Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Musuh Mulai Datang


__ADS_3

Gabrielle tadinya ingin menelfon Elea sebelum Ares datang melapor kalau Patricia sedang bertengkar dengan Levi di depan pintu masuk perusahaan. Penasaran, Gabrielle akhirnya meminta Ares menyambungkan CCTV ke dalam laptop miliknya.


"Saudara sepupu itu sepertinya tidak akur, Tuan Muda" ucap Ares yang juga ikut menonton.


"Bukan tidak akur lagi, tapi mereka mampu untuk saling membunuh. Terutama Patricia, wanita menjijikkan itu aku yakin tidak akan ragu jika ingin melenyapkan Levi" sahut Gabrielle.


"Kenapa Tuan Muda bisa seyakin itu?."


Gabrielle menghela nafas pelan lalu menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala. Dia tersenyum melihat Levi yang sepertinya memenangkan pertengkaran itu karena sekarang Patricia pergi meninggalkannya.


"Sangat mudah di tebak, Ares. Wanita itu, dia tadi berusaha menggodaku. Dan juga malam ini dia sengaja mengundangku datang ke rumahnya dengan dalih makan malam untuk merayakan bergabungnya Group Young dengan perusahaan kita. Tidakkah menurutmu niatnya terlalu jelas?."


Ares mengangguk. Sesuai dengan informasi yang dia dapat kalau Patricia bukanlah wanita yang mudah di urus. Dia cerdas dan cukup terang-terangan dalam menunjukkan keinginannya.


"Apa Tuan Muda akan datang kesana?."


"Harus, karena inilah kesempatan yang aku tunggu-tunggu. Di sana nanti aku akan mengulik sedikit tentang Elea. Aku penasaran akan seperti apa respon Bryan dan keluarganya saat aku menyinggung tentang bayi yang tak di inginkan!" jawab Gabrielle.


Ceklek


"Gabrielle, hari ini kau harus membayarku dengan sangat mahal!."


Ares dan Gabrielle diam dengan wajah datar mereka begitu melihat wanita yang menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Siapa yang menang?" tanya Gabrielle.


Kedua alis Levi saling bertaut. Setelah berfikir beberapa detik barulah dia paham maksud dari pertanyaan Gabrielle barusan. "Levita Foster, siapa lagi memangnya?."


"Kau pasti sangat bahagia bukan saat menyebutku sebagai calon suamimu? Ckck, bercinta dengan puas. Hei kau wanita, sekalipun kau bertel*njang di depanku, aku tidak akan pernah tertarik untuk menyentuhmu" sindir Gabrielle sinis.


Ares menangkap tas yang di lemparkan Levi kearah Tuan Muda-nya. Dia mendengus kasar.


"Nona Levi, tolong jaga sikap anda!."


"Pria tengik itu yang seharusnya menjaga sikap. Sial, siapa juga yang tertarik untuk menjadi istrimu. Aku sengaja bicara seperti itu untuk memancing kemarahan si kucing belang yang tidak tahu malu menyebutmu sebagai kekasihnya!" amuk Levi dongkol. "Asal kau tahu saja ya, aku itu hanya menyukai uangmu. Lidahku bahkan hampir di tumbuhi rumput liar saat mengatakan hal menjijikkan itu!."


Terdengar kekehan dari mulutnya Gabrielle.


"Dimana makhluk kecil itu?."


"Aku sembunyikan di sangkar emas" sahut Gabrielle asal.


"Dasar pedofil" umpat Levi.


Lagi-lagi Gabrielle terkekeh mendengar umpatan yang di lontarkan oleh mantan model ini.


"Gabrielle, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu" ucap Levi dengan raut wajah yang serius. "Ini tentang Elea."

__ADS_1


Tubuh Gabrielle langsung menegang. "Jangan biarkan siapapun menggangguku, Ares".


"Baik Tuan Muda."


Dengan sigap Ares menekan tombol untuk mengunci pintu. Dia lalu berdiri di sebelah Tuan Muda-nya.


"Gabrielle, ada seorang pria asing yang sedang mencari keberadaan Elea saat ini. Sejak pagi dia terus menunggu di depan rumahku. Aku pikir dia itu orang suruhan ayahku, ternyata bukan. Dia datang mencariku setelah melihat rekaman CCTV dimana aku dan Elea sedang berada di rumah sakit. Pria itu sangat mengerikan, sepertinya dia bukan orang yang baik!" ucap Levi.


"Pria asing? Kau tahu siapa namanya?" tanya Gabrielle resah.


Ini tidak benar. Musuh mulai datang, tapi entah dari pihak mana.


"Tidak. Tapi aku menyimpan video yang sengaja aku rekam saat menemui pria asing itu" jawab Levi kemudian mengambil ponselnya di dalam tas.


Gabrielle segera mengambil ponsel milik Levi kemudian menonton video itu. Rahangnya mengetat saat pria itu memaksa Levi untuk mengatakan dimana keberadaan Elea.


"K*parat, beraninya dia mencari istriku!" amuk Gabrielle.


"Tenang dulu, Tuan Muda. Saya jamin pria ini tidak akan bisa menemukan Nyonya" ucap Ares menjanjikan.


"Jangan harap dia bisa menyentuh Elea-ku" geram Gabrielle kemudian meninju sofa yang di dudukinya.


Levi menghela nafas panjang. Dia lalu menatap Gabrielle dengan seksama. "Setahuku Elea tidak pernah berbuat ulah, tapi bagaimana bisa dia di cari oleh pria seperti itu?."


"Levi, apa kau benar-benar menyayangi Elea?" tanya Gabrielle memastikan sebelum dia memberitahu semuanya.


"Aku tidak sedang bercanda, Levi" sahut Gabrielle jengah.


"Memang kau pikir aku sedang main-main ya. Tidak Gabrielle, aku sangat menyayangi Elea, sama sepertimu. Dia adalah satu-satunya orang yang tulus berteman denganku."


Tidak ada raut kebohongan di wajah Levi saat dia berbicara seperti itu. Hal itu membuat Gabrielle yakin untuk memberitahunya tentang siapa Elea sebenarnya.


"Elea sebenarnya bukan yatim piatu, dia masih memiliki seorang ayah dan juga seorang kakek. Dan dia adalah bagian dari salah satu keluarga yang cukup ternama di negara ini" ucap Gabrielle. "Young, itu adalah nama marganya!."


Untuk beberapa detik Levi hanya terdiam bingung. Begitu sadar siapa keluarga yang di maksud oleh Gabrielle, matanya langsung terbuka lebar.


"Young, maksudmu Elea adalah anaknya suami bibiku, Paman Bryan Young?" tanya Levi syok.


Gabrielle mengangguk.


"Ya. Sebelum menikahi bibimu, Tuan Bryan sudah lebih dulu menikah dengan orang lain."


"Astaga, ini bagaimana mungkin?."


"Masih ada rahasia lain tentang latar belakang Elea yang belum bisa aku beritahukan sekarang. Tunggu sampai aku mendapatkan informasi yang lengkap. Dan juga, jangan pernah bahas masalah ini di depan Elea, aku tidak mau kalau dia sampai terluka!" pesan Gabrielle.


Levi mengangguk kemudian mengusap wajahnya. Syok, sudah pasti. Dia tidak menyangka kalau Elea ternyata berasal dari keluarga berada. Pantas saja Levi merasa sedikit familiar saat pertama kali bertemu dengan Elea. Ternyata karena wajahnya yang sedikit mirip dengan suami bibinya.

__ADS_1


"Oh Ya Tuhan, sepertinya aku tahu siapa orang yang sedang mencari keberadaan Elea!" teriak Levi kuat saat dia teringat dengan kejadian beberapa hari lalu.


Mata Gabrielle terbelalak. Dia lalu menatap Levi dengan seksama. "Katakan padaku siapa orangnya. Sekarang."


"Kakek Karim, dia pelakunya" jawab Levi yakin.


"Maksudmu Karim Young, kakeknya Elea?" beo Gabrielle kaget.


Levi mengangguk. Dia lalu menceritakan awal pertemuan mereka yang tidak di sengaja.


"Saat aku membawa Elea pergi jalan-jalan, di taman yang tak jauh dari perusahaan ini kami bertemu dengannya. Aku bahkan sempat mengobrol dengan Kakek Karim."


"Apaa.... !. Jadi dia sudah bertemu dengan Elea?" kaget Gabrielle sembari menggeretakkan gigi. "Ini, ini yang aku takutkan jika Elea berkeliaran di luar. Kau lihat sekarang, belum apa-apa Elea sudah di cari oleh orang yang tidak menginginkannya tetap hidup. Seharusnya kau berpikir dua kali sebelum melawan perintahku, Levi."


Tubuh Levi berjengit kaget saat Gabrielle tiba-tiba membentaknya. Tak terima, dengan marah Levi menimpuk wajah Gabrielle menggunakan bantal kecil yang ada di sofa itu.


"Brengsek, kau pikir aku segila itu apa mengumpankan Elea dalam bahaya. Kau lupa ya kalau waktu itu istrimu ingin meloncat dari jendela ruangan ini? Wooaaahhh Gabrielle, kau tidak tahu balas budi rupanya. Memangnya untuk apa aku membawa Elea kabur diam-diam jika bukan untuk menenangkannya hah? Ckckckck..... "


Gabrielle terdiam. Dia lupa kalau Reinhard juga yang meminta Levi untuk membawa Elea keluar barang sejenak supaya pikirannya bisa kembali tenang. "Lalu apa saja yang kalian bicarakan dengan Kakek Karim?."


Levi mendengus. Setelah menuduh macam-macam, masih berani juga pria ini bertanya padanya. Tapi karena hal ini sangat penting untuk keselamatan Elea, Levi berusaha untuk meredam kekesalannya.


"Seingatku Elea belum sempat menyebutkan nama karena anak buahmu keburu datang. Ya, Elea belum sempat mengenalkan diri pada Kakek Karim. Dan sepertinya kakek tua itu juga tidak bisa melihat wajah Elea karena saat itu dia memakai masker."


"Kau yakin dia belum melihat wajah Elea?" tanya Gabrielle menyelidik.


"Yakin. Karena jika seandainya kakek tua itu sudah melihat wajah Elea, dia pasti akan langsung mengenalinya karena wajah Elea sedikit mirip dengan Paman Bryan" jawab Levi.


Gabrielle menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sambil menatap kesal kearah Levi.


"Kalau kau seyakin itu lalu kenapa menuduh Kakek Karim sebagai pelakunya?."


Levi meringis sambil menggaruk keningnya pelan. "Namanya juga ide spontan, aku mana sempat berfikir itu benar atau tidak."


"Astaga Levita, kau ini benar-benar" kesal Gabrielle kemudian memijit pelipisnya.


Ares yang mendengarkan percakapan aneh itu mendesah pelan. Dia ikut merasa kesal dengan ucapan sembrono wanita yang kini tengah tersenyum tanpa dosa.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2