Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Srigala Berbulu Domba


__ADS_3

Di Group Ma, Levi tengah menatap sinis kearah Patricia yang datang untuk membahas pekerjaan dengan Gabrielle. Sejak eksperimen tadi, Levi di minta untuk tetap di sana menunggu Elea bangun dari tidurnya. Namun siapa sangka kalau dia akan kembali bertemu dengan kucing belang yang ingin merebut suami dari teman kecilnya.


"Ada urusan apa kau di sini?" tanya Patricia kesal.


Awalnya Patricia sudah menyusun rencana untuk kembali menjerat Gabrielle. Dia merasa sangat bahagia saat di persilahkan menunggu di ruangan Gabrielle karena si pemilik perusahaan masih sibuk di ruang meeting. Tapi kebahagiaannya luntur seketika begitu dia melihat rivalnya sedang duduk santai di ruangan ini.


"Yo Nona Patricia, apa pertanyaanmu tidak kebalik? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu" jawab Levi santai.


"Matamu buta ya. Tidak lihat kalau aku datang untuk membahas kerjasama dengan Tuan Muda Gabrielle!" sentak Patricia seraya menunjukkan satu berkas yang di bawanya.


Emosi Levi langsung berkobar saat dirinya di katai bodoh oleh kucing belang ini. Dia lalu memikirkan cara agar sepupunya ini merasa kesal kemudian memilih pergi sebelum Elea bangun.


"Hei kau wanita berhati belang, beraninya mengataiku bodoh. Kau lupa ya aku siapanya Gabrielle? Kami sebentar lagi akan menikah dan kau tahu apa artinya?" ancam Levi sambil tersenyum licik. "Artinya, aku bisa dengan mudah meminta Gabrielle untuk menghancurkan perusahaanmu kalau kau berani bersikap kurangajar padaku seperti tadi. Mau!?."


Tangan Patricia terkepal kuat setelah mendengar ancaman yang di lontarkan Levi. Ingin rasanya dia merobek mulut wanita ini yang berani menyebut dirinya akan segera menikah dengan pria incarannya. Jika tidak mengingat untuk tetap menjaga image, Patricia pasti akan langsung memberikan pelajaran pada sepupunya yang kini resmi menjadi rivalnya dalam mendapatkan cintanya Gabrielle.


"Kenapa diam saja hah! Sedang memikirkan cara untuk menyakitiku, iya!" hardik Levi yang sudah sangat hafal dengan tabiat buruk sepupunya.


"Tutup mulutmu Levi. Berhenti memprovokasi kemarahanku" sanggah Patricia berusaha menahan amarah.


"Kalau aku menolak, kau mau apa, hah! Memangnya kau punya nyali untuk membuat onar di perusahaan milik calon suamiku?."


Levi menyeringai puas melihat Patricia yang diam tak berkutik. Dia masih menunggu balasan dari kucing belang ini yang sepertinya sedang bersiap untuk kembali mengibarkan bendera perang.


"Levi Levi... Baru menjadi calon istrinya Gabrielle saja kau sudah sesombong ini. Apa kau itu tidak merasa malu dengan statusmu sebagai mantan model yang di blacklist oleh calon suaminya sendiri? Apa kata orang-orang jika mereka tahu tentang masalah ini? Kau pasti akan menjadi sasaran empuk bagi lidah tajam mereka!" ucap Patricia sembari terkekeh geli.


"Oh ya? Sayangnya aku tidak takut dengan mulut tajam mereka, Patricia. Gabrielle memblackist namaku dari dunia modeling karena dia tidak mau tubuh indahku di nikmati oleh pria lain. Jika alasannya saja seromantis ini, siapa yang masih berani membully-ku hah? Lagipula memangnya mereka tidak takut dengan amarahnya Gabrielle?" balas Levi dengan begitu percaya diri.


'Sialan! Beraninya kucing belang ini mengungkit aibku. Awas saja kau Gabrielle, aku pastikan setelah ini uangmu akan habis ku kuras.'


Patricia kalah telak. Awalnya dia berniat mempermalukan Levi, tapi dia tak menyangka kalau niatnya itu malah berbalik menyerangnya. Sadar kalau dirinya tak akan menang berdebat, Patricia memutuskan untuk duduk dan memeriksa berkas yang di bawanya. Dia pura-pura tak melihat saat Levi ikut duduk di seberang sofa.

__ADS_1


"Oh ya Patricia, bagaimana kabar Paman Bryan? Dia pasti muak sekali memiliki putri yang bermuka dua sepertimu. Iya kan?" tanya Levi yang gemas melihat gaya sok jual mahal sepupunya.


Tak ada tanggapan dari Patricia. Dia malas meladeni Levi yang sepertinya memang sengaja memancing kemarahannya. Patricia khawatir kalau semua ini adalah jebakan untuk membuat namanya jelek di hadapan Gabrielle.


Kesal karena pertanyaannya tak di tanggapi, Levi kemudian mengulik sedikit tentang Elea. Kalau saja Gabrielle tidak memintanya untuk merahasiakan keberadaan Elea dari semua orang luar terutama Keluarga Young, dia pasti akan membawa Elea datang ke rumah itu untuk memberikan syok terapi pada orang-orang jahat yang telah menelantarkan hidupnya. Memikirkan hal itu membuat emosi Levi meledak. Tapi dia berusaha untuk menutupinya di depan Patricia


"Seandainya anak Paman Bryan masih hidup, kau pasti tidak akan berani bersikap congkak padaku, Patricia. Kehadiranmu di keluarga itu hanyalah sebuah keberuntungan saja. Bibi Yura, dia tidak sadar kalau telah memungut srigala berbulu domba yang siap memakannya hidup-hidup!."


Brrraaakkkk


Geram karena statusnya sebagai anak pungut di kulik, Patricia dengan kasar membanting berkas yang sedang di bacanya. Dia lalu menatap tajam kearah Levi.


"Kau sebaiknya berhenti mengatakan hal-hal yang tidak penting padaku, Levi. Aku tidak peduli meskipun benar kau adalah calon istrinya Gabrielle, tidak ada keseganan di hatiku untuk tidak menyakitimu. Ingat itu!" gertak Patricia.


"Hm, seharusnya seperti inilah Patricia yang kukenal. Kau tidak perlu jaim jika sedang bersamaku, keluarkan saja sikap aslimu yang selama ini kau sembunyikan" sahut Levi tanpa merasa takut sedikitpun akan ancaman yang baru saja dia terima. "Aku memang sengaja mengatakan hal-hal yang kau sebut tidak penting itu Patricia. Karena aku ingin kau sadar diri dengan posisimu di Keluarga Paman Bryan. Gelagatmu terlalu mudah untuk bisa aku baca, dan ternyata kau itu sangat serakah. Jangan pikir aku tidak tahu jika selama ini kau diam-diam mengatur siasat untuk merebut semua harta kekayaan milik Paman Bryan. Tapi Patricia, selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah membiarkanmu mendapatakan apa yang ingin kau ambil dari mereka!."


'Karena harta kekayaan yang ingin kau ambil adalah milik Elea. Dia yang lebih berhak mendapatkannya, bukan kau kucing belang. Jadi selama mereka belum mengetahui kalau Elea masih hidup, maka akulah yang akan mengamankan hak warisan itu dari tangan manusia serakah sepertimu!.'


"Apa yang ingin aku lakukan tidak ada urusannya denganmu, Levi. Kau itu hanya orang luar."


"Tentu saja itu akan menjadi urusanku Patricia. Karena aku tahu semua kebenaran yang ada di rumah itu!."


"Apa maksudmu?" tanya Patricia curiga.


'Tidak mungkin Levi mengetahui tentang Eleanor kan?.'


"Tidak ada maksud apapun. Hanya merasa kalau kau itu tidak pantas berada di posisimu yang sekarang" jawab Levi mempermainkan kecurigaan sepupunya.


"Kata-katamu sangat ambigu. Apa kau sedang menutupi sesuatu dariku?" selidik Patricia yang masih tidak percaya.


"Menurutmu?" sahut Levi di barengi dengan smirk di sudut bibirnya.

__ADS_1


Saat Patricia ingin bicara, ponselnya berdering. Dia mengerutkan kening begitu melihat siapa yang menelfon.


"Halo Pak, ada apa menghubungiku?" tanya Patricia setelah mengangkat panggilan dari supir ayahnya.


"Maaf mengganggu, Nona Patricia. Tuan Bryan meminta saya menghubungi anda untuk memberitahu kalau Tuan Karim masuk rumah sakit. Jika sudah tidak sibuk lagi, Nona di minta untuk segera datang menyusul. Begitu pesan Tuan Bryan."


Mata Patricia membelalak lebar begitu mendengar kabar kalau kakeknya di larikan ke rumah sakit. Bayangan wajah ibunya yang sedang menangis langsung memenuhi rongga matanya.


"Baik Pak, aku akan segera kesana. Dimana Kakek di rawat?" tanya Patricia sambil merapihkan berkas miliknya.


"Di rumah sakit Group Ma, Nona."


"Ya sudah kalau begitu aku tutup panggilannya. Secepatnya aku akan segera sampai di rumah sakit!."


Mendengar jika kakeknya Elea berada di rumah sakit, Levi pun ikut merasa cemas. Dia memperhatikan Patricia yang terlihat begitu terburu-buru.


"Aku pikir kau akan tertawa bahagia begitu mendengar kalau Kakek Karim jatuh sakit. Tidak kusangka wajahmu yang jelek itu masih bisa memperlihatkan raut kekhawatiran" sindir Levi dengan sengaja.


"Aku tidak sejahat yang kau pikirkan Levi. Kakek sangat menyayangiku, dan akupun sangat menyayanginya" sahut Patricia kemudian melangkah pergi dari ruangan Gabrielle.


Levi tak langsung percaya begitu saja pada ucapan Patricia. Dia tahu benar kalau kucing belang ini memiliki seribu tipu muslihat yang bisa mengecoh pemikiran semua orang, terkecuali dirinya. Levi tidak akan membiarkan dirinya masuk ke dalam siasat yang biasa di gunakan Patricia untuk merebut simpati dari orang lain. Dia tidak sebodoh itu.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak Rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2