
"Lan, kau dimana?" teriak Elea mencari keberadaan hewan imut yang sangat di sukainya itu.
Untuk menutupi kesedihannya, Elea memutuskan untuk bercerita dengan Lan. Hatinya begitu teriris saat Grandma-nya menyinggung masalah anak. Elea bukan marah, dia hanya merasa kecewa pada dirinya sendiri karena sampai saat ini dia masih belum bisa memberikan cucu untuk kedua mertuanya. Meskipun kedua mertuanya tak pernah mempermasalahkan hal tersebut, tetap saja Elea merasa kalau itu merupakan sebuah beban yang cukup berat. Keluarga suaminya begitu berkuasa, dia sadar betul kalau kelahiran seorang pewaris begitu di tunggu-tunggu oleh semua orang. Sesak memikirkan kekurangannya sendiri, Elea akhirnya memutuskan untuk duduk di rerumputan. Dia bahkan tak peduli saat terik matahari membakar kulit tubuhnya.
"Kapan ya aku bisa punya anak? Bahkan Grizelle yang belum lama menikah sudah mengandung. Sedangkan aku, aku hanya bisa meratapi diri sendiri. Tuhan, aku juga ingin hamil dan punya anak, tolong jangan lama-lama ya menghukumku."
Tanpa Elea sadari, di dalam sebuah ruangan kaca ada dua orang manusia yang sedang berteriak memanggil namanya. Dialah Fulgi dan Kimmy. Kedua orang itu berusaha sekuat tenaga agar Elea bisa melihat kearah mereka. Fulgi yang begitu ingin pergi dari sana, dengan kuat menendang kaca yang ada di depannya. Dia sangat berharap kalau gadis yang di sukainya itu tahu kalau saat ini dia dan ibunya tengah di sekap oleh orangtuanya Gabrielle. Tapi sekuat apapun dia berteriak dan menendang kaca, arah pandang Elea tak pernah tertuju padanya. Gadis itu seakan tidak mendengar suara-suara yang berasal dari ruangan tersebut. Kimmy yang sudah putus asa nampak meraung-raung sambil terus memanggil nama Elea. Dia sudah putus harapan untuk bisa terbebas dari tempat mengerikan ini.
Ggggrrrrrr
Elea yang sedang melamun langsung menoleh begitu mendengar suara geraman dari binatang yang sedang di carinya. Dia kemudian segera berlari kearahnya, memeluk dengan sayang sambil membelai bulu lorengnya Lan.
"Uh Lan, kau semakin gemuk saja. Tidak ingin diet kah?" celetuk Elea.
Gabrielle yang saat itu datang bersama Lan terkekeh pelan mendengar celetukan istrinya. Ekor matanya kemudian menatap kearah ruang kaca, menyeringai saat tahu kalau disana ada dua orang yang terus berteriak memanggil nama istrinya.
"Sayang, boleh aku bicara denganmu?" tanya Gabrielle saat teringat dengan pesan ibunya.
"Boleh" jawab Elea kemudian mengajak Lan dan suaminya untuk duduk di rerumputan. "Memangnya Kak Iel mau bertanya tentang apa?.
"Jackson!.
Tubuh Elea langsung menegang. Dia menoleh kearah suaminya dan menatapnya dengan seksama.
"Dia ada di rumah ini. Ibu memintaku untuk bertanya padamu kematian seperti apa yang cocok untuk penjahat itu" ucap Gabrielle membalas tatapan mata istrinya. "Jangan takut. Dia tidak akan bisa menyakitimu lagi karena saat ini dia sudah menjadi orang tidak waras."
Setelah berkata seperti itu, terdengar suara jeritan dari arah belakang rumah. Elea yang kaget langsung berdiri kemudian berjalan menghampiri asal suara tersebut. Begitu Elea sampai, matanya langsung terbelalak lebar begitu melihat kondisi penjahat yang selama ini menjadi mimpi buruk dalam hidupnya.
__ADS_1
"K-Kak Iel, d-dia kenapa?" tanya Elea tergagap sembari menunjuk dokter Jackson yang begitu kurus dengan kantung mata hitam yang melingkar di bawah matanya.
"Dia mendapat karma atas apa yang sudah dia perbuat padamu dulu, sayang. Saat ini Jackson sedang dalam tekanan mental, dia selalu ketakutan seperti itu setiap kali bertemu dengan orang lain. Di matanya kini semua orang mempunyai wajah yang sama sepertimu" jawab Gabrielle sambil merangkul pinggang istrinya dengan erat. "Apa kau ingin aku membunuhnya?.
Tersirat rasa iba di benak Elea akan penderitaan yang sedang di alami oleh orang yang pernah melecehkan tujuh tahun lalu. Matanya yang bening terus menatap Jackson yang sedang berguling di lantai ketika seorang pelayan hendak memberinya makan. Hati dan pikirannya tiba-tiba bergejolak. Sebagian hatinya mendesak Elea agar meminta suaminya untuk membunuh penjahat ini, namun sebagiannya lagi memohon pada Elea agar bersedia memaafkan penjahat tersebut. Gabrielle yang sadar kalau tengah terjadi perang batin di dalam pikiran istrinya nampak tersenyum samar. Meski mentalnya sedang tidak stabil, kebaikan di diri istrinya tidak sepenuhnya hilang. Gabrielle sudah bisa menebak keputusan seperti apa yang akan di ambil oleh istrinya ini.
"Kak Iel, apakah semua orang berhak mendapat kesempatan kedua?" tanya Elea setelah selesai bermonolog.
"Ya, bahkan pendosa paling keji pun berhak mendapatkannya sayang. Kenapa?.
"Jika seandainya aku memaafkannya, apakah Kakak akan marah?.
Gemas, Gabrielle akhirnya mencium bibir istrinya. Dia baru melepaskan tautan bibir mereka ketika menyadari kalau istrinya hampir kehabisan nafas.
"Kenapa aku harus marah? Aku yakin kau pasti sudah memikirkannya dengan matang sebelum memutuskannya bukan?.
"Kasihan dia, Kak Iel. Aku tahu dia sudah jahat padaku, tapi hatiku bilang dia pasti mempunyai alasan kenapa melakukan semua itu. Kak Iel, aku tidak ingin menjadi orang yang sama sepertinya. Aku tahu dia sudah cukup lama berada di rumah ini. Jadi sudah ya, aku rasa apa yang dia dapatkan selama tinggal disini itu sudah lebih dari cukup. Hukuman yang di berikan oleh Ayah Greg dan Ibu Liona harusnya bisa membuatnya sadar kalau semua perbuatan pasti ada karmanya. Kita maafkan saja semua kesalahannya ya Kak? Berikan dia kesempatan untuk memperbaiki diri!.
"Kau yakin dengan keputusanmu? Yakin tidak akan menyesal?" tanya Gabrielle kemudian menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga. "Pikirkan dengan baik keputusan yang sudah kau ambil sayang. Jackson adalah orang yang hampir memp*rkosamu, dia bahkan sempat melakukan kekerasan fisik pada Levi dan juga pada dirimu. Tidakkah kau ingat kejadian saat mobil yang kalian naiki akan jatuh ke dalam jurang, hmm?.
"Aku mengingat kejadian itu dengan sangat baik, Kak. Tapi aku tidak mau menjadikan hal itu sebagai dendam. Iya benar kalau aku sebenarnya masih merasa takut padanya, tapi dengan keadaannya yang seperti ini mungkinkah dia masih mampu untuk menyakitiku? Tidak kan?" jawab Elea mencoba meyakinkan suaminya.
Gabrielle menarik nafas. Dia lalu menatap kearah Jackson yang masih belum menyadari keberadaannya dengan Elea di sana. Lama Gabrielle menatap penjahat tersebut sambil memikirkan keputusan istrinya. Dia mencoba menimang apakah tidak apa-apa jika membiarkan Jackson tetap hidup. Jujur saja, masih ada sedikit kekhawatiran di benak Gabrielle kalau-kalau pembunuh bayaran ini ingin kembali mengusik kebahagiaan mereka berdua.
"Kak Iel, tidak semua kejahatan harus di selesaikan dengan kejahatan juga kan? Aku bersedia memaafkannya dengan syarat dia tetap tinggal di rumah ini. Aku khawatir dia akan kembali menjadi orang jahat dan mengulangi hal yang sama pada gadis-gadis di luaran sana jika kita membiarkannya hidup bebas. Dengan berada di rumah ini aku yakin dia pasti akan bertobat dan mau memperbaiki diri. Seperti ini saja ya Kak? Kita memberinya kesempatan sekaligus bisa memantau perkembangannya jika dia tetap berada di sini. Boleh kan? Hmm?.
"Baiklah, aku setuju dengan apa yang kau putuskan" jawab Gabrielle kemudian menunduk ketika merasakan sebuah gesekan di kakinya. "Ada apa Lan? Apa kau senang karena temanmu tetap berada di rumah ini?.
__ADS_1
Lan seakan mengerti ucapan tuannya. Dia dengan gembira melompat-lompat sambil terus menggeram.
"Lihat, Lan saja begitu menginginkan dokter Jackson untuk tetap tinggal di rumah ini, Kak. Sepertinya keputusan yang ku ambil tidak salah" ucap Elea sambil mengelus puncak kepala Lan yang sedang bersender manja di kakinya.
"Kau benar, sayang. Ya sudah kalau begitu kita masuk ke rumah ya? Kita harus segera menyampaikan hal ini pada Ayah dan Ibu" sahut Gabrielle kemudian menggandeng tangan Elea lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Saat melewati ruangan berkaca, Gabrielle nampak menyeringai tipis. Seandainya saja dia bisa melihat ke dalam ruangan tersebut, dia pasti akan merasa sangat bahagia menyaksikan betapa frustasinya Fulgi dan ibunya karena teriakan mereka sama sekali tidak di dengar oleh Elea.
"Elea, tolong lihat kemari Nak! Kami ada disini! Tolong selamatkan Bibi dan juga sepupumu sayang, kami sudah tidak sanggup lagi menerima hukuman dari ibu mertuamu. Elea... Tolong kami. Eleaaaa!!!!" jerit Kimmy menggila ketika melihat Elea hanya melewati ruangannya saja.
"Percuma berteriak memanggil Elea, Ma. Dia tidak akan bisa mendengar ataupun melihat keberadaan kita disini. Ruangan ini kedap suara, dan hanya kita saja yang bisa melihatnya!" ucap Fulgi yang sudah terkapar di lantai.
Kimmy menangis tersedu-sedu. Hilang sudah harapan satu-satunya untuk bisa pergi dari sini. Lelah karena terus berteriak, Kimmy akhirnya membaringkan diri di samping putranya. Dia menatap kosong kearah langit-langit ruangan sebelum akhirnya terlelap. Kimmy kelelahan.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
✅Hai hai hai, emak ngerekomendasiin novel punya salah satu author keren kita nih. Itu tu punyanya si@Lotus Putih. Ceritanya makin seru gengss, menengangkan. Kalian yang suka genre action wajib banget tuh baca karya dia, sumpah keren banget. Emak aja selalu nungguin up setiap harinya. Alurnya benar-benar kayak nyata, mampir deh kesono. Kalo jelek kalian boleh kok protes ke emak 🤣🤣🤣🤣🤣
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1