Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kejujuran


__ADS_3

Bryan sangat kaget begitu mendapat kabar dari Yura kalau ayahnya tiba-tiba pulang dari rumah sakit. Dia yang saat itu masih berada di kantor segera pulang ke rumah karena khawatir dengan kondisi ayahnya yang dia tahu masih belum stabil.


"Tidak mungkin pihak rumah sakit memulangkan Ayah dengan sengaja. Mereka tahu betul kalau keadaannya masih belum membaik. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" gumam Bryan.


"Maaf Tuan Bryan, mungkin Tuan Karim sudah bosan berada di rumah sakit. Jadi beliau memaksa untuk pulang" sahut si sopir.


"Sekalipun merasa bosan, seharusnya pihak rumah sakit tetap tidak boleh membiarkannya pergi begitu saja. Apalagi kondisi Ayah tadi pagi sempat drop. Bukankah ini akan sangat berbahaya untuknya?" sahut Bryan sambil menekan pelipisnya, pusing.


"Memang benar, Tuan. Tapi kita semua kan tahu kalau tidak ada orang yang bisa menahan keinginan Tuan Karim? Mungkin pihak rumah sakit juga berada dalam posisi yang serba salah jadi mereka terpaksa mengizinkan Tuan Karim pulang ke rumah!."


Bryan terdiam. Omongan sopirnya ada benarnya juga. Ayahnya termasuk orang yang sangat keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu. Tak ingin berburuk sangka pada pihak rumah sakit, Bryan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi membahas hal tersebut. Biarlah nanti dia akan menanyakannya langsung pada ayahnya setelah sampai di rumah.


Saat sedang dalam perjalanan, tiba-tiba saja pikiran Bryan melayang pada sebuah mimpi singkat yang terjadi semalam. Dalam mimpinya itu, Bryan melihat seorang gadis yang tengah menatap kearahnya. Gadis itu terlihat murung, raut kesedihan begitu kentara menyelimuti wajahnya. Namun sayang, Bryan tidak bisa melihat dengan jelas rupa gadis tersebut. Satu hal yang dia ingat sebelum membuka mata, gadis menyedihkan itu memanggilnya ayah.


"Aneh sekali, kenapa aku bisa bermimpi seperti itu" gumam Bryan.


Tak berselang lama, mobil Bryan memasuki pekarangan rumah. Dia segera keluar setelah mobil berhenti.


"Yura..." panggil Bryan.


Sesuatu yang jarang sekali terjadi. Mungkin ini adalah pertama kalinya Bryan memanggil nama istrinya setelah pulang dari kantor.


Yura yang saat itu sedang membuatkan minuman untuk ayah mertuanya sedikit kaget saat Bryan memanggil namanya. Dengan hati yang berbunga-bunga Yura bergegas menghampiri suaminya.


"Bryan, kau sudah kembali?."


Bryan menatap sekilas kearah istrinya kemudian mengangguk. "Dimana Ayah?."


"Ayah sedang istirahat di kamarnya" jawab Yura. "Bryan, apa kau mau ku buatkan minuman? Kebetulan aku sedang membuat minuman untuk Ayah. Kalau mau, nanti aku akan mengantarkannya ke kamar."


Bryan lagi-lagi hanya mengangguk. Dia lalu berjalan menuju kamar ayahnya. Mengabaikan Yura yang sedang berdiri terpaku.

__ADS_1


Ceklek


Karim menoleh saat pintu kamar terbuka. Tatapan matanya menyendu melihat kehadiran putranya di sana.


"Ayah, kenapa Ayah pulang dari rumah sakit? Kondisi Ayah masih belum membaik, Ayah masih sangat membutuhkan perawatan dokter" tanya Bryan kemudian duduk di kursi samping ranjang ayahnya.


"Ayah sudah baik-baik saja, Bry. Hanya perlu istirahat yang banyak dan minum obat dengan teratur" jawab Karim tanpa melepaskan tatapannya.


Bryan yang menyadari tatapan tak biasa dari ayahnya langsung tahu kalau ada yang tidak beres. Dengan hati-hati dia mengelus tangan keriput ayahnya kemudian mencoba untuk bertanya. "Apa ada yang ingin Ayah sampaikan padaku?."


"Ada Bryan. Sesuatu yang sangat penting menyangkut hidup mati seseorang" jawab Karim lirih.


Yah, setelah mendengar nasehat Jackson, Karim akhirnya memberanikan diri untuk membongkar semua rahasia yang dia sembunyikan pada putranya. Dia juga sudah sangat siap jika Bryan tidak mau lagi mengakuinya sebagai ayah setelah dia membeitahukan rahasia ini. Biarlah, mungkin ini adalah balasan atas perbuatan kejamnya dulu.


"Menyangkut hidup matinya seseorang? Apa maksudnya perkataan Ayah? Apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Bryan kebingungan.


Dada Karim rasanya seperti tertimpa pohon besar saat mulutnya ingin mengatakan kalau Eleanor masih hidup. Nafasnya seakan tersendat untuk mengakui dosa besar yang telah dia lakukan pada rumah tangga anaknya.


"Bryan,, E,Eleanor...Dia, dia masih hidup."


Untuk sesaat Bryan tertegun saat nama putrinya di sebut. Sedetik kemudian dia sadar kalau ayahnya sedang terjebak dalam ruang penyesalannya. Meskipun sakit, Bryan tak mau lagi mengingat kejadian buruk itu. Dia sudah merelakan kepergian Sandara dan Eleanor, juga telah memaafkan kesalahan orangtuanya. Dengan penuh sayang Bryan menggenggam tangan tua ayahnya. Dia lalu menatapnya sambil tersenyum hangat.


"Ayah, aku tahu mungkin sekarang Ayah sedang teringat dengan dosa-dosa yang pernah Ayah lakukan pada almarhum Sandara dulu. Tapi semua itu sudah lama berlalu dan kamipun sudah memaafkan kesalahan Ayah dan Ibu. Aku mohon jangan bahas masalah ini lagi, biarkan itu menjadi kenangan di hidupku Ayah" ucap Bryan berusaha tegar.


"Tapi Bryan, Eleanor benar-benar masih hidup. Ayah tidak bohong!."


Karim jadi bingung sendiri bagaimana cara meyakinkan putranya kalau Eleanor itu belum meninggal. Dia cukup kaget melihat reaksi putranya yang terlihat biasa-biasa saja saat dia bicara tadi. Sangat jauh berbeda dengan apa yang dia bayangkan sebelumnya.


"Ayah, apa Ayah lupa makam siapa yang ada di sebelah makamnya Sandara? Itu adalah makam Eleanor, makam cucunya Ayah. Jadi bagaimana mungkin Eleanor masih hidup? Dia meninggal tepat setelah Sandara menghembuskan nafas terakhirnya" ucap Bryan menyadarkan ayahnya kalau putrinya sudah lama tiada.


"Bryan, tolong percaya pada Ayah. Eleanor belum meninggal, dia masih hidup Bryan. Cucu Ayah masih ada di dunia ini!" sahut Karim setengah berteriak karena frustasi.

__ADS_1


Bryan menghela nafas dalam. Dia menatap sedih kearah Ayahnya yang tetap kekeh mengatakan kalau putrinya masih hidup. Seandainya itu memang benar, maka Bryan akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Tapi sayang, putrinya sudah lama pergi meninggalkannya. Dan kebahagiaan itu tidak akan mungkin dia rasakan sampai di akhir hayatnya.


"Ayah, berhenti bicara melantur. Eleanor sudah meninggal sembilan belas tahun lalu, dia tidak mungkin masih ada....


"Jasad yang kau kubur di sebelah makam Sandara bukan jasad milik Eleanor, Bryan. Itu adalah jasad bayi orang lain yang sengaja Ayah ambil kemudian Ayah tukar dengan anakmu. Sebenarnya operasi yang di jalani oleh Sandara berhasil menyelamatkan nyawa Eleanor, tapi Ayah dan Ibumu tidak mau dia hidup. Saat itu yang terfikir di dalam otak kami hanyalah bagaimana cara untuk menyingkirkan Eleanor dari Keluarga Young. Kami tidak mau Keluarga Young memiliki pewaris yang terlahir dari wanita berlatar belakang tidak jelas seperti Sandara. Dan di saat yang bersamaan, ada seorang gelandangan melahirkan seorang bayi yang kemudian bayinya meninggal karena terlambat di tangani. Saat itulah setan menutup mata hati Ayah untuk melakukan sesuatu hal yang sangat keji. Ayah bersekongkol dengan dokter yang mengoperasi Sandara lalu mengatakan padamu kalau Eleanor meninggal. Kemudian diam-diam Ayah dan Ibumu membuang bayi tidak bersalah itu ke sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Bryan, Eleanor masih hidup. Dia belum meninggal!" teriak Karim memotong perkataan putranya.


Bryan tercengang. Dia seperti tersambar petir di siang bolong mendengar pengakuan ayahnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk jantungnya, tiba-tiba seluruh tubuh Bryan terasa sangat sakit. Bahkan nafasnya mulai tak beraturan saat kata masih hidup terngiang di telinganya.


"Ja, jadi anakku masih hidup?" gumam Bryan lirih. "Eleanor masih hidup?."


Karim segera turun dari ranjang kemudian duduk berlutut di bawah kaki anaknya. Biarlah dia merendah seperti ini, dia pantas melakukannya.


"Bryan, tolong maafkan Ayah. Ayah khilaf, Ayah benar-benar menyesal sekarang. Tolong maafkan Ayah nak"


"Khilaf? Menyesal?" sahut Bryan dengan wajah yang sudah basah airmata. "Apa pantas orang kejam seperti Ayah merasa menyesal? Apa pantas seorang Ayah menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri? Dan apa pantas seorang Kakek membuang cucunya yang tidak melakukan kesalahan apapun padanya? Apa pantas hah! Jawab aku Ayah, apa pantas kau melakukan semua itu pada kami? Apa salah anak dan istriku Ayah, teganya kau memisahkan kami sampai seperti ini. Apa salah kami sebenarnya?."


Tubuh Bryan luruh ke lantai. Dia menangis tersedu-sedu di depan ayahnya yang juga sedang menangis. Bryan tidak menyangka kalau ayahnya akan tega melakukan hal keji seperti ini. Eleanor, putrinya yang tidak bersalah itu harus menjadi korban dari kekejaman kakeknya sendiri.


"Maafkan Ayah, Bryan. Tolong ampuni kesalahan yang sudah Ayah perbuat pada anakmu. Ayah benar-benar sangat menyesal, Ayah menyesal!" ucap Karim di tengah-tengah isak tangisnya.


Bryan diam tak menyahut. Dia masih sangat syok dengan kenyataan ini. Baginya ini terasa sangat mustahil. Mustahil karena ada seorang kakek yang tega membuang cucunya yang masih bayi kemudian menelantarkannya di sebuah panti asuhan. Tubuh Bryan tiba-tiba bergidik ngeri, dia tidak berani membayangkan seperti apa kehidupan putrinya di luaran sana selama sembilan belas tahun ini. Dia tidak tahu apakah putrinya kelaparan atau tidak, apakah memakai pakaian yang hangat atau tidak. Memikirkan hal itu semakin membuat dada Bryan seperti terhimpit batu besar.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIM...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2