
Ting tong
Suara bel rumah Levi berbunyi saat seisi rumah sedang sibuk di dapur. Bibi pelayan yang kebetulan sedikit senggang segera berlari keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Maaf Tuan, anda mencari siapa?".
Ares maju ke depan untuk menggantikan Tuan Muda-nya bicara.
"Tolong katakan pada Nyonya Elea kalau Tuan Muda Gabrielle sudah datang!" ucap Ares sopan.
"Oh, suaminya Nona Elea ya. Mari silahkan masuk, Nona Elea dan Nona Levi sedang memasak di dapur" jawab bibi pelayan mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih".
Ares menyingkir ke samping membiarkan Tuan Muda-nya masuk terlebih dahulu. Barulah setelah itu dia mengikutinya di belakang.
Mata Gabrielle langsung tertuju pada tas istrinya yang tergeletak di atas karpet. Dia kemudian mengambil salah satu satu buku dari dalam sana.
"Elea-ku benar-benar sangat cerdas, Ares. Lihat, tugas yang di berikan oleh Safira berhasil di selesaikannya dengan sangat baik" ucap Gabrielle memuji kecerdasan istrinya.
"Benar Tuan Muda. Saya salut, padahal Nyonya sudah lama tidak sekolah. Dan bukankah tugas ini biasanya di berikan pada mahasiswa yang ingin masuk ke universitas? Nyonya Elea benar-benar tidak terduga, Tuan Muda!" sahut Ares kagum sambil terus memperhatikan jawaban demi jawaban di dalam buku tersebut.
Saat Gabrielle dan Ares sedang sibuk memuji kecerdasan Elea, Levi muncul dari dapur masih dengan menggunakan apron di tubuhnya. Wajahnya terlihat tidak baik.
"Gabrielle, apa kau pernah mencoba masakan Elea?" tanya Levi penasaran.
Gabrielle menoleh. Dia kemudian mengangguk.
"Bisa tolong beritahu aku seperti apa rasanya?".
"Enak, masakan istriku yang paling enak di dunia ini" jawab Gabrielle.
Padahal kenyataannya, sampai sekarang Gabrielle masih belum bisa melupakan rasa dari makanan laut yang di buatkan oleh Elea. Tapi dia tidak mau Levi mengolok-oloknya jika tahu kalau sebenarnya dia sangat tersiksa saat menikmati telur gulung yang rasanya seperti dia sedang meminum air laut. Asin, sangat asin.
"Kau berdusta, Gabrielle. Matamu tidak bisa bohong, Elea pasti memberi ranjau pada makananmu kan?" tanya Levi tak percaya.
Gabrielle menghela nafas dalam-dalam. Dengan berat hati akhirnya dia mengangguk.
"Waktu itu aku seperti memakan garam dalam balutan telur gulung dan campuran daging yang berlemak!".
Gabrielle sudah siap menerima olokan dari Levi begitu dia mengatakan yang sebenarnya. Namun olokan itu tak kunjung dia dengar, malah yang ada Levi terlihat berjalan membungkuk kemudian duduk di seberangnya dengan wajah lesu.
"Nasibmu masih jauh lebih baik dariku, Gab. Masih untuk hanya garam yang kau makan, tahu tidak istrimu yang bodoh itu memasukkan apa ke dalam masakannya?" tanya Levi penuh kesedihan.
"Apa?".
"Awalnya Elea bilang padaku kalau dia ingin memasak sup daging, tapi hasil akhirnya bukan seperti itu. Sup daging yang dia masak berubah menjadi sup lada yang sangat luar biasa enak mengalahkan masakan chef-chef ternama dunia. Dan sialnya aku yang di minta untuk mencicipi makanan laknat itu. Bisa kau bayangkan bukan seperti apa kondisi mulut dan perutku sekarang?".
Ares terbatuk kecil karena menahan tawa mendengar penderitaan Levi yang di sebabkan oleh nyonya kecilnya. Entah kenapa dia ikut merasa puas.
"Itu deritamu" ucap Gabrielle santai.
__ADS_1
'Rasakan, akhirnya tidak hanya aku saja yang mengalami nasib seperti ini. Sepertinya aku harus meminta Grizelle atau Ibu untuk mengajari Elea memasak. Aku mau istriku terlihat sempurna dalam semua hal!'.
"Ck, kau benar-benar tidak punya perasaan. Menyesal aku tidak membawakan sup lada itu untuk kau cicipi sebelum aku memberitahumu. Huhh!" keluh Levi dongkol.
Gabrielle cuek saja saat Levi tidak berhenti menggerutu. Ekor matanya menatap kearah dalam rumah saat dia mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Kak Iel, kau sudah datang?" pekik Elea senang.
Gabrielle segera berdiri kemudian merentangkan kedua tangan ke samping. Dia sangat merindukan istri kecilnya ini.
"Kemari, beri aku pelukan!".
Elea mengangguk patuh kemudian segera masuk ke dalam pelukan suaminya. Matanya terpejam menikmati harum tubuh suaminya yang selalu memberinya kenyamanan.
"Kau berkeringat, apa yang baru saja kau lakukan, hm?" tanya Gabrielle pura-pura tidak tahu.
Elea mendongak.
"Aku tadi sedang memasak di dapur Kak, tapi masakannya gagal".
"Kenapa bisa gagal?".
Levi berdehem. Dia merasa iri melihat keromantisan sepasang suami istri ini.
"Hei hei, masih ada orang di sini. Bisa tidak kalian jangan menebar virus cinta sekarang?" sindir Levi sengaja.
"Terserah kami, apa hakmu melarang" sahut Gabrielle ketus.
"Kalau Kak Levi mau, itu di sana masih ada Ares. Kakak bisa memeluknya!" timpal Elea sambil tersenyum tanpa dosa.
"Menjijikkan" gumam Ares dan Levi bersamaan.
Tak lama kemudian, bibi pelayan muncul dari dapur. Dia mengatakan kalau makanan sudah siap untuk di santap.
"Tuan, Nona, masakan sudah siap. Silahkan datang ke meja makan".
Elea melepas pelukan itu kemudian menggandeng tangan suaminya. Dia berbalik saat mendengar perkataan Levi.
"Cih, mentang-mentang suaminya sudah datang aku langsung di lupakan. Entah siapa tadi yang merengek padaku saat di supermarket" sindir Levi iri.
"Kak Levi juga ingin di gandeng seperti Kak Iel?" tanya Elea.
Levi membuang muka ke samping. Jujur saja, iya. Dia sangat cemburu melihat kedekatan Gabrielle dan Elea. Dia merasa di anak tirikan oleh Elea begitu pria tengik ini datang.
"Sayang, abaikan saja wanita itu" ucap Gabrielle tak terima.
"Tapi kasihan Kak Levi, Kak. Lihat, dia terlihat jelek kalau merajuk seperti itu" sahut Elea sambil menunjuk kearah Levi.
Mata Levi melotot lebar. Dia segera berlalu pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Dasar tidak peka, memang apa susahnya sih menggandeng tanganku. Elea, awas saja kau. Aku tidak akan mempedulikanmu lagi meskipun kau menangis darah di hadapanku".
__ADS_1
Gabrielle tersenyum lebar saat tahu kalau saingannya sudah menyerah untuk mendapatkan perhatian Elea. Dengan bangga dia menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan. Dia tersenyum mengejek saat Levi menatapnya dengan garang.
"Duduk Kak, biar aku yang mengambilkan nasi untukmu!" ucap Elea penuh pengertian.
"Terima kasih sayang" sahut Gabrielle senang.
Levi rasanya ingin sekali melempar sendok ke kepala Gabrielle. Dia merasa kalah saing untuk mendapatkan perhatian dari makhluk kecil ini.
"Ares, kenapa kau hanya berdiri di sana? Ayo duduk dan makan bersama. Bokongmu tidak sedang bisulan kan?".
Ares menghela nafas mendengar tuduhan tidak manusiawi itu. Dia kemudian segera duduk di sebelah Levi setelah mendapat kode dari Tuan Muda-nya untuk tidak banyak bicara.
Dengan telaten Elea menyendokkan makanan ke dalam piring suaminya. Saat dia akan duduk, Levi mengulurkan piring kearahnya.
"Ambilkan makanan juga untukku".
"Tapi Kak Levi kan bukan suamiku" sahut Elea.
Gabrielle dan Ares hampir tertawa mendengar perkataan Elea. Sedetik kemudian mereka segera memasang wajah datar saat Levi memelototkan mata kearah mereka berdua.
"Apa aku harus menjadi suamimu dulu agar kau mau mengambilkan makanan untukku, iya?" protes Levi jengkel.
"Jangan marah Kak, iya iya aku akan mengambilkan makanan untukmu" bujuk Elea sembari mengambil piring dari tangan Levi. "Begitu saja merajuk".
"Hei aku mendengar perkataanmu ya".
Elea meringis. Dengan cepat dia mengisi piring Levi dengan makanan. Setelah itu Elea meletakkan piring itu di hadapannya.
"Ekhmmm, ngomong-ngomong sup milik siapa ini?" tanya Levi ragu.
Gabrielle dan Ares yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulut mereka segera menghentikannya. Mereka berdua lalu melihat kearah Elea.
"Sayang, apa kau yang memasak sup ini?".
"Bukan, Kak. Sup milikku sudah Bibi musiumkan di tempat sampah. Lidahku seperti terbakar saat mencicipinya tadi. Jadi sup itu terpaksa di buang karena aku takut orang yang memakannya bisa mati" jawab Elea merasa sangat bersalah.
Ares berdehem. Dia lalu menghela nafas lega karena sudah selamat dari sup lada itu.
"Ya sudah tidak apa-apa. Nanti aku akan meminta Izel untuk mengajarimu memasak di rumah. Jangan sedih, oke" hibur Gabrielle tak tega.
"Iya Kak".
Setelah itu mereka semua makan dengan sangat khidmat. Sebenarnya tidak bisa di sebut makan siang juga karena sekarang sudah hampir jam empat sore. Levi dan Elea terlalu lama berada di supermarket sampai mereka melewatkan jam makan siang. Dan Gabrielle tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk makan bersama istrinya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...