
Setelah makan malam, Gabrielle membiarkan Elea pergi berjalan-jalan di dalam rumah. Dia sendiri kembali sibuk membahas pekerjaan dengan ayahnya.
"Gabrielle, dimana Elea?" tanya Liona yang tidak melihat keberadaan menantunya.
"Dia sedang berkeliling, Bu. Biarkan saja, lebih baik kita tunggu akan seperti apa rekasinya nanti saat bertemu dengan Lan" jawab Gabrielle kemudian tertawa membayangkan istrinya yang akan berteriak sambil berlari ketakutan.
"Kau yakin Elea akan ketakutan saat bertemu dengan Lan? Ibu sanksi Gab" ucap Liona tak percaya.
"Entahlah Bu, aku juga tidak yakin. Tapi kita perlu menguji keberaniannya. Menjadi bagian dari Keluarga Ma haruslah berani, dia tidak boleh lemah!".
"Ayah kira kau tidak perlu berbuat seperti ini, Gab. Mungkin jika Elea sampai tertangkap musuh, bukan dia yang akan ketakutan. Tapi orang yang telah menculiknya lah yang akan mati karena serangan jantung. Kau lupa betapa mengerikannya mulut istrimu itu? Ayah saja sampai tidak bisa bicara di buatnya!" timpal Greg.
Gabrielle tersenyum kecil mendengar keluhan ayahnya tentang Elea. Memang benar kalau ayah dan ibunya tadi di buat kaget oleh celetukan-celetukan nyeleneh istrinya. Bahkan Grizelle yang tengah murung pun bisa tertawa karenanya.
"Elea bukan gadis sembarangan, Ibu yakin itu!" ucap Liona dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Apa maksudmu Hon?" tanya Greg penasaran.
"Ibu kandung Elea pasti bukan berasal dari keturunan orang biasa, Greg. Dan Elea, sebaiknya kau lebih memperhatikannya lagi, Gabrielle. Dia tidak selemah yang kita kira!" jawab Liona sembari menatap tajam kearah putranya.
Kening Gabrielle mengernyit, dia berusaha mencerna maksud dari perkataan ibunya.
"Maksud Ibu Elea itu memiliki kekuatan lain? Sejenis alien mungkin?".
Mata Greg melotot. Yang benar saja menantunya yang menggemaskan itu adalah mahluk yang berasal dari luar angkasa.
"Ck, bukan seperti itu maksud Ibu, Iel. Sudahlah, kita tunggu kejutan seperti apa yang akan kita dapatkan dari Elea. Tapi satu hal yang ingin Ibu katakan... " ucap Liona menjeda kata sejenak. "Menantuku sangat istimewa!".
Ketiga orang itu kemudian tersenyum bersama. Gabrielle sendiri merasa sangat bahagia karena ayah dan ibunya menerima Elea dengan tangan terbuka.
Sementara itu, Elea yang sedang berjalan-jalan sendirian merasa sangat penasaran dengan ruangan yang tadi di masuki oleh Ares. Seperti ada dorongan kuat yang menariknya untuk datang mendekat.
Ggggrrrrrrrr
Langkah Elea terhenti. Dia menatap seekor harimau besar yang sedang bersantai di dekat pintu yang sedang dia tuju.
"Oh, jadi ini kandang harimau" gumam Elea tanpa merasa takut sedikitpun.
Lan yang melihat orang asing ini santai-santai saja mendengus kasar. Dia lalu berjalan mendekat sambil terus menggeram.
"Jangan makan aku ya harimau besar? Daging di tubuhku sangat sedikit, perutmu tidak akan kenyang. Tulang di tubuhku juga sangat keras, nanti gigimu patah kalau menggigitnya!" ucap Elea sambil mengelus kepala harimau di depannya.
Elea terkekeh sambil menahan geli saat harimau ini menjilati kakinya. Dia lalu kembali teringat dengan tujuannya datang kesana. "Manis, mau menemaniku masuk ke dalam tidak? Aku penasaran kenapa Ares masuk kesana!".
Lan kembali menggeram, dia seolah mengerti dengan apa yang di inginkan oleh gadis asing ini.
__ADS_1
"Waahhh, kau baik sekali manis".
Pintu yang menyerupai dinding itu terbuka setelah Lan mendorong dengan kepalanya. Elea pun segera masuk kesana sambil memegangi telinga Lan.
"Astaga Nyonya Elea, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Ares kaget melihat kemunculan nyonya nya bersama Lan, hewan kesayangan Keluarga Ma.
"Emmm itu Ares, aku sangat penasaran kenapa kau masuk kemari. Makanya aku meminta manis untuk menemaniku kesini" jawab Elea sambil terus memperhatikan beberapa benda aneh yang ada di dalam ruangan.
Ares menekan tulang hidungnya pelan. 'Nyonya, Lan ini adalah binatang buas. Tapi kenapa anda malah mengajaknya masuk kemari? Tidakkah ada rasa takut di hati anda saat bertemu dengan Lan tadi?'.
"Namanya Lan, Nyonya. Bukan manis" ucap Ares memberitahu.
"Oh, jadi namanya Lan. Cantik sekali!" puji Elea kemudian mengelus kepala Lan.
Semua orang yang ada di sana terpaku melihat betapa santainya gadis ini mengusap-usap kepala Lan yang biasanya tidak mudah di dekati oleh orang asing. Maria yang terpesona melihat kecantikan Elea segera mendekat. Dia menatap bingung kearah putranya saat tangannya tiba-tiba di pegang.
"Bu, beliau adalah istrinya Tuan Muda Gabrielle. Ibu tahu kan kalau Tuan Muda kita menderita OCD akut? Jadi jangan sembarangan menyentuh miliknya jika tidak mau melihat banteng pencemburu itu mengamuk!" ucap Ares memberi peringatan pada ibunya.
"Ibu hanya ingin mengelus pipinya saja, Res. Sedikit saja, dia terlihat sangat lucu!" sahut Maria kekeh.
"Tapi Bu, Nyonya Elea bukan orang yang bisa sembarangan Ibu sentuh. Tolong mengertilah, ya?" bujuk Ares khawatir.
"Kenapa Bibi ini tidak boleh menyentuhku, Ares? Aku tidak mempunyai penyakit menular kok!" tanya Elea bingung.
Ares menghela nafas. Mulai lagi. Dia lalu melirik kearah ibunya yang sedang terbengang kaget.
Mata Maria mengerjap. Dengan sangat hati-hati dia membelai pipi halus gadis menggemaskan ini. Membuat Ares menahan nafas melihat kelakuan nekad ibunya.
"Siapa namamu, sayang?" tanya Maria lembut.
"Elea, Bibi. Aku istrinya Kak Iel" jawab Elea jujur.
Mario dan Digo diam mendengarkan percakapan kedua wanita itu. Mereka kemudian terkekeh pelan melihat ekpresi Ares yang terlihat sangat tegang.
"Santai saja, Res. Ibumu tidak akan memakan majikanmu!" ledek Mario.
Ares menoleh kearah pamannya kemudian mendengus. Pamannya belum tahu saja betapa mengerikan Tuan Muda-nya jika sedang cemburu.
"Bibi, ini ruangan apa? Kenapa banyak sekali orang di sini?" tanya Elea sambil memperhatikan dua orang pria yang sedang merakit sesuatu.
"Ini ruang rahasia milik Nyonya Liona, sayang. Dari sinilah semua hal yang berhubungan dengan Keluarga Ma di pantau" jawab Maria.
"Ohh begitu".
Karena penasaran, Elea kemudian menghampiri dua pria itu. Dia menatap dengan seksama senjata api laras panjang yang sedang mereka ukir.
__ADS_1
"Paman, apa Paman ingin berburu binatang di hutan? Senjatanya seram sekali!".
Kedua pria itu menghentikan aktifitas mereka kemudian menatap bingung kearah gadis lucu yang baru saja melemparkan pertanyaan aneh pada mereka.
"Nona, senjata ini bukan untuk berburu. Tapi senjata ini akan di pakai oleh para penjaga jika ada musuh yang datang menyerang!".
"Musuh?" beo Elea kaget.
"Iya, musuh. Khususnya musuh yang ingin berbuat jahat terhadap keluarga Nyonya Liona dan Tuan Greg!".
Khawatir nyonya nya salah paham, Ares segera berjalan mendekat. Dia lalu memberi isyarat pada kedua orang itu agar tidak lagi bicara apapun.
"Nyonya Elea,mari, saya akan mengantarkan anda keluar. Tuan Muda Gabrielle pasti sedang kebingungan mencari anda!" ucap Ares setengah memaksa.
"Tapi aku masih ingin bermain di sini, Ares. Kau pelit sekali sih!" protes Elea.
Gggrrrrrrrr
Ares mundur ke belakang saat Lan menggeram marah. Sedikit kaget karena Lan ternyata sangat melindungi majikan barunya ketimbang dirinya yang sudah sering dia lihat.
"Nyonya, Tuan Muda bisa membunuh saya jika Nyonya tetap berada di sini. Lebih baik Nyonya kembali saja ya. Atau kalau tidak datanglah kemari bersama Tuan Muda Gabrielle nanti!" bujuk Ares lagi.
Bukan apa, ada banyak pria di ruangan ini. Dan tentunya Ares khawatir amarah banteng pencemburu itu akan meluap jika tahu kalau ada banyak mata yang telah melihat kecantikan nyonya kecilnya. Urusannya bisa panjang nanti.
"Oh, begitu ya. Ya sudah aku keluar saja. Ares, boleh tidak aku mengajak Lan bersamaku? Dia sangat manis, aku suka!" tanya Elea penuh harap.
Untuk beberapa detik otak Ares tidak dapat berfikir apapun. Entahlah, dia benar-benar tidak mampu memahami cara pandang nyonya nya. Lan, binatang sebuas ini, di mata nyonya nya adalah binatang yang manis. Memang sangat luar biasa, mungkin jika hal ini sampai di dengar oleh musuh-musuh Keluarga Ma, Ares yakin kalau mereka akan langsung muntah darah.
"Boleh Nyonya, sikahkan saja!" sahut Ares setengah frustasi.
"Bibi, aku pergi dulu ya? Nanti aku akan mengunjungimu lagi bersama Kak Iel" pamit Elea kemudian melambaikan tangan pada ibunya Ares.
Maria dan semua orang di sana sontak ikut melambaikan tangan kearah Elea. Sikap manisnya telah membuat semua orang tersihir. Tapi tidak dengan Ares, dia segera memberi peringatan khususnya pada kaum adam yang sempat terpesona dengan kecantikan nona nya.
"Saat ada Tuan Muda, kalian jangan coba-coba berani menatap Nyonya Elea seperti tadi. Mata kalian bisa hilang. Jika tidak percaya, cobalah!".
Tanpa sepengetahuan semuanya, Elea ternyata masuk ke sebuah pintu dimana ada jalan yang menghubungkan markas ini dengan satu tempat lainnya. Sementara Lan, dia dengan setia berjaga di depan pintu dimana majikan barunya menghilang.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...