Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kekhawatiran Gabrielle


__ADS_3

Dengan perlahan-lahan Gabrielle menutup pintu kamar setelah selesai mengobati luka di wajah dan lengan Elea. Dia lalu menghela nafas panjang sambil memejamkan mata.


"Cihh, kupikir kau akan menempel di keteknya Elea sampai malam!".


Hampir saja Gabrielle mengumpat kaget saat Levi tiba-tiba bicara begitu dekat di samping telinganya.


"Sialan, menjauh dariku!" bentak Gabrielle jengkel.


"Ishh,isshh,isshhh.... Begitu saja marah!" ejek Levi kemudian menyender di dinding.


Gabrielle melengos pergi. Dia diam membiarkan saja saat Levi mengekorinya di belakang. Ares yang malas berurusan dengan Levi pun acuh saat gadis itu ingin menjahili Tuan Muda-nya.


'Kau seharusnya tidak memancing kekesalan Tuan Muda, Levi. Tolong berhentilah berbuat ulah, aku tidak mau kalau sampai terkena imbasnya'.


Levi mengaduh sambil memegangi hidungnya yang menabrak punggung Gabrielle saat dia mendadak berhenti melangkah. Dengan marah Levi memprotes tindakannya itu.


"Kau ini sebenarnya punya masalah apa denganku hah! Lihat, tulang hidungku jadi bengkok kan!".


Gabrielle berbalik kemudian menyeringai. Dia memang sengaja melakukan hal itu untuk memberikan pelajaran pada Levi. Cukup dengan mendengar apa yang di pikirkan orang Ares, Gabrielle langsung tahu kalau gadis bar-bar ini ingin berbuat sesuatu yang buruk kepadanya.


"Bagus kalau cuma bengkok, belum aku menyuruh Ares untuk membelah hidungmu menjadi tiga!" sahut Gabrielle dengan entengnya.


Ares menghela nafas. Baru saja dia membatin dan sekarang sudah menjadi korban karena keusilan Levi.


"Coba saja kalau berani. Akan kuhancurkan masa depanmu sampai tidak bisa berdiri lagi!" ancam Levi sengit.


Sadar kalau perdebatannya dengan Levi tidak akan berakhir baik, Gabrielle memutuskan untuk kembali melangkah menuju ruang kerjanya dimana Reinhard sedang menunggu. Dia harus segera tahu apa yang sebenarnya di derita oleh istrinya.


"Mau apa kau?" tanya Gabrielle saat Levi mengikutinya masuk ke dalam.


"Apalagi memangnya. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada Elea bodoh" jawab Levi garang.


"Hisshhh, menyusahkan. Bawa pergi wanita ini, jika perlu rantai kakinya di halaman belakang!".


"Baik Tuan Muda!".


Terdengar helaan nafas kasar dari hidung Gabrielle saat Levi dengan tidak tahu malu duduk memeluk kakinya. Yang mana perbuatannya itu membuat Ares terlihat kesal.


"Tuan Muda, perlukah saya menyuntikkan obat bius pada wanita ini?" tanya Ares penuh nada ancaman.


Mata Levi terbelalak lebar mengetahui bahaya besar yang sedang mengancamnya.


'Aku tidak boleh menyerah. Biar bagaimana pun aku harus tahu apa yang akan di katakan oleh dokter itu tentang penyakit Elea'.


"Tidak perlu. Seret dan ikat dia di kursi itu" jawab Gabrielle sambil menggerakkan dagu kearah kursi yang tak jauh dari Reinhard duduk.

__ADS_1


"Gabrielle, jangan kasar seperti itu pada wanita. Biar saja kalau Nona ini ingin ikut mendengar apa yang akan kukatakan. Sepertinya dia juga sangat peduli pada istrimu!" sela Reinhard sambil melirik kearah wanita yang masih betah memeluk kaki temannya.


Gabrielle tersenyum samar. Dia tadi tidak sungguh-sungguh menyuruh Ares untuk mengikat Levi. Gabrielle juga tahu kalau Levi bersikap seperti ini karena khawatir pada istrinya. Dia hanya ingin membalas kebar-barannya saja.


"Benar apa kata dokter itu, Gabrielle. Kau mana boleh kasar pada wanita sepertiku. Atau...


"Atau apa hah? Ingin membawa Elea lari dari rumah ini? Mimpi!" omel Gabrielle kesal.


Levi terkekeh. Dia bangkit berdiri kemudian menepuk pelan bagian bokongnya.


"Iyuuhhh, celanaku kotor. Tolong belikan yang baru ya!".


Gabrielle menghela nafas.


"Di kasih hati kau malah minta jantung. Berani sekali kau menyuruhku".


"Sudah, tinggal belikan saja apa susahnya sih. Lagipula kau tidak akan jatuh miskin kan kalau hanya membelikan satu potong celana untukku? Pelit sekali!" gerutu Levi.


Malas berdebat, Gabrielle segera meminta Ares untuk memesankan celana yang di minta oleh Levi. Dia kemudian berjalan menghampiri Reinhard.


"Aku ikut!" teriak Levi sambil berlari kearah dua orang pria yang baru saja ingin mulai bicara.


"Diam atau pergi dari sini!" bentak Gabrielle emosi.


Levi mengangguk patuh. Dia kemudian duduk di sebelah Reinhard sambil memasang wajah serius.


"Seperti yang aku katakan padamu di dalam tadi, istrimu mengalami sebuah tekanan yang cukup membekas di kejiwaannya. Sebenarnya aku sudah melihat hal itu dari awal, tapi aku belum berani mendiagnosis karena aku belum bertatapan secara langsung dengannya. Aku pikir dia hanya takut seperti kebanyakan orang, siapa yang menyangka kalau ketakutannya itu memiliki alasan!" jawab Reinhard sambil menarik nafas.


Gabrielle dan Levi sama-sama gusar setelah mendengar penjelasan Reinhard. Keduanya duduk dengan sangat tidak tenang.


"Apakah bisa di obati? Kalau bisa, bagaimana caranya? Di rumah sakit mana aku harus membawa Elea pergi? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gabrielle beruntun.


Reinhard tahu kalau temannya ini sedang di dera rasa panik setelah mengetahui keadaan istrinya. Dengan sabar Reinhard menepuk bahunya untuk membuat Gabrielle tenang.


"Gab, temanmu ini adalah seorang psikolog. Kalau di izinkan aku yang akan menangani kejiwaan istrimu. Jangan berpikir yang tidak-tidak, prioritasku hanyalah sebatas dokter dan pasien, tidak lebih dari itu!" ucap Reinhard cepat saat Gabrielle ingin melakukan protes.


Levi yang sejak tadi hanya duduk diam akhirnya ikut membuka suara.


"Dokter, separah apa keadaan Elea sekarang? Jujur saja, meskipun dia bodoh dia tidak akan bersikap kurang ajar seperti ini sekalipun pada orang yang telah menghinanya. Gelagatnya tadi benar-benar membuatku takut, bagaimana kalau dia mengambil keputusan yang salah? Bunuh diri mungkin?".


"Levi, bicara apa kau!" amuk Gabrielle.


Reinhard melerai. Dia mencoba meredam kemarahan Gabrielle dengan memberinya banyak penjelasan.


"Gabrielle, tahan dulu emosimu. Yang di katakan oleh Nona ini tidak salah".

__ADS_1


"Panggil Levi saja biar gampang" sela Levi sambil menyimak dengan seksama.


"Kalau begitu kau panggil aku Reinhard".


"Brengsek, aku menyuruhmu kemari bukan untuk mendengar perkenalan kalian yang menggelikan ini, Reinhard. K-A-U J-E-L-A-S-K-A-N S-E-K-A-R-A-N-G A-T-A-U K-U P-I-N-D-A-H T-U-G-A-S-K-A-N K-E T-E-M-P-A-T P-A-L-I-N-G T-E-R-P-E-N-C-I-L D-I D-U-N-I-A I-N-I..!! ancam Gabrielle menunjuk dada Reinhard sambil menggeretakkan gigi.


Jakun Reinhard bergerak naik turun menelan ludahnya sendiri setelah mendengar ancaman yang di lontarkan oleh Gabrielle. Dia tahu kalau saat ini Gabrielle tidak sedang bercanda.


"Ekhmmmm" Reinhard berdehem. " Yang di katakan Levi ada benarnya Gab. Orang yang kejiwaannya terganggu tidak akan sadar dengan apa yang mereka lakukan. Contohnya, saat istrimu ketakutan lalu dia di paksa untuk tetap berada di sekitar obyek yang membuatnya merasa tertekan, tidak menutup kemungkinan dia akan melukai dirinya sendiri dengan harapan melindungi diri. Dan jika hal ini terjadi di keramaian, istrimu bisa saja lari menabrakkan diri pada kendaraan yang sedang melintas. Atau bisa juga dia melompat ke dalam jurang ataupun sungai. Tapi semua itu tergantung dari level penyakit yang di alami oleh penderitanya sendiri. Kebanyakan yang seperti itu terjadi pada pasien yang tidak menerima perawatan, dalam artian kejiwaannya akut, di biarkan begitu saja tanpa memberi tindakan yang tepat!".


Nafas Gabrielle dan Levi tercekat. Tanpa sadar keduanya saling menatap.


"Gabrielle, kau harus menyembuhkan Elea. Tidak gila saja sudah membuatku stres, bagaimana kalau dia benar-benar gila? Aku bisa mati berdiri!" ucap Levi ketakutan.


'Astaga, wanita ini lucu sekali. Dia masih bisa bercanda dalam keadaan genting. Menggemaskan!'.


Gabrielle diam mengabaikan pertanyaan Levi dan juga apa yang sedang di pikirkan oleh Reinhard. Pikirannya sibuk membayangkan seandainya Elea benar-benar melakukan hal seperti yang di katakan oleh temannya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Gabrielle cemas.


"Untuk saat ini aku belum bisa mengambil tindakan apapun karena pertemuan kami hanya akan memperburuk kondisi mentalnya. Tolong kau lakukan pendekatan dan beri kenyamanan supaya istrimu mau mengatakan apa yang telah terjadi. Baru setelah itu aku akan memilih metode yang tepat untuk menyembuhkannya!" jawab Reinhard.


Gabrielle mengangguk. Dia pasti akan melakukan semuanya demi kesembuhan Elea, istri kecilnya yang sedang sakit.


"Kau tunggu di sini dulu sampai Elea bangun. Minta perawat wanita untuk mengecek kondisi perutnya nanti!" ucap Gabrielle kemudian beranjak dari duduknya.


Levi yang melihat kalau Gabrielle sudah ingin pergi segera memanggilnya.


"Tunggu dulu. Gabrielle, bolehkah aku turut andil dalam masa pendekatan ini? Aku,aku ingin Elea sembuh secepatnya!".


Gabrielle diam memikirkan perkataan Levi. Setelah menimang-nimang, dia akhirnya menyetujui keinginannya itu.


"Asalkan itu tidak membahayakan Elea, aku mengizinkanmu!".


Levi menarik nafas lega. Dia tidak bicara apapun lagi setelah Gabrielle dan Ares keluar dari ruangan itu. Mengabaikan keberadaan Reinhard yang sejak tadi diam-diam terus mencuri pandang kearahnya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini _rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2