Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Berhasil Membujuk


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Lusi meminta Luri membantunya mendorong kursi roda ke kamar rawat Elea. Dia begitu kaget saat Gleen memberitahunya kalau majikan sekaligus sahabatnya itu di rawat karena mengidap penyakit yang cukup serius. Karena sudah mengenal dari awal, Lusi tentu tahu kalau sebelumnya Elea itu bukan menderita ginjal bocor, melainkan gizi buruk dan juga Kista Endometrium. Tapi entah bagaimana caranya tiba-tiba Elea bisa mengidap penyakit yang sangat serius begini. Membuat Lusi tidak bisa tidur semalaman.


"Permisi, apa kami boleh bertemu dengan Nyonya Elea?" tanya Luri pada penjaga yang berada di depan pintu kamar rawat.


"Maaf nona-nona, ini masih terlalu pagi untuk datang berkunjung. Kembalilah setelah satu jam lagi."


"Apa tidak bisa sekarang saja, tuan? Kakakku sejak semalam terus gelisah ingin segera bertemu dengan Nyonya Elea. Kak Lusi adalah pelayan di rumahnya Tuan Muda Gabrielle, kalian pasti tidak asing dengannya kan?" desak Luri kekeh memaksa.


"Luri, sudah tidak apa-apa. Mungkin sekarang Nyonya dan Tuan Muda Gabrielle sedang istirahat, makanya mereka tidak mengizinkan kita untuk masuk masuk ke dalam. Kita kembali lagi nanti ya?" bujuk Lusi khawatir kalau adiknya akan di marahi oleh penjaga.


Luri menghela nafas. Di saat yang bersamaan, pintu ruangan tertutup. Seorang pria tampan keluar dari sana sambil menenteng sebuah rantang makanan di tangannya.


Fedo, dia tercengang melihat seorang gadis cantik tengah berdiri di hadapannya. Dia langsung tersihir oleh pesona yang di miliki gadis tersebut.


"Tuan Fedo, selamat pagi" sapa Lusi.


Kening Lusi mengerut saat sapaannya tidak di jawab. Dia lalu menoel pinggangnya Luri, meminta agar adiknya itu menyapa salah satu anggota Keluarga Besar Ma.


"Selamat pagi, Tuan Fedo. Saya Luri, adiknya Kak Lusi" sapa Luri sekalian memperkenalkan diri.


"Cantik, sapa seperti orangnya."


Fedo tergagap setelah berbicara melantur. Dia kemudian menatap kikuk kearah Lusi, pelayan Gabrielle yang kini sudah naik pangkat menjadi asisten pribadi kakak iparnya. Sambil menggaruk tengkuknya, Fedo akhirnya membalas sapa Lusi dan Luri, gadis cantik yang sudah membuat akal sehatnya hilang dalam sekejap.


"Ekhhmm, selamat pagi juga Lusi, Luri."


"Tuan Fedo, apa Nyonya Elea sudah bangun? Kakakku ingin sekali bertemu dengan beliau, bolehkah kami masuk?" tanya Luri.


"Luri....


"Kak, aku tahu Kakak sangat mengkhawatirkan keadaan Nyonya Elea. Jadi biarkan aku mencari cara agar Kakak bisa bertemu dengannya ya? Beliau sedang sakit, dan aku tidak mau Kakak ikut menjadi sakit jika terus memikirkannya" sela Luri dengan suara yang sangat lembut.


Merasa ada angin segar untuk mendekati Luri, Fedo pun segera pasang muka. Dia mempersilahkan kakak beradik ini untuk masuk ke dalam sambil tersenyum semringah.


"Lusi, ayo masuk ke dalam saja. Elea sudah bangun sejak dini hari tadi, dia sedang menonton televisi sekarang!.


"Apa tidak apa-apa kalau kami masuk sekarang?" tanya Lusi segan.


"Tidak apa-apa, ayo masuk!.

__ADS_1


Saat Luri hendak mendorong kursi roda yang di duduki kakaknya, dengan cepat Fedo menggantikannya.


"Ini berat, biar aku saja!.


Air liur Fedo hampir menetes saat Luri mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis. Otaknya Fedo sudah tak bisa lagi mencerna apa itu rasa malu. Sambil mendorong Lusi, dia terus saja mencari kesempatan untuk mengobrol dengan Luri. Dia benar-benar sudah termakan oleh pesona adiknya Lusi.


"Waahhh, Kak Lusi!" teriak Elea kesenangan begitu melihat Lusi datang.


"Halo Elea, aku dengar kau sedang sakit ya?" tanya Lusi. "Tuan Fedo, terima kasih sudah mengantarkan kami kemari."


"Iya,"


"Luri, ayo perkenalkan dirimu pada Nyonya Elea."


Luri mengangguk.


"Halo Nyonya Elea, aku Luri, adiknya Kak Lusi."


"Halo juga Luri. Tolong jangan panggil aku nyonya ya, aku belum tua" sahut Elea memprotes.


Meski pun kaget, Luri tetap menganggukan kepala. Dia kemudian tersenyum yang lagi-lagi hampir membuat Fedo meneteskan air liur.


"Mau ya melakukan operasi?.


Elea tertegun.


"Tapi besok adalah hari pertama kita masuk kuliah, Kak. Aku tidak mau melewatkannya" jawab Elea sedih. "Operasinya di undur nanti saja ya."


"Aku tahu, tapi kasihan Tuan Muda Gabrielle dan yang lainnya. Mereka sangat mencemaskanmu. Pun bukan hanya kau saja yang tidak bisa masuk, aku juga sama. Lihat, sekarang saja aku masih harus duduk di kursi roda. Benar kan?.


Mata Elea beralih memperhatikan kondisi Lusi. Dia termenung, ada alasan tersendiri kenapa dia terus mengulur waktu untuk melakukan operasi.


"Elea, kau sudah dewasa bukan? Di sini kau tidak boleh egois, ada banyak hati orang lain yang harus kau jaga. Aku paham kalau kau begitu ingin menjadi seorang mahasiswi, tapi kau juga harus ingat kalau sekarang kau sudah menikah. Apalah artinya menuntut ilmu kalau kau sendiri tidak mendapat ridho dari suami. Semuanya hanya akan sia-sia, Elea" ucap Lusi bijak. "Maaf, bukannya aku ingin ikut campur, ini semua demi kebaikan bersama. Jika kau bersedia untuk melakukan operasi, semua orang pasti akan merasa sangat lega. Kau juga tidak perlu lagi berdiam di rumah sakit seperti ini. Atau kalau tidak begini saja. Nanti aku akan bicara pada Tuan Muda Gabrielle agar meminta pihak Universitas untuk merekam semua kegiatan di hari pertama masuk kuliah. Lalu kita berdua bisa menontonnya bersama-sama dari rumah sakit. Mau tidak?.


"Tapi Kak....


"Elea, aku sedih melihatmu sakit begini. Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Apa kau mau melihatku jatuh sakit karena terus-terusan merasa cemas? Tidak hanya aku saja Elea, ada banyak orang yang tidak bisa tidur nyenyak kalau kau tidak segera sembuh. Lama-lama mereka semua pasti akan masuk rumah sakit juga sama sepertimu. Apa kau rela, hm?.


Gabrielle yang saat itu tengah menguping dari dalam kamar mandi, menahan nafas saat menunggu jawaban dari Elea. Dia sangat berharap kalau kata-kata Lusi bisa mengena di hati istrinya.

__ADS_1


"Kak Lusi, aku tidak mau ada yang terluka. Biar aku saja ya yang sakit. Aku tidak ingin kehilangan!" ucap Elea dengan mata berkaca-kaca.


"Kehilangan? Maksudnya bagaimana?" tanya Lusi bingung.


Luri dan Fedo ikut merasa penasaran akan maksud dari perkataan Elea. Mereka cukup bingung kenapa Elea bisa menyebut kata kehilangan di saat Lusi membujuknya agar mau melakukan operasi.


"Kak Lusi, ada sesuatu yang tidak bisa kau pahami di sini. Ada beberapa kejadian dimana hanya aku saja yang bisa mengerti. Aku bingung Kak, aku tidak tahu harus bagaimana."


Elea menangis tertahan.


Lusi terenyuh. Namun, dia dengan sifat keibuannya segera menggenggam tangan Elea untuk memberinya sebuah ketenangan.


"Elea, di dalam hidup seorang manusia pasti selalu ada dua pilihan. Akan tetapi kita tidak mungkin mendapatkan kedua-duanya. Harus ada salah satu yang di korbankan. Entah itu fisik, atau malah perasaan. Tuhan sudah mengatur kekurangan dan kelebihannya di masing-masing pilihan, Elea. Jadi... kau tidak boleh bimbang. Pilihlah salah satu keputusan yang bisa membawa kebahagiaan di diri banyak orang, termasuk juga kebahagiaanmu. Tidak apa kita mengorbankan satu, Tuhan pasti akan menggantinya dengan banyak keberkahan. Percaya padaku!.


Bagai mendapat pencerahan, tangis Elea langsung berhenti. Elea seperti merasa kalau beban yang mengendap di dalam hatinya sudah terbuang keluar setelah mendengar perkataan Lusi.


"Baiklah Kak Lusi, aku mau melakukan operasi. Tapi nanti kau temani aku mengobrol lagi ya. Aku merasa jauh lebih tenang setiap mendengar nasehatmu,"


"Iya. Jangan khawatir, aku pasti akan selalu menemanimu kapan pun kau mau" sahut Lusi sambil tersenyum lega.


Fedo dan Luri ikut merasa lega begitu mendengar kalau Elea bersedia untuk melakukan operasi ginjal. Sementara Gabrielle, dia sampai meneteskan airmata saking senangnya karena setelah ini dia tidak akan melihat istrinya kesakitan lagi.


'Terima kasih banyak, Lusi. Aku berhutang budi padamu.'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: rifani_nini...


...🌻 FB: Rifani...



 


__ADS_1


**


__ADS_2