
Sesampainya Elea di perusahaan, dia langsung menyibukkan diri dengan mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru lesnya. Dia begitu fokus sampai tidak menyadari kalau suaminya tengah menatapnya tak berkedip.
'Kenapa rasanya aku ingin memakan Elea sekarang juga ya? Ya Tuhan, istriku kenapa bisa secantik ini. Ini benar-benar cobaan yang sangat berat untukku!'.
"Sayang?".
Elea menoleh. Dia lalu tersenyum kearah suaminya.
"Iya Kak" sahutnya.
"Kau cantik. Sangat cantik!" puji Gabrielle seperti orang tidak sadar.
"Benarkah?" tanya Elea sambil memegang wajahnya.
Gabrielle mengangguk.
"Kakak perias itu berarti sangat hebat ya, Kak. Dia bisa membuatku jadi cantik seperti ini" ucap Elea takjub akan kemampuan tukang riasnya.
"Mereka memang hebat, sayang. Tapi kecantikanmu yang alami jauh lebih dominan daripada polesan make up mereka. Aku lebih suka melihatmu yang natural, terlihat seperti peri yang baru keluar dari kelopak bunga" sahut Gabrielle bangga.
"Memangnya Kakak pernah melihat peri?" tanya Elea penasaran.
"Pernah".
"Dimana?".
"Di sini. Tepat di sampingku" jawab Gabrielle.
Pipi Elea merona. Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang menyadari kalau yang di maksud peri oleh suaminya adalah dia.
"Tapi aku bukan peri, Kak Iel. Aku manusia".
Gabrielle terkekeh. Dia lalu menarik Elea masuk ke pelukannya. Menciumi puncak kepalanya dan menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang sudah menjadi candu untuknya.
"Kau tahu sayang, manusia pun ada yang seperti peri. Hanya bentuk sayap mereka saja yang berbeda. Jika peri memiliki dua sayap yang bisa membantunya untuk terbang, maka manusia punya hati dan perasaan yang bisa membawanya terbang menuju kebaikan. Dalam artian, semua yang hidup sama di mata Tuhan, hanya prilakunya saja yang membedakan. Entah itu kau,aku, atau bahkan para peri. Paham tidak?".
"Emmm maksud Kak Iel adalah kalau kita semua ini sama, begitu kan?" tanya Elea masih belum paham.
__ADS_1
"Iya, kita semua sama di mata Tuhan. Tidak ada standar yang bisa membuat kita berbeda Hadapan-nya. Semua sama rata" jawab Gabrielle menjelaskan.
"Itu berarti jika ada manusia yang berbuat salah, mereka pasti punya alasan sendiri kenapa melakukan semua itu. Benar tidak Kak?".
Pertanyaan Elea membuat Gabrielle terdiam. Memang benar jika setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri dalam mengambil sebuah tindakan. Namun ada sebagian orang yang sengaja melakukan kesalahan demi keuntungan pribadi. Terlebih lagi mereka-mereka yang sudah gelap mata akan sesuatu. Menghalalkan segala cara agar hawa nafsunya terpenuhi.
"Kau benar, sayang. Tapi kau harus bisa membedakan alasan dari kesalahan itu sendiri. Karena ada sebagian orang yang sengaja menggunakan alasan tersebut untuk mencelakai orang lain".
Tatapan Elea menyendu setelah mendengar nasehat dari suaminya.
"Kak Iel, aku mengenal seseorang yang sengaja melukai orang lain demi menyelamatkan yang lainnya. Kau mau tahu tidak siapa orang itu?".
"Siapa?" tanya Gabrielle bingung.
"Ibu panti tempat tinggalku dulu".
Gabrielle sedikit kaget mendengar jawaban Elea. Dia merasa kalau istrinya ini telah mengetahui sesuatu.
"Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu, sayang? Bukankah kau bilang kalau pemilik panti itu tidak pernah peduli padamu dan membiarkan teman-temanmu melakukan bully?" tanya Gabrielle menyelidik.
Elea menghela nafas pelan. Dalam ingatan tujuh tahun lalu, masih terbayang jelas sampai sekarang bagaimana raut sedih ibu panti saat mengusirnya pergi. Juga tentang satu rahasia yang tidak sengaja dia ketahui.
Perkataan Elea terhenti sejenak. Dia lalu menatap suaminya dengan mata yang memancarkan kesedihan.
"Kak Iel, apa mungkin orang yang menyakiti ibu panti adalah orang suruhan orangtua kandungku? Jika benar begitu, apa masih belum cukup mereka membuangku dari tempat yang seharusnya? Apa salahku? Apa salah teman-temanku dan ibu panti? Tidak apa-apa kalau orangtua kandungku tidak menginginkan aku, tapi kenapa harus ada orang lain yang menjadi korban? Mereka tidak bersalah Kak, mereka orang-orang baik. Jika membenciku, biarlah aku saja yang menderita. Aku rela menanggung semua kebencian itu asalkan tidak menyakiti orang-orang yang berada di sekelilingku. Tapi kenapa alasan itu sangat menyakitkan? Apa salahku sebenarnya?".
Gabrielle semakin mengeratkan pelukannya saat Elea mulai menangis. Dadanya sesak, tidak mengira kalau ternyata Elea sudah menyadari kalau semua kepahitan yang dia alami berasal dari keluarganya.
"Aku merasa sangat bersalah pada ibu panti dan juga teman-temanku, Kak. Mereka ikut terkena imbas dari kebencian orangtuaku. Mungkin memang benar kalau aku ini adalah pembawa sial. Mungkin juga karena kesialan inilah ayah dan ibu membuangku saat bayi. Aku bayi yang terkutuk!" ratap Elea sambil terisak sedih.
"Ssstttttt, jangan bicara seperti itu Elea. Bukankah tadi aku bilang kalau semua orang itu sama rata di mata Tuhan. Tidak ada satupun bayi yang terlahir sebagai bayi terkutuk ataupun pembawa sial. Tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Pasti ada alasan kenapa kau di tinggalkan di panti asuhan. Jangan sedih ya, aku berjanji akan menemukan siapa orangtua kandungmu!" hibur Gabrielle tak tega.
Elea menyeka airmatanya. Ada rasa berharap yang begitu besar saat suaminya mengatakan hal tersebut.
"Apa Kak Iel sungguh-sungguh akan mencari tahu siapa ayah dan ibu kandungku?".
"Ya. Bahkan jika harus mencari ke seluruh dunia aku pasti akan menemukan mereka. Elea, jangan menangis lagi, oke? Hatiku sakit melihatmu bersedih!" jawab Gabrielle kemudian mengecup kedua mata istrinya yang masih sembab.
__ADS_1
"Iya Kak" sahut Elea patuh.
Kesedihan di wajah Elea langsung musnah. Dia tersenyum membayangkan jika seandainya dia bisa benar-benar bertemu dengan orangtuanya.
"Elea" panggil Gabrielle.
"Iya Kak, kenapa?".
"Jika seandainya aku berhasil menemukan kedua orangtuamu, apa yang akan kau lakukan?".
"Melihat mereka sepuasnya" jawab Elea.
Kening Gabrielle mengerut. Sedikit aneh mendengar jawaban simpel istrinya.
"Kenapa hanya melihatnya saja? Apa kau tidak ingin memeluk mereka?" tanya Gabrielle heran.
"Ingin Kak, sangat ingin. Tapi aku sadar kalau mereka tidak pernah menginginkan aku. Cukup melihat mereka dari kejauhan aku sudah merasa lega Kak, aku tidak mau membuka luka lama di hati mereka. Aku ingin mereka tetap bahagia seperti saat dimana aku tidak ada!" jawab Elea tulus.
'Elea, terbuat dari apa sebenarnya hatimu?'.
"Tidakkah kau ingin mengetahui alasan kenapa mereka membuangmu? Sedikit mencaci mereka mungkin bisa membuatmu merasa lega" tambah Gabrielle.
Elea menggeleng.
"Tidak ada sedikitpun kebencian di hatiku atas perlakuan mereka, Kak. Aku ikhlas, aku memaafkan semuanya. Sekejam apapun perbuatan mereka dulu, mereka tetap orangtua yang harus aku hormati. Karena tanpa keduanya, tidak akan ada Elea di dunia ini. Semua ini masih tentang alasan, dan aku yakin suatu hari nanti aku pasti mengetahui alasan itu tanpa harus aku yang mencarinya terlebih dahulu. Siapapun orangtuaku dan dimana pun mereka berada, aku selalu mendoakan kebahagiaan untuk mereka. Aku sangat menyanyangi ayah dan ibu meski aku tidak pernah tahu seperti apa rupa mereka. Bagiku cukup nafas ini yang menjadi bukti kalau aku memiliki orangtua, Kak!".
Benarkah ini adalah Elea, istri kecilnya yang polos dan sedikit bodoh? Gabrielle tidak menyangka kalau istrinya mampu bersikap sedewasa ini. Melihat ketegaran hati istrinya, membuat Gabrielle semakin bersemangat untuk mengungkap rahasia itu. Gabrielle ingin Elea segera tahu siapa orangtua kandungnya dan juga alasan kenapa mereka membuangnya.
'Kau terlalu baik, sayangku. Hatimu murni seperti malaikat'.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...