Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Teman Bicara


__ADS_3

"Hey, ada apa dengan wajahmu Gleen? Kenapa kau terlihat tidak semangat sekali?" tanya Junio kaget melihat kondisi sahabatnya yang terlihat sedikit...menyedihkan.


Gleen diam saja kemudian menarik nafas panjang. Sudah seharian ini dia menunggu di halaman rumah sakit tapi Gabrielle maupun Elea tak kunjung memberinya izin untuk bertemu Lusi setelah lima menit yang menyebalkan itu. Kesal karena di abaikan, Gleen lalu memutuskan untuk datang ke perusahaan. Dia butuh teman bicara.


"Ada apa Gleen? Apa Lusi meninggal?.


"Sembarangan" kesal Gleen kemudian duduk di sofa ruangan milik Junio. "Gabrielle dan istrinya membuat ulah. Mereka menghukumku dengan sengaja menjauhkan Lusi dariku, Jun. Aku bahkan seharian ini di buat seperti orang gila karena mereka melarangku masuk ke dalam rumah sakit!.


Junio terperangah.


"Memangnya apa yang sudah kau lakukan pada mereka, Gleen? Mereka tidak mungkin memberimu hukuman tanpa alasan kan?" tanya Junio keheranan.


"Mereka menghukumku karena kejadian kemarin, Jun. Elea tidak terima ibu sambungnya babak belur di tanganku. Dia lalu membalas dendam dengan cara melarangku bertemu dengan Lusi. Gila tidak menurutmu" jawab Gleen lesu.


"Pffttt, hahahaaaaa....."


Junio terbahak-bahak begitu tahu alasan Gleen di hukum. Tubuh kekarnya sampai berguncang karena terlalu senang mendengar hal tersebut.


"Baiklah, tertawalah terus Jun. Tunggu saja waktumu tiba di permainkan oleh istrinya Gabrielle!" kesal Gleen sambil memicingkan mata.


"Hahahahahaha... Astaga perutku" ucap Junio sambil memegangi perutnya yang terasa kaku. "Gleen, istrinya Gabrielle benar-benar sangat luar biasa. Hanya dia saja yang berani menghukummu sampai seperti ini. Sungguh, aku sangat salut padanya."


Gleen mendengus marah. Dia kemudian menyenderkan tubuhnya ke sofa, memejamkan mata sambil membayangkan wajah Lusi yang di penuhi luka. Mata Gleen kembali terbuka saat dia teringat dengan tujuannya menyusul Junio ke perusahaan.

__ADS_1


"Jun, bagaimana kabar Patricia? Dia masih hidup kan?.


"Tentu saja masih lah. Aku mana berani melawan keinginan Gabrielle, Gleen. Bisa-bisa aku berakhir konyol di tangan keluarganya" jawab Junio sembari memainkan pena yang sedang dia genggam. "Patricia cukup bebal. Dia masih sempat berfikir untuk melarikan diri setelah apa yang aku lakukan kepadanya. Baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang tidak mengenal takut sepertinya. Sungguh sangat menantang."


"Jadi, apa kau mulai menyimpan perasaan lebih untuknya? Mungkinkah seorang Morigan Junio bisa jatuh cinta pada tahanannya sendiri?" ejek Gleen penuh maksud.


"Bicara apa kau. Otakku masih waras untuk bisa tertarik pada wanita seperti Patricia. Paras yang dia miliki membuatku muak, aku benar-benar sangat membenci wajah cantiknya. Bahkan pagi tadi aku hampir saja menyiram wajah Patricia dengan air keras saat terbangun dari tidur. Menjijikkan!" sahut Junio sambil bergidik geli.


Terdengar bunyi ketukan pena di atas meja. Setelah Junio berkata seperti itu, tiba-tiba saja wajah sedih Patricia yang sedang menangis melintas di kelopak matanya. Dia sedikit terusik, membuat Junio merasa tidak nyaman.


"Jun, aku sudah menemukan wanitaku. Kapan kau akan mengakhiri semua ini? Apa kau tidak tertarik untuk membina rumah tangga? Tidak tertarik mempunyai seorang jagoan, hm?.


Belasan tahun bersama Junio membuat Gleen sangat memahami penderitaannya. Sebenarnya Junio tidaklah kejam, sahabatnya ini hanya tertekan dengan masa lalu yang menggores kejiwaannya. Beberapa kali Gleen pernah mendekatkannya dengan wanita, namun hasilnya nihil. Semua wanita itu menyerah di awal perkenalan. Junio berubah menjadi pria yang kaku ketika ada wanita yang benar-benar tulus mendekatinya. Namun obsesinya bisa langsung bangkit ketika dia menginginkan wanita berparas cantik. Ya, kelemahan sahabatnya adalah di dekati, bukan mendekati. Inilah yang berhasil Gleen temukan setelah sekian lama mereka menjadi sahabat.


"Sepertinya itu akan sedikit sulit."


"Kenapa begitu?.


"Lusi akan melanjutkan pendidikan bersama Elea, dan aku yakin sekali gadis itu tidak akan mau kuajak berkhianat" jawab Gleen sambil menatap langit-langit ruangan. "Junio, apa aku perlu menculiknya kemudian membawanya pergi ke luar negeri? Aku punya firasat kalau hubunganku dengan Lusi akan di recoki oleh Gabrielle dan istrinya. Mereka berdua itu menyimpan niat jahat untuk memisahkan kami berdua."


"Hehehehe, coba saja kalau kau bisa melakukannya. Kalau aku sih tidak menjamin, mungkin kau baru akan menginjak halaman rumah Gabrielle orang-orangnya Nyonya Liona sudah ada di belakangmu. Percaya tidak, telinga ibunya Gabrielle itu seperti ada dimana-mana. Mata mereka seakan mengikuti pergerakan dari semua orang yang berada dekat dengan lingkaran keluarga mereka. Belum lagi dengan Organisasi Grisi yang sangat terahasia itu. Mana mungkin kau bisa bebas membawa Lusi pergi dari sana? Kau hanya akan mati konyol Gleen, percaya padaku" jawab Junio sambil tertawa-tawa.


"Haiisshhhhh, kenapa rumit sekali sih. Kenapa juga Lusi harus tinggal dan menjadi bawahannya Gabrielle. Kalau begini kan semuanya jadi serba salah. Bertahan sakit, menculiknya malah jauh lebih sakit. Ya Tuhan!" keluh Gleen kemudian mengusap wajahnya berulang kali.

__ADS_1


"Bersabarlah. Aku yakin Gabrielle dan Elea tidak akan sekejam itu padamu. Mereka berbuat seperti ini karena memang kau salah, Gleen. Sudah tahu itu ibu sambungnya Elea masih saja kau serang. Sebagai anak tentu saja dia terima lah" sahut Junio sambil berjalan menghampiri sahabatnya yang sedang frustasi.


"Aku mana tahu kalau itu ibu sambungnya Elea, Jun. Siapa yang menduga kalau wanita itu akan berada di lokasi kejadian. Di tambah lagi saat itu Lusi terjebak dalam kobaran api. Sudah pasti aku langsung mengira kalau dialah yang sengaja ingin mencelakai kekasihku karena memang hanya ada dia di sana. Selama ini yang kita tahu kan hanya Patricia saja yang ingin berbuat jahat pada Elea, bukan ibunya. Jadi wajar saja kalau aku berfikir wanita itu sebagai pelakunya!" elak Gleen tanpa merasa bersalah.


Junio mengangguk-anggukkan kepala. Dia kemudian duduk di sebelah Gleen, menatap dari ujung rambut hingga ujung sepatunya.


"Apa?.


"Kau terlihat seperti gelandang" ejek Junio sarkas. "Jika Lusi melihat penampilanmu yang sekarang, aku yakin sekali dia pasti akan langsung meninggalkanmu."


"Sialan kau Jun!" umpat Gleen kemudian meninju lengan sahabatnya.


"Hehehehe...."


Kedua pria itu saling mengejek. Mereka kemudian sama-sama mentertawakan nasib mereka yang kurang baik. Mungkin sebagian orang akan menganggap keduanya memiliki kehidupan yang sangat lengkap. Tapi yang terjadi sebenarnya tidaklah sama dengan apa yang di lihat oleh orang lain. Baik Gleen maupun Junio, mereka berdua adalah pria yang sangat kesepian. Mereka sama-sama tak mempunyai keluarga, hidup sebatang kara dengan saling mengandalkan. Gleen mengenal Junio saat mereka tidak sengaja bertemu di lampu merah. Keduanya mulai dekat hingga pada akhirnya mereka berdua menempuh pendidikan yang sama atas keinginan Junio. Mereka saling bergantung untuk bertahan hidup. Bukan bergantung dalam hal materi, tapi lebih bergantung pada sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Gleen sangat memahami penderitaan yang di rasakan oleh Junio hingga pada akhirnya dia ikut menikmati obsesi gilanya. Dan Junio begitu mengerti seperti apa wataknya Gleen yang sangat tidak suka tubuhnya di sentuh oleh sembarangan wanita. Itulah kenapa Junio tak pernah membiarkan satu wanita pun berada di sekeliling Gleen, kecuali Lusi tentunya. Eratnya hubungan kedua orang ini sudah melebihi saudara kandung meski di tubuh mereka mengalir keturunan darah yang berbeda. Terkadang rasa nyaman itu tidak hanya datang dari seseorang yang memiliki hubungan darah dengan diri kita, tapi rasa nyaman itu bisa datang dari orang asing yang sama sekali tidak kita kenal. Seperti Gleen dan Junio, mereka adalah contoh nyata yang bisa kita saksikan meski hanya di dalam novel. 😊


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2