Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Hari Bahagia


__ADS_3

Pagi ini, di kediaman Bangsawan Wu semua pelayan tengah di sibukkan dengan berbagai macam kegiatan. Termasuk juga Nyonya si rumah, Clarissa Wu, wanita berwajah tegas itu nampak sibuk di dapur bersama Cira dan juga para pelayan yang lain. Wajah Clarissa terlihat sangat berseri-seri, bahkan senyum manis terus menghiasi bibir tipisnya. Bagaimana tidak, dini hari tadi dia mendapat pesan dari Gabrielle kalau cucunya akan datang berkunjung. Sontak saja kabar tersebut membuatnya senang tak terkira. Dan Clarissa langsung membangunkan seisi rumah agar segera bersiap untuk menyambut kedatangan cucunya itu.


"Nyonya, apa kita perlu membuat makanan ringan untuk Nona Elea?" tanya Cira sambil menyusun masakan di atas meja.


"Em, boleh" jawab Clarissa. "Oh iya Cira, dimana Kimmy dan Fulgi?."


"Nyonya Kimmy dan Tuan Fulgi sepertinya masih tidur, Nyonya. Apa saya perlu membangunkan mereka?."


Clarissa menggeleng. Dia lalu menyeka keringat di keningnya.


"Istirahatlah sebentar, Nyonya. Anda terus saja sibuk sejak dini hari tadi. Pekerjaan ini biar saya dan para pelayan yang membereskan. Saya tidak mau Nyonya kelelahan" ucap Cira dengan penuh perhatian.


"Tidak apa, Cira. Ini adalah pertama kalinya aku memasakkan sesuatu untuk darah dagingku setelah sekian tahun terpisah. Yah meskipun bukan Sandara yang datang, bagiku Elea tetaplah dirinya" sahut Clarissa dengan tatapan menyendu. "Aih, apalah aku ini, kenapa jadi sedih begini. Ini adalah hari yang bahagia, aku tidak boleh mellow dan membuat Elea merasa tidak nyaman. Benarkan, Cira?."


Melihat majikannya yang sedang berusaha agar terlihat tegar membuat Cira tersenyum mengiyakan. Dia tahu betul kalau semalam wanita ini pasti menangis karena teringat dengan putrinya yang ternyata sudah meninggal. Hal itu terlihat jelas dari mata majikannya yang terlihat bengkak meskipun sudah tertutupi oleh make-up yang tebal.


Tak ingin membuat majikannya kembali bersedih, Cira segera menggandengnya kearah dapur. Dengan cekatan dia mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat cemilan. Sedangkan Clarissa, dia dengan begitu semangat segera mencampurkan bahan-bahan tersebut ke dalam wadah kemudian mengaduknya dengan mixer. Seulas senyum nampak menghiasi wajahnya, dia teringat kenangan masa lalu dimana almarhum putrinya memiliki kebiasaan mencuri adonan yang belum matang setiap kali dia membuat cookies seperti sekarang. Kenangan-kenangan indah tersebut tanpa sadar membuat airmata Clarissa meleleh. Bahkan beberapa di antaranya jatuh dan tercampur dengan adonan yang sedang dia buat. Hati Clarissa sesak, tak pernah sekalipun dia membayangkan kalau gadis kecil yang dulu dia tinggalkan kini sudah melebur dengan tanah.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Cira cemas sembari mengusap bahu wanita yang sedang menangis dalam diam.


"Kau tahu Cira... Dulu, Sandara suka sekali mencuri adonan mentah seperti ini. Dia bahkan tidak merasa takut sedikitpun meski aku selalu memarahinya agar tidak memakan adonan yang belum matang. Sandara sangat manis, setelah berhasil membuatku marah, gadis kecil itu akan menghujaniku dengan ribuan ciuman. Dia bilang itu adalah bayaran atas makanan enak yang baru saja dia curi. Dia manis sekali bukan?" jawab Clarissa mengenang masa lalu bersama putrinya dulu.

__ADS_1


Cira menarik nafas sambil menganggukkan kepala. "Nyonya, biarlah semua itu menjadi kenangan yang paling indah di antara Nyonya dan Nona Sandara. Beliau sekarang sudah tenang di surga, Nona Sandara juga telah meninggalkan Nona Elea sebagai penggantinya. Saya sangat berharap anda jangan bersedih lagi, berbahagialah Nyonya. Sudah cukup beban yang anda rasakan selama ini!."


Fulgi yang kebetulan sudah bangun sedikit heran melihat seisi rumah yang terlihat sangat sibuk. Dia lalu tak sengaja mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap dari arah dapur. Penasaran, dia akhirnya datang menghampiri. Matanya melotot menyaksikan Nyonya si pemilik rumah tengah berada di sana sambil melakukan pekerjaan yang biasanya di lakukan oleh para pelayan.


"Bibi Clarissa, apa sekarang kau sudah berganti profesi menjadi seorang koki?" ejek Fulgi sembari menyender di dinding dapur. "Kau terlihat sangat cocok dengan celemek itu. Hahhaha..!."


"Jaga mulut anda, Tuan Fulgi. Nyonya Wu adalah pemilik rumah ini, jadi tolong bersikaplah hormat padanya!" hardik Cira tak suka.


"Ck... Hei kau gadis jalanan, jangan mentang-mentang kau di besarkan langsung oleh Bibiku lantas hal itu membuatmu jadi besar kepala ya. Aku juga bagian dari rumah ini, jadi jangan selalu menganggap kalau aku hanya menumpang saja. Seharusnya kau yang bersikap hormat padaku, bukan malah menghinaku seperti tadi!" kesal Fulgi sambil menatap muak kearah gadis gelandangan yang selalu berada di samping bibinya.


"Sekalipun Cira berasal dari jalanan, namun attitude yang di milikinya jauh lebih baik jika di bandingkan denganmu yang jelas-jelas di besarkan oleh keluarga bangsawan. Fulgi, jika ada orang lain yang melihat kekurangajaranmu barusan, aku yakin kau akan langsung di cemooh oleh mereka semua. Fulgi Alexander Wu, cucu bangsawan Frederick Wu, tumbuh menjadi pria yang tidak punya sopan santun. Kau mau artikel seperti itu terbit di majalah. Iya?" gertak Clarissa sambil terus mengaduk adonan cookies.


"Aku tahu kau sedang berfikir untuk membunuhku" ucap Clarissa. "Fulgi, sebaiknya kau jangan bermimpi terlalu tinggi. Aku khawatir kau dan Ibumu akan tersakiti jika tidak berhasil mendapatkan apa yang kalian mau. Dan juga aku ingin memberitahumu kalau orang yang aku wasiatkan sebagai penerima seluruh harta warisan milik keluarga kita sebentar lagi akan datang berkunjung ke rumah ini. Kau dan Ibumu bersiaplah, kita semua akan menyambut kedatangannya!."


'Apa???? Jadi Sandara akan pulang ke rumah ini? Sial, kalau seperti ini bagaimana caranya aku merebut hak waris itu? Arggghhhhhh brengsek brengsek brengsek!!!.'


Clarissa tersenyum samar ketika tak mendengar suara apapun dari mulut Fulgi. Dia yakin sekali kalau keponakannya itu pasti sedang sangat marah sekarang. Fulgi pasti menebak kalau yang akan datang ke rumah ini adalah Sandara. Dia dan ibunya pasti akan sangat terkejut ketika tahu kalau yang datang ternyata bukanlah putrinya, melainkan Elea, gadis cantik yang di tinggalkan Sandara untuk menggantikannya di dunia ini.


"Cira, tolong ambilkan cetakan cookies untukku. Adonannya sudah siap untuk di panggang" ucap Clarissa memecah keheningan.


"Baik Nyonya" sahut Cira kemudian segera mengambilkan apa yang di inginkan oleh majikannya.

__ADS_1


Sedangkan Fulgi, pria licik itu mendengus marah kemudian segera pergi dari dapur. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju kamar ibunya berniat untuk memberitahukan kabar buruk yang baru saja dia dengar. Juga sekalian ingin mengajak ibunya mengatur rencana baru untuk menggulingkan anak bibinya yang di klaim sebagai ahli waris tunggal atas semua aset kekayaan milik Keluarga Bangsawan Wu.


"Nyonya, apa tidak apa-apa memberitahukan kedatangan Nona Elea pada Tuan Fulgi?" tanya Cira khawatir.


"Tenang saja, masalah ini sudah aku diskusikan dengan Gabrielle. Kau tahu, bahkan anak buah pria itu sudah membaur di rumah ini. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi tentang keselamatan Elea. Aku yakin orang-orang yang di kirim Gabrielle adalah yang terbaik di antara yang paling baik. Fulgi dan Kimmy tidak akan mungkin bisa menyentuh cucuku meski hanya seujung rambut" jawab Clarissa dengan tenang.


"Benarkah? Ah syukurlah kalau begitu. Saya sangat khawatir kalau Tuan Fulgi dan Nyonya Kimmy melakukan sesuatu hal yang buruk untuk menyakiti Nona Elea. Beruntungnya Nona Elea memiliki suami siaga seperti Tuan Muda Gabrielle!" ucap Cira sambil menghela nafas lega.


"Ya kau benar, cucuku sangat beruntung. Aku juga berharap kalau suatu hari nanti kau akan menemukan pria yang sama seperti Gabrielle. Pria yang baik dan penyayang, yang bisa mencintaimu tanpa memandang status!" imbuh Clarissa.


Cira salah tingkah ketika majikannya berkata seperti itu. Jujur, semenjak Cira di adopsi oleh Nyonya Wu, tidak sekalipun dia pernah terfikir untuk pergi dari sisinya. Cira sudah berjanji akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada wanita yang telah menyelamatkan dia dari kerasnya hidup di jalanan. Jadi kata memiliki pasangan sangat jauh dari pemikirannya, entah itu dulu maupun sekarang.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2