sedap dari keduanya. Dan itu terbukti saat mereka mengabaikan sapaan Elea. Kelakuan kedua makhluk astral ini tentu saja membuat Levi meradang, dia tidak terima melihat teman kecilnya tak di anggap. Terlebih lagi oleh mereka yang jelas-jelas hanya menumpang hidup pada Nyonya Wu.


"Kau.. Yaakkkk, jangan sembarangan bicara. Aku adalah pemilik rumah ini juga asal kau mau tahu!" teriak Kimmy dengan wajah merah padam.


"Pemilik rumah kau bilang? Hahahhahaa... Hei Nyonya Kimmy, jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau itu adalah anak dari seorang wanita yang hanya di nikahi secara siri oleh almarhum Tuan Frederick. Dan putramu itu, apakah kau tidak malu memberinya gelar Bangsawan Wu di belakang namanya? Dia itu kan anak mantan suamimu yang hanya seorang pengusaha biasa. Harusnya dia tidak menggunakan nama Keluarga Wu. Dasar tidak tahu malu!" ejek Levi seenaknya. "Dan ya, orang yang paling berhak menyandang nama Keluarga Wu itu hanya Nyonya Clarissa dan Elea. Tapi karena kau adalah darah dagingnya Tuan Frederick juga maka aku masih bisa mentolerir tentang nama kebangsawananmu itu. Jadi kau jangan coba-coba tak menganggap keberadaan Elea di sini. Kalian berdua akan berhadapan denganku jika berani mengabaikannya. Ingat itu!."

__ADS_1


Clarissa, Cira, Ares dan Reinhard tercengang melihat betapa beraninya Levi merendahkan Kimmy dan juga Fulgi. Sungguh, mulut gadis ini sangat luar biasa. Tak ingin membuat keadaan di sana menjadi kacau, cepat-cepat Reinhard membujuk Levi supaya tak lagi bicara kasar. Dia merasa sangat tidak enak pada tuan rumah.


"Levi sudah!" ucap Reinhard sembari mengelus pundak kekasihnya. "Tidak enak pada Nyonya Kimmy dan putranya. Sudah ya?."


"Biar saja Rein. Mereka berdua harus tahu posisi mereka di rumah ini. Seenaknya saja ingin merendahkan ahli waris dari Keluarga Wu, mimpi saja kalian!" sahut Levi kesal kemudian menoleh kearah Elea yang sedang terbengang menatapnya. "Dan kau Elea, jangan ragu untuk menghajar kedua makhluk astral itu kalau mereka berani menyakitimu. Tenang saja, kapanpun kau membutuhkan bantuanku, aku pasti akan segera datang dengan cakar mautku. Akan ku buat mereka tak lagi berani menatap dunia. Mengerti tidak!."


"Me,mengerti Kak!" sahut Elea tergagap.


Kimmy dan Fulgi mati kutu saat Levi memperjelas status mereka di rumah ini. Mereka berdua hanya bisa diam tanpa berani bersuara lagi karena apa yang di katakan oleh Levi adalah sebuah kebenaran. Dalam hatinya Fulgi, gadis yang baru saja menghina dia dan ibunya akan dia masukkan dalam daftar orang yang akan di singkirkan. Fulgi sangat tidak terima dengan penghinaan ini. Sayangnya Fulgi tak tahu kalau apa yang sedang dia rencanakan sudah di ketahui oleh orang lain. Dan orang itu adalah Gabrielle, pria yang sedang memeluk rivalnya.


"Kak Iel, sepertinya aku salah memberi peran!" bisik Elea.


"Maksudmu?" tanya Gabrielle tak mengerti.


"Awalnya aku kira yang jadi pemeran antagonis itu Bibi Kimmy dan putranya, tapi ternyata Kak Levi jauh lebih cocok menjadi bawang merahnya. Kakak lihat tidak saat Kak Levi memaki mereka tadi, aura jahatnya langsung memancar keluar. Dia terlihat sangat totalitas saat meluapkan emosinya. Benar-benar cocok sekali menjadi bawang merah yang sangat jahat" jawab Elea sambil berdecak kagum akan kehebatan Levi dalam menghina orang lain.


Gabrielle terkekeh kemudian melirik kearah Levi yang sedang di bujuk oleh Reinhard. Dia akui, kemampuan Levi memang tak main-main dalam hal memaki orang. Dan Gabrielle merasa sangat beruntung karena wanita bar-bar itu berada di pihak istrinya, akan sangat merepotkan kalau seandainya Levi berada di pihak lawan. Tak terbayangkan seperti apa rasanya jika wanita itu sudah mengeluarkan taringnya.


"Sudah sudah, lebih baik kita semua masuk ke dalam saja. Kalian pasti belum sarapan kan?" ajak Clarissa yang merasa puas setelah menyaksikan saudari tirinya di permalukan dengan sangat telak oleh model cantik ini.


"Belum Grandma" sahut Elea.


"Kalau begitu tunggu apalagi. Ayo masuk!."


Akhirnya semua orang masuk ke dalam rumah memenuhi ajakan Clarissa. Saat Levi melewati Kimmy dan putranya, mulutnya nampak berkomat-kamit sambil menatap sinis kearah keduanya. Reinhard yang melihat hal itu segera mengusap wajah Levi dengan cepat. Dia lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kimmy dan juga Fulgi yang sedang berdiri diam seperti orang bodoh.


'Wanita itu kenapa mengerikan sekali sih. Bulu kudukku sampai berdiri semua!.'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2