
"Apa kau suka suasana di negara ini?" tanya Ares setelah selesai melakukan makan siang bersama Cira di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel tempat tuan dan nyonya-nya berada.
Cira mengangguk.
"Suasana di negara ini sangat bagus. Nyonya Clarissa juga sangat suka berada disini."
"Kalau begitu ayo kita menikah!.
"Haaaa...."
Mulut Cira terbuka lebar. Dia sangat syok mendengar ucapan tiba-tiba yang di lontarkan oleh Ares. Pipinya langsung merona begitu tersadar dari kekagetannya. Cira kemudian menoleh kearah lain, dia tidak ingin pria ini tahu kalau dirinya tengah merasa malu.
"Aku serius. Ayo kita menikah" ucap Ares mengulangi perkataannya.
"A-itu, aku-aku... Em Ares, kita ini hanya teman. Aku rasa terlalu cepat untukmu mengajakku menikah. Kita belum saling mengenal satu sama lain, ada banyak hal yang belum kita ketahui dari kepribadian masing-masing" jawab Cira tanpa berani melihat kearah pria yang baru saja melamarnya.
Ares mengulum senyum. Dia hanya bercanda, tapi jika seandainya tadi Cira merespon candaannya dengan serius, Ares pun tidak merasa keberatan untuk benar-benar menikahinya.
"Jangan malu, aku tidak benar-benar serius melamarmu."
Deg
Nafas Cira terhenti sesaat. Dia sedikit kaget mendengar ucapan Ares. Ada sebersit kekecewaan di dalam hatinya begitu tahu kalau pria ini tidak benar-benar ingin mengajaknya menikah. Sambil tersenyum kecut Cira memberanikan diri untuk menatapnya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mencairkan kekecewaan di hatinya.
"Padahal aku sudah hampir terbang tinggi. Untung saja kau cuma bercanda, Res. Kalau tidak, aku pasti akan tersesat di kayangan."
"Aku memang bercanda, tapi kalau kau mau, maka aku pun bersedia untuk melamarmu. Kau tahu bukan bagaimana perasaanku selama ini? Kita memang belum lama kenal, tapi aku nyaman mengenalmu. Jadi kau jangan salah paham ya, aku sama sekali tidak mempermainkan perasaanmu" ucap Ares saat menyadari ada yang tidak beres dengan senyum wanita ini.
"Sudahlah. Selain pintar, ternyata kau juga sangat pandai melambungkan perasaan seorang wanita. Aku yakni sekali kau pasti mempunyai banyak kekasih sebelum ini" sahut Cira kemudian tertawa lepas.
"Tidak, kau yang pertama. Tuan Muda Gabrielle saksinya!.
Cira tersenyum. Dia tak ingin lagi terbawa perasaan seperti tadi. Bersamaan dengan itu ponsel milik Ares berdering.
"Siapa?" tanya Cira tanpa sadar.
"Cemburu ya?" ledek Ares sambil memainkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Cemburu? Yang benar saja Res" kilah Cira sambil tertawa. "Aku takut itu adalah panggilan dari hotel karena aku tidak sempat membawa ponsel tadi. Makanya aku bertanya siapa."
Sudut bibir Ares berkedut. Dia tentu saja tahu kalau wanita ini mencoba mengelak dari sebuah kebenaran. Tak ingin membuat si penelpon menunggu, Ares pun segera menjawab panggilan tersebut.
"Iya Tuan Muda. Apa ada sesuatu yang terjadi?.
"Kau sudah selesai berkencan belum? Kalau sudah kembali lah ke hotel. Ayah dan Ibu sudah menunggu kedatangan kami semua di rumah."
Wajah Ares langsung sumringah. Cira yang melihat ekpresi aneh di wajah Ares menjadi penasaran. Dia lalu menatapnya dengan seksama.
"Sudah, Tuan Muda. Kalau begitu kami akan segera kembali ke hotel."
"Jangan lama-lama. Aku juga sudah meminta Paman Digo dan Bibi Maria untuk bersiap menyambut calon menantu mereka. Tidak perlu berterima kasih padaku, tapi katakan itu pada Elea. Dia yang mempunyai ide untuk mengenalkan Cira pada kedua orangtuamu. Tapi ingat, kau jangan coba-coba menatap atau menyentuh istriku saat mengucapkan terima kasih. Cukup katakan dari jarak tiga meter. Paham kan?.
"Iya Tuan Muda, saya paham. Terima kasih banyak untuk semuanya" jawab Ares dengan kebahagiaan yang meletup-letup.
"Ares, ada apa? Kenapa kau terlihat bahagia sekali?" tanya Cira setelah Ares tak lagi berbicara di telepon.
"Kedua orangtuaku sudah menunggu kita, Cira. Aku akan memperkenalkanmu sebagai calon istriku nanti" jawab Ares penuh semangat.
"Oohh, baguslah. Selamat kalau begitu" sambung Cira. Tapi sedetik kemudian...... "Kau bilang apa Res!!! .
Tak sampai lima belas menit Ares dan Cira akhirnya sampai di parkiran hotel. Dengan begitu perhatian Ares membukakan pintu untuk wanita yang di sukainya ini. Dia terus memamerkan senyum ketika Cira menatapnya.
"Kau, kau tadi sedang bercanda juga kan Res?" tanya Cira sembari berjalan masuk ke dalam hotel.
"Kalau yang tadi aku sama sekali tidak bercanda. Aku serius akan membawamu ke hadapan Ayah dan Ibuku" jawab Ares enteng.
"Tapi Res, aku tidak siap. Lagipula di antara kita tidak ada hubungan apapun. Aku takut Ayah dan Ibumu akan kecewa nanti."
Ares kembali tersenyum. Dia menekan tombol lift kemudian menatap dalam kearah Cira yang sedang khawatir.
"Sekarang memang tidak ada. Tapi akan segera ada setelah kau bertemu dengan orangtuaku. Ayo, tuan dan para nyonya kita sudah menunggu di atas."
Cira diam saja ketika tangannya di genggam saat keluar dari dalam lift. Saat mereka hampir sampai di kamar yang di tempati oleh Nyonya Clarissa, tiba-tiba pintunya terbuka.
"Ekhmm, sudah jadian ya?" ledek Elea sembari menatap tangan Ares dan Cira yang terus bergandengan.
__ADS_1
Cira tergagap. Dia yang sadar kalau tangannya masih di genggam oleh Ares segera menghempaskannya lalu berjalan mendekat kearah majikannya. Wajahnya memerah ketika di tatap dengan penuh goda oleh ketiga orang tersebut.
"Nyonya Clarissa, Nona Elea, Tuan Muda Gabrielle, ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Saya dan Ares hanya makan siang saja, kami tidak melakukan apapun lagi selain itu. Sungguh!" ucap Cira memberikan penjelasan.
"Melakukan sesuatu pun kami akan sangat maklum, Cira. Iya kan sayang?" sahut Clarissa kemudian melempar pertanyaan pada cucunya.
"Iya, aku setuju dengan Grandma" jawab Elea menyetujui. "Kak Cira, Ares itu sudah tua. Kalian sebaiknya segera menikah sebelum kepalanya di penuhi uban putih."
Ares memejamkan mata sambil menghela nafas. Hancur sudah harga dirinya di hadapan Cira begitu mulut mematikan nyonya-nya terbuka. Dia heran sekali darimana nyonya-nya bisa menemukan kata yang langsung membuatnya tidak bisa berkutik.
"Nona Elea, di antara kami itu tidak ada hubungan apapun. Jadi mustahil untuk kami berdua menikah. Lagipula, lagipula saya ini hanya orang biasa yang tidak mempunyai apapun. Akan sangat memalukan jika Ares sampai menikahi saya" sahut Cira mencoba untuk menutupi perasaannya.
Elea berjalan mendekat. Dia lalu menggenggam tangan Cira yang terlihat tidak percaya diri.
"Aku jauh lebih memalukan lagi dari Kak Cira. Apa Kakak tahu hidup seperti apa yang aku jalani sebelum bertemu dengan Kak Iel?.
"Nona, saya...
"Aku tidak marah kok, Kak. Aku hanya ingin mengingatkan Kakak untuk selalu mensyukuri apa yang sudah Kakak dapatkan di dalam hidup ini. Kak Cira harus ingat kalau di bawah Kakak masih ada banyak orang yang hidupnya begitu menderita. Selalu lah melihat ke belakang agar Kakak tidak tersesat oleh keserakahan dan juga kesombongan" ucap Elea menyela ucapan Cira.
Semua orang terdiam begitu mendengar ucapan bijak yang keluar dari mulut Elea. Gabrielle yang terpesona segera datang mendekat untuk memeluk istrinya. Dia bangga, benar-benar sangat bangga pada Elea. Gadis kecil ini tak henti-hentinya membuat Gabrielle merasa terpesona. Sungguh, Tuhan begitu baik karena sudah menghadirkan sosok Elea di dalam hidupnya.
"Hari sudah semakin siang. Sebaiknya kita semua segera berangkat. Dan kau Cira, gantilah pakaianmu dengan baju yang sudah aku siapkan di dalam kamar. Kau harus tampil mempesona di hadapan calon mertuamu nanti. Iya kan, Ares?" ucap Clarissa sambil tersenyum hangat.
"Benar, Nyonya. Tapi menurut saya Cira akan tetap cantik meski hanya memakai pakaian sederhana seperti ini. Dan saya juga yakin Ayah dan Ibu saya akan sangat menyukainya nanti" jawab Ares di barengi dengan senyum semringah.
Cira yang merasa terpojok segera melarikan diri dari sana. Dia tidak ingin semua orang semakin menggodanya ketika tahu kalau wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Cira sungguh tidak menyangka kalau Ares akan benar-benar membawanya bertemu dengan kedua orangtuanya. Membayangkan pertemuan tersebut membuat dada Cira berdebar kencang. Mendadak dia jadi penasaran sendiri akan seperti apa respon orangtuanya Ares saat bertemu dengannya nanti.
'Semoga saja bukan hal yang buruk. Aminn.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Rifani...