Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Jahil


__ADS_3

Dengan penuh perhatian Gabrielle menyeka tubuh istrinya dengan air hangat. Dia tersenyum saat Elea terus memandangnya sampai lupa untuk berkedip.


"Sayang, kau ini kenapa sih. Sejak semalam kau terus memandangiku seperti ini. Ada apa, hm?" tanya Gabrielle penasaran.


Elea diam tak menjawab. Dia hanya tersenyum saja.


"Ayolah sayang, jangan mendiamkan aku. Jawab kenapa kau memandangiku terus!.


Di desak seperti itu akhirnya membuat Elea mau bicara. Sebenarnya bukan karena apa-apa, dia hanya sedang bersyukur karena Tuhan sudah memberinya seorang suami yang begitu baik. Gabrielle tak pernah lelah untuk mencintainya meski sekarang dia sedang tidak bisa melakukan apa-apa. Pria ini tetap setia berada di sisinya, bahkan tak keberatan untuk tidur di rumah sakit meskipun Elea tahu kalau suaminya tidak nyaman tidur membungkuk di sisi ranjang yang dia tempati. Mungkin istilah kata sederhananya adalah Elea sedang sangat terharu akan sikap suaminya.


"Aku memandangi Kak Iel karena sangat mensyukuri kebaikan dari Tuhan. Kakak begitu baik padaku, rela merawatku yang sedang sakit, padahal kakak sendiri sudah sangat kelelahan mengurus perusahaan. Maaf ya kak, selalu merepotkan kakak selama ini."


"Aih, kau ini bicara apa sayang. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, aku senang melakukannya. Bukankah suami istri itu harus selalu bersama dalam suka dan duka ya? Sudah lupa apa yang pernah kita ucapkan di hadapan Tuhan?.


Gabrielle tanggap. Istrinya sedang terbawa suasana.


"Aku mana mungkin lupa, kak. Itu tidak akan mungkin terjadi" jawab Elea.


Tok, tok, tok


Dengan cepat Gabrielle membungkus tubuh Elea dengan selimut saat mendengar suara ketukan pintu. Sebelum membukanya, dia terlebih dahulu memastikan kalau tubuh istrinya sudah terbungkus dengan sempurna.


"Mau apa kau?" tanya Gabrielle begitu membuka pintu.


Jackson memicingkan mata. Dia dengan sengaja menerobos masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan makian dari Gabrielle.


"Elea, kenapa kau di bungkus seperti kepompong? Kau demam?" tanya Jackson kaget melihat kondisi adiknya dimana hanya tinggal wajahnya saja yang terlihat.


"Aku tidak demam dok, aku baik-baik saja" jawab Elea sambil tersenyum.


Astaga Gabrielle, ini pasti ulahmu karena merasa cemburu. Benar-benar sudah sangat kelewatan over-posesifmu itu.


"Jangan menatap istriku terlalu lama. Aku tidak suka!" protes Gabrielle ketika mendapati Jackson terus memperhatikan Elea.


"Bahkan jika bisa aku akan meninggalkan kedua bola mataku di sini agar aku bisa tahu apa saja yang sedang dilakukan oleh Elea" sahut Jackson setengah jengkel.


"Jangan gila kau Jack!.


Nafas Gabrielle menderu.


"Kau yang gila, Gabrielle. Bisa-bisanya kau membungkus manusia hidup seperti ini. Apa kau berniat menjadikan Elea seperti mumi? Bagaimana kalau tiba-tiba nafasnya menjadi sesak? Berpikir tidak apa yang akan terjadi padanya?.


Elea yang saat itu sudah berubah menjadi kepompong hanya bisa diam mendengarkan perdebatan antara suaminya dan dokter Jackson. Baru masalah begini saja kedua pria ini sudah langsung bersitegang. Apa jadinya nanti saat Elea memiliki anak. Bisa-bisa bangunan rumah sakit ini runtuh gegara ulah mereka berdua.

__ADS_1


"Kau jangan menakut-nakuti aku ya. Tubuh Elea hanya terbungkus selimut, bukan silikon atau benda berbahaya lainnya. Jadi tidak mungkin dia akan sesak nafas!" amuk Gabrielle dengan sengit.


"Itu sama saja, Gabrielle. Benda-benda seperti ini memiliki tingkat resiko yang sama. Cinta ya cinta, tapi tidak gelap mata begini juga sampai mengabaikan keselamatan. Di sini itu aku atau kau yang menjadi dokternya hah? Siapa di antara kita yang lebih tahu tentang kondisi Elea? Dasar bo doh!" umpat Jackson tak kalah sengit.


Meski tak terima di katai bo doh oleh Jackson, Gabrielle pun segera membuka selimut yang melilit tubuh istrinya. Tapi sebelum itu dia meminta Jackson untuk berbalik karena tadi Elea hanya mengenakan pakaian dalam saat dia menyeka tubuhnya.


"Jangan mengintip. Aku akan mencongkel bola matamu kalau kau sampai berani berbalik sebelum aku memberi aba-aba!.


"Dasar gila!.


Di saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka. Baru saja Fedo hendak menyapa, dia sudah di kagetkan oleh suara teriakan dua orang pria yang kini tengah memelototkan mata ke arahnya.


"KELUAARRRR!!.


Buru-buru Fedo melarikan diri saat ada bahaya mengancam. Dia langsung mengelus dada begitu sampai di luar.


"Astaga, apa-apaan mereka. Seperti orang kerasukan saja!.


Di dalam kamar, Gabrielle yang sudah selesai membantu Elea berpakaian baru mengizinkan Jackson untuk berbalik. Kendati demikian, dia terus memeluk pinggang Elea dengan sangat posesif. Yang mana perbuatannya itu membuat Jackson mendengus marah.


"Bisa tidak kau menyingkir dulu dari sini, Gab? Aku ini ingin memeriksa keadaan Elea, bukan ingin menculiknya!.


"Cihh, tidak usah sok perhatian kau. Hatimu itu busuk, kau pasti cemburu kan melihat kebersamaan kami?.


"Kak Iel, biarkan dokter Jackson memeriksaku dulu. Oke?" bujuk Elea.


"Sayang, jadi kau lebih membelanya daripada aku?" protes Gabrielle.


"Tidaklah. Ya sudah kalau begitu biar aku mati saja ya kak. Kan kakak tidak mau aku sembuh!.


Begitu mendengar ucapan Elea, Gabrielle langsung menyingkir dari sana. Dia memicingkan mata saat Jackson menyeringai jahat ke arahnya.


Rasakan. Dasar bebal.


Ingin rasanya Gabrielle memaku kepala Jackson saat mendengar ejekannya. Dia mendengus kasar, tapi matanya terus memperhatikan gerak-gerik Jackson yang kini mulai memeriksa keadaan Elea.


"Apa semalam kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman?" tanya Jackson.


"Tidak sama sekali, dok. Semuanya terasa baik-baik saja karena Kak Iel ada bersamaku" jawab Elea.


Gabrielle mengulum senyum. Bunga-bunga cinta langsung bermunculan di kelopak matanya.


"Baguslah kalau begitu. Kau meminum obatnya dengan teratur bukan?.

__ADS_1


"Tentu saja. Ada aku yang selalu menyiapkannya" sahut Gabrielle menyombongkan diri.


"Aku tidak bicara denganmu,"


"Masa bodo, aku tidak peduli!.


Elea terkekeh. Lucu sekali melihat pertengkaran kedua pria ini. Hati Elea menghangat karena di perhatikan oleh dua orang pria baik hati yang selalu ada untuknya. Sungguh, Elea benar-benar sangat bersyukur atas kebaikan Tuhan, dia sangat bahagia meskipun bekas operasinya sering berdenyut.


"Elea, jika keadaanmu terus membaik, kemungkinan besar seminggu lagi kau sudah boleh pulang ke rumah" ucap Jackson menyudahi pemeriksaan yang dia lakukan. "Tapi ingat, kau harus istirahat total supaya cepat sembuh. Dan juga jangan sampai kelelahan dulu, itu bisa berdampak pada luka bekas operasinya."


Baru saja Elea hendak bertanya apakah dia sudah boleh masuk kuliah atau belum, dokter Jackson sudah lebih dulu memberinya peringatan. Tubuhnya langsung lesu seketika.


"Sabar, setelah sembuh benar kau pasti bisa segera berkumpul dengan teman-teman barumu. Sekarang lebih baik fokus pada kesembuhanmu dulu ya. Kalau kau selalu berpikiran positif, semuanya pasti akan segera membaik. Oke?" hibur Jackson yang tanggap akan kesedihan adiknya.


"Iya sayang. Kau dengarkan apa kata Jackson ya, kesehatanmu jauh lebih penting dari apapun. Tidak apa-apa sedikit terlambat masuk kuliah, yang penting kau sehat. Oke?" ucap Gabrielle ikut menimpali.


Dengan berat hati Elea menganggukkan kepala. Lalu sedetik kemudian dia menatap aneh ke arah dokter Jackson.


"Dokter Jackson, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?.


Jackson langsung mengangguk. Bahkan nyawanya pun akan dia berikan asal bisa melihat adiknya tersenyum bahagia.


"Beri aku kartu hitam yang banyak. Yang kemarin aku lupa menyimpannya dimana" ucap Elea sembari menampilkan sorot mata yang berbinar.


"Kartu hitam? Apa itu?" tanya Jackson bingung.


"Black card" jawab Gabrielle sambil memijit pelipisnya. "Elea sangat suka dengan black card."


"Oh, itu. Tidak masalah" sahut Jackson. "Nanti aku akan memberikannya untukmu. Kau mau berapa?.


"Em, berapa ya? Aku tanya Kak Levi dulu ya dok. Dia pasti tahu berapa banyak kartu hitam yang harus aku minta padamu" jawab Elea. "Kak Iel, aku pinjam ponselmu ya."


Dan lagi-lagi, Levi akan menjadi korban pamer untuk yang kesekian kalinya. Gabrielle yang sudah paham dengan kejahilan istrinya hanya bisa menggelengkan kepala. Sungguh, Elea sedikit kejam pada Levi.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2