
"Ayo turun" ajak Levi setelah mereka semua sampai di tempat yang sudah di tentukan sebelumnya.
Elea segera mengikuti Levi keluar dari dalam mobil. Dia langsung menjerit kegirangan begitu tahu tempat apa yang dia datangi sekarang.
"Wooahhh ini taman Kak Levi. Kau mengajakku kemari lagi!" pekik Elea sembari memakai topi yang di bawanya dari rumah.
"Yang bilang kalau ini kuburan siapa Elea?" tanya Levi ketus.
"Hehehe... Kak Levi, boleh beli makanan tidak?."
"Terserah."
Mata Levi memperhatikan ke sekeliling taman. Dia mencari keberadaan Reinhard dan juga tim dokter yang di siapkan untuk kondisi darurat jika Elea kehilangan kendali nanti.
'Oh, mereka di sana.'
Levi terkejut saat tangannya di tarik oleh Elea. Dengan mulut berkomat-kamit dia terus mengikuti langkah Elea yang sedang menuju warung jajanan.
"Kak, aku mau beli itu!" ucap Elea sambil menunjuk penjual cumi bakar. "Minta uang Kak!."
"Isshh, katanya istri konglomerat. Tapi uang jajan masih meminta pada orang lain" sindir Levi dengan sengaja.
"Kata Kak Iel aku boleh meminta apapun pada Kak Levi. Kakak kan pelakor!."
Rasanya Levi sangat ingin menghajar mulut makhluk kecil ini yang terus menyebutnya sebagai pelakor hanya karena dia yg sering memeras uang milik Gabrielle. Sungguh, Levi benar-benar sangat malu karena ada beberapa orang mulai bergosip mengenai statusnya yang baru saja di siarkan oleh Elea.
"Coba sekali lagi kau menyebutku sebagai pelakor, Elea. Aku akan meminta penjual cumi itu untuk memanggangmu bersama mereka. Mau!? " gertak Levi menahan malu dan juga kesal.
"Coba saja kalau Kakak berani. Biar nanti Paman itu yang akan melaporkan pada Kak Iel kalau Kakak berniat jahat padaku" sahut Elea sambil menunjuk penjaga yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Ka,kau, kau berani menantangku!" teriak Levi tak percaya.
Elea mengangguk. "Kak Iel bilang aku harus bicara seperti itu jika Kak Levi melakukan penindasan. Aku harus bisa melindungi diri dari orang-orang jahat seperti Kak Levi."
Levi terbengang saat Elea menyebutnya sebagai orang jahat. Dia lalu menghentak-hentakkan kakinya menahan kesal. "Dasar kurang ajar, sudahlah aku tidak mau lagi menemanimu jalan-jalan. Kau menyebalkan Elea."
__ADS_1
Elea tertawa melihat Levi yang sedang merajuk. Tiba-tiba saja tubuhnya menegang saat dia tidak sengaja melihat seorang pria berseragam putih sedang menatap kearahnya sambil tersenyum aneh.
"K,Kak Le,Levi... I,itu, itu...
Levi yang tahu kalau eksperimennya sudah di mulai pura-pura tidak mendengar perkataan Elea. Dia malah sengaja meninggalkannya sendirian di sana kemudian pergi berlari menuju tempat Reinhard berada.
"Berapa banyak pengawal yang di sebar oleh pria tengik itu Rein?" tanya Levi sambil terus mengawasi Elea yang sedang berdiri diam seperti patung.
"Sekitar tiga ratus orang" jawab Reinhard.
"Whaaaatttttttttt!!! Owh shittt, temanmu itu sudah gila ya!" pekik Levi dengan suara yang cukup kencang.
"Kecilkan suaramu bodoh. Kita bisa ketahuan kalau kau berteriak sekuat itu Levi!" omel Reinhard sembari mengusap telinganya.
Levi tergagap. Matanya melotot melihat Elea yang berlari kencang tanpa memperhatikan jalan. Dia sangat takut Elea kenapa-napa mengingat kondisinya yang sedang berada di pinggir jalan.
"Reinhard, Elea lari. Ayo cepat kejar" teriak Levi panik.
"Dasar bodoh. Kau yang menyarankan eksperimen ini tapi kenapa malah kau sendiri yang ketakutan?" ejek Reinhard.
"Aku, aku...
"Tenanglah. Semua orang yang berjalan di sana adalah anak buahnya Gabrielle. Elea pasti baik-baik saja!."
"Apa kau yakin?" tanya Levi memastikan.
"Kau bisa memegang ucapanku" jawab Reinhard.
Sementara itu Elea yang sedang ketakutan terus berlari tak kenal arah. Pikirannya sudah di penuhi bayangan wajah dokter yang malam itu menganiayanya. Saat Elea sedang di landa ketakutan, tiba-tiba saja wajah Gabrielle melintas di pikirannya.
"Kak Iel tolong aku. Tolong aku!" ucap Elea sambil menangis.
Para penjaga yang sudah bersiap di tempat yang telah di tentukan berdiri siaga saat mereka melihat kedatangan gadis kecil yang sedang menangis sambil terus berlari. Ada tatapan tidak tega di mata mereka menyaksikan ketidakberdayaan gadis yang selalu memanggil mereka dengan sebutan paman.
"Hiksss, K,Kak Iel to,tolong aku... A,aku ta,takut sekali!" ucap Elea lagi dengan nafas terengah-engah.
Saking takutnya Elea pada dokter yang tadi di lihatnya, dia sampai tidak sadar kalau sepatunya sudah terlepas sebelah. Dia bahkan tidak peduli lagi saat kakinya berdarah karena menginjak kerikil di jalanan yang di lewatinya barusan.
__ADS_1
'Kak Iel tolong aku, aku mohon. Dokter itu datang lagi, dia ingin menyakitiku. Tolong aku Kak Iel, tolong aku.'
Elea seperti mendapat petunjuk saat dia melihat sebuah tikungan tajam di depannya. Dia lalu menambah kecepatan berlarinya meskipun harus sedikit pincang akibat luka gores di telapak kakinya yang tak lagi memakai alas. Dengan memberanikan diri Elea menoleh ke belakang, mencari tahu apakah dokter jahat itu mengejarnya atau tidak.
"Syukurlah dia tidak mengejar. Dokter itu pasti tidak sanggup mengejarku yang berlari seperti kelinci unggul. Hah, hah, hah... Selamatkan aku Tuhan, aku belum mencicipi cumi goreng tadi" gumam Elea berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya.
Brrruuuukkkkkk
Tubuh Elea terpental hingga menabrak tong sampah saat dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang dari arah yang berlawanan. Dia meringis sambil mengusap jidatnya yang terbentur pohon di dekat tong sampah. Sadar kalau dirinya sedang dalam pengejaran orang jahat, Elea segera berdiri kemudian kembali berlari tanpa meminta maaf terlebih dahulu pada orang yang di tabraknya. Namun baru beberapa langkah berlari, Elea mendengar suara rintihan dari arah belakang. Hati kecilnya kemudian memaksanya untuk berbalik dan melihat apa yang terjadi di sana.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" ucap Elea bingung melihat seorang pria terbaring sambil memegangi dadanya.
Elea bimbang. Di satu sisi dia sangat takut tertangkap oleh dokter yang sedang mengejarnya. Tapi di sisi lain dia tidak tega melihat pria itu kesakitan. Akhirnya setelah beberapa menit menimang keputusan, Elea lebih memilih untuk menyelamatkan pria tersebut. Biarlah jika dokter itu menangkapnya, dia pasrah asalkan bisa menolong orang yang sedang kesakitan itu.
"Astaga, Kakek baik-baik saja? Mana yang sakit!?" teriak Elea syok melihat wajah pucat pria yang ternyata adalah seorang kakek-kakek.
Di saat yang bersamaan, Jack yang sedang berlari pagi langsung berhenti begitu dia mendengar suara yang sudah tujuh tahun ini selalu dia rindukan. Dalam kekagetannya Jack tersenyum. Bukan senyum ramah seperti yang biasa dia perlihatkan saat berada di rumah sakit, tapi senyum kepuasan karena dia mendapatkan apa yang sedang di carinya.
"Gadis kecilku, akhirnya aku menemukanmu sayang."
Jack segera berbalik badan untuk melihat apakah benar kalau suara itu adalah suara milik Elea, si gadis kecil pujaan hatinya. Sudut bibirnya tertarik keatas begitu dia mendapati seorang gadis kecil yang sedang berjongkok di sebelah pria yang terduduk di tanah.
'Elea, kau memang benar-benar di takdirkan untuk menjadi milikku. Sayang, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi seperti dulu. Kau akan menjadi ratu di istana yang sudah aku bangun. Mulai hari ini kau akan tinggal di dalam sangkar emas yang sudah aku persiapkan khusus untukmu.'
Dengan langkah pasti Jack berjalan mendekati kedua orang tersebut. Begitu sampai, dia lalu mengusap bahu gadis kecilnya dengan penuh kerinduan.
"Elea....."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
🏃♀️🏃♀️🏃♀️
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...