
Bryan tersenyum-senyum sendiri memikirkan putrinya yang sudah kembali ke kamarnya. Dia tidak menyangka Tuhan akan mempertemukan mereka dengan begitu cepat. Di tambah lagi kini putrinya telah menjadi menantu dari keluarga yang paling berpengaruh di negara ini.
"Terima kasih untuk semua kebaikanmu, Tuhan. Aku benar-benar sangat bersyukur dengan apa yang telah kau berikan padaku dan juga pada putriku. Sekali lagi terima kasih banyak Tuhan-Ku. Terima kasih" ucap Bryan sambil mengatupkan tangan di depan dada.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Masuklah Yura bersama dengan ayah mertuanya sambil menenteng kotak makanan. Kening mereka mengernyit melihat Bryan yang sedang tersenyum sendirian sambil menyender di kepala ranjang.
"Bryan, kau baik-baik saja kan?" tanya Yura khawatir. Sambil terus memperhatikan suaminya, Yura meletakkan makanan yang dia bawa keatas meja. Dia lalu membantu ayah mertuanya untuk duduk di sofa.
"Aku baik-baik saja, Yura. Memangnya ada yang aneh ya dariku?" sahut Bryan balik bertanya.
"Oh, tidak tidak. Aku, aku hanya kaget saja melihatmu tersenyum seperti itu" jawab Yura gugup. "Bryan, apa ada sesuatu yang telah terjadi saat aku tidak ada di sini? Semalam kau masih begitu kacau, lalu hari ini kau terlihat sangat bahagia. Ada apa?" cecar Yura penasaran.
Bukannya menjawab, Bryan malah kembali tersenyum. Hal itu semakin membuat Karim dan Yura penasaran. Sebagai seorang ayah, tentu saja keadaan Bryan membuat Karim berfikir yang tidak-tidak. Dia gelisah, kalau memang tebakannya benar, maka dia akan merasa sangat bersalah. Karim takut kejiwaan putranya terganggu akibat tidak kuat menerima kenyataan tentang cucunya.
'Bryan, apa hatimu sangat terluka hingga membuatmu jadi begini Nak? Maafkan Ayah Bryan, Ayah tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Ayah sangat menyesal Nak, sangat menyesal.'
Tak kuat melihat keadaan putranya, Karim memutuskan untuk keluar dari sana. Langkahnya terhenti saat Bryan tiba-tiba memanggilnya.
"Ayah mau kemana? Bukankah baru datang?."
"Ayah ingin jalan-jalan dulu di luar, Bryan. Kau, kau istirahatlah, biar Yura saja yang menemanimu" jawab Karim berusaha untuk menutupi kesedihannya.
Bryan tersenyum. Dia lalu melihat kearah kotak makanan yang tadi di bawa oleh istrinya. "Yura, bisa tolong bawakan makanan itu kemari? Perutku sangat lapar."
Yura yang tidak menyangka suaminya akan berkata selembut itu menjadi gugup saat akan mengambilkan apa yang di mintanya. Bahkan kotak makanan itu hampir jatuh karena tangannya yang tiba-tiba terasa lemas.
__ADS_1
"Hati-hati" ucap Bryan mengingatkan.
"I,iya... Em, apa kau mau aku bantu ambilkan?" tanya Yura menawarkan bantuan.
"Boleh" jawab Bryan senang. "Ayah, ayo duduk bersamaku. Kita makan masakan ini bertiga, pasti akan terasa sangat nikmat. Ayo Ayah, cepat kemari!."
Mata Karim berkaca-kaca. Hatinya hancur, benar-benar hancur melihat kondisi putra semata wayangnya yang sepertinya memang mengalami depresi. Dengan kaki yang gemetaran dia akhirnya berjalan menuju ranjang dimana Bryan tengah menepuk kasur memintanya untuk duduk di sana.
Sementara Yura, dia terheran-heran dengan sikap suaminya. Selama menikah, jika suaminya sedang marah dia tidak akan mau menyentuh semua hal yang berhubungan dengannya. Tapi sekarang, Bryan bahkan tidak menolak saat Yura mengambilkan makanan. Jantung Yura tiba-tiba berdetak kuat, dia khawatir jika suaminya......
"Hei, kalian ini kenapa menatapku seperti melihat hantu sih? Tenanglah, aku baik-baik saja, aku tidak gila seperti yang sedang kalian pikirkan" ucap Bryan sambil tertawa melihat raut kebingungan di wajah ayah dan istrinya.
"Bryan, kau sebenarnya kenapa? Kami takut melihatmu yang seperti ini" tanya Yura lirih. "Kalau ada masalah, ceritakan saja, jangan di pendam. Kalau kau juga ingin marah, ya marah saja. Aku ikhlas menjadi pelampiasan amarahmu."
Bryan menatap dalam kearah istrinya. Entah dorongan darimana tiba-tiba Bryan memeluk Yura, sesuatu yang tak pernah dia lakukan dari dulu kecuali jika sedang berada di depan media. "Yura, kau jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku sungguh tidak apa-apa, aku bahagia karena pagi ini mendapat kunjungan dari Tuan Muda Gabrielle. Dia menghiburku dan juga membawakan sesuatu yang membuatku melupakan semua kesedihan. Sungguh, tidak ada hal lain lagi. Jadi tolong berhenti menanyaiku ada apa. Ayah juga, aku tidak mau lagi Ayah bersikap canggung padaku. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, tidak perlu di ingat lagi."
"B,Bryan, apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan?" tanya Karim tak percaya.
Bryan melepaskan pelukannya kemudian mengangguk. "Iya Ayah, mari kita bangun semuanya dari awal lagi."
"Kau tidak marah lagi pada Ayah?."
"Masih, tapi aku mencoba berdamai dengan kemarahan itu. Hatiku masih sangat kecewa dengan apa yang telah Ayah perbuat, tapi aku memiliki alasan lain untuk bisa memaafkan Ayah. Jadi mulai sekarang mari kita bersama-sama memperbaiki sikap dan perilaku kita. Kita buka lembaran baru lagi" jawab Bryan sembari tersenyum hangat.
Yura menelan ludah. Semakin besar penyesalannya sekarang karena sudah memiliki niat jahat untuk melenyapkan Eleanor. Seandainya saja tadi pagi dia tidak gegabah, saat ini dia pasti akan merasa sangat bahagia setelah mendengar penuturan suaminya. Bisa di katakan kalau ini adalah kabar terbaik yang pernah dia dapatkan selama menjadi istrinya seorang Bryan Young.
"Yura, wajahmu kenapa pucat? Kau sakit?" tanya Bryan menelisik wajah istrinya yang terlihat aneh. "Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Gelagatmu juga terlihat tidak seperti biasanya, ada apa?."
__ADS_1
"Ti,tidak ada apa-apa, Bryan. Aku,aku hanya kaget saja mendengar perkataanmu barusan. Aku,aku tidak menyangka kalau kau akan berdamai secepat ini dengan Ayah. Jadi,jadi aku,aku....
Bryan segera meraih tangan istrinya kemudian menggenggamnya erat. Dia mengerutkan kening saat mendapati kalau tangan istrinya ternyata sangat dingin bagaikan terendam es batu. "Tidak hanya dengan Ayah, tapi aku juga ingin berdamai dengan perasaanmu. Sudah cukup lama aku mengabaikanmu, aku ingin menebus semuanya. Yura, kau mau kan memaafkan aku? Memaafkan segala keegoisanku yang tak pernah melihat keberadaanmu selama ini. Aku sadar apa yang telah aku lakukan adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Jika di izinkan, mari kita lupakan semuanya dan membuat cerita baru. Dan juga, aku ingin kau menjadi Ibu yang baik untuk Eleanor kelak. Aku yakin dia pasti akan sangat menyayangimu nanti!."
Karim sangat terharu mendengar permintaan maaf putranya. Dia lalu melihat kearah menantunya yang sudah terisak. "Yura, sudah saatnya kau merasakan kebahagiaan yang selama ini kau impikan. Tolong maafkan Bryan dan jadilah Ibu yang baik untuk Eleanor kelak. Kau bersedia bukan?."
'Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku sudah terlanjur menyetujui keinginan Patricia. Dia pasti akan sangat kecewa jika tahu kalau ayah dan kakeknya memintaku untuk menjadi ibu sambung yang baik bagi Eleanor. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin menolak keinginan Bryan, ini adalah sesuatu yang selalu aku impikan agar bisa menyatu dengannya. Tapi Patricia, aku juga tidak tega melihatnya terluka. Yang mana yang harus aku pilih? Oh Tuhan, tolong bantu aku!.'
Melihat istrinya menangis dalam diam, Bryan segera memberinya sebuah pelukan hangat. Mungkin ini akan sangat berat bagi Yura, jadi Bryan memberikan satu keputusan yang langsung membuat Yura membuka suara.
"Yura, akau tahu mungkin ini sangat sulit untukmu. Tapi jika memang kau tak menginginkannya, kau boleh mengajukan perceraian untuk rumah tangga kita. Aku...
"Tidak akan Bryan, tidak akan ada perceraian di antara kita. Iya aku bersedia menjadi ibu sambung untuk Eleanor, aku bersedia Bryan. Asalkan kita tetap bersama, maka aku akan melakukan semuanya untukmu. Aku sangat mencintaimu Bryan, aku tidak mau kita berpisah" sahut Yura ketakutan.
Bryan tersenyum. Dia lalu memegang bahu istrinya dan menatapnya penuh kebahagiaan. "Terima kasih, aku tahu kau itu adalah wanita yang sangat baik. Eleanor pasti akan sangat bahagia memiliki Ibu sebaik dirimu, Yura!."
Setelah semuanya selesai, Bryan segera mengajak keduanya makan bersama. Bryan dan ayahnya terlihat sangat bahagia dengan hal ini, tapi berbeda dengan Yura. Dia terlihat sangat tertekan, gugup dan juga takut di saat yang bersamaan. Seandainya waktu bisa di ulang, dia tidak akan mau menyetujui apa yang ingin di lakukan oleh putrinya. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tidak mungkin kembali menjadi beras lagi.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...