Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Sejuta Pesona


__ADS_3

"Oh Gabrielle, kau di sini?" tanya Clarissa kaget saat membuka pintu kamar hotel. "Apa kau mencari Ares?


"Tidak, Grandma. Aku datang untuk mengajak Grandma bicara" jawab Gabrielle dengan nada serius.


Kening Clarissa mengerut. Dia lalu membuka pintu kamar dan mempersilahkan cucu menantunya masuk ke dalam.


"Duduklah!


"Tidak usah Grandma, karena setelah ini kita akan langsung pergi ke suatu tempat" jawab Gabrielle.


"Tempat? Kemana?" tanya Clarissa bingung.


Gabrielle menghela nafas.


"Makamnya Mama Sandara. Aku ingin Grandma datang berkunjung kesana."


Tubuh Clarissa membeku. Karena terlalu memikirkan permasalahan yang terjadi antara dia dengan cucunya Clarissa sampai lupa untuk berziarah ke makam putri kandungnya. Clarissa sebenarnya ingin menangis, tapi dia menahannya.


"Jangan di tahan, Grandma. Keluarkan saja" ucap Gabrielle pelan. "Jangan merasa bersalah karena Grandma belum sempat menyapa Mama Sandara sejak datang ke negara ini. Juga jangan jadikan Elea sebagai alasan untuk Grandma menyalahkan diri sendiri."


"Grandma tidak menyalahkan Elea, Gabrielle. Ini bukan salahnya, melainkan salah Grandma sendiri yang lupa dengan Mama mertuamu" sahut Clarissa yang menyadari ada nada ketidaksukaan dari ucapan cucu menantunya ini. "Tunggu sebentar ya, Grandma ingin berganti pakaian dulu. Baju ini sepertinya tidak cocok jika harus di pakai ke pemakaman."


Sambil menahan sesak di dada, Clarissa melangkah pergi untuk bertukar pakaian. Baru saja dia hendak masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Gabrielle memanggilnya.


"Grandma..."


"Ya, ada apa?


"Malam ini adalah malam yang tepat untuk Grandma bertemu dengan Kakek Karim. Aku baru mendapat kabar kalau Elea sudah memaafkannya" jawab Gabrielle. "Grandma, tolong sudahi permasalahan kalian. Seminggu lagi Elea akan masuk ke Universitas, jadi aku tidak mau fokusnya terbagi dengan adanya masalah ini."


Deg, deg, deg


Jantung Clarissa berdebar kuat saat nama Karim di sebut. Ada kerinduan yang teramat dalam di lubuk hatinya, tapi juga ada rasa yang teramat sakit ketika teringat kalau putri kesayangannya mati di tangan pria yang pernah mengisi hatinya itu.


Gabrielle yang paham akan kesakitan yang di rasakan oleh neneknya Elea datang mendekat untuk memberi penghiburan. Dengan penuh perhatian Gabrielle mengusap bahu Grandma Clarissa, mengesampingkan OCD akut yang dia derita demi membujuk wanita yang tengah merencanakan sesuatu dalam pikirannya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud membuka luka lama Grandma dengan memaksa untuk bertemu dengan Kakek Karim. Tapi ini semua aku lakukan demi kebahagiaan Elea. Kasihan dia Grandma, sudah bertahun-tahun dia hidup dalam kepedihan. Biarkan masalalu pahit itu menjadi kenangan kalian berdua saja, jangan libatkan Elea lagi. Sembilan belas tahun Grandma, sembilan belas tahun lamanya dia hidup terlunta-lunta karena kesalahan kalian. Tolong lakukan ini demi Elea, Grandma. Aku mohon."


Bibir Clarissa bergetar. Ucapan Gabrielle bagai jawaban dari apa yang sedang dia pikirkan. Ya benar, tadinya dia berniat memasukkan Karim ke dalam penjara. Dia tidak terima putrinya mati dengan cara yang sangat mengerikan di tangan ayah kandungnya sendiri. Clarissa ingin Karim mati membusuk di sana, dia tidak rela pria kejam itu hidup dengan bebas sementara putrinya terbaring di dalam tanah dengan membawa luka dan airmata. Sesak memikirkan semua itu, Clarissa akhirnya menangis. Semuanya terasa sangat menyakitkan dimana dia harus menerima takdir sekejam ini.


"Menangislah sepuasmu, Grandma. Tapi setelah ini tersenyumlah dengan lepas. Apa yang terjadi antara Grandma, Kakek Karim, Mama Sandara dan juga Elea adalah rangkaian garis takdir yang sudah di atur oleh Tuhan. Mungkin dulu kalian semua tanpa sadar sudah saling menyakiti, tapi sekarang kalian mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri dan hidup dengan bahagia. Elea sudah menemukan jalannya, dia bahagia hidup bersamaku. Sekarang giliran Grandma dan Kakek Karim, kalian carilah cara untuk berdamai dengan kesalahpahaman ini. Demi Elea, Grandma " imbuh Gabrielle lagi.


"Hikssss... apakah dengan begini Elea akan bahagia, Gab? Grandma...


Ucapan Clarissa terputus. Rasanya seperti ada jarum yang menusuk tenggorokannya saat dia ingin mengucapkan kata penyesalan.


"Percaya padaku Grandma, jika Grandma bersedia untuk berbaikan dengan Kakek Karim aku yakin Elea pasti akan sangat bahagia. Dia begitu menginginkan keluarga yang utuh, dan sekarang dia hampir mendapatkannya. Elea sudah memiliki sosok Ibu pengganti di diri Bibi Yura, Elea juga sudah mendapatkan kasih sayang dari Ayah Bryan, dan dia pun kini sudah berdamai dengan sakit hatinya terhadap Kakek Karim. Tidakkah Grandma ingin Elea juga melupakan kekecewaan yang dia rasakan?" tanya Gabrielle.


"Grandma sangat ingin" jawab Clarissa sambil terisak.


"Kalau begitu sekarang Grandma ganti baju. Aku akan membantu menyelesaikan semuanya sebelum Elea pulang ke rumah."


"Apa kepergian Ares dan Cira kau juga yang mengaturnya?.


Gabrielle mengangguk.


"Aku rasa mereka tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Ini privasi keluarga kita, lagipula mereka juga sama-sama membutuhkan banyak waktu untuk saling mengenal."


"Tunggu sebentar ya. Grandma perlu mempersiapkan diri untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Demi Elea.."


Gabrielle lagi-lagi mengangguk. Dia kemudian melangkah pergi dari depan pintu kamar mandi, berjalan kearah sofa lalu mengambil sapu tangan dari saku jasnya.


"Sayang, malam ini kau harus membayar mahal padaku. Demi-mu, aku sampai rela bersentuhan dengan orang lain. Awas saja, malam ini aku tidak akan melepaskanmu" gumam Gabrielle kemudian terkekeh membayangkan rengekan istrinya yang memohon agar dirinya berhenti menghujam. "Astaga junior, jangan menegang sekarang. Rumahmu sedang sibuk memamerkan harta kekayaannya. Nanti malam saja kalau mau mengamuk!.


Seperti orang gila, Gabrielle berdebat dengan juniornya yang sudah menegang begitu dia membayangkan hal-hal panas yang biasa dia lakukan dengan Elea. Saking asiknya dia berdebat, Gabrielle sampai tak menyadari kalau Grandma Clarissa tengah memperhatikannya dengan raut wajah yang bingung.


"Gabrielle, kau bicara dengan siapa?" tanya Clarissa heran.


"Haaa...." Gabrielle tergagap. "Oh itu, aku sedang menghafal beberapa kontrak kerjasama."


Aneh, itu yang di pikirkan oleh Clarissa.

__ADS_1


"Grandma sudah siap?" tanya Gabrielle sambil bangkit berdiri. Dia mencoba mengalihkan perhatian.


"Sudah" jawab Clarissa. "Nanti berhenti di toko bunga dulu ya. Mama mertuamu dulu sangat suka bunga anggrek, Grandma ingin membeli bunga itu untuknya."


"Baik, Grandma."


Setelah semua siap, Clarissa dan Gabrielle bergegas keluar dari kamar hotel. Mereka melangkah beriringan saat menuju lift, membuat beberapa wanita yang aktif di dunia mode memperhatikan dengan lekat kearah Clarissa.


"Hei, bukannya itu Nyonya Clarissa Wu si ratu mode asal Paris ya? Waaaa... mimpi apa aku semalam bisa melihatnya di hotel ini. Bersama Tuan Muda Gabrielle lagi. Kira-kira ada hubungan apa ya di antara mereka? Jangan-jangan Tuan Muda Gabrielle adalah daun mudanya Nyonya Clarissa Wu!


"Husss, jangan sembarangan bicara kau. Dinding hotel ini mempunyai mata dan telinga, hati-hati dengan lidahmu. Kau mau berurusan dengan Nyonya Besar Liona?


"Astaga, kenapa mulutku bisa lepas rem begini sih? Ayo pergi, aku tidak mau berurusan dengan keluarga itu. Bisa-bisa aku di ceraikan oleh suamiku gara-gara masalah ini. Ayo cepat pergi!


Kira-kira seperti itulah bunyi percakapan yang tadi di ucapkan oleh segerombolan wanita. Membuat Clarissa menghela nafas panjang.


"Jangan hiraukan mereka, Grandma" ucap Gabrielle sambil melangkah masuk ke dalam lift.


"Rasanya aneh saja saat mereka menyebutmu sebagai daun muda yang di pelihara oleh Grandma. Kalau Elea tahu, dia pasti akan merasa sedih" sahut Clarissa.


"Grandma salah kalau berfikir seperti itu tentang Elea. Yang ada para wanita itu bisa mati berdiri mendengar celetukannya. Grandma tahu sendiri bukan kalau mulut Elea itu sangat beracun? Ayah dan Ibu saja sempat mengeluh setelah berbicara dengannya."


"Benarkah? Ayah dan Ibumu sampai seperti itu?


Gabrielle mengangguk.


"Tapi meskipun begitu mereka sangat menyayangi Elea. Dia datang dengan membawa sejuta pesona yang membuat Ayah dan Ibu jatuh cinta."


Clarissa mengangguk menyetujui ucapan Gabrielle. Ya, cucunya itu memang mempunyai sejuta pesona dimana hanya cucunya saja yang memiliki. Polos dan bodoh, namun menyimpan sejuta misteri.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2