Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Gadis Bangsawan


__ADS_3

Elea berdiri bingung di tengah-tengah rerumputan hijau yang mengelilingi tubuhnya. Dia heran, seingatnya tadi dia itu sedang bersama dokter Jackson, tapi kenapa dia bisa tiba-tiba ada di tempat seperti ini?.


"Apa aku sudah mati?" gumam Elea.


Tanpa Elea sadari, dari kejauhan nampak seorang wanita tengah berjalan kearahnya. Bibirnya tersenyum manis melihat Elea yang sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Eleanor....?."


Untuk sesaat Elea tertegun melihat bayangan dirinya di tubuh wanita yang baru saja memanggilnya Eleanor. Cantik, itu kesan pertama yang dia tangkap saat wanita itu terus melangkah semakin dekat.


"Eleanor...."


Lagi. Wanita itu kembali memanggilnya Eleanor. Bagai terhipnotis, tangan Elea menyambut uluran tangan wanita tersebut kemudian mengikuti langkahnya pergi menjauh dari tempat itu. Sebenarnya Elea ingin sekali bertanya, namun mulutnya seakan terkunci. Wanita itu membawanya duduk di bawah sebatang pohon yang sangat rindang. Dia lalu merebahkan kepala Elea di bahunya dan mulai menceritakan banyak hal. Di sini, sembilan belas tahun kesakitannya seakan terobati, kesepian Elea terhapus saat dia mulai nyaman berada di dekat wanita misterius ini. Elea lupa segalanya, dia lupa akan suaminya yang sedang ketakutan menantinya, dia lupa dengan ayahnya yang baru saja dia temukan. Levi, Lusi, ayah dan ibu mertuanya, Grizelle dan juga semua orang yang sudah mau menyayanginya. Elea lupa itu karena sekarang dia enggan untuk melepaskan kedamaian tersebut.


🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧


Sementara itu di rumah sakit, Reinhard dan para dokter tengah berjuang keras mempertahankan detak jantung Elea yang semakin melemah. Mereka panik, tentu saja. Karena di luar kamar ada seekor harimau yang siap memangsa mereka kapan saja jika mereka sampai gagal menyelamatkan gadis kecil ini.


"Dokter, detak jantungnya berhenti!" teriak perawat yang mendengar bunyi mesin EKG di samping ranjang.


"Shittt!" umpat Reinhard. "Siapkan CPR!."


Dengan sangat sigap Reinhard dan semua dokter bekerjasama memberikan pertolongan pertama pada Elea agar jantungnya kembali berdetak. Mereka berjalan kesana kemari untuk terus memastikan keadaan. Sementara Reinhard, dia terus melakukan CPR di dada Elea sambil terus berdoa agar istri sahabatnya ini bisa terselamatkan.


Jika di ruang UGD semua orang sedang sangat panik, Bryan dan ayahnya yang baru saja sampai di rumah sakit langsung mencecar banyak pertanyaan pada Gabrielle. Mungkin saking terkejutnya, mereka datang masih dengan mengenakan piyama tidur. Bahkan Bryan pun sepertinya lupa untuk berganti alas.


"Gabrielle, bagaimana Elea? Dia ada dimana?."


"Elea?" beo Karim kaget. "Bryan, maksudmu, maksudmu, Elea itu Eleanor, cucu Ayah?."

__ADS_1


Saat di jalan tadi, Bryan memang belum sempat memberitahu ayahnya tentang masalah ini. Dia membawanya paksa dengan alasan darurat jika ada anggota keluarga mereka yang sedang kritis di rumah sakit ini.


"Iya Ayah, aku sudah bertemu dengan Eleanor. Putriku sudah di temukan" jawab Bryan dengan wajah panik.


Sedangkan Gabrielle, dia tidak mengindahkan kedatangan dan pertanyaan dari ayah mertuanya. Matanya terus menatap pintu UGD yang tak kunjung terbuka. Liona yang memahami keadaan tersebut segera memberikan penjelasan pada besannya kalau saat ini nyawa menantunya sedang di pertaruhkan.


"Tuan Bryan, Tuan Karim, nanti saja membahas masalah ini. Elea saat ini sedang membutuhkan donor darah dari kalian jadi aku minta kesadaran diri dari kalian berdua!" ucap Liona datar. "Tuan Karim, bersiaplah untuk mendonorkan darah untuk cucumu!."


Bryan dan Karim terbelalak kaget mendengar hal itu. Mereka berdua bingung kenapa malah Karim yang di minta untuk mendonorkan darahnya, bukan Bryan yang notabennya adalah ayah kandung Elea.


"Maaf Nyonya Liona, Eleanor adalah putriku. Kenapa bukan darahku saja yang di ambil?."


"Golongan darah Elea itu sangat langka, Tuan Bryan. Dan darahmu tidak cocok. Hanya Ayahmu saja yang bisa menyelamatkan nyawa Elea sekarang" jawab Liona yang sudah siap untuk membongkar satu rahasia besar.


"Tapi kenapa harus Ayahku?."


"Karena dia adalah Ayah kandung istrimu. Mendiang Nyonya Sandara adalah anak kandung Tuan Karim dengan Nyonya Clarissa" jawab Liona. "Dan ya Tuan Bryan, kau bukanlah anak kandung Ayahmu. Ibumu hamil dengan mantan kekasihnya sebelum dia di nikahkan dengan Ayahmu!."


"Clarissa.... Ja,jadi saat aku meninggalkannya, dia sedang hamil?" ucap Karim dengan suara gemetar seakan tak percaya.


Ingatan Karim melayang pada seorang gadis cantik keturunan bangsawan yang pernah menjalin kasih dengannya dulu. Karena mereka tinggal di luar negeri, mereka tidak memiliki batasan dalam berpacaran. Selama beberapa tahun mereka tinggal dalam satu atap layaknya pasangan suami istri. Dan Karim pergi meninggalkannya begitu saja karena dia harus kembali ke negara ini untuk menikahi ibunya Bryan yang memang sudah menjadi tunangannya sebelum dia berangkat menuntut ilmu di Negeri Paman Sam. Tapi Karim tidak menyangka kalau gadis bangsawan itu akan mengandung anaknya. Setelah mereka berpisah, Clarissa sama sekali tak pernah menghubunginya. Hubungan mereka kandas begitu saja meskipun jujur Karim akui sampai saat ini rasa itu masih tetap ada. Clarissa adalah wanita yang sangat dia cintai. Mungkin seandainya saja dia tidak terikat pernikahan bisnis dengan ibunya Bryan, saat ini dia pasti sudah menikahinya. Tapi apa daya, keadaan saat itu mengharuskannya menikah dengan ibunya Bryan. "Sandara...."


"Kau benar, Tuan Karim. Sandara adalah putri kandungmu, dan kau telah menyiksanya hingga kematian datang menjemputnya. Kalau kau ingin menyesal, lakukan itu nanti. Karena sekarang nyawa Elea jauh lebih penting dari airmatamu" jawab Liona dengan ketus. "Levi, tolong panggilkan perawat. Katakan pada mereka kalau pendonor untuk menantuku sudah datang!."


"Baik Bibi!."


Sepeninggal Levi, Liona segera menghampiri putranya yang hanya berdiam diri dengan tatapan yang terus tertuju ke ruang UGD dimana istrinya sedang berjuang untuk hidup. Dia lalu membisikkan kata, berharap dengan hal ini putranya akan sedikit lebih tenang. "Iel, Elea pasti selamat. Ibu sudah menemukan orang yang memiliki darah yang sama seperti istrimu. Jangan sedih lagi ya, Ibu tidak tega melihatmu seperti ini!."


Bryan yang masih syok setelah mendengar kebenaran tersebut, sedikit demi sedikit akhirnya paham kenapa dulu ibunya selalu menyebut jika Sandara adalah anak haram. Juga sudah menemukan jawaban kenapa ibunya bisa setega itu membuang Eleanor ke dalam jurang. Rupanya rahasia ini yang menjadi penyebabnya. Namun satu yang masih menjadi tanda tanya besar di hatinya. Jika benar Sandara adalah anak dari seorang bangsawan, bagaimana bisa istrinya itu terdampar di panti asuhan negara ini? Apakah mungkin Sandara itu sengaja di buang untuk menutup aib keluarga?.

__ADS_1


"Sandara, putriku?" gumam Karim seperti tak sadar saat dua orang perawat membantunya berdiri. "Jadi aku yang membunuh putriku sendiri?."


Entahlah, keadaan di depan ruang UGD itu terlihat begitu menyedihkan. Gabrielle yang terdiam dengan ketakutannya, Bryan yang termenung dengan kenyataan yang baru saja dia terima, dan yang paling parah adalah Karim. Selain sudah menyia-nyiakan cucunya selama belasan tahun, kini dia harus menerima kenyataan jika wanita yang dulu menjadi menantunya ternyata adalah putri kandungnya dengan Clarissa, wanita yang juga pernah begitu dia cintai. Baru saja dia bisa bernafas lega karena cucunya sudah di temukan, sekarang dia harus kembali menelan pil pahit yang jauh lebih menyakitkan lagi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Karim setelah ini.


Ceklek


"Maaf Nyonya Liona, Tuan Muda, apakah pendonor darahnya sudah ada? Nona Elea sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bahkan tadi jantungnya sempat terhenti, tapi syukurlah dokter Reinhard berhasil menyelamatkannya!" ucap seorang dokter.


Setelah mendengar laporan dokter, barulah Gabrielle tersadar dari kebisuannya. Dia langsung memeluk ibunya sambil terisak. "Aku lebih memilih mati bersama Elea jika dia tidak selamat, Bu. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya!."


"Tidak apa-apa, semuanya sudah selesai. Oh iya dokter, perawat sedang mengambil darah si pendonor di ruangan lain. Kau mungkin bisa mengambilnya sekarang!" ucap Liona sembari mengelus bahu putranya yang bergetar karena tangis.


"Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi!."


Levi menghela nafas lega kemudian membantu pamannya untuk berdiri. Dia terenyuh sekali melihat keadaannya, dan juga sangat kasihan memikirkan nasib ayah dan anak ini.


"Paman yang sabar ya, semua itu sudah berlalu. Yang terpenting sekarang keselamatan Elea, kalian bisa memperbaiki semua ini nanti!" hibur Levi.


"Levi, Paman tidak masalah jika Paman bukan anak kandung Kakekmu. Hanya saja dada Paman terasa sangat sakit karena selama ini sudah di bohongi oleh Nenekmu. Tidakkah menurutmu Paman adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini?" ratap Bryan pilu.


"Tidak seperti itu juga, Paman Bryan. Sudahlah, lupakan dulu masalah itu. Sekarang lebih baik kita fokus pada Elea. Kasihan dia, bahunya berlubang karena di celakai oleh penjahat itu!."


Untuk menenangkan pamannya, Levi menceritakan beberapa kekonyolan yang selalu di lakukan oleh Elea. Yah, meskipun semua orang sedang merasa khawatir dan juga sedih, setidaknya masih ada satu orang yang bisa memberi kekuatan pada yang lain. Hitung-hitung untuk meredakan ketegangan yang tadi sempat membuatnya seperti tak bisa bernafas. Levi benar-benar mengambil banyak pelajaran dari kejadian ini.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2