
Gabrielle hampir kehilangan kendali saat Ares mengatakan kalau Elea terluka. Dia yang saat itu tengah membahas pekerjaan segera berlari pergi dari sana. Gabrielle sudah tak peduli lagi meski harus kehilangan ratusan milyar akibat meninggalkan meeting begitu saja. Yang ada di dalam otaknya sekarang hanyalah Elea, dia sangat takut istrinya itu kenapa-napa.
"Aaaarrggghhhh, kenapa liftnya lelet sekali. Cepat naik!" teriak Gabrielle sambil memencet semua tombol yang ada di dalam lift. "Ares, bukankah aku sudah memintamu untuk mengganti lift sialan ini! Kenapa kau membiarkan barang rongsok berada di perusahaanku hah!."
"Tuan Muda, ini adalah lift keluaran terbaru. Ruangan anda ada di lantai atas, mohon tunggu sebentar saja!" sahut Ares berusaha menenangkan amarah Tuan Muda-nya.
"Tunggu kepalamu. Istriku terluka, bagaimana bisa kau menyuruhku menunggu hah!" sentak Gabrielle sambil mencengkeram kerah baju Ares.
"Maaf Tuan Muda!."
Dengan kasar Gabrielle melepaskan cengkeraman tangannya kemudian mendorong Ares hingga menabrak dinding lift. Dia lalu mendengus kuat sambil mengusap wajah.
"Jika Elea sampai terluka parah, aku akan membunuh mereka semua yang ada di sana. Lihat saja, aku tidak main-main dengan ucapanku!."
Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Gabrielle segera berlari cepat menuju ruangannya. Dalam hatinya dia berdoa supaya tidak melihat hal buruk seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
Brraaakkk
"Elea, kau kenapa sayang? Kenapa bisa terluka?" cecar Gabrielle setelah dia menendang pintu ruangannya.
Reinhard, Levi dan Elea sama-sama terperanjat kaget. Mereka menatap takut kearah Gabrielle yang terlihat begitu mengerikan saat berjalan kearah mereka.
"Kak Iel" panggil Elea pelan.
Bola mata Gabrielle seperti ingin meloncat keluar begitu dia melihat kondisi Elea yang mendapat perban di bagian kening dan kakinya. Dengan marah Gabrielle menarik baju Reinhard kemudian memukul perutnya beberapa kali.
Bughhh, buugghhhhhh
"Brengsek, bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak membiarkan istriku terluka! Lalu apa ini Reinhard! Kalian membuat istriku celaka!."
Ares segera menahan tangan Tuan Muda-nya yang ingin kembali menghajar Reinhard. Dia mengabaikan tatapan membunuh dari pria yang merasa tersinggung dengan tindakannya.
"Beraninya kau...
"Maafkan saya Tuan Muda. Dokter Reinhard bisa mati jika anda terus memukulinya " ucap Ares memotong perkataan Tuan Muda-nya.
Gabrielle mengumpat kemudian melepaskan Reinhard. Dia lalu menghampiri Elea yang duduk tercengang di sebelah Levi. "Minggir kau. Dasar tidak berguna, apa saja yang kau lakukan disana hah!."
Levi menjadi sangat gugup saat Gabrielle memarahinya. Dia juga merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Elea.
"Gabrielle, ini di luar rencana kita. Kita bicarakan ini nanti, ada Elea di sini!" bisik Reinhard sambil meringis menahan sakit di perutnya.
__ADS_1
Bibir Elea gemeteran melihat suaminya yang mengamuk seperti orang gila. Dia lalu menatap kasihan kearah Reinhard yang sedang duduk sambil memegangi perutnya yang baru saja mendapat bogem mentah dari pria yang sedang menciumi tangannya.
"K,Kak Iel kau tidak boleh memukuli orang sembarangan. Nanti kau bisa masuk penjara" ucap Elea takut-takut.
Sadar kalau perbuatannya tadi sudah membuat istrinya ketakutan, Gabrielle segera meminta maaf. Dia tidak mau kalau kemarahannya tadi kembali membuat Elea merasakan trauma.
"Maafkan aku sayang, aku khilaf melihatmu terluka seperti ini. Jangan takut ya, oke. Sekarang aku akan meminta maaf pada Reinhard" jelas Gabrielle kemudian beralih menatap sahabatnya dengan tatapan bengis. "Maafkan aku Rein, aku tidak sengaja tadi!."
Reinhard segera mengangguk. Dia tahu kalau permintaan maaf temannya ini sama sekali tidak tulus. Karena Gabrielle bicara sambil melemparkan tatapan seperti ingin memakannya.
'Sabar Reinhard, sabar. Sahabatmu ini sedikit gila, jadi kau yang masih waras harap untuk bisa maklum.'
Jika seandainya Reinhard tahu kalau Gabrielle bisa mendengar pikiran orang lain, dia pasti akan sangat menyesal karena sudah membatin seperti itu. Sedangkan Gabrielle, dia hanya bisa menahan kekesalannya karena tidak mungkin dia mengatakan pada semuanya kalau dia bisa mendengarkan apa yang sedang mereka pikirkan.
"Kak Iel, tadi, tadi di sana...
Suara Elea tersendat saat ingin mengadu kalau tadi dia bertemu si dokter jahat. Namun Elea berusaha untuk tetap tenang meksipun dada dan pikirannya mulai bergemuruh takut.
"Di sana apa sayang, hem? Jangan takut, ayo katakan saja. Kita semua ada bersamamu" ucap Gabrielle mendorong keberanian istrinya untuk bicara.
Sebelum melanjutkan kata-katanya, Elea menelan ludah sambil menatap lekat kearah mata suaminya. Dia sedang mencari tempat berteduh di dalam sana.
"Tadi di sana, di sana ada dokter jahat itu Kak. Dia, dia....
"Dia, dia ingin menangkapku!."
Grreeeppp
Begitu menyelesaikan kata-katanya, Elea langsung meringsek masuk ke dalam pelukan suaminya. Dia bahkan mengabaikan kakinya yang berdenyut karena menabrak pinggiran sofa. "Aku takut sekali Kak, aku takut."
"Ssstttt, tidak apa-apa sayang. Di sini ada aku, ada Reinhard, ada Levi dan juga ada Ares. Di luar juga banyak sekali paman-paman yang sedang berjaga. Jadi jangan takut lagi ya? Dokter itu tidak akan berani masuk kemari!."
"Tapi aku benar-benar sangat takut, Kak Iel. Dia, dia tersenyum aneh saat melihatku tadi" cicit Elea dengan suara bergetar.
Gabrielle mengangguk sambil terus mengusap punggung istrinya. Dia bisa merasakan tubuh Elea yang bergetar hebat setelah menceritakan kejadian tadi. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat hening. Levi, Reinhard dan Ares hanya diam sambil melihat pasangan suami istri ini yang sedang saling memeluk.
"Aku takut sekali Kak. Aku takut" gumam Elea dengan suara yang mulai menghilang.
"Tidurlah yang nyenyak Elea. Kau pasti sangat terkejut dengan kejadian di taman tadi" bisik Gabrielle saat dia mendengar suara dengkuran halus dari gadis yang berada di pelukannya.
"Tuan Muda, sebaiknya Nyonya di pindahkan ke kamar saja" ucap Ares sambil menatap kaki nyonya nya yang menggantung di pinggiran sofa.
__ADS_1
"Seperti ini dulu saja Res. Aku masih ingin memeluknya" sahut Gabrielle pelan.
Ares mengangguk. Dia lalu melirik kearah Levi, mengirim sinyal supaya dia membetulkan letak kaki nyonya nya yang terlihat tidak dalam posisi yang benar.
"Kenapa menatapku?" tanya Levi heran.
Reinhard langsung menatap curiga kearah Ares yang sedang memperhatikan wanita yang di sukainya. Seketika rasa cemburunya membludak. Ingin sekali dia mencongkel bola mata Ares dan memberikannya pada anak ayam yang sedang kelaparan.
"Buang pikiran kotormu jauh-jauh Nona. Aku bukan menatapmu, tapi aku sedang mengetes kepekaanmu saja" jawab Ares jengah.
"Apa maksudmu?."
"Coba perhatikan kaki Nyonya Elea. Saat beliau bangun pasti kakinya akan terasa sangat nyeri karena tergantung seperti itu."
Mata semua orang segera tertuju ke kaki gadis kecil yang sedang tertidur itu. Cepat-cepat Levi membenarkannya begitu dia mendapat lirikan tajam dari pria di yang berjongkok di sebelahnya.
'Astaga, kenapa tatapan Gabrielle horor sekali? Seperti mata dakjal saja!.'
"Gabrielle, meskipun di luar rencana, tapi reaksi Elea tadi sesuai dengan yang kita harapkan. Kepekaannya terhadap kesulitan orang lain berhasil mengalihkan rasa takutnya dari kejaran dokter gadungan itu" ucap Reinhard. "Aku salut pada istrimu, hatinya benar-benar mulia."
Gabrielle menghela nafas lega kemudian tersenyum samar. Dia menciumi puncak kepala Elea sambil terus mengusap punggungnya dengan sayang.
"Aku tahu Elea pasti berhasil Rein. Dan luka-luka ini, bisa tolong di jelaskan? Tidak mungkin dokter gadungan itu yang memukulinya kan?" tanya Gabrielle penasaran.
Levi segera angkat bicara untuk menjelaskan asal muasal luka di tubuh makhluk kecil ini. "Saat Elea sedang berlari dia tidak sengaja menabrak orang yang muncul dari arah berlawanan. Dan luka di kakinya itu di sebabkan sepatunya yang tidak sengaja terlepas. Mungkin karena sangat ketakutan Elea sampai tak menyadari kalau telapak kakinya robek tergores kerikil tajam. Kalau luka di keningnya akibat tabrakan itu. Sepertinya kepala Elea membentur benda keras!."
Mata Gabrielle terpejam setelah mendengar jawaban Levi. Dia bisa merasakan betapa takutnya Elea saat menjalani eksperimen gila ini. Saat Gabrielle sedang termenung, Elea bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia seperti tidak nyaman tidur dalam posisi duduk di sofa.
"Ares, tolong siapkan kamarnya!."
"Baik Tuan Muda" sahut Ares kemudian segera masuk ke dalam kamar pribadi milik Tuan Muda-nya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...