
"Ini adalah foto Mama-mu saat masih bayi. Lucu sekali kan?" tanya Clarissa sembari mengusap foto lama putrinya. Matanya nampak berkaca-kaca.
Elea tersenyum, dia lalu mengusap punggung neneknya yang bersedih saat mengenang masa kecil ibunya. "Jangan sedih Grandma, nanti Mama juga ikut merasa sedih di surga sana."
"Iya sayang, Grandma tidak akan bersedih lagi. Oh iya Elea, bisa tolong beritahu Grandma penyebab Mama-mu meninggal tidak? Mama-mu sakit atau bagaimana?."
Semua orang yang ada di ruang tamu langsung bungkam begitu Clarissa menanyakan penyebab kematian putrinya. Keanehan itu membuat Clarissa bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah putrinya meninggal dengan cara yang tidak wajar sehingga membuat orang-orang ini bersikap mencurigakan.
"Elea, Mama-mu,, tidak meninggal dalam kesakitan bukan?" tanya Clarissa lagi sambil menatap penuh selidik kearah cucunya yang terdiam dengan raut wajah yang terlihat aneh.
"Grandma, kita bicarakan masalah ini besok saja ya" sela Gabrielle menyadari kalau Elea enggan untuk membahas sesuatu yang menyakitkan hatinya. "Ini sudah malam, sebaiknya Grandma istirahat, kami juga akan istirahat!."
"Benar Grandma. Kita lanjut mengobrol besok saja!" imbuh Reinhard ikut mencemaskan perubahan di diri Elea.
Sementara Levi, dia sudah hampir meneteskan airmata karena tak tega melihat teman kecilnya bersedih. Tanpa menghiraukan keberadaan Gabrielle yang duduk sambil merangkul pinggang Elea, Levi berpindah duduk kemudian menarik Elea ke dalam pelukannya. Dia membelai kepalanya penuh sayang, seakan Elea adalah adik kandungnya sendiri.
"Aku tidak suka seperti ini, Kak" bisik Elea kemudian menenggelamkan wajahnya ke bahu Levi. "Aku datang kemari hanya untuk bahagia, bukan untuk membuka luka lama. Aku benci seperti ini!."
"Sssstttt tenanglah, tidak akan ada yang mengungkit masalah itu lagi. Lebih baik sekarang kita pergi ke kamarmu saja. Aku akan menemanimu istirahat" sahut Levi cemas mendengar deru nafas Elea yang semakin tidak beraturan.
Gabrielle menatap cemas kearah Levi yang sedang memeluk istrinya. Dia mencoba mencari tahu apa yang sedang mereka bicarakan dengan terus menatap lekat ke matanya Levi.
"Ekhmm Gabrielle, Nyonya Clarissa, Elea tiba-tiba tidak enak badan. Dia perlu istirahat dan aku yang akan mengantarnya ke kamar. Cira, tolong tunjukkan dimana kamar untuk Elea!" ucap Levi kemudian menganggukkan kepala kearah Gabrielle. "Kau di sinilah dulu, dan tolong ingat tujuanmu datang membawa Elea berlibur kemari!."
"Apa yang terjadi?" tanya Gabrielle gelisah.
Levi acuh. Dia kemudian mengajak Elea mengikuti Cira yang akan menunjukkan kamar. Sementara Clarissa, dia diam membeku. Clarissa tahu, sangat tahu kalau putrinya meninggal dalam kesakitan. Respon cucunya tadi membuat Clarissa yakin ada guncangan besar di balik kematian putrinya. Dengan menahan sesak di dada, Clarissa mencoba mengusut masalah itu dari Gabrielle.
__ADS_1
"Tolong jangan bohongi wanita tua ini, Gabrielle. Grandma tahu kalian sedang menutupi sesuatu tentang kematian Mama-nya Elea. Iya kan?."
Gabrielle tak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia menarik nafas dalam, menatap penuh iba kearah nenek Elea.
"Katakan saja, Grandma sudah siap mendengar semuanya" desak Clarissa sedih.
"Mama Sandara... Beliau meninggal di tangan Kakek Karim dan istrinya. Mama Sandara terjatuh dari tangga saat di minta untuk membersihkan plafon dalam kondisi hamil besar!" jawab Gabrielle terpaksa memberitahu. "Dan Elea, setelah dia lahir dia di buang ke panti asuhan oleh Kakek dan Neneknya. Mereka juga meminta pemilik panti untuk menyiksanya. Maaf Grandma, aku tahu ini bukan urusanku, dan tadinya aku ingin Grandma mendengar hal ini langsung dari Kakek Karim. Tapi karena Grandma tiba-tiba membahas masalah ini sekarang, aku terpaksa mengatakannya. Aku harap setelah ini Grandma tak lagi menanyakan hal ini pada Elea. Hatinya sudah sangat hancur, dia hanya ingin bahagia selama kami berlibur!."
Tatapan Clarissa kosong, jantungnya bagai di remas setelah tahu kalau Sandara mati di tangan ayahnya sendiri. Airmata Clarissa tiba-tiba mengering, mereka seperti enggan mengalir di wajahnya saat kenyataan pahit ini terkuak. Takdir sangat kejam, Clarissa tidak sadar kalau dia telah menyerahkan hidup putrinya pada seorang malaikat pencabut nyawa. Karim membunuh buah cinta mereka dengan tangannya sendiri.
"Nyonya Clarissa, anda baik-baik saja?" tanya Reinhard khawatir.
Clarissa menoleh. Dia tersenyum kemudian menganggukkan kepala. "Aku baik-baik saja, dokter. Jangan khawatir!."
"Grandma, Kakek Karim sebelumnya tidak tahu kalau Mama Sandara adalah putrinya. Mama Sandara menikah dengan Ayah Bryan, dia adalah anak hasil hubungan gelap istrinya Kakek Karim dengan kekasihnya sebelum mereka menikah. Dan Kakek Karim melakukan penyiksaan itu karena terhasut ucapan istrinya yang menyebut jika Mama Sandara adalah anak seorang p*lacur. Ini bukan sepenuhnya salah Kakek Karim meskipun aku sendiri sangat mengutuk perbuatannya. Dia juga menjadi korban karena kesalahpahaman ini!" lanjut Gabrielle.
"Anak seorang p*lacur?" beo Clarissa lirih. "Sandara gadis baik-baik, dia terlahir dari orangtua yang saling mencintai, bukan dari latar belakang yang tidak jelas. Sandara adalah putriku, dia bukan terlahir dari wanita murahan yang suka menjajakan diri!."
Gabrielle segera menatap panik kearah tangga saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia lalu menarik nafas lega karena ternyata yang datang adalah Cira, bukan istrinya.
"Nyonya Clarissa, Nyonya kenapa?" tanya Cira kaget melihat mata majikannya memerah seperti darah.
"Gabrielle, tolong lanjutkan perkataanmu yang tadi. Elea kenapa, ada apa dengan mentalnya!" ucap Clarissa mengabaikan pertanyaan Cira.
"Jangan sekarang Grandma. Masalah ini sangat panjang dan saling berhubungan. Cukup sampai di sini dulu, aku khawatir Grandma tidak kuat untuk mendengarnya!" sahut Gabrielle yang memahami kalau keadaan mulai tidak kondusif.
"Tidak apa-apa, katakan saja semuanya pada Grandma!" desak Clarissa memaksa cucu menantunya untuk tetap bicara.
__ADS_1
Sunyi, Gabrielle tak bersedia memenuhi keinginan nenek Elea. Dia tak tega jika harus menceritakan kepedihan yang di alami oleh Elea setelah di usir dari panti. Belum lagi dengan kejadian dimana Elea di buang ke jurang oleh neneknya sendiri. Semua itu terasa sangat berat untuk di ungkapkan.
Karena tak kunjung mendapat penjelasan, Clarissa memutuskan untuk mendatangi kamar cucunya. Dengan tubuh gemetaran dia melangkah pergi dari sana.
"Nyonya, Nyonya kau kemana?."
"Mengunjungi cucuku. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Kasihan dia" jawab Clarissa seakan tak sadar.
"Grandma, jangan datangi Elea sekarang. Mentalnya sedang tidak stabil!" cegah Gabrielle kemudian menahan lengan nenek Elea. "Aku mohon, tolong dengarkan aku kali ini. Ini demi kebaikan Grandma juga!."
Clarissa terdiam. Dia lalu menatap Gabrielle dengan sorot mata yang sangat kosong. Tak sadar airmata Clarissa menetes, betapa sakit hatinya ketika tahu kalau kehidupan putri dan cucunya tidak sebaik yang dia bayangkan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pria yang selama ini dia tunggu menjadi penyebab kesengsaraan ibu dan anak itu. Seandainya saja Clarissa tahu kalau Karim akan berbuat sejauh itu, dia lebih memilih mati bersama Sandara dulu. Sungguh tidak ada yang tahu seperti apa hancurnya hati Clarissa saat ini. Dia berdarah-darah, namun tiada bekas. Dan rasa itu seribu kali lebih menyakitkan dari sayatan belati tajam. Juga lebih menyakitkan dari hujaman anak panah. Hidup Clarissa hancur, hancur sehancur-hancurnya.
Brruuuuukkkkk
Belum sempat Clarissa bicara tubuhnya sudah jatuh ke lantai. Untung saja Gabrielle bisa tepat waktu menangkap kepalanya. Jika tidak, bisa di pastikan kalau Clarissa akan mengalami gegar otak yang cukup parah karena dia terjatuh tepat di pinggiran anak tangga.
"Nyonya Clarissa!" pekik Cira kaget.
"Astaga Grandma. Kalian cepat bantu aku!" teriak Gabrielle memanggil Ares dan Reinhard untuk membantunya mengangkat tubuh nenek Elea yang terjatuh di pelukannya.
Terkadang, apa yang kita anggap akan berakhir baik belum tentu akan seperti itu hasil akhirnya. Karena pada dasarnya manusia hanya bisa berencana, namun Tuhanlah yang mempunyai kehendak. Seperti apa yang di alami oleh Clarissa. Berharap hidup putrinya akan baik-baik saja bersama ayah kandungnya sekarang malah dia di paksa menelan pil yang pahitnya tiada tara. Anak dan cucunya hidup dalam penderitaan yang sangat besar. Sementara di sini, Clarissa hidup dengan serba berkecukupan meskipun tak pernah merasa bahagia. Itulah takdir, kita sebagai manusia tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya. Semua itu adalah rahasia Tuhan.
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...