Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kecolongan


__ADS_3

"Lho, dokter Reinhard datang lagi?" tanya penjaga keheranan.


Reinhard yang saat itu datang sambil mendorong kursi roda milik Tuan Bryan tercengang kaget mendengar pertanyaan penjaga. Dia lalu mengangkat jari telunjuk dan mengarahkannya tepat di depan mata. "Aku datang lagi?."


Penjaga itu mengangguk. "Iya, Nyonya kecil bahkan masih istirahat setelah anda menyuntikkan obat ke tubuhnya."


Reinhard diam mencerna perkataan penjaga tersebut. 'Kapan aku datang? Sejak tadi aku kan berada di ruangan lain sebelum akhirnya membawa Tuan Bryan kemari? Tapi kenapa penjaga ini bilang kalau aku sudah datang dan memberikan obat pada Elea? Ada apa ini? Kenapa....


"Owh shitttttt! Cepat periksa CCTV sekarang!" teriak Reinhard panik saat dirinya menyadari sebuah bahaya besar. "Cepat lakukan dan jangan sampai ada yang terlewat. Yang datang ke ruangan Elea tadi bukan aku, itu pasti Jack-Gal yang menyamar menjadi aku. Cepat periksa!."


Para penjaga terperanjat kaget mendengar perkataan Reinhard. Mereka lari kocar-kacir untuk memeriksa seluruh rumah sakit. Sebagian di antaranya masuk ke dalam ruang keamanan.


"Dokter Reinhard, ada apa ini? Putriku kenapa?" tanya Bryan panik.


"Nanti saja saya baru menjelaskannya, Tuan Bryan. Sekarang lebih baik kita segera masuk untuk memeriksa keadaan Elea" jawab Reinhard cemas bukan main.


Setelahnya, Reinhard segera mendorong kursi roda ayahnya Elea masuk ke dalam. Keningnya mengerut melihat Elea yang tertidur sangat nyenyak diatas ranjang rumah sakit.


"Itu Eleanor dok, dia sedang tidur ternyata" ucap Bryan sembari menghela nafas lega.


Curiga, Reinhard segera menatap lekat wajah Elea. Ada semacam memar yang cukup samar di antara kedua rahangnya. Reinhard kemudian menatap ke sekeliling kamar, dia lalu tak sengaja menemukan sebuah kamera kecil yang tersembunyi di samping televisi. 'Um, untung ada kamera di sini. Jadi aku bisa lihat apa saja yang di lakukan oleh Jack-Gal pada Elea.'


Bryan hanya duduk sambil memperhatikan Reinhard yang sedang mengotak-atik sebuah benda di tangannya. Tak lama kemudian, televisi di nyalakan. Bagai tersambar petir, keduanya melihat bagaimana Elea yang tengah di siksa oleh seorang pria yang wajahnya menyerupai Reinhard. Bryan yang melihat hal itu segera bergerak menuju kearah ranjang putrinya. Dia lalu mengguncang lengannya pelan.


"El,Eleanor... Bangun Nak, ini Ayah sayang. Eleanor, bangun..." panggil Bryan panik.


Reinhard yang baru tersadar dari keterkejutannya segera memeriksa denyut nadi Elea. Dia mengerutkan kening melihat Elea yang hanya diam tanpa ada gerakan sama sekali. "Tuan Bryan, tolong anda tetap di sini untuk menjaga Elea. Saya akan pergi keluar mengambil alat untuk memeriksanya."


"Iya iya. D,dokter tolong selamatkan putriku, aku mohon" sahut Bryan menghiba.


"Baik, tolong anda tunggu di sini dulu."


Setelah itu Reinhard segera berlari keluar. Dia berpapasan dengan para penjaga yang tadi di mintanya untuk memeriksa CCTV. "Bagaimana? Kalian mendapatkan sesuatu?."

__ADS_1


"Iya dokter, maafkan kami, kami kecolongan. Dokter yang tadi masuk ke ruangan Nyonya kecil ternyata adalah orang lain yang menyamar seperti anda" sahut penjaga dengan wajah panik. "Dokter, Nyonya kecil baik-baik saja kan?."


"Entahlah, tidak ada reaksi apapun saat aku memanggilnya. Sekarang kalian berjaga di sana, aku akan segera kembali" ucap Reinhard kemudian lanjut berlari menuju ruangannya.


Dengan tergesa-gesa Reinhard menyambar alat dan juga obat-obatan di dalam lemari. Tak lupa juga dia berteriak memanggil para perawat untuk membantunya menangani Elea.


Sementara itu di perusahaan, Gabrielle terlihat tidak fokus saat sedang berbicara dengan para pejabat negara. Pikirannya terus tertuju pada istrinya.


"Tuan Muda, ada apa?" bisik Ares yang menyadari kegelisahan di diri Tuan Muda-nya.


"Entahlah, perasaanku rasanya sangat tidak nyaman, Ares. Kira-kira berapa lama lagi meeting ini akan selesai?" jawab Gabrielle lesu.


Ares segera melihat jam di tangannya. "Masih satu jam lagi, Tuan Muda."


"Sial, kenapa lama sekali sih" gerutu Gabrielle kemudian menjawab pertanyaan dari tamunya.


Saat Ares akan kembali fokus pada meeting yang sedang berlangsung, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dadanya langsung berdebar kuat begitu melihat id si penelfon. Tak ingin mengganggu, dia meminta izin keluar untuk mengangkat panggilan. Yang mana perbuatannya itu malah membuat Gabrielle semakin risau. Pikirannya semakin tidak tenang.


"Ada apa?" tanya Ares setelah dirinya berada di luar ruangan.


Gigi Ares saling menggeretak. Dia lalu mencengkram ponselnya hingga baku-baku tangannya memutih.


"Bukankah aku sudah memperingatkan kalian untuk hati-hati! Bagaimana kalian bisa kecolongan sampai seperti ini? Apa jumlah kalian masih kurang banyak di sana, hah!" sentak Ares sembari menekan tulang hidungnya. "Lalu dimana Nyonya Elea sekarang? Jangan bilang bajingan itu mengelabui kalian dan berhasil membawa Nyonya Elea pergi dari rumah sakit. Cepat jelaskan sekarang!."


"Jack-Gal tidak membawa Nyonya kecil dari rumah sakit ini, Tuan Ares. Dan sekarang dokter Reinhard sedang memeriksanya. Hanya saja Nyonya kecil tidak menunjukkan respon apapun saat dokter Reinhard memanggilnya."


"Shiiiitttttt, dasar tidak berguna! Aarrgghhhh!."


Ares merasa frustasi sendiri akibat keteledoran anak buahnya. Kesal karena tugas yang dia berikan gagal, dengan geram Ares meninju dinding kantor berkali-kali hingga membuat tangannya memar. Nafasnya memburu, di bola matanya sudah terbayang akan seperti apa kemurkaan Tuan Muda-nya nanti jika mengetahui kalau Jack-Gal kembali menyerang Nyonya-nya.


"Kalian bersiaplah. Aku sudah bilang bukan kalau nyawa kalian adalah taruhannya?" ucap Ares sambil mengatur emosinya.


"Kami siap menerima hukumannya, Tuan Ares."

__ADS_1


"Bagus. Kalian hadapi sendiri seperti apa kemarahan Tuan Muda nanti, meski kalian memohon aku tidak akan peduli!."


Setelah menggertak anak buahnya, Ares memutuskan panggilan. Dia mencoba bersikap senormal mungkin sebelum kembali masuk ke dalam ruangan.


"Ada apa? Siapa yang menelfon?" cecar Gabrielle yang sejak tadi gelisah menunggu Ares kembali.


"Tuan Muda, terjadi sesuatu di rumah sakit" sahut Ares pelan. "Jack-Gal berhasil menyusup ke dalam kamar Nyonya Elea. Saat ini dokter Reinhard tengah memeriksanya karena menurut laporan penjaga Nyonya Elea tidak menunjukkan respon apapun saat dokter Reinhard memanggilnya. Haruskah kita meninggalkan meeting ini dan segera pergi ke rumah sakit, Tuan Muda?."


Nafas Gabrielle seakan terhenti setelah mendengar perkataan Ares. Tiba-tiba saja kakinya terasa beku, sulit untuk di gerakkan. Dengan suara yang gemetaran Gabrielle meminta Ares untuk membantunya berdiri. "Bantu aku. Sekarang Ares!."


Para pejabat yang ada di ruangan itu berjengit kaget mendengar suara teriakan Gabrielle. Mereka saling bertanya-tanya ada apa melihat Gabrielle yang terlihat begitu gusar.


"Maaf Tuan-Tuan, sepertinya meeting kali ini terpaksa harus di tunda dulu. Ada masalah besar yang sedang terjadi dan kami harus segera pergi kesana" ucap Ares sambil menatap tajam kearah para pejabat yang tidak berhenti berbisik. "Jika ada yang keberatan dengan perkataan saya, mari kita selesaikan di meja hijau!."


"Tuan Ares, kami semua tidak ada yang merasa keberatan. Kau dan Tuan Muda silahkan pergi menyelesaikan urusan itu. Kami, kami akan menunggu konfirmasi dari kalian untuk melakukan meeting ulang nanti" sahut salah satu pejabat ketakutan.


Ares mengangguk. "Kalau begitu kami pergi dulu. Permisi!."


Gabrielle yang tubuhnya sedikit lemas hanya bisa bertopang pada Ares. Otaknya seperti berhenti bekerja saat ucapan Ares terngiang-ngiang di telinganya. 'Elea, kau tidak boleh kenapa-napa sayang. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Tidak akan sayang!.'


"Tuan Muda, anda baik-baik saja?" tanya Ares khawatir melihat Tuan Muda-nya diam saja.


"Jangan pedulikan aku. Kau pikirkan saja bagaimana cara agar kita bisa segera sampai di rumah sakit. Aku, aku harus secepatnya melihat keadaan istriku, Ares. Dia tidak boleh kenapa-napa" jawab Gabrielle.


"Baik Tuan Muda, saya mengerti!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2