
Gabrielle berjalan mendekat kearah ranjang sambil membawa buket bunga mawar di tangannya. Matanya terus melihat kearah Elea yang sedang diam dengan wajah murung. Gabrielle sadar, dialah yang menjadi penyebab istrinya tidak merasa bahagia. Andai saja tadi dia bisa sedikit mengontrol emosinya, Elea pasti tidak akan bersedih seperti ini.
"Sayang?....
Elea menoleh. Matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat suaminya datang.
"Kak Iel, hiksss... aku minta maaf sudah membuatmu marah. Aku salah."
"Sayang..." panggil Gabrielle kemudian cepat-cepat memeluk istrinya yang sudah terisak. "Ssssttt, jangan menangis ya. Aku yang salah, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membentakmu. Aku yang salah, sayang."
Dada Gabrielle begitu sakit mendengar istrinya meminta maaf. Padahal jelas-jelas dialah yang sudah bersikap kasar padanya tadi. Sungguh, sikap Elea membuat Gabrielle sesak nafas.
"Hiksss, aku meminta dokter Jackson menikahi Kayo karena aku sudah beberapa kali melihat mereka berdua berada di atas pelaminan, Kak. Aku tidak bicara sembarangan, aku juga tidak bermaksud menggunakan rasa sakitku untuk menyakiti Kayo. Tidak seperti itu kejadian yang sebenarnya" ucap Elea berusaha menjelaskan.
"Iya-iya aku tahu. Aku saja yang bodoh karena langsung menuduhmu tanpa bertanya lebih dulu. Tapi di sini kau juga harus mengerti Elea kalau aku ini adalah kakaknya Kayo. Aku mana mungkin tega membiarkannya di nikahi oleh pria yang sama sekali tidak mencintainya. Sebagai seorang kakak wajar bukan jika aku marah?" tanya Gabrielle sambil membelai-belai punggung istrinya. Dia sungguh sangat merasa bersalah padanya.
"Aku tidak menyalahkanmu, Kak. Tapi lain kali bisa tidak jangan membentakku seperti tadi? Aku sangat takut Kak Iel, aku takut."
Gabrielle bagai tertampar begitu mendengar ucapan Elea. Rasa bersalahnya kian membesar, dia merasa kalau dirinya adalah suami paling bodoh yang ada di dunia ini.
"Aku bersumpah itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku berkata kasar padamu, sayang. Aku benar-benar sangat menyesal melakukan semua itu. Tolong maafkan kekhilafan suamimu yang tidak sempurna ini ya sayang."
Elea mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia lega karena sekarang kesalahpahaman itu sudah berakhir.
"Oh iya sayang, aku membawakan bunga untukmu. Lihatlah, kau pasti akan sangat menyukainya" ucap Gabrielle kemudian mengurai pelukan.
Saat Gabrielle hendak memberikan buket bunga untuk Elea, dia tidak sengaja menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Untuk beberapa detik tubuh Gabrielle membeku, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kakiku rasanya seperti sedang di gigiti oleh ribuan semua, Kak. Sakit dan juga terasa sangat nyeri sejak tadi. Padahal aku hanya minum sedikit, tapi kakiku membesar seakan aku ini meminum air dalam jumlah yang sangat banyak. Penyakitku sudah sangat parah ya Kak?" adu Elea sambil mengelus-elus kaki gajahnya.
Bibir Gabrielle gemetar.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Aku lupa berpesan pada Ares kalau besok ada meeting penting yang harus dia hadiri. Tidak apa-apa kan kalau aku meninggalkanmu sendirian dulu?.
__ADS_1
"Iya Kak tidak apa-apa,"
Setelah memberikan buket bunga dan mencium kening Elea, Gabrielle bergegas keluar dari dalam ruangan. Dia terdiam sambil menyender di pintu begitu sampai di luar. Jantungnya seperti akan meledak.
"Gab, Elea mana?" tanya Levi yang baru saja ingin masuk untuk menjenguk teman kecilnya.
Kening Levi mengerut saat Gabrielle tak menjawab pertanyaannya. Perasaannya mendadak terasa tidak nyaman.
"Elea baik-baik saja kan?.
"Mana Reinhard?" ucap Gabrielle balik bertanya.
"Tadi dia sedang mengambil ponsel di ruangannya. Ada apa? Elea baik-baik saja kan Gab?" jawab Levi sambil mencecar Gabrielle dengan pertanyaan tentang Elea.
"Kakinya semakin membesar. Pertolongan yang diberikan Reinhard dan Jackson tidak berpengaruh apa-apa, termasuk juga dengan obat yang dibawa oleh Ibuku. Elea... dia harus secepatnya melakukan operasi ginjal. Keadaannya semakin parah!.
Di saat yang bersamaan, Jackson dan Reinhard muncul berbarengan. Mereka setengah berlari menghampiri Gabrielle dan Levi yang terlihat cemas di depan kamar rawat Elea.
"Ada apa ini?" tanya Reinhard.
Jackson menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kuat. Dia lalu menepuk pundak Gabrielle untuk memberitahukan sesuatu.
"Besok pagi operasinya akan dilakukan. Malam ini tolong kau pastikan Elea istirahat dengan baik."
"Lalu kau?.
"Bukan aku yang akan menjadi pendonor ginjal untuk Elea, Gab. Ada orang lain yang memaksa untuk menggantikan aku" ucap Jackson dengan berat hati.
Gabrielle, Reinhard, dan Levi tersentak kaget mendengar ucapan Jackson. Mereka bertiga langsung menatapnya dengan raut wajah yang sangat penasaran.
"Tuan Karim, dia memohon pada ibumu agar di izinkan untuk memberikan ginjalnya pada Elea. Dan aku tidak bisa menolak karena... karena....
'Karena Elea sudah melihat apa yang akan terjadi padanya. Tuan Karim akan pergi jauh setelah mengorbankan hidupnya demi menebus dua kesalahan terfatal yang pernah dia lakukan dulu. Ginjal Tuan Karim akan menjadi lambang permintaan maafnya pada Elea, dan semua itu sudah di ketahui oleh Elea sejak aku berhasil mendiagnosis penyakit yang ada di tubuhnya.'
__ADS_1
Gabrielle termangu setelah mendengar isi pikiran Jackson. Dia tidak menyangka kalau Kakek Karim akan melakukan pengorbanan yang sangat besar hanya demi menebus dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Gabrielle kemudian menatap iba kearah Jackson, dia tahu bagaimana pria ini begitu ingin membalas budi atas pengorbanan yang dilakukan istrinya di masalalu. Entahlah, Gabrielle sedikit bingung karena istrinya tiba-tiba saja terhubung dengan kejadian-kejadian yang tak terduga.
"Karena apa, Jackson? Ayo cepat lanjutkan perkataanmu!" desak Levi panik.
"Karena Kakek Karim ingin menebus semua dosa dengan memberikan ginjalnya pada Elea. Dia ingin ada bagian dari tubuhnya yang bisa memberi kebahagiaan di hidup cucunya yang dulu selalu dia sia-siakan. Alasan inilah yang berhasil membuatku mundur, aku tidak sampai hati bertengkar dengannya meski sebenarnya aku sangat ingin!" lanjut Jackson sedikit berkilah dari kenyataan aslinya.
Semua orang terdiam setelah Jackson menyelesaikan kata-katanya. Besok adalah hari dimana Elea akan memulai hidup barunya sebagai seorang mahasiswi. Tapi tepat di hari itu dia akan berada di atas meja operasi untuk mempertaruhkan hidupnya. Meski sudah mendapat calon pendonor, tetap saja operasi itu memiliki resiko yang cukup besar. Dan satu hal yang paling di khawatirkan di sini, yaitu penolakan.
"Reinhard, Jackson, operasi Elea pasti akan berjalan lancar kan? Dia pasti akan langsung sembuh seperti semula kan?" cecar Levi sedih.
"Kami tidak bisa memberimu kepastian, Nona Levi. Kita berdoa saja semoga besok semuanya lancar dan tubuh Elea bisa menerima anggota mereka yang baru. Kalau seluruh organ vital di tubuh Elea merespon baik ginjal pemberianTuan Karim, barulah kita bisa menyatakan kalau operasi transplantasi ginjal itu sukses dilakukan. Itupun harus selalu dalam pantauan dokter agar kami semua bisa mengetahui perkembangannya" jawab Jackson panjang lebar.
"Tapi setelah itu Elea sembuh kan?.
"Kita berdoa bersama saja. Serahkan semuanya pada yang di atas" sahut Reinhard kemudian memeluk bahu kekasihnya yang sedang bersedih. "Jangan khawatir, aku yakin Elea pasti bisa melewati ini semua. Dia adalah gadis yang sangat kuat, kita semua tahu itu."
Jangan tanya bagaimana perasaan Gabrielle sekarang. Rumah tangga yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba berada dalam keadaan genting begitu Jackson menerima kata maaf dari Elea. Istrinya yang awalnya hanya di vonis sakit Kista Endometrium tiba-tiba saja menjadi pasien bocor ginjal setelah di periksa oleh Jackson. Dan hanya dalam hitungan jam, Elea langsung drop. Kondisinya langsung memburuk dalam sekejap. Sekeras apapun Gabrielle mencoba untuk berpikir, tetap saja dia tidak bisa menemukan penyebab pasti kenapa istrinya bisa jadi seperti ini. Semuanya terjadi begitu cepat, sampai Gabrielle sendiri tak mampu berpikir menggunakan nalarnya sebagai manusia. Mungkinkah ini yang di sebut Kuasa Tuhan?.
"Gabrielle, sekarang sebaiknya kau masuk dan temani Elea di dalam. Pastikan dia cukup istirahat agar besok kondisinya bisa vit sebelum masuk ke ruang operasi. Jangan cemas, aku dan Jackson pasti akan melakukan yang terbaik untuknya" ucap Reinhard.
"Rein, Jack, aku bergantung pada kalian besok" sahut Gabrielle lirih.
Jackson tak menyahut. Dia memilih pergi dari sana untuk menenangkan pikiran. Batinnya sedang sangat bergejolak, dan dia membutuhkan tempat untuk bersandar.
"Butuh teman?.
Jackson menoleh. Dia tersenyum getir kemudian menganggukkan kepala.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: rifani_nini...
...🌻 FB: Rifani...