Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Wanita Gila


__ADS_3

Tok,tok,tok


Levi yang masih asik bergelung di bawah selimut menggeliat kesal saat pintu kamarnya di ketuk. Dengan malas dia menyahut dari dalam kamar.


"Bibi, aku masih ingin tidur. Bisa tidak jangan menggangguku!".


Bukannya takut pada teriakan si pemilik kamar, pelayan yang tadi mengetuk pintu menerobos masuk. Dengan langkah cepat dia berjalan kearah ranjang.


"Maaf Non, di depan ada seorang pria yang sedang menunggu Nona. Dia bilang kalau keadaan ini darurat dan Nona harus segera datang menemuinya!".


Levi berdecak. Dia kemudian duduk sambil menutup mulutnya yang terus menguap.


"Pria? Siapa namanya?" tanya Levi.


"Bibi tidak tahu, Non. Orang itu tidak mau memberitahu namanya!".


"Aneh. Sok misterius sekali dia" gumam Levi.


Dengan menahan kantuk, Levi akhirnya memutuskan untuk pergi menemui pria itu. Dia tidak peduli meskipun harus keluar dalam keadaan yang masih berantakan.


"Awas saja kalau bukan tamu penting. Akan kuhajar dia sampai tidak berani lagi muncul di hadapanku!".


Pelayan yang mendengar gumaman Levi hanya diam sambil terus mengikutinya dari belakang. Setelah menuruni anak tangga, Levi dan pelayannya berjalan menuju pintu utama. Di sana terlihat seorang pria yang tengah berdiri membelakangi mereka.


'Bentuk rambut dan gaya tubuhnya seperti familiar. Siapa ya?'.


Levi berdiri memperhatikan pria tersebut dari arah belakang. Pikirannya sibuk menerka-nerka siapa gerangan tamu asing ini.


"Jika sudah siap ayo kita pergi!".


Levi berjengit kaget saat pria itu tiba-tiba berbicara.


"Bisa tidak kau jangan membuatku kaget. Pagi-pagi sudah membuat jantung orang hampir terlepas saja!".


Mata Levi membulat lebar saat pria itu berbalik menatapnya.


"Kau, apa yang sedang kau lakukan di rumahku?" tanya Levi cetus.


Ares menghela nafas. Dia memperhatikan penampilan wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Ares kemudian memanggil anak buahnya yang berdiri tak jauh dari sana.


"Bawa Nona ini masuk ke dalam mobil!".


"Yakkkk Ares, apa yang kau lakukan hah! Kau berniat menculikku ya!" teriak Levi panik saat tiga orang pria hendak menarik tubuhnya.


"Cihh, apa untungnya menculik wanita berisik sepertimu. Tuan Muda Gabrielle ingin kau datang ke rumahnya sekarang juga. Keadaan darurat!" sahut Ares sembari melangkah pergi.


Levi yang ingin meneriaki Ares langsung terdiam setelah mendengar perkataannya. Dia langsung terpikir dengan kondisi Elea.


"Apa yang terjadi? Elea baik-baik saja kan?" tanya Levi berusaha tenang.


Ares menoleh. Dia cukup takjub dengan perubahan emosi yang di terjadi pada wanita ini.


"Kau akan tahu nanti" jawab Ares menggantung.


Tak ingin membuang waktu, Levi segera masuk ke dalam mobil saat anak buahnya Ares membukakan pintu. Dia lalu teringat dengan pelayannya yang sedang berdiri kebingungan di depan pintu rumahnya.


"Bibi tidak udah khawatir, bos dari pria ini adalah orang paling kaya di negara kita. Nanti aku akan pulang ke rumah sambil membawa sebagian harta miliknya!" teriak Levi sambil menyembulkan kepalanya di jendela mobil.


"Apa benar begitu? Tapi apa Nona yakin tidak perlu menghubungi Tuan Samuel ataupun kantor polisi untuk meminta pertolongan?" tanya si pelayan khawatir.


"Tidak usah, Bi. Aku malah senang di culik oleh mereka. Kapan lagi bisa memeras orang paling berpengaruh di negara ini? Sudahlah, lebih baik Bibi masuk ke dalam saja. Keadaan sedang darurat, kedatanganku sangat di butuhkan oleh pria kaya raya itu!" jawab Levi kemudian menutup jendela mobil.


'Apa urat malu wanita ini sudah putus?'.

__ADS_1


Sambil menghela nafas panjang, Ares masuk ke dalam mobil. Dia duduk di samping kursi pengemudi.


"Ares, kau belum menjawab pertanyaanku tadi!" ucap Levi sambil membenarkan letak kain penutup mata di kepalanya.


"Tidak ada yang perlu aku jawab" sahut Ares.


"Ck! Kau sama menjengkelkannya dengan Gabrielle" keluh Levi sembari menoleh ke samping menatap jalanan.


Ares tak ingin meladeni ocehan wanita bar-bar ini. Dia kemudian mengirimkan pesan pada Nun kalau mereka sedang dalam perjalanan ke rumah.


'Elea, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu. Kau harus tetap hidup, aku belum puas menghinamu'.


Levi berusaha menutupi kekhawatirannnya dengan tetap bersikap angkuh di depan Ares. Bukan apa, sejak kecil dia sudah terbiasa menjadikan sikap angkuhnya sebagai tameng untuk melindungi diri. Padahal sesungguhnya, Levi adalah seorang gadis yang sangat sensitif. Hati dan perasaannya begitu rapuh.


Karena terus melamun, Levi tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di rumah Gabrielle. Dia baru tersadar saat pintu mobil di buka dari luar.


"Silahkan keluar. Jangan kau pikir aku akan melayanimu seperti tuan putri!" ucap Ares dingin kemudian segera berlalu dari sana.


"Dasar beruang kutub. Buka ya buka saja, kenapa harus mengejekku juga!".


Braaakkkkkkk


Levi menutup pintu mobil dengan begitu kuat. Dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah sambil terus menggerutu.


"Selamat pagi, Nona Levi!".


Nun menyapa tamu penting yang baru saja datang. Di tangannya ada sebuah paperbag besar berisi seperangkat pakaian.


"Pagi, siapa namamu? Jangan besar kepala dulu, aku perlu tahu agar tidak salah memanggilmu nanti!" sahut Levi cetus.


"Nona bisa memanggil saya Nun. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini".


"Oh, baiklah. Dimana pria tengik itu? Aku perlu meminta uang ganti rugi karena anak buahnya sudah berani datang mengganggu waktu istirahatku!" tanya Levi angkuh.


Levi mengangguk. Dia lalu mengikuti Nun yang sedang berjalan menuju lift. Meskipun ini sudah kedua kalinya Levi datang ke rumah ini, dia masih di buat kagum dengan semua benda yang ada di sini. Mewah,elegant dan berkelas, julukan itu sangat pantas untuk istana milik Gabrielle, suami dari teman kecilnya.


"Silahkan, Nona!" ucap Nun mempersilahkan tamunya untuk keluar terlebih dahulu dari dalam lift.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Levi melenggang pergi menuju kamarnya Gabrielle. Keningnya mengernyit bingung melihat beberapa perawat yang sedang berdiri di sana.


"Nun, kenapa banyak perawat di sini? Elea baik-baik saja kan?".


Kali ini Levi sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya. Dia berbalik menatap Nun yang tak kunjung memberi jawaban.


"Nun, kau bisu ya?".


"Nyonya Elea baik-baik saja, tapi...


"Tapi apa, cepat katakan!" sahut Levi dengan tidak sabaran.


"Lebih baik Nona lihat ke dalam saja. Sulit untuk menjelaskannya di sini!".


"Kau sama saja dengan Ares. Menyebalkan!" kesal Levi kemudian berlari dengan cepat.


Ares diam tak menanggapi ucapan Levi. Dia dan Nun segera menyusul Levi yang sudah masuk ke dalam kamar Tuan Muda mereka.


Brrraaaakkkkk


"Elea, kau baik-baik saja kan? Gabrielle tidak menganiayamu kan?".


Gabrielle dan Reinhard terperanjat kaget saat pintu kamar di buka dengan begitu kuat. Mereka berdua kemudian menoleh.


"Gabrielle, apa yang telah kau lakukan pada teman kecilku, hah. Dimana dia sekarang?" tanya Levi curiga sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kamar untuk mencari keberadaan Elea.

__ADS_1


"Kenapa setiap gerahammu terbuka kau selalu saja menyudutkanku hah! Bisa tidak kau bicara yang tidak membuat orang lain tersinggung!" amuk Gabrielle.


"Tidak bisa. Cepat katakan padaku dimana Elea, aku haru memeriksa keadaannya sekarang!" sahut Levi sambil terus mencari-cari keberadaan teman kecilnya.


Reinhard memandang takjub kearah wanita yang dengan begitu beraninya menyinggung Gabrielle. Dia yakin kalau wanita ini adalah orang pertama yang berani memprovokasi kemarahan temannya dengan begitu santai.


"Elea ada di dalam sini. Dia bersembunyi karena tidak mau di periksa oleh dokter!" ucap Gabrielle mengalah.


Biarlah, sekarang bukan waktunya Gabrielle meladeni kegilaan wanita bar-bar ini. Karena sekarang dia sangat membutuhkan bantuan darinya.


"Eeeh, kenapa dia bodoh sekali sih. Seharusnya Elea itu jangan bersembunyi di dalam kamar mandi, tapi lari yang jauh dari rumah supaya bisa terbebas dari cengkeraman pedofil tua sepertimu!".


"Levi, aku tidak sedang ingin bercanda. Untuk kali ini saja, tolong jangan mengajakku berdebat. Aku takut Elea pingsan di kamar mandi. Dia sudah cukup lama berada di dalam sana!" teriak Gabrielle dongkol.


Levi kaget. Dia lalu berjalan mendekat kearah pintu kamar mandi.


"Kenapa tidak di dobrak saja?" tanya Levi heran.


"Apa kau punya cara bagaimana agar pintu baja ini bisa terbuka?" tanya Gabrielle balik sambil menghela nafas.


Levi menggeleng.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak memiliki kekuatan super seperti hulk yang mampu menghancurkan semua benda-benda berbahan keras!".


Bibir Reinhard berkedut. Dia sangat suka dengan gaya bicara wanita ini.


"Elea bilang dulu kau pernah membawanya pergi ke rumah sakit. Dia tadi terlihat begitu ketakutan saat Reinhard dan para perawat datang. Mungkin karena panik jadi dia lari bersembunyi ke dalam sini!" ucap Gabrielle sembari menatap sedih kearah pintu kamar mandi.


"Maksudmu kau ingin aku membujuknya agar dia mau keluar dan di periksa oleh dokter, begitu?".


Gabrielle mengangguk.


"Baiklah. Tapi itu tidak gratis!" ucap Levi menyanggupi.


"Apapun yang kau minta" sahut Gabrielle cepat.


Levi tertawa penuh kemenangan. Dia kemudian bersiap untuk meneriaki gadis kecil yang sudah membuatnya di culik ke rumah ini.


"Levi?".


"Apa?".


"Saat kau mengantarkan Elea ke rumah sakit apa dia juga ketakutan seperti ini?" tanya Gabrielle penasaran.


Levi mengangguk.


"Dengan cara apa kau membuatnya patuh?".


Sebuah smirk aneh muncul di bibir Levi. Yang mana membuat Gabrielle dan Reinhard mengusap tengkuk mereka yang meremang.


"Aku bilang kalau dia menolak untuk di obati, maka aku akan menyayat seluruh tubuhnya supaya dia mati kehabisan darah!".


Gabrielle dan Reinhard tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka berdua menatap datar pada wanita yang entah kenapa membuat mereka memiliki pemikiran yang sama. Wanita gila.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2