
Clarissa diam memandangi nisan bertulisan " SANDARA". Hatinya terasa pedih. Sungguh suatu keputusan yang sangat bodoh dengan membiarkan Sandara tinggal sendirian di negara ini. Seandainya saja dulu dia bisa lebih berani menantang aturan dari ayahnya, putrinya pasti tidak akan mengalami nasib seperti ini. Setidaknya Clarissa masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya dari kekejaman Karim. Sayang, semua sudah terjadi dan tidak bisa di ulang. Rela tidak rela Clarissa harus rela menerima takdir menyakitkan ini.
"Sandara, maafkan Mama sayang. Mama terlambat datang untuk menyapamu. Maafkan Mama ya Nak" ucap Clarissa lirih sembari mengusap nisan putrinya. "Putri Mama yang cantik, Mama sangat merindukanmu. Sekian tahun Mama menahan diri, menunggu kau dan Papa-mu datang berkunjung. Tapi apa yang terjadi sekarang. Penantian Mama berakhir di atas nisanmu. Mama minta maaf, sayang. Mama abai akan kebahagiaanmu."
Gabrielle berdiri diam di samping makam ibu mertuanya. Dia membiarkan Grandma Clarissa mengeluarkan segala unek-unek yang terpendam di dalam hati selama berpuluh tahun, dan membiarkan kata kerinduan terus mengalir keluar dari mulutnya.
"Sandara, kenapa kau sama sekali tak pernah memberi kabar pada Mama kalau kau sudah bertemu dengan Papa-mu? Apa kau sengaja menutupi kenyataan kalau Papa-mu adalah orang yang kejam? Kau bahkan menikah dengan putranya" ucap Clarissa bermonolog dengan batu nisan.
Jika saat Clarissa tahu alasan kenapa Sandara bersedia menikah dengan Bryan, dia mungkin akan sangat terkejut karena ternyata putrinya itu memiliki kelebihan bisa melihat masa depannya sendiri.
"Sandara, sayangku..."
"Menyesal boleh, tapi jangan terus meratap di atas kuburan orang yang sudah meninggal!
Gabrielle dan Clarissa langsung menoleh kearah belakang begitu mereka mendengar ucapan seseorang.
"Ayah, Ibu" panggil Gabrielle kaget melihat kemunculan orangtuanya di pemakaman.
Greg dan Liona datang mendekat. Mereka sengaja menyusul Gabrielle kemari karena ada hal penting yang ingin mereka sampaikan.
"Nyonya Liona, Tuan Greg" sapa Clarissa. "Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian sedang berziarah ke makam seseorang?
"Tidak, Nyonya Clarissa" jawab Liona dingin. " Kami sengaja datang untuk berbicara sesuatu dengan Gabrielle. Ini tentang penyakit yang di idap oleh Elea."
Clarissa langsung berdiri begitu mendengar perkataan ibunya Gabrielle. Dia lalu menatapnya penuh penasaran.
"Elea sakit apa, Nyonya? Apakah parah?
"Bisa di bilang parah bisa juga tidak" jawab Greg menimpali. "Ini masih berhubungan dengan penyakit kista yang di deritanya. Juga dengan kondisi rahimnya yang sangat lemah."
Gabrielle maju mendekat kearah ibunya untuk bertanya.
"Apa anak buah Ibu berhasil menemukan obatnya?
"Ya" jawab Liona penuh maksud. "Dia anggota baru di dalam rumah Ibu. Namanya Jackson."
Mata Gabrielle melotot lebar.
__ADS_1
"Jackson?
"Dia menemukan obat untuk menguatkan rahim Elea, Gab. Ibu juga tadi cukup kaget saat mendengar laporan dari anak buah Ibu. Padahal Ibu baru saja mengajaknya bergabung dan dia langsung menunjukkan potensinya. Kau jangan salah paham dulu pada Jackson, dia hanya ingin membalas budi atas kebaikan Elea yang sudah memaafkan semua kesalahannya. Anggap saja ini timbal balik dari segala ketakutan yang di rasakan istrimu selama ini" jelas Liona yang tak ingin putranya salah berfikir.
"Apakah Jackson itu orang yang telah melecehkan cucuku, Nyonya?" tanya Clarissa.
Liona mengangguk.
"Apa tidak apa-apa jika Elea memakan obat yang dia buat? Bagaimana kalau nanti obat itu berisi racun, siapa tahu juga kalau orang itu ternyata masih ingin menyakiti cucuku? Itu bisa saja terjadi kan?
Clarissa gusar, itu tentu saja. Apalagi sekarang dia hanya memiliki Elea, Clarissa sudah pasti tidak mau kalau cucunya sampai kenapa-napa.
"Nyonya Clarissa, aku tidak akan mungkin sembarangan memberikan obat pada menantu kesayanganku. Sebelum meminta Elea mengkonsumsi obat tersebut, orang-orangku sudah lebih dulu meminumnya untuk memastikan apakah obat itu layak konsumsi atau tidak. Aku bukan sepertimu yang sembarangan meninggalkan seorang anak kecil berada dalam bahaya besar di negeri orang. Maaf kalau kata-kataku menyinggungmu, tapi itu adalah sebuah fakta yang harus selalu kau ingat!" sindir Liona dengan tajam.
"Hon...
"Tidak, Greg. Aku tidak habis fikir dengan pertanyaan wanita ini. Bisa-bisanya dia meragukan kemampuan orang-orang kita di saat dia sendiri tidak mampu menjadi orangtua yang baik untuk anak semata wayangnya. Harusnya dia tidak bertanya seperti itu padaku, Greg. Benar-benar bodoh!
Setelah menyindir Clarissa dengan sangat pedas, Liona melangkah pergi dari sana. Dia sangat tersinggung dengan kata-kata yang yang di ucapkan oleh wanita bangsawan itu.
"Nyonya Clarissa, tolong maafkan perkataan istriku. Keraguan yang kau tunjukkan sepertinya membuat istriku merasa sakit hati. Dia begitu menyayangi Elea, jadi tidak mungkin istriku membahayakan keselamatannya" jelas Greg merasa tak enak hati.
"Grandma, tolong maafkan kata-kata Ibuku barusan. Ibu bereaksi seperti itu karena baginya Elea sangat berarti. Jadi tolong Grandma jangan salah paham ya" imbuh Gabrielle ikut menjelaskan.
Keadaan jadi semakin canggung saat Clarissa tak kunjung menjawab. Greg kemudian melirik kearah Gabrielle, menggerakkan kepala agar putranya itu menyadarkan Nyonya Clarissa yang sepertinya sedang terlarut dalam sebuah lamunan.
"Grandma, kau baik-baik saja?" tanya Gabrielle sambil mengguncang bahu neneknya Elea.
Clarissa tersentak. Dia kemudian mendongak.
"Grandma baik-baik saja kan?
"Iya, Grandma baik-baik saja. Jangan khawatir" jawab Clarissa sambil tersenyum kecut.
"Maafkan sikap kasar Ibuku tadi. Beliau pasti tidak bermaksud menyakiti Grandma."
"Tidak apa-apa. Grandma pantas mendapat teguran seperti itu dari Ibumu" sahut Clarissa lirih. "Tuan Greg, tolong sampaikan permintaan maafku pada Nyonya Liona. Maaf jika sikapku tadi menyinggung perasaannya. Semuanya terjadi begitu saja, aku sama sekali tidak bermaksud untuk meragukan kemampuan kalian. Sekali lagi aku minta maaf!
__ADS_1
"Aku bisa maklum, Nyonya Clarissa. Dan aku harap kau pun dapat memaklumi sikap istriku tadi. Dia bereaksi keras seperti itu karena terlalu menyayangi cucu anda. Kedatangan Elea ke rumah kami bagaikan berkah dari Tuhan. Kami bahkan menganggapnya sebagai putri bungsu kami, adiknya Gabrielle dan Grizelle" jawab Greg dengan bijak. "Ya sudah kalau begitu aku permisi menyusul istriku dulu. Oh iya Gabrielle, Bibi Abigail dan sepupumu ada di rumah. Nanti malam ajaklah Nyonya Clarissa dan Elea datang berkunjung sebelum makan malam."
"Baik, Ayah. Nanti malam aku akan mengajak mereka ke rumah" sahut Gabrielle.
"Nyonya Clarissa, aku pergi dulu!" pamit Greg kemudian segera berlari kecil menuju mobil dimana istrinya berada.
Sepeninggal ayahnya, Gabrielle memutuskan untuk mengajak Grandma Clarissa pulang ke rumah. Dia rasa sudah cukup acara ziarah hari ini mengingat hari yang juga sudah mulai malam.
"Grandma, ayo kita pulang. Elea pasti sudah menunggu kita di hotel."
"Elea menunggu kita di hotel? Darimana kau tahu?" tanya Clarissa heran.
'Tentu saja aku tahu dimana istriku berada, Grandma. Segala hal tentang Elea aku pasti mengetahuinya.'
"Anak buahku yang melapor" jawab Gabrielle. "Tapi jangan katakan kalau kita baru saja pulang dari makamnya Mama Sandara ya."
"Kenapa tidak boleh?.
Clarissa heran sekaligus bingung.
"Karena ini akan membuatnya bersedih, dan aku tidak suka itu. Selama ini Elea belum pernah datang ke makamnya Mama Sandara. Dia bilang belum siap, terlalu sakit untuk mengenang sesuatu yang tidak bisa dia jumpai lagi."
Clarissa tertegun.
"Ayo Grandma!" ajak Gabrielle membuyarkan lamunan Grandma Clarissa.
"Ah, iya. Ayo!" jawab Clarissa kemudian mengikuti langkah Gabrielle untuk pergi dari pemakaman.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
✅Kuy mampir lagi. Makin seru tau, emak aja ketagihan ampe ngerekomendasiin terus-terusan ke kalian. Nggak nyesel deh mampir ke karyanya @Lotus Putih.. 😁
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...