
Pagi hari, di sebuah apartemen terlihat seorang wanita yang sedang sibuk berkemas barang. Dialah Patricia. Wanita cantik yang tengah hamil muda itu kini sedang bersiap diri untuk berangkat ke bandara. Ya, setelah mengalami pergolakan batin yang cukup kuat, Patricia akhirnya memutuskan untuk berangkat ke German hari ini juga. Dia lebih memilih untuk melahirkan dan juga membesarkan bayinya seorang diri. Untung saja kemarin dia bertemu dengan dokter yang tepat. Jika tidak, saat ini dia pasti sudah menjadi seorang pendosa karena telah membunuh seorang bayi yang tidak bersalah.
"Oke baby, waktunya berangkat," ucap Patricia sembari mengelus pelan perutnya.
Sebelum keluar dari apartemen, dia terlebih dahulu memeriksa apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. Tak lupa dia juga meninggalkan sepucuk surat untuk kedua orangtuanya. Iya benar, Patricia pergi tanpa memberitahu ayah dan ibunya. Dia tidak ingin mereka tahu kalau saat ini dirinya tengah mengandung bayi di luar nikah. Patricia sadar kalau perbuatannya ini bisa mencoreng nama baik keluarga Young. Karena alasan ini jugalah dia memutuskan untuk pergi diam-diam.
"Nona, biar saya bantu!" ucap bawahan Patricia yang sudah menunggunya di lobi apartemen.
"Terima kasih,"
Sadar kalau dirinya tengah berbadan dua, Patricia pun berjalan dengan sangat hati-hati. Bahkan kini dia tidak mengenakan sepatu hak tinggi seperti kebiasaannya setiap hari. Entahlah, setelah mendapat nasehat dari dokter, jiwa keibuan Patricia tiba-tiba mencuat. Dia jadi begitu sayang pada kandungannya meski di awal sempat sangat membencinya. Sambil melangkah menuju mobil, Patricia tak henti-hentinya tersenyum sambil membayangkan jenis kelamin dari si jabang bayi. Dia juga mulai merangkai nama yang lucu untuk sang bayi kelak.
"Silahkan masuk, Nona."
"Oh, oh iya. Terima kasih!" sahut Patricia kaget ketika bawahannya membukakan pintu mobil.
Kening Patricia mengerut saat bawahannya tak ikut masuk ke dalam mobil. Tapi begitu dia hendak melayangkan pertanyaan, tiba-tiba saja pintu mobil terkunci. Dia kaget, tentu saja. Perasaannya mendadak terasa tidak enak.
"Mau kabur kemana hm?"
Tidak mungkin.
Junio yang saat itu duduk di kursi kemudi langsung menoleh ke arah belakang begitu pintu mobil terkunci. Dia menatap datar ke arah Patricia yang kini tengah terpaku dengan bola mata membulat lebar.
"Aku tanya kau mau kabur kemana?" desak Junio.
"K-k-kau kenapa a-ada di sini?" tanya Patricia tergagap.
"Aku yang bertanya duluan. Sekarang jawab kau mau kabur kemana!" teriak Junio habis kesabaran. "Apa kau pikir kau bisa membawa lari anakku hah! Tidak bisa, Patricia. Benih yang sedang tumbuh di dalam rahimmu adalah hasil jerih payahku selama ini. Beraninya kau ingin membawanya pergi dariku. Jangan harap!"
Patricia gugup. Dia menelan ludah berulang kali saat tahu kalau Junio ternyata sudah mengetahui kalau dia sedang hamil. Khawatir kalau bayinya akan di minta oleh pria gila ini, Patricia pun memegangi perutnya dengan sangat erat. Sungguh, dia sangat panik dan ketakutan sekarang. Batinnya kembali tertekan.
"Cia....
__ADS_1
Suara Junio melemah. Dia kemudian berpindah dari kursi kemudi ke kursi belakang. Dengan tatapan yang sangat sayu, Junio merebahkan kepalanya ke pangkuan Patricia kemudian menciumi perutnya yang masih datar.
Jadi kau ya yang sudah membuatku menderita selama beberapa hari ini. Dasar kecambah bar-bar.
Tubuh Patricia kaku, itu sudah pasti. Dia lalu memberanikan diri untuk menundukkan kepala, memperhatikan wajah tampan pria yang sedang memejamkan mata di pangkuannya.
"Astaga Jun, kenapa wajahmu pucat begini?" pekik Patricia kaget.
Saat dilihat dari dekat, wajah Junio terlihat seperti mayat hidup dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Pria yang biasanya terlihat sangat arogan ini mendadak berubah seperti orang yang baru saja selesai melakukan kerja rodi. Mengenaskan.
"Aku kena karma, Cia," sahut Junio tanpa membuka mata.
"Karma? Karma bagaimana maksudnya?"
Junio mendesah pelan. Dia semakin membenamkan wajahnya ke perut Patricia dimana si kaki tangan Tuhan berada.
"Sejak kita menghadiri acaranya Gleen dan Lusi, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Perutku selalu mual dan hanya asinan kedondong saja yang bisa kumakan. Aku sekarang sangat sekarat, Patricia."
"Tapi kenapa bisa begini? Apa kau sudah periksa ke dokter?"
Apa ini adalah bawaan bayi yang sedang ku kandung? Tapi masa iya Junio yang merasakan ngidam, kan bukan dia yang hamil.
"Semalam Gabrielle menelponku. Dia memintaku untuk memeriksa segala hal yang kau lakukan selama beberapa hari ini. Kemudian anak buahku menemukan informasi kalau kau kemarin mendatangi dokter kandungan. Lalu mereka juga mendapat informasi kalau hari ini kau akan pergi ke German!" jawab Junio. "Cia, kenapa tidak bilang padaku kalau kau sedang hamil? Bibit kecambah yang ada di dalam perutmu itu aku yang menyemai. Aku yang sudah susah payah mengerjaimu siang dan malam sampai bibit kecambah itu hidup. Tega sekali ingin memisahkan kami."
Plaaakkkkk
Junio kaget setengah mati saat kepalanya tiba-tiba di pukul dengan sangat keras. Dia kemudian mendongak, menatap seksama ke arah Patricia yang sedang memelototkan mata.
"Enyah kau dari hadapanku, Junio!" teriak Patricia dengan wajah merah padam.
Seketika hilang sudah rasa kasihan di diri Patricia begitu dia mendengar ucapan fulgar Junio. Entahlah, dia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Benar kalau Junio adalah ayah dari bayi yang sedang dia kandung, dan alasan kenapa Patricia tak ingin memberitahunya adalah karena pria ini tak memiliki rasa cinta untuknya. Bohong jika Patricia tak berharap ingin di nikahi, dia sudah pasti sangat mengharapkannya. Tapi daripada harus hidup dengan pria yang tidak mencintainya, Patricia lebih memilih untuk hidup sendiri. Dia tak mau memiliki kisah pahit seperti yang di alami oleh ibunya dulu.
"Cia, aku bisa mati jika berjauhan dari kalian berdua. Biarkan aku menempel seperti ini ya," bujuk Junio dengan tatapan tidak berdaya.
__ADS_1
"Pesawatku sudah mau berangkat, Jun. Tolong jangan menghalangiku!" ucap Patricia menahan sesak.
"Roda pesawatnya sudah ku gadaikan!"
"Junio!"
"Pilotnya juga sedang pergi bulan madu!"
"MORIGAN JUNIO!!!"
Junio tersenyum. Satu tangannya bergerak mengusap perut datar Patricia. Dia mengabaikan kekesalan si pemilik perut yang sedang bernafas dengan sangat menderu.
"Junior, Daddy sekarang sangat menderita. Daddy tidak pernah bisa tidur, Daddy juga selalu muntah. Apa siksaan ini kau dan Mommy-mu yang merencanakan? Atau jangan-jangan kau sudah bersekongkol dengan Tuhan untuk menyiksa Daddy karena sudah berbuat jahat pada Mommy-mu? Iya?"
Ucapan Junio terjeda sejenak.
"Junior, tolong katakan pada Mommy-mu Daddy minta maaf. Daddy salah. Bilang padanya untuk tidak pergi dari sini karena Daddy akan mati jika tidak ada kau. Hanya kau Junior yang bisa membuat keadaan Daddy jauh lebih baik. Oke? Tolong bujuk Mommy-mu ya, Nak? Nanti Daddy belikan permen satu pabrik khusus untukmu," ucap Junio dengan mata yang mulai terpejam.
Suasana di dalam mobil tiba-tiba berubah hening. Patricia mencoba menahan suara tangisnya agar tidak terdengar keluar. Dia menggigit bibirnya dengan kuat, gelisah setelah mendengar ucapan Junio barusan.
Hiksss Tuhan... aku harus bagaimana sekarang? Junio tidak mencintaiku, dia hanya menginginkan bayi ini. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Aku tidak ingin seperti ini, tolong beritahu jalan mana yang harus aku ambil. Tolong aku, Tuhan....
πππππππππππππππππ
β Hayoo... siapa yang udah baca part 3 PESONA SI GADIS DESA?? Sakit perut gk tuh gara-gara ucapan Nania π€£π€£π€£π€£π€£
Yakin nih tetap gk mau mampir??? Ada giveaway-nya juga lho??? Kuylah kesana, kita seru-seruan sama kembarannya Elea
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...π»IG: rifani_nini...
...π»FB: Rifani...