
"Hati-hati Bi!.
Ketika di mobil tadi Levi sempat sadar sebentar. Dia menolak saat Reinhard mengatakan kalau dia akan membawanya ke rumah sakit. Meskipun kekasihnya sedang demam tinggi, nyatanya Reinhard masih tidak bisa memenangkan perdebatan tersebut. Dia akhirnya mengalah dengan menuruti keinginan Levi yang lebih memilih untuk pulang ke rumahnya.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita membawa Nona Levi pergi ke rumah sakit saja? Tubuhnya sangat panas, saya khawatir terjadi sesuatu dengannya nanti" tanya bibi pelayan dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas.
"Bi, kalau saja wanita ini tidak keras kepala, aku pasti sudah membawanya ke rumah sakit sejak tadi. Aku juga sama khawatirnya seperti Bibi, tapi mau bagaimana lagi. Yang sakit saja menolak untuk di bawa pergi dan lebih memilih untuk istirahat di rumah saja" jawab Reinhard sembari menghela nafas dalam.
"Sejak kecil Nona Levi memang sangat tidak menyukai bau rumah sakit, Tuan. Dia baru akan benar-benar bersedia untuk pergi kesana kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit" jelas bibi pelayan sambil menatap sedih kearah gadis yang sudah dia rawat sejak bayi.
Reinhard tersenyum kecut. Bibit kebebalan ternyata memang sudah tumbuh sejak kecil di diri kekasihnya ini. Reinhard kemudian teringat dengan obat-obatan yang sempat dia beli saat di perjalanan kemari. Dia lalu memerintahkan bibi pelayan untuk mengambilnya dari dalam mobil.
Sambil menunggu bibi pelayan datang, Reinhard membenahkan selimut ke tubuh Levi. Satu tangannya terulur mengusap pipi kekasihnya, tersenyum ketika dia mendengar umpatan kecil dari mulut Levi karena merasa ada yang mengganggu tidurnya.
"Kau sangat lucu jika sedang diam seperti ini, sayang. Tapi jujur, aku lebih suka kebar-baranmu daripada harus melihatmu tidak berdaya seperti ini."
Reinhard berjengit kaget ketika mendengar suara pintu yang di buka dengan cukup kuat. Dia segera berdiri kemudian membungkuk hormat kearah dua orang yang baru saja masuk bersama bibi pelayan.
"Siapa kau?.
Samuel dan Lolita yang kebetulan ingin datang mengunjungi putri mereka sangat kaget saat di beritahu kalau putri mereka sedang sakit. Segera saja mereka berlari masuk ke dalam rumah, namun keduanya di buat kaget oleh kehadiran seorang pria di dalam kamar putri mereka.
"Selamat siang Tuan Samuel, Nyonya Lolita. Perkenalkan, saya Reinhard. Saya adalah teman dekat Levita" jawab Reinhard memperkenalkan diri dengan sopan.
"Teman dekat putriku?" beo Samuel sambil memicingkan mata.
Reinhard mengangguk. Dia sedikit gugup saat di tatap begitu intens oleh kedua orangtua Levi. Tak ingin di anggap tidak sopan, Reinhard berniat menghampiri keduanya. Tapi baru saja dia hendak melangkah, tangannya di tahan oleh Levi. Reinhard segera berbalik kemudian duduk di tepian ranjang.
"Hei, kau sudah sadar? Apa ada yang tidak nyaman?.
"Jangan pergi" jawab Levi lirih.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan kemana-mana. Aku disini, aku akan selalu menemanimu" sahut Reinhard sedikit aneh melihat reaksi kekasihnya.
Samuel dan Lolita segera datang mendekat kearah ranjang. Sebagai seorang ayah, Samuel bisa merasakan kalau pria yang bernama Reinhard ini memendam perasaan spesial pada putrinya. Namun dia sedikit tidak suka ketika melihat merk pakaian yang dia gunakan. Jelas terlihat kalau Reinhard ini bukan berasal dari keluarga terpandang. Seketika muncul penolakan di diri Samuel. Dia tidak rela putrinya menjalin kasih dengan pria yang tidak selevel dengan keluarganya.
"Aku tahu apa yang sedang Ayah pikirkan sekarang. Jangan coba-coba mencampuri hubunganku dengan Reinhard. Kami saling mencintai, dan kami tidak akan pernah berpisah sekalipun Ayah tak merestui!" ucap Levi secara terang-terangan memberi peringatan pada ayahnya yang terlihat tidak menyukai keberadaan Reinhard disana.
"Levita, kenapa bicaramu melantur sekali. Ayah kan tidak mengatakan apapun pada kalian berdua" sahut Samuel mencoba berkilah.
"Bukannya tidak, tapi belum. Semua itu terlihat sangat jelas di mata Ayah kalau Ayah sangat tidak menyukai Reinhard karena dia bukan berasal dari keluarga bangsawan seperti kita. Iya kan?" tuduh Levi berusaha keras untuk membongkar kebohongan ayahnya.
Samuel tergugu. Dia menjadi salah tingkah sendiri karena tertangkap basah oleh putrinya. Tak ingin membuat keadaan mengeruh, dia berusaha untuk menberikan penjelasan.
"Sayang, Ayah hanya ingin yang terbaik untuk putri Ayah. Salah jika Ayah ingin memilihkan calon pendamping yang baik untuk putri Ayah sendiri? Reinhard, Ayah belum tahu siapa dia. Bagaimana kalau ternyata dia bukan pria yang tepat untuk berada di sisimu? Ayah tidak mau kau kecewa nantinya!.
Melihat cara orangtua Levi yang begitu terang-terangan menolaknya, Reinhard segera melakukan pembelaan. Dia tidak mau membiarkan Levi memperjuangkan hubungan mereka seorang diri. Tanpa melepas kesopanannya, Reinhard menyampaikan seluruh perasaannya di hadapan kedua orangtua Levi. Dia ingin mereka tahu kalau perasaannya benar-benar sangat tulus.
"Tuan Samuel, maaf menyela. Saya faham dengan alasan yang anda sampaikan barusan. Wajar jika seorang ayah menginginkan yang terbaik untuk kehidupan putrinya, tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun disini, apakah anda yakin putri anda akan bahagia dengan pilihan yang sudah anda tentukan? Tidakkah ini lebih terlihat anda yang bersikap egois dengan mengatasnamakan kebahagiaan putri anda sendiri? Saya memang berasal dari keluarga biasa, sangat biasa malah. Mungkin dari segi materi saya kalah, tapi saya bisa menjamin kalau Levi akan bahagia jika bersama saya. Kata-kata saya mungkin terdengar sedikit menggelikan, tapi saya bersungguh-sungguh ingin membahagiakan putri anda. Saya mencintai Levita Foster tanpa memandang statusnya, perasaan saya tulus, murni hanya karena cinta!.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Samuel menggebu. "Meski kata-katamu berhasil membuatku terharu, itu tidak bisa menjadi patokan untukmu bisa mendapat restu kami begitu saja. Levita adalah permata kami, dia terbiasa hidup mewah dan bergelimang harta. Jadi aku perlu tahu darimana kau akan menghidupi permata kami nantinya!.
Reinhard tersenyum. Satu lampu terlewati.
"Dia adalah Direktur dari semua rumah sakit yang berada di bawah naungan Group Ma, Ayah. Reinhard bersahabat dekat dengan Gabrielle, dia memegang kendali penuh atas bisnisnya yang bergerak di dunia medis dan farmasi" ucap Levi mewakilkan Reinhard untuk bicara.
"A-apa???? pekik Samuel dan Lolita kaget.
'Astaga, jadi putriku menjalin hubungan dengan satu-satunya direktur muda yang di rekomendasikan khusus oleh Keluarga Ma? Ya Tuhan, ini namanya jacpot. Meski Reinhard bukan berasal dari keluarga bangsawan, dia memiliki status yang cukup tinggi karena dia adalah orang kepercayaan Tuan Muda Gabrielle. Akan sangat bodoh kalau aku menolaknya menjadi menantu. Untung saja aku belum sempat menghinanya tadi. Huffttt, syukurlah!.
"Ayah, apa sekarang Ayah masih berniat untuk menolak Reinhard? Tidakkah statusnya cukup memuaskan dahaga Ayah yang selalu haus dengan kekuasaan?" tanya Levi penuh nada sindiran.
"Sayang, tolong jangan bicara seperti itu. Ayahmu bersikap sedemikian rupa karena sangat mengkhawatirkan masa depanmu, sama sekali tidak ada maksud kearah lain. Mungkin sekarang kau belum faham. Tapi nanti setelah kau mempunyai anak, kau pasti akan tahu bagaimana rasanya menjadi orangtua seperti kami saat anak gadisnya di dekati oleh seorang pria. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu Nak. Benarkan Rein?" ucap Lolita meredam kesalahpahaman putrinya agar tidak melebar.
__ADS_1
"Ibumu benar, sayang. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung. Justru aku merasa lega karena Ayah dan Ibumu sangat peduli dengan kebahagiaanmu. Mereka hanya ingin memilihkan yang terbaik untukmu. Jadi jangan marah lagi, oke?" jawab Reinhard menenangkan kekasihnya.
Levi terdiam. Dia kemudian menatap lekat ke wajah ayahnya.
"Jadi?.
"Berhubunganlah dengan baik. Jangan kecewakan Ayah dan Ibumu sampai waktunya tiba" ucap Samuel memberikan restu.
"Sudah tidak mempermasalahkan lagi status Reinhard yang bukan seorang bangsawan?" sindir Levi sambil tersenyum kecil.
"Sedikit, tapi kebahagiaan putri Ayah jauh lebih penting. Dan kau Reinhard, jangan menyentuh putriku sebelum resmi mempersuntingnya. Kalau kau berani melanggar, kau akan langsung berhadapan denganku!.
"Baik, Tuan. Saya pasti akan selalu mengingat pesan ini dengan baik" sahut Reinhard yakin.
"Panggil Paman saja, atau kalau kau mau kau juga boleh memanggil Ayah seperti Levita" imbuh Samuel kemudian menepuk bahu kekar calon menantunya.
"Baiklah, Ayah!.
Ruangan kamar itu segera di penuhi candaan setelah Reinhard mendapat restu dari orangtuanya Levi. Hati Levi menghangat, dia sangat terharu melihat bagaimana ayah dan ibunya menyambut Reinhard dengan tangan terbuka meski di awal tadi sempat ada sedikit ketegangan di antara mereka.
'Terima kasih Tuhan karena kau telah mengirimkan Reinhard ke dalam hidupku. Aku beruntung bisa di cintai oleh pria bertanggung jawab sepertinya.'
🥰🥰🥰🥰
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...