Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kepuasan


__ADS_3

"Nyonya, walaupun tidak enak anda harus tetap makan. Saya tidak mau anda sakit" bujuk Cira sembari menyodorkan sendok berisi bubur hangat untuk majikannya.


Clarissa hanya diam tanpa merespon perkataan Cira. Hatinya hancur, masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya semalam. Setelah tersadar dari pingsannya, mulut Clarissa bagai terkunci rapat. Dia merasakan rasa malu dan juga kecewa yang begitu besar dengan kebodohan yang pernah dia lakukan dulu. Di tambah lagi setelah dia menyaksikan sendiri betapa cucunya menjadi sangat emosional saat dia mempertanyakan penyebab Sandara meninggal. Semakin membuat Clarissa enggan untuk bicara. Dia malu, benar-benar sangat malu. Rasa yang sangat sulit untuk di jabarkan.


"Nyonya, tadi Tuan Fulgi mencoba merayu Nona Elea di dapur!."


Perkataan Cira akhirnya berhasil menarik perhatian Clarissa. Dia menggeretakkan gigi ketika di beritahu kalau putranya Kimmy yang licik itu berusaha mendekati cucunya.


"Apa yang dia lakukan pada cucuku?" tanya Clarissa.


Cira menghela nafas lega. Sambil berbicara dia kembali membujuk majikannya agar mau memakan sarapannya. "Saya rasa Tuan Fulgi berniat mendapatkan Nona Elea, Nyonya. Dia memeluk dan menyentuh Nona Elea seakan beliau adalah kekasihnya. Dari sini kita bisa lihat dengan jelas apa maksud dan tujuan Tuan Fulgi melakukan itu semua."


"Kurang ajar!" geram Clarissa sembari mengunyah bubur hangat yang ada di mulutnya. "Kita tidak bisa tinggal diam, Cira. Aku tidak akan membiarkan kedua orang licik itu menyakiti cucuku. Mereka tidak ku izinkan menyentuh Elea meski hanya seujung kuku saja. Tidak akan!."


Perasaan Clarissa jadi tidak karu-karuan sekarang. Dia sangat ingin menemui cucunya, tapi sebagian hatinya melarang. Clarissa malu, juga takut kalau Elea menolak untuk bertemu dengannya. Di landa pikiran seperti itu membuat Clarissa menjadi gusar. Dia duduk dengan sangat tidak tenang. Dan ternyata kegelisahannya itu di sadari oleh Cira.


"Anda ingin bertemu dengan Nona Elea?" tanya Cira.


"Entahlah. Aku ragu untuk mendatanginya" jawab Clarissa lirih. "Sikapnya semalam cukup membuat aku tahu kalau dia merasa kecewa padaku, Cira. Dia pasti menganggap kalau aku adalah seorang Nenek yang sangat jahat karena sudah menelantarkan Mama-nya. Elea pasti sangat membenciku, Cira. Aku yakin itu!."


"Nyonya, anda tidak seharusnya beranggapan seperti itu tentang Nona Elea. Mungkin dia marah karena alasan lain, lagipula Nona Elea juga tahu alasan Nyonya melakukan semua itu. Saya yakin Nona Elea hanya merasa sedikit kecewa saja. Dia adalah gadis yang baik dan juga polos, pikirannya tidak mungkin akan sejahat itu terhadap Nyonya" sahut Cira dengan bijaksana.


Tok, tok, tok


"Apa kami mengganggu?."


Cira dan Clarissa segera menoleh kearah pintu. Untuk sesaat Clarissa terpaku melihat cucunya yang sedang berdiri disana bersama Gabrielle. Hatinya terasa sedikit nyeri saat gadis cantik itu menatapnya datar.


"Oh, tidak Tuan Gabrielle. Silahkan masuk!" sahut Cira ramah kemudian meletakkan mangkok berisi bubur keatas meja.


Gabrielle mengangguk. Dia kemudian merangkul Elea lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Saat hampir sampai di dekat ranjang, Gabrielle bisa merasakan kalau tubuh istrinya sedikit kaku. Ada penolakan di diri Elea.


"Sayang, Grandma tidak sepenuhnya bersalah. Kau jangan terlalu menghakiminya ya?" bisik Gabrielle membujuk istrinya agar tidak kehilangan kendali.


Elea mengangguk patuh setelah terdiam cukup lama. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian berusaha untuk tersenyum kearah neneknya.


"Halo Grandma, bagaimana kabarmu hari ini?."


Seulas senyum kecut muncul di bibir Clarissa. Dia tahu, sangat tahu kalau cucunya sangat terpaksa saat bertanya padanya. Tapi karena tidak mau membuat keadaan semakin merenggang, bersikap seakan tidak ada apa-apa Clarissa menjawab pertanyaan cucunya.


"Grandma baik-baik saja sayang. Oh ya, Cira bilang tadi kau di ganggu oleh Fulgi ya. Apa yang dia lakukan padamu?."


"Dia memeluk dan menyentuh tanganku, Grandma. Dia juga menatapku seolah aku ini adalah makanan yang sangat lezat. Sangat menjijikkan bukan?" jawab Elea sambil bergidik.


Gabrielle tersenyum samar melihat bagaimana istrinya mampu begitu mudah mengganti ekpresi. Elea tadi begitu tegang, tapi sekarang dia bercerita seolah tidak terjadi apapun antara dia dan neneknya. Sikap Elea yang seperti inilah yang selalu berhasil membuat Gabrielle merasa takjub. Elea-nya sangat luar biasa.

__ADS_1


"Kau benar, orang itu memang sangat menjijikkan. Tapi dia tidak menyakitimu bukan?" tanya Clarissa menyelidik.


"Tidak!" jawab Elea. "Malah dia yang di sakiti oleh Kak Iel. Aku yakin sekali ginjalnya pasti bergeser setelah Kak Iel menendangnya."


"Ap,apa??? Ginjalnya bergeser?" beo Clarissa kaget mendengar kata nyeleneh yang keluar dari mulut cucunya.


"Iya. Kalau ginjalnya tidak bergeser, pasti livernya yang bocor. Benar tidak Kak Iel?" tanya Elea kemudian menatap wajah suaminya.


Sambil menahan tawa Gabrielle mengangguk meng-iyakan pertanyaan istrinya. Ekor matanya melirik kearah Cira yang juga seperti sedang menahan tawa.


"Grandma tidak keberatan bukan kalau aku membuat ginjalnya Fulgi bergeser?."


Untuk beberapa detik Clarissa sibuk mencerna kata ginjalnya bergeser yang terdengar menggelitik di telinganya. Setelah itu dia tertawa sampai hampir menangis ketika menyadari kalau cucunya ini memiliki sikap yang sangat polos dan juga unik.


"Hahahahaa astaga Elea, darimana kau mendapatkan kata-kata seaneh itu, hah? Aduhh, perut Grandma sakit sekali" ucap Clarissa sambil memegangi perutnya yang terasa kaku karena terus tertawa.


"Tapi memang benar, Grandma. Kak Iel menendang perut Fulgi dengan sangat kuat. Mustahil kalau tidak meninggalkan bekas sedikitpun" sahut Elea dengan raut wajah yang sangat meyakinkan. "Kak Cira tadi juga melihatnya kan? Fulgi sampai terlempar dan menabrak kulkas karena serangan Kak Iel!."


"Anda benar sekali, Nona. Saya juga sangat yakin kalau ginjalnya Fulgi pasti bergeser. Atau malah livernya pecah gara-gara tendangan itu" tambah Cira ikut meladeni kekonyolan gadis kecil ini.


"Nah, benar kan? Apa sekarang Grandma sudah bisa percaya?."


"Ya ya ya, Grandma sangat percaya sayang. Ya Tuhan, ginjal bergeser...." jawab Clarissa lucu.


Mereka berempat kembali berbincang sampai akhirnya Levi datang bersama Reinhard. Wanita bar-bar itu nampak tersenyum puas yang mana membuat Elea merasa penasaran.


"Dasar bodoh, ini bukan senyum yang mengerikan Elea. Tapi ini adalah senyum penuh kepuasan" jawab Levi senang.


"Senyum kepuasan?" beo Elea. "Oh, aku tahu. Kau dan Kak Reinhard...


"Yakkkkkk...!!!!."


Pletaakkk


"Awwwww, sakit" ringis Elea sambil mengelus keningnya yang baru saja di sentil oleh Levi.


"Levi..." geram Gabrielle tak terima.


"Ck, kening istrimu tidak akan bolong hanya karena aku menyentilnya, Gab. Tidak usah berlebihan" sungut Levi. "Kau juga Elea, masih kecil tapi pikirannya sudah kemana-mana. Yang aku maksud senyum kepuasan itu bukan karena aku dan Reinhard melakukan hal mesum, tapi ada alasan lain kenapa aku tersenyum seperti ini!."


Semua orang kini menatap penasaran kearah Levi. Reinhard yang sebelumnya sudah di beritahu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil menatap kearah juniornya. Dia merasa sangat prihatin karena sepertinya dia tidak akan bisa mencicipi kue basah milik Levi sebelum sah menikah dengannya.


"Aku..... Menghadiahi Fulgi dengan jurus Tapak Dewa!."


"Jurus Tapak Dewa?? Apa itu Kak?" tanya Elea bingung.

__ADS_1


"Ya pokoknya Jurus Tapak Dewa lah. Dan kalian tahu tidak dimana aku menyerangnya?."


Perasaan Gabrielle mendadak jadi tidak enak. Apalagi setelah dia mendengar apa yang di pikirkan oleh Reinhard barusan. Semakin hatinya menjadi tidak tenang.


"Dimana?." Kali ini Clarissa yang bertanya.


"Aku menyerang tepat di bagian juniornya. Hahahaha.....!."


Glukkkkkkk


Saat keempat wanita itu terbahak-bahak setelah mendengar perkataan Levi, lain halnya dengan reaksi Gabrielle dan Reinhard. Kedua pria itu nampak menelan ludah sambil menutupi bagian inti masing-masing. Gabrielle dan Reinhard sekarang yakin kalau Levi adalah wanita yang mengalami gangguan jiwa. Dan mereka berdua juga sangat yakin kalau saat ini Fulgi pasti sedang sangat menderita.


"Kau sangat hebat Kak, aku kagum pada Jurus Tapak Dewa-mu!" puji Elea takjub.


"Hehe, tentu saja. Oh ya Elea, kau juga bisa menggunakan jurus itu pada suamimu" sahut Levi sambil tersenyum jahat kearah Gabrielle.


"Benarkah?."


Levi mengangguk. Dia semakin bersemangat ketika melihat Gabrielle memelototkan mata kearahnya.


"Nanti aku akan mengajarimu bagaimana cara untuk menguasai jurus itu. Aku jamin suamimu tidak akan berani macam-macam lagi padamu!."


"Baiklah Kak, aku pasti akan bersungguh-sungguh mempelajarinya" sahut Elea penuh percaya diri.


"Hahahahaaaa.......!."


"Levi, coba saja kalau kau berani mencemari otak istriku. Akan ku buat kekasihmu ini kehilangan masa depannya!" geram Gabrielle emosi melihat Levi yang tertawa dengan sangat puas.


"Hei, kenapa harus aku yang di korbankan?!" teriak Reinhard tak terima.


"Karena kau kekasihnya!."


"Astaga!!! Sayang, tolong jangan mencemari otak Elea ya. Aku belum sempat menyentuhmu" rengek Reinhard.


"Sialan kau!" umpat Levi dengan wajah memerah malu.


Clarissa tersenyum melihat bagaimana empat orang ini saling menggoda. Dia lalu menatap lama kearah cucunya yang sedang tertawa di pelukan suaminya. Hatinya lega, bahagia dan juga penuh haru karena ternyata Elea tidak setega yang dia pikirkan.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2