
Gabrielle segera berlari keluar dari ruangannya setelah mendapat kabar dari ibunya kalau Elea sedang dalam perjalanan ke kantor. Baru saja tadi dia mengatakan pada Ares kalau ingin pulang untuk makan siang di rumah, malah istrinya yang sudah lebih dulu datang kemari. Hatinya tentu saja berbunga-bunga. Siapa yang tidak bahagia jika di kunjungi oleh istri kesayangan.
"Apa istriku sudah tiba?" tanya Gabrielle pada penjaga yang berdiri di dekat pintu masuk perusahaan.
"Belum Tuan Muda, mungkin sebentar lagi" jawab si penjaga sambil melihat kearah jalan raya. "Nah, itu mobil Nyonya Elea."
Senyum manis langsung memenuhi bibir Gabrielle begitu dia melihat mobil yang membawa istrinya bergerak masuk ke halaman kantor. Dengan sangat tidak sabaran Gabrielle berjalan mendekat kemudian membuka pintu mobil.
"Kak Iel" panggil Elea.
Bukannya menbawa Elea keluar, Gabrielle malah ikut masuk ke dalam mobil. Dia melirik tajam kearah penjaga yang masih duduk di kursi kemudi.
"Apa kau ingin menjadi CCTV di sini?."
"Haaaa? Ti,tidak Tuan Muda. Maaf, saya akan keluar sekarang juga" cicitnya ketakutan.
Elea tersenyum sambil menatap wajah tampan suaminya. Dia lalu memamerkan luka yang tadi di bungkus oleh ibu mertuanya.
"Kak Iel, lihat. Tadi Ibu Liona yang membungkusnya untukku."
Gabrielle tersenyum. Dia lalu mengecup pelan dua jari istrinya yang terbungkus perban. "Di rumah patuh tidak?."
Elea mengangguk. Seperti biasa, tanpa di suruh dia segera masuk ke dalam pelukan suaminya. Menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh pria tampan ini.
"Harumnya."
"Hanya memelukku saja? Tidak berniat memberikan ciuman pada suamimu yang tampan ini, hem? Lihat sayang, bibirku sudah mengering. Mereka butuh vitamin yang baru" ucap Gabrielle sembari menunjuk kearah bibirnya.
"Vitamin yang baru? Tapi kan aku bukan bandar obat Kak" sahut Elea dengan polosnya.
Gabrielle tergelak. Wajahnya langsung berubah menjadi sangat kasihan.
'Baru juga datang, kenapa aku langsung di suguhi kata-kata beracun seperti itu? Astaga Elea, kau sangat pandai memborbardir perasaanku.'
"Yang bilang kau bandar obat itu siapa, sayang? Vitamin yang aku maksud adalah bibirmu. Ayo cepat beri aku ciuman sebelum aku mencuri simpanan nafasmu di dalam paru-paru."
Elea terkekeh. Rasanya lucu saat suaminya menirukan ucapan yang pernah keluar dari mulutnya.
Cup
"Sudah."
"Sedikit sekali, sayang. Lagi" protes Gabrielle tak terima dengan jatah vitamin yang di berikan oleh istrinya.
"Perutku lapar sekali Kak Iel. Nanti saja ya kalau mau menambah vitaminnya" sahut Elea sambil mengusap perutnya yang berbunyi.
"Apa? Jadi kau belum makan di rumah?" tanya Gabrielle kaget. "Ayo masuk ke dalam, aku akan memesankan makanan untukmu."
__ADS_1
"Tidak usah memesan makanan lagi, Kak. Lihat, Kakak yang di rumah sudah mengemas makan siang untuk kita. Bagus kan?" ucap Elea kemudian menunjukkan kotak makan siang pada suaminya.
'Jadi kau menahan rasa laparmu karena ingin makan siang denganku? Sayang, kenapa kau perhatian sekali. Aku jadi ingin membawamu ke kamar.'
Elea menggoncang lengan Gabrielle saat melihatnya tersenyum sendiri.
"Ada apa sayang?" tanya Gabrielle terkejut.
"Kak Iel seperti orang gila karena tersenyum sendirian. Hehe.. " jawab Elea kemudian tertawa.
Tawa Elea menular. Gabrielle pun ikut tertawa namun di barengi dengan tampang yang sangat memprihatinkan. Gila? Ya Tuhan, adakah orang yang berani mengatainya seperti itu selain Elea?.
Tak ingin membuat istrinya semakin kelaparan, Gabrielle segera mengajaknya masuk ke dalam perusahaan. Dia menatap tajam kearah pria-pria yang kemungkinan besar mencuri pandang kearah istrinya yang cantik jelita ini.
Ares yang melihat kelakuan Tuan Muda-nya hanya bisa mendesah pasrah. Dia merasa kasihan pada semua penjaga dan juga karyawan pria yang terdiskriminasikan oleh peraturan nyeleneh bos mereka.
'Kalian para pria, bersabarlah. Karena nasib kalian jauh lebih beruntung dari pada nasibku yang selalu berada di ujung tanduk.'
Di dalam lift, Gabrielle masih berusaha mendapat suntikan vitamin dari istrinya. Dia memang mendapatkannya, tapi semuanya terasa tidak memuaskan karena di barengi dengan perut Elea yang tidak berhenti berbunyi.
"Hehehe, cacing di perutku melakukan demo besar-besaran Kak" ucap Elea saat Gabrielle menatapnya datar.
Sesampainya mereka di dalam ruangan, Elea dengan cekatan mengeluarkan semua makanan ke atas meja. Mereka berdua menikmati makan siang itu dengan sangat romantis dimana Gabrielle meminta untuk makan dari piring dan sendok yang sama dengan Elea.
"Sayang, apa cacingnya masih melakukan demo?" tanya Gabrielle setelah selesai makan siang.
Elea mengusap perutnya kemudian menggeleng. "Sepertinya tidak Kak. Mereka sudah tidak menabuh genderang perang di dalam."
"Kemari" ucap Gabrielle sembari menepuk pahanya.
Dengan patuh Elea menuruti perkataan suaminya. "Tadi Ibu Liona terlihat sedih saat memikirkan Izel, Kak. Aku jadi tidak tega melihatnya."
"Semua orang juga sedih, sayang. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membangunkan Bibi Cleo dari koma. Semua hanya berharap ada Keajaiban Tuhan yang akan membuat Bibi Cleo sadar secepatnya" sahut Gabrielle menanggapi ucapan istrinya. "Jangan bahas orang lain dulu, sekarang waktunya untuk kita menghabiskan waktu bersama."
Gabrielle segera membungkam mulut Elea saat dia ingin bicara. Karena posisi Elea yang berada di pangkuan Gabrielle, dia bisa merasakan kalau ada rudal yang sudah menegang di bawah sana.
Tok,tok,tok
"Shiiiitttttt..... Akan kubunuh kau!" teriak Gabrielle murka saat ada yang mengganggu kesenangannya.
Nafas Elea tersengal. Dia lalu merebahkan kepala di bahu suaminya. "Dasar pencuri nafas."
Dalam emosinya Gabrielle tersenyum saat mendengar celetukan Elea. Dengan gemas dia menciumi rambut Elea kemudian berteriak meminta Ares untuk segera masuk ke dalam.
"Maaf Tuan Muda, ada Nona Patricia di luar!" lapor Ares sambil menelan ludah.
'Ya Tuhan, kenapa aku selalu datang di waktu yang salah?.'
__ADS_1
"Usir sampah itu. Aku sedang tidak mau bertemu dengan siapapun" sahut Gabrielle sambil memelototkan mata memberi kode.
Kening Ares mengerut. Dia segera menganggukkan kepala begitu menyadari kode morse yang di kirimkan oleh Tuan Muda-nya.
"Baik Tuan Muda. Dan harus saya apakan buah tangan ini?" tanya Ares sambil menunjukkan kotak cake di tangannya.
"Untukku saja, Ares. Sepertinya itu makanan enak" celetuk Elea ikut menimbrung.
"Itu racun sayang, tidak boleh di makan. Nanti aku akan membelikan cake terenak yang ada di negara ini" ucap Gabrielle sambil mengelus punggung Elea.
Nafsunya semakin membara. "Berikan saja cake itu pada penjaga yang berada di luar. Atau kalau kau mau, kau boleh memakannya."
"Katanya itu racun Kak, kenapa menyuruh orang lain untuk memakannya?" tanya Elea bingung.
Gabrielle tergagap. Dia lalu memikirkan cara untuk mengelak dari kebohongan yang dia buat sendiri.
"Ekhmm begini sayang. Ares dan para penjaga di luar sudah kebal dengan racun. Jadi mereka tidak akan mati semudah itu."
"Oh begitu. Kalau Ares dan paman penjaga di gigit King Cobra, mereka mati tidak Kak?" tanya Elea penasaran.
Ares segera pamit untuk melarikan diri sebelum menjadi korban dari kepolosan nyonya-nya. Yang mana membuat Gabrielle mengumpat kasar di dalam hati.
'Brengsek kau Ares. Berani-beraninya kau membiarkan aku sendirian melawan bahaya.'
"Sudah, jangan bicarakan mereka lagi. Sayang, ayo kita ulang kegiatan panas seperti malam kemarin" ajak Gabrielle dengan tatapan penuh nafsu.
Wajah Elea memerah. Dia tidak berani menatap wajah suaminya. Elea merasa sangat malu, tapi juga mau.
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Gabrielle segera membopong Elea menuju kamar pribadinya. Pikiran mesumnya segera berkelana memikirkan gaya apa yang akan dia pakai untuk menjelalahi lautan biru.
"Kak Iel, kau harus hati-hati. Jangan sampai milikmu tertinggal lagi di dalam sana" bisik Elea sambil menahan tangan Gabrielle yang ingin melepas gaun yang di pakainya.
Gabrielle menelan ludah kasar antara nafsu dan juga ingin tertawa. Di pikir oleh ilmuwan paling pintar pun akan sangat tidak masuk akal jika juniornya sampai tertinggal di dalam milik istrinya. Sungguh lah, pemikiran istrinya sangat luar biasa.
"Aku akan hati-hati sayang, jangan khawatir."
Setelah itu, keduanya mulai larut dalam desahan bergelora. Gabrielle sengaja menyiksa Elea sampai dimana Elea berteriak sekuat-kuatnya begitu gelombang klimaks itu melanda. Seperti ada kebahagiaan tersendiri di mata Gabrielle saat melihat istrinya terkapar kehabisan tenaga. Mereka melakukan olahraga ranjang dengan durasi yang cukup lama. Bukan Elea, tapi Gabrielle yang tidak bisa berhenti. Dia ingin terus, terus dan terus menghujam milik istrinya yang sudah bagaikan candu untuknya. Sampai dimana Gabrielle berhasil mendapatkan pelepasan yang sangat hebat. Dia lalu mengecup bibir Elea lembut sebelum membiarkannya terlelap karena kelelahan.
"Terima kasih untuk penutup makan siang ini sayang. Aku mencintaimu, Elea-ku... "
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...