Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kebahagiaannya Adalah Yang Terpenting


__ADS_3

Clarissa begitu tidak sabar ketika di beritahu kalau Gabrielle sebentar lagi akan datang menemuinya di hotel. Di tangannya sudah tergenggam sebuah kado besar yang sudah dia persiapkan khusus untuk cucu kesayangannya. Cira yang melihat ketidaksabaran di diri majikannya nampak tersenyum kecil.


"Cira, kenapa Gabrielle lama sekali ya? Mereka tidak mungkin tersesat di bawah kan?" tanya Clarissa sembari melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Hotel ini adalah milik Tuan Muda Gabrielle, Nyonya. Mustahil jika beliau tersesat di tempatnya sendiri" jawab Cira menahan tawa. "Nyonya tenang saja, mereka pasti akan segera tiba sebentar lagi."


"Aku sudah tidak sabar ingin segera memeluk Elea, Cira. Dia senang tidak ya dengan hadiah yang kubawakan?.


Cira mengulum senyum. Rasanya sedikit aneh melihat wanita yang biasanya tenang dan sangat tegas tiba-tiba menunjukkan sikap yang begitu sangat tidak sabaran. Jika hal ini di lihat oleh orang lain mereka pasti akan sangat kaget. Clarissa Wu yang selama ini di kenal oleh semua orang adalah sesosok wanita yang begitu dingin dan juga berlidah tajam. Kata-katanya terkenal tandas dan ketus yang mana membuat banyak orang merasa segan terhadapnya.


Tok, tok, tok


"Nah, itu pasti mereka!" seru Clarissa kemudian segera berlari untuk membukakan pintu kamar. "Elea sayang, Grandma..... Gabrielle, mana Elea? Kenapa dia tidak ada bersamamu?.


Gabrielle menghela nafas. Sudah dia duga hal inilah yang akan pertama kali di tanyakan oleh wanita ini. Tak ingin membuatnya bersedih, Gabrielle segera memberikan alasan kalau Elea tidak bisa datang karena sedang menunggui ibu sambungnya yang sedang terluka parah di rumah sakit.


"Grandma, Elea saat ini sedang berada di rumah sakit menemani Bibi Yura di sana. Ayah dan Kakek sedang tidak sehat, jadi dia tidak tega untuk meninggalkannya tadi."


"Bibi Yura? Siapa dia?" tanya Clarissa mencoba menutupi kekecewaannya.


"Istrinya Ayah Bryan, ibu sambungnya Elea" jawab Gabrielle.


Sambil mendengarkan kedua majikannya bicara, ekor mata Cira terus melirik kearah luar pintu. Dia menantikan pertemuan dengan Ares, pria tampan yang selalu memberikannya perhatian meski terhalang jarak.


'Apa Ares tidak ikut datang kemari ya? Biasanya dia kan selalu menempel di sisi Tuan Muda Gabrielle. Hm..'


Gabrielle melirik kearah Cira. Dia sekarang paham kenapa Ares terlihat sedikit berbeda saat dia mengajaknya datang kemari. Rupanya karena disini sudah ada wanita cantik yang sedang menunggunya, pantaslah wajahnya terlihat berbunga-bunga tadi.


"Cira, bisa tolong tunggu di luar dulu tidak? Ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Grandma" ucap Gabrielle memberi ruang.


"Baik Tuan Muda!" sahut Cira. "Nyonya, saya permisi dulu. Jangan lupa untuk membicarakan masalah itu dengan Tuan Muda Gabrielle."


"Iya Cira, pergilah" jawab Clarissa lesu.

__ADS_1


Setelah Cira keluar, Gabrielle melangkah masuk ke dalam kamar mengikuti Grandma-nya. Dia kemudian duduk di sofa sambil terus memperhatikan wajah wanita tua yang kini terlihat murung.


"Beri Elea sedikit waktu untuk menenangkan diri dulu, Grandma. Ya, dia memang menolak untuk datang kemari, tapi bukan berarti dia membenci Grandma. Aku harap Grandma bisa memaklumi sikapnya!.


Clarissa menghela nafas.


"Gabrielle, apa pendapatmu jika Grandma ingin bertemu dengan Karim? Pertemuan ini bisa melukai hati dan perasaan Elea tidak?" tanya Clarissa mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja bisa, tapi masalah ini harus secepatnya di selesaikan. Aku tidak ingin Elea terus merasa sedih seperti sekarang. Grandma dan Kakek Karim memang perlu bertemu untuk menyelesaikan semuanya. Dengan begitu Elea mungkin baru bisa merasa lega dan akan benar-benar memaafkan kesalahan kalian" jawab Gabrielle menegaskan jika kebahagiaan istrinya adalah yang paling utama.


Clarissa langsung tersenyum lega begitu mendengar jawaban Gabrielle. Dia seolah menemukan jalan keluar dari permainan labirin yang sedang membelenggunya. Dengan wajah yang sangat semringah Clarissa mulai membahas pertemuannya dengan Karim. Dia ingin secepatnya memperjelas masalah ini agar Elea tak lagi salah paham.


"Kalau begitu menurutmu kapan waktu yang paling tepat untuk Grandma bertemu dengan Karim? Malam ini bisa tidak?.


"Malam ini ya?.


Gabrielle diam berfikir. Dia mengira-ngira apakah Elea siap atau belum untuk mendengar kebenaran yang terjadi di masalalu ibunya. Mengingat bagaimana respon istrinya tadi Gabrielle akhirnya memilih untuk menunda pertemuan tersebut. Dia perlu berkonsultasi dulu pada Reinhard karena Gabrielle khawatir Elea melakukan sesuatu di luar perkiraan.


"Grandma, sebaiknya jangan malam ini. Tunggu sampai Elea bersedia menemui Grandma dulu baru kita bahas hal ini lagi. Bukannya aku ingin menunda masalah agar bisa segera terselesaikan, tapi disini mental dan perasaan istriku yang akan di pertaruhkan. Lagipula Kakek Karim juga dalam kondisi yang tidak baik, jantungnya baru saja kambuh karena suatu masalah yang tiba-tiba terjadi!.


Ada gurat ketidakrelaan di mata Gabrielle begitu wanita tua ini menyebut ingin memeluk istrinya. Wajahnya langsung masam, tapi dia berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu dulu mengingat jika wanita tua ini sedang sangat merindukan istrinya. Biarlah, untuk kali ini dia akan mengalah. Tapi begitu semua masalah ini usai, jangan harap akan bisa bebas menyentuh istrinya. Elea adalah miliknya, dan orang lain tidak boleh sembarangan menyentuh kesayangan seorang Gabrielle.


"Pokoknya Grandma harus menunggu kabar dariku dulu sebelum menemui Kakek Karim. Terlepas dari keinginan Grandma yang ingin masalah ini segera berakhir, ketenangan dan kenyamanan Elea jauh lebih penting. Nanti aku akan mengabari Grandma jika semuanya sudah siap!" ucap Gabrielle tegas.


Sadar kalau cucu menantunya sedang merasa cemburu, Clarissa akhirnya memutuskan untuk mengalah saja. Hatinya benar-benar tergelitik melihat bagaimana pria berkuasa ini sangat amat overprotective terhadap cucunya. Rasa cemas dan kecewa yang tadi hinggap di hatinya lenyap seketika. Clarissa bahagia, lega karena setidaknya Elea memiliki seseorang yang begitu memperjuangkannya. Bahkan tak ragu untuk menunjukkan ketidaksukaannya secara langsung.


"Ya sudah kalau begitu Grandma menurut saja. Tapi nanti bisa kan ajak Elea datang kemari? Grandma sangat merindukannya, Grandma juga sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk istri kecilmu itu. Permintaan Grandma yang ini tidak memberatkanmu bukan?" goda Clarissa sambil menahan tawa.


Gabrielle mengangguk.


'Astaga, anak ini. Sebegitu cintanya dia pada cucuku. Haih Sandara, seandainya kau masih hidup, kau pasti akan menjadi Mama paling bahagia di dunia ini karena mempunyai menantu sehebat Gabrielle. Dia sangat mencintai putrimu, Nak. Elea kita bagaikan ratu di matanya.'


"Oh iya Gabrielle, apa Ares sudah mempunyai pasangan?.

__ADS_1


"Sudah" jawab Gabrielle singkat.


"Wah, sayang sekali. Padahal Grandma berencana menjodohkan Ares dengan Cira. Tapi ya sudahlah tidak apa-apa, mungkin Ares bukan jodohnya Cira" ucap Clarissa sedikit kecewa.


"Siapa bilang mereka tidak berjodoh? Ares dan Cira sama-sama saling suka, mereka berdua sudah sangat menantikan pertemuan hari ini, Grandma."


"Benarkah? Darimana kau tahu kalau mereka saling suka, Gab?.


"Terlihat jelas di mata mereka, Grandma" jawab Gabrielle mengelak kemudian melihat jam di tangannya. "Ini sudah waktunya makan siang. Aku pulang dulu, nanti aku akan membujuk Elea agar mau datang menemui Grandma."


Clarissa mengangguk. Dia berdiri kemudian mengantarkan Gabrielle kearah pintu.


"Sampaikan salam Grandma untuk Mama dan Papa-mu, Gabrielle. Maaf untuk sekarang Grandma belum bisa menemui mereka dulu" ucap Clarissa.


"Baik, Grandma. Ayah dan Ibu pasti akan sangat menunggu pertemuan itu nanti!.


Ares dan Cira segera mendekat kearah pintu begitu melihat majikan keduanya keluar dari dalam kamar hotel. Gabrielle yang melihat raut kebahagiaan di wajah asistennya nampak tersenyum kecil. Dia kemudian mengajak Ares untuk kembali ke rumah sakit guna menjemput istrinya.


"Hati-hati!" teriak Clarissa.


Cira terus menatap punggung Ares yang semakin menjauh. Dia sampai tidak menyadari kalau majikannya sedang menatapnya penuh goda.


"Ekhmmm, apakah rindunya sudah terobati?.


"Haaa..." beo Cira kaget.


Clarissa tertawa. Setelah itu dia mengajak Cira masuk ke dalam kamar sambil terus menggodanya hingga wajah gadis ini memerah seperti buah tomat.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2