
"Selamat siang, Tuan Karim!".
Karim menganggukan kepala saat para karyawan menyapanya. Saat ini dia tengah berada di Group Young, dia ingin menemui Bryan. Entah ada apa dengannya hari ini, hatinya terasa sangat gelisah. Seolah memberi pertanda kalau akan terjadi sesuatu padanya.
"Kakek!".
Patricia yang mendapat laporan kalau kakeknya datang berkunjung segera berlari menghampiri. Dia melangkah cepat kemudian memeluk kakeknya dengan sayang. "Kenapa Kakek tidak bilang kalau mau datang kemari?".
"Kakek tidak mau mengganggu waktumu, Patricia. Kau sedang sangat sibuk sekarang" jawab Karim sembari membelai rambut cucunya.
"Memang benar aku sedang sibuk, Kek. Tapi apa salahnya meluangkan sedikit waktu untuk sekedar menjemput Kakek di rumah. Toh itu tidak akan membuat pekerjaanku terganggu juga!" ucap Patricia sambil melepas pelukan.
Karim tersenyum. Dia menggelengkan kepala saat Patricia bergelayut manja di lengannya. Hal yang sangat dia sukai dari gadis ini.
"Ayahmu ada di ruangannya tidak?" tanya Karim saat mereka berada di dalam lift.
"Sepertinya ada, Kek. Kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin Kakek bicarakan dengan Ayah?" jawab Patricia menyelidik.
"Tidak ada. Kakek hanya ingin berbincang dengan ayahmu saja. Perasaan Kakek mendadak terasa tidak enak!".
Kening Patricia mengerut.
'Apa jangan-jangan orang suruhan Kakek sudah menemukan keberadaan Elea? Ini tidak boleh di biarkan, aku harus tahu apa yang akan mereka bicarakan nanti!'.
"Em Kakek, boleh aku bertanya?" tanya Patricia sambil memasang wajah lucu agar kakeknya tidak curiga.
"Apa yang ingin kau tanyakan, hm?".
Karim melangkah pelan saat mereka keluar dari dalam lift. Dia tersenyum menanggapi sapaan dari karyawan yang berpapasan dengannya.
"Apa Kakek sudah menemukan harta karun itu?".
Langkah Karim terhenti begitu dia mendengar pertanyaan Patricia. Untuk sepersekian detik dia merasa kalau cucunya ini sedang mencurigainya. Namun Karim segera menepis perasaan tersebut. Tidak mungkin Patricia mengetahui tentang Eleanor. Selama ini keluarganya hanya tahu kalau Eleanor sudah meninggal beberapa menit setelah ibunya tiada. Hanya dia dan mendiang istrinya saja yang tahu kalau sebenarnya Eleanor masih hidup.
"Maaf kalau pertanyaanku membuat Kakek tersinggung. Aku hanya penasaran saja seberapa banyak harta karun yang sedang Kakek cari. Sungguh!" ucap Patricia cepat saat menyadari kalau kakeknya mulai curiga.
"Hahahahahaha, kau ini. Kakek bukan tersinggung, hanya sedang berfikir saja. Harta karun yang Kakek cari sangat sulit di temukan. Entahlah, tapi Kakek akan tetap berusaha" sahut Karim menertawakan ekpresi cucunya yang terlihat takut.
"Tetap semangat, Kek. Tapi nanti jangan lupa untuk memberiku hadiah ya kalau harta karunnya sudah di temukan!".
Karim mengangguk.
"Dasar gadis nakal!".
Patricia tertawa. Dia menarik nafas lega karena kakeknya tak lagi mencurigainya. Sambil terus bercanda, dia mengantarkan kakeknya menuju ruangan dimana ayahnya berada.
"Nah Kakek, kita sudah sampai. Masuklah, aku akan kembali ke ruanganku, masih banyak pekerjaan yang harus segera aku bereskan!" ucap Patricia.
"Ya sudah, terima kasih. Jangan terlalu lelah, otakmu juga butuh istirahat, Patricia" sahut Karim sembari mengusap bahu cucunya.
__ADS_1
"Siap bos!" canda Patricia sambil berpose memberi hormat.
Kelakuan cucunya membuat Karim tertawa senang. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan putranya setelah Patricia pergi.
"Apa Ayah mengganggumu?".
Bryan yang sedang memeriksa berkas menoleh kearah pintu. Dia sedikit kaget melihat ayahnya yang sedang berdiri di sana.
"Tidak, Ayah tidak menggangguku. Kapan Ayah datang" tanya Bryan.
"Baru saja. Putrimu yang mengantarkan Ayah kemari" jawab Karim.
"Tunggu sebentar, Ayah. Aku akan menemanimu mengobrol setelah pekerjaanku selesai. Sedikit lagi!" ucap Bryan yang tahu maksud dari kedatangan ayahnya.
"Pelan-pelan saja" sahut Karim kemudian berjalan ke dekat jendela.
Matanya menerawang jauh pada kejadian sembilan belas tahun silam.
Flashback
"Dasar wanita tak tahu diri, bisa-bisanya kau malah bersantai di sini sementara pekerjaan yang lain belum beres! Cepat bersihkan atau aku akan membuat anak ini tidak bisa terlahir ke dunia!" bentak Karim sambil menunjuk kearah perut buncit menantunya.
Sandara yang tengah duduk di lantai sambil memakan sarapannya terkejut mendengar suara bentakan dari ayah mertuanya. Karena perutnya yang sudah semakin besar, Sandara sedikit kesulitan saat ingin berdiri. Dia lalu menggapaikan tangan meminta pertolongan dari ayah mertuanya saat tubuhnya sedikit limbung.
"Ayah, tolong bantu aku!" pinta Sandara memelas.
"Cihh, matipun aku tidak akan sudi membantumu. Semoga saja kau dan anakmu bisa segera lenyap dari muka bumi ini agar Bryan bisa menikahi wanita yang lebih segala-galanya darimu. Cuihhhh!" tandas Karim kasar kemudian meludah tepat di depan menantunya yang sedang berusaha agar tidak jatuh.
"Tidak apa-apa jika Ayah membenciku. Tapi tolong jangan kucilkan anakku kelak. Dia tidak bersalah".
Karim tertawa keras mendengar perkataan Sandara. Baginya, janin yang ada di dalam perut Sandara bukanlah cucunya. Bayi itu terkutuk.
"Dengarkan aku baik-baik Sandara. Aku Karim Young, bersumpah atas nama Tuhan, lebih baik Keluarga Young tidak memiliki penerus daripada harus membiarkan bayi terkutuk itu hidup di lingkungan keluarga ini. Tidak peduli entah itu bayi laki-laki ataupun bayi perempuan. Selama aku belum mati, tidak akan kubiarkan keturunanmu menguasai harta keluargaku. Cucuku harus terlahir dari wanita yang terhormat, bukan wanita tidak jelas sepertimu. Menjijikkan!".
Tanpa Karim sadari, sumpah yang dia ucapkan di jawab langsung oleh Tuhan. Tuhan tak pernah tidur, Dia tahu kalau selama ini Sandara telah di perlakukan dengan sangat tidak manusiawi oleh Karim dan istrinya.
Flashback Now
Bryan terus memanggil-manggil ayahnya yang sedang melamun sambil meneteskan airmata. Cemas karena ayahnya tak kunjung merespon, Bryan lalu memukul bahunya cukup kuat.
Bughhh
"Ayah, kau kenapa? Apa yang membuatmu menangis?".
Karim sedikit kaget saat bahunya di pukul dengan cukup keras. Dia segera menghapus air matanya saat Bryan mulai bertanya.
"Apa tubuh Ayah ada yang tidak nyaman?" tanya Bryan khawatir.
"Tidak, Ayah hanya sedang merindukan ibumu saja. Makanya Ayah menangis" jawab Karim berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Bryan sedikit tidak percaya dengan alasan ayahnya. Ini sudah sembilan tahun sejak ibunya meninggal, dan baru sekarang Bryan melihat ayahnya menangis sesedih ini.
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Bryan menyelidik.
"Maksudmu?" beo Karim salah tingkah.
"Ayah, aku tahu Ayah menangis bukan karena sedang merindukan ibu. Tapi Ayah menangisi hal yang lain. Boleh aku tahu apa yang membuat Ayah merasa sesedih ini?".
Karim menatap lekat kearah putranya. Ingin rasanya dia mengungkap semua kejahatan yang pernah dia lakukan pada Sandara dan juga Eleanor dulu, tapi dia takut. Karim takut kalau Bryan tidak akan mau lagi menganggapnya sebagai ayah jika tahu rahasia itu.
"Jangan di pendam, Ayah. Katakan saja. Siapa tahu itu bisa mengurangi beban di hati Ayah!" bujuk Bryan tak tega melihat raut kesedihan di wajah ayahnya.
"Bryan... ".
"Iya, kenapa?".
Bibir Karim gemetar.
"Seandainya, seandainya suatu hari nanti kau mengetahui kalau Ayah pernah berbuat salah, apa yang akan kau lakukan? Kau akan memaafkan atau malah membenci Ayah?" tanya Karim.
Alis Bryan saling bertaut, dia bingung mendengar pertanyaan aneh ayahnya.
"Kenapa Ayah bertanya seperti itu?".
'Karena Ayah memang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, Bryan. Ayah yang telah membuatmu terpisah dari anakmu dan Sandara. Ayah kejam, Ayah bukan ayah yang baik untukmu. Tolong maafkan Ayah nak, Ayah menyesal telah menyakiti anak dan istrimu. Ayah menyesal!'.
"Ayah?" panggil Bryan.
Tubuh Karim terhenyak.
"Badan Ayah tiba-tiba terasa tidak enak. Ayah pulang dulu" ucap Karim kemudian keluar dari sana dengan terburu-buru.
Bryan merasa sangat aneh melihat kelakuan ayahnya barusan. Tingkahnya seperti perampok yang ketahuan sedang mencuri.
"Ada apa dengan Ayah? Tidak biasanya dia gugup seperti itu" gumam Bryan kemudian kembali melanjutkan memeriksa berkas yang masih menumpuk di mejanya.
Sementara itu di luar ruangan, Karim tengah berdiri menyender sambil mengusap dada. Suasana di dalam tadi sangat menengangkan, dia sangat takut kalau Bryan akan menaruh rasa curiga kepadanya.
"Maafkan Ayah, Bryan. Ayah belum siap untuk mengakui semua kejahatan Ayah dulu. Beri Ayah waktu sedikit lagi, Ayah akan mengakuinya langsung setelah Ayah menemukan keberadaan Eleanor. Tolong maafkan Ayahmu yang bodoh ini, Bryan!" ratap Karim pilu.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...