Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pengakuan


__ADS_3

"Kak Iel, apa tidak apa-apa kita datang tanpa membawa apapun? Nanti kalau Kakak di bilang pelit bagaimana?" tanya Elea sebelum keluar dari dalam mobil.


Setelah melewati sesi bercinta yang aneh di kamar mandi, Gabrielle dan Elea segera meluncur ke kediaman orangtua mereka. Malam ini Elea akan di perkenalkan secara resmi sebagai anggota baru di Keluarga Ma. Sebenarnya semua orang sudah pernah bertemu dengan Elea di pernikahan Grizelle, hanya saja waktu itu Gabrielle tak membiarkan keluarga besarnya berdekatan dengan Elea. Demi keamanan, begitu kilahnya.


"Semuanya sudah ada di rumah Ibu sayang, jadi kau tidak perlu lagi merisaukan masalah seperti ini" jawab Gabrielle seraya mengelus puncak kepala istrinya. "Di dalam nanti jangan dekat-dekat dengan sepupu pria-ku ya, aku tidak suka!."


"Kenapa tidak boleh Kak? Bukankah mereka sudah menjadi saudaraku juga ya?" sahut Elea heran.


Gabrielle menghela nafas saat harus kembali mengingatkan istrinya kalau dia sangat tidak rela miliknya di ganggu oleh pria lain. Tapi karena malam ini adalah malam yang sangat penting, mau tidak mau Gabrielle akhirnya kembali menjelaskan betapa dia sangat cemburu.


"Sayang, kau tahu bukan kalau aku sangat mencintaimu? Kau tahu kan kalau suamimu yang tampan ini sangat tidak rela kau berdekatan dengan pria lain?."


Elea mengangguk. Dia tentu saja paham bagaimana sikap suaminya selama ini. Bahkan Ares saja sampai harus berganti nama menjadi seorang wanita hanya demi menjaga agar suaminya tidak marah. "Jadi nanti saat sepupunya Kakak ada yang bertanya aku harus diam saja dan pergi melarikan diri, begitu?."


Ares yang masih duduk di kursi kemudi nyaris terbahak mendengar perkataan konyol Nyonya-nya. Dia segera menormalkan kembali ekpresi di wajahnya begitu menyadari kalau ada tatapan tajam setajam silet yang sedang mengarah padanya.


"Hmmm....Elea, tidak seperti itu juga sayang. Malam ini adalah malam yang spesial untukmu, semua orang pasti akan datang menyapa, termasuk para sepupuku juga. Dan yang aku inginkan adalah kau tidak berdekatan dengan mereka. Bukan berarti harus melarikan diri saat mereka datang menyapa. Paham tidak?" imbuh Gabrielle berusaha sabar.


"Belum Kak, baru sedikit" sahut Elea setengah bercanda.


"Keluar kau dari sini, dasar sialan!" umpat Gabrielle saat dia mendengar suara tawa tertahan dari mulutnya Ares.


"Maaf Tuan Muda, saya permisi" pamit Ares kemudian bergegas keluar dari dalam mobil.


Sambil menahan kesal, Gabrielle beralih menatap istrinya. Dia lalu menangkup wajahnya antara gemas dan juga sedikit dongkol. "Sayang, suamimu ini tidak sedang bercanda. Aku benar-benar tidak suka kalau kau di dekati pria lain, sekalipun itu sepupuku sendiri. Kau mengerti kan?."


"Iya iya Kak, aku mengerti. Tadi kan aku hanya bercanda saja, kenapa Kakak serius sekali sih menanggapinya. Pantas saja Kak Levi menjuluki Kakak sebagai balok es bernyawa" jawab Elea sambil tersenyum kecil.


"Balok es bernyawa? Apa maksudnya?."


Sudah cukup Levi mengajari Elea untuk menyebutnya sebagai ATM berjalan, kenapa sekarang harus ada sebutan yang jauh lebih aneh lagi. Balok es bernyawa, astaga.


"Maksudnya adalah kalau Kakak itu kaku, dingin, tapi hidup. Makanya di sebut balok es bernyawa. Julukan itu memang sangat pas untuk Kak Iel."


Tiba-tiba saja kepala Gabrielle berdenyut. Entahlah, mungkin tekanan darahnya naik.

__ADS_1


"Tapi tenang saja Kak, meskipun Kakak adalah balok es bernyawa, aku tetap sayang kok. Sayang sekali malah" imbuh Elea dengan raut wajah yang sangat serius.


"Benarkah?" sahut Gabrielle dengan mata bersinar terang mengalahkan sinar bulan. "Sesayang apa kau pada suamimu ini hem?."


Pipi Elea bersemu merah saat Gabrielle menanyakan tentang rasa sayang yang dia maksud. Sambil menunduk, dia memberikan jawaban yang entah kenapa langsung membuat suaminya terdiam.


"Sangat sayang, jauh lebih sayang dari saudara. Kak Iel, aku tidak tahu kenapa, tapi setiap kali berdekatan denganmu dadaku selalu saja berdebar aneh. Aku pernah menanyakan hal ini pada Kak Levi apakah ini adalah gejala sakit jantung atau bukan, karena debarannya membuat tubuhku lemas. Dan Kak Levi bilang itu bukan gejala penyakit, melainkan aku sedang jatuh cinta pada suamiku sendiri. Apa itu benar Kak? Apa benar aku jatuh cinta pada Kak Iel?."


Untuk sesaat Gabrielle hanya diam mematung. Pertama, dia sangat syok saat istrinya menyebut jika debaran yang di rasakannya merupakan gejala penyakit jantung. Dan kedua, pertanyaan yang menjurus pada pengakuan itu membuat Gabrielle terlalu speechless untuk sekedar menanggapinya.


"Kak Iel, dosa tidak sih kalau jatuh cinta pada suami sendiri? Aku sangat takut di azab Tuhan jika menyalahi aturan" imbuh Elea lirih.


"Tuhan akan mengazabmu jika tidak mencintai suamimu sendiri sayang. Astaga, kenapa rasanya ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatiku ya? Astaga sayang...." sahut Gabrielle sembari mengelus dadanya. "Sayang, kau tahu apa maksud dari perkataanmu tadi?."


Elea mengangguk. Kini dia memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya. "Aku sayang pada Kak Iel, tapi bukan sayang sebagai saudara. Dan debaran itu bukan gejala penyakit, melainkan karena aku yang sedang jatuh cinta!."


"Jadi....?"


"Kita pacaran" sahut Elea.


Pacaran? Apa istilah seperti itu cocok untuk status mereka yang sudah menjadi suami istri? Tapi biarlah, Gabrielle tidak akan mendebat hal ini. Baginya sudah cukup Elea mau mengakui perasaannya sendiri, persetan dengan status pacaran atau apapun itu.


"Tahu" jawab Elea tanpa ragu.


"Kau mencintaiku?."


"Iya.."


"Mencintai bukan hanya karena sudah menjadi suamimu saja kan?" tanya Gabrielle memastikan.


"Iya.."


"Siapa yang mengajarimu bicara hal-hal manis seperti ini?" tanya Gabrielle dengan perasaan bahagia yang membuncah.


"Kak Levi yang mengajariku" jawab Elea jujur.

__ADS_1


"Jadi Levi yang memintamu mengakui hal ini?" tanya Gabrielle dengan wajah sedikit murung.


'Ya Tuhan, aku kira ini benar-benar tulus dari hatinya. Ternyata ini hanyalah ajaran sesat wanita bar-bar itu. Hufttt, mungkin masih perlu sedikit waktu lagi untuk menunggu Elea menyadari perasaannya sendiri!.'


Elea tersenyum. Tangannya bergerak mengusap wajah tampan suaminya. "Aku mengatakannya dengan sangat tulus Kak, tulus dari dasar hatiku yang paling dalam. Kak Levi hanya membantu menyadarkan aku saja kalau selama ini aku sudah tidak jujur pada diriku sendiri. Aku terlalu lamban untuk bisa menyadari perasaan Kakak padaku. Mungkin itu terjadi karena aku yang terlalu haus akan kasih sayang. Jadi aku menganggap kasih sayang dan kehangatan yang Kakak berikan sebagai bentuk perhatian dari seorang kakak pada adiknya. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Kak Levi, aku akhirnya sadar. Rasa nyaman yang selama ini aku rasakan ternyata adalah sesuatu yang sangat spesial. Aku mencintai Kak Iel sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang kakak."


Gabrielle dengan cepat meraup bibir istrinya. Entahlah, perasaannya sekarang sudah tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Pengakuan Elea tentang perasaannya membuat Gabrielle sangat terpana. Dia tidak menyangka kalau gadis kecilnya kini telah tumbuh dewasa dan mampu merespon perasaan yang selama ini dia rasakan. Sungguh malam ini adalah malam dimana dia merasakan keajaiban Tuhan yang sangat luar biasa.


"Sayang, terima kasih untuk malam ini. Kau benar-benar membuatku tidak bisa berkata apa-apa" ucap Gabrielle setelah puas menyalurkan kebahagiaannya pada sebuah ciuman hangat.


"Jadi, apa boleh aku menyukai Kakak sebagai seorang wanita yang tertarik pada pria? Aku butuh kepastian Kak, aku tidak mau di gantung" rengek Elea memastikan.


Gabrielle tergelak. Sejak kapan istrinya menemukan istilah di gantung? Tidak lain lagi, ini pasti ulahnya Levi.


"Sayang, tidak ada yang menggantungmu. Kau bebas mencintaiku seperti yang kau inginkan. Karena tidak ada ayat yang melarang seorang istri jatuh cinta pada suaminya sendiri. Paham kan?" ucap Gabrielle meluruskan.


Senyum manis terbit di bibir Elea. Dia merasa sangat lega setelah mengatakan semua yang dia rasakan pada suaminya. "Kata Kak Levi kalau kita sudah pacaran, aku bebas memiliki Kakak. Benar tidak?."


"Benar sekali. Tapi aku ini kan memang sudah resmi menjadi milikmu, Elea. Kau mau bagaimana lagi memangnya" sahut Gabrielle tergelitik dengan keinginan istrinya.


"Itu rahasia wanita, Kakak tidak boleh tahu. Karena Kakak sudah mengizinkan, mulai besok aku akan sungguh-sungguh berguru pada Kak Levi. Dia bilang aku harus menjadi kucing yang galak untuk menghadapi kucing belang yang ingin mendekati Kakak."


Kuning Gabrielle mengerut, dia lalu tersenyum begitu sadar siapa yang di maksud kucing belang oleh istrinya.


"Ayo kita masuk ke dalam. Ayah, Ibu, dan semua orang pasti sudah menunggu kita" ajak Gabrielle sembari mengulurkan tangan layaknya pangeran yang ingin mengajak Tuan Putri berdansa.


Elea menerima uluran tangan suaminya dengan senang hati. Dia segera menggaetkan tangannya di lengan Gabrielle saat mereka akan memasuki rumah bak kastil megah ini dimana statusnya akan di patenkan.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2