
Para penjaga terkapar dengan wajah babak belur setelah di amuk oleh Gabrielle. Reinhard yang baru saja keluar dari ruang rawat Elea menghela nafas panjang melihat kelakuan sahabatnya.
"Dasar tidak berguna! Bagaimana bisa kalian membiarkan penjahat itu masuk ke ruangan istriku hah? Apa mata kalian sudah buta sampai tidak bisa membedakan mana Reinhard dan mana keparat itu!" teriak Gabrielle menggila.
"Ma,maafkan kami Tuan Muda. Awalnya kami juga curiga, tapi karena dokter palsu itu sangat mirip saat mengumpat seperti dokter Reinhard, jadi kami membiarkannya masuk ke dalam. Kami, kami benar-benar tidak tahu kalau dia adalah Jack-Gal, Tuan Muda. Sungguh!."
"Tetap saja kalian tidak berguna. Jika sampai istriku kenapa-napa, maka kalianlah yang harus bertanggung jawab. Aku...
"Elea baik-baik saja Gab. Dia hanya di suntik obat bius oleh bajingan itu" timpal Reinhard sambil menepuk bahu sahabatnya yang ingin kembali menghajar anak buahnya. "Istrimu tidak merespon panggilanku karena dia sedang berada di bawah pengaruh obat. Tidak perlu cemas, dia akan segera bangun setelah tidur beberapa jam!."
"Benar Elea tidak apa-apa?" tanya Gabrielle khawatir.
Reinhard terdiam. "Bajingan itu sempat menyiksa Elea sebelum menyuntikkan obat bius ke tubuhnya. Sepertinya tujuan awal Jack-Gal adalah ingin menculik Elea, tapi karena ada penjaga yang menyadari keributan saat di dalam kamar jadi dia mengurungkan niatnya. Gabrielle, bukankah kau sendiri yang menyembunyikan kamera di dalam kamar?."
Kening Gabrielle mengerut. "Seingatku aku tidak pernah meletakkan kamera di sana. Ares, apa kau yang melakukannya?."
"Saya tidak, Tuan Muda" jawab Ares kebingungan.
'Aneh, jadi siapa yang meletakkan kamera di sana? Atau jangan-jangan selama ini aku dan Elea di awasi oleh seseorang? Tapi siapa? Apa mungkin...
"Gabrielle, sebaiknya kau lihat sendiri rekaman itu. Kau akan tahu kenapa para penjaga bisa sampai kecolongan" ucap Reinhard mengajak Gabrielle masuk ke dalam ruangan.
Tanpa membuang waktu lagi, Gabrielle dan Ares segera mengikuti Reinhard masuk ke dalam. Dia lalu menatap ayah mertuanya yang sedang duduk di samping ranjang sambil membelai wajah istrinya yang tertidur lelap.
"Ayah" sapa Gabrielle pelan.
Bryan menoleh. Dia lalu mengangguk sedih kearah menantunya. "Gabrielle, ada yang ingin menyakiti Eleanor. Dia, dia hampir membuatnya mati kehabisan nafas."
Mata Gabrielle membelalak lebar mendengar penuturan ayah mertuanya. Dia lalu menatap tajam kearah Reinhard, menuntut agar dia segera memberinya penjelasan.
"Tenang dulu, kau bisa melihatnya langsung di sini" ucap Reinhard sembari menyalakan televisi.
Begitu televisi menyala, Gabrielle langsung menahan nafas melihat Reinhard palsu yang sedang menatap istrinya penuh nafsu. Dia menggeretakkan gigi saat bajingan itu merebut ponsel yang akan di ambil oleh Elea kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah. Setelah itu.... Ya, Jack-Gal menyakiti istrinya dengan cara mencengkeram bagian dagu kemudian menindih tubuhnya. Mata Gabrielle terpejam saat Jack-Gal menutup wajah Elea dengan bantal sebelum akhirnya menyuntikkan sesuatu di lengannya yang langsung membuat Elea tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Apa obat itu berbahaya?" tanya Gabrielle menahan emosi.
"Seharusnya tidak, Gab. Tenang saja, aku sudah mengambil sampel darah Elea untuk di periksa" jawab Reinhard. "Oh ya Gabrielle, kalau bukan kau ataupun Ares, lalu siapa yang meletakkan kamera di ruangan ini? Tidak mungkin kamera ini muncul tiba-tiba kan?."
Gabrielle terdiam. Tapi dia yakin sekali kalau itu adalah perbuatan anak buah ibunya. Memangnya siapa lagi yang mampu bergerak dengan begitu teliti selain kedua orangtuanya. Kendati demikian, Gabrielle merasa perlu memastikan hal ini terlebih dahulu. Dia lalu mengambil ponsel untuk menghubungi ibunya.
"Ada apa sayang?."
"Bu, apa benar Ibu yang meletakkan kamera di kamar Elea?" tanya Gabrielle begitu panggilan tersambung.
Lama tak ada jawaban dari ibunya Gabrielle. Hal itu membuatnya mulai merasa risau. "Bu, ayo beritahu aku yang sebenarnya. Ibu kan yang memerintahkan anak buah Ibu untuk memasang kamera di ruangan ini?."
"Iya, memang Ibu yang menyuruh mereka untuk memasangnya. Gabrielle, jadilah suami yang benar-benar siaga. Kau harusnya tidak teledor seperti ini. Elea bisa mati di tangan Jack-Gal jika Ayah dan Ibu tidak mengawasinya diam-diam. Iel, Ibu akan lebih bangga kalau kau lebih memprioritaskan istrimu ketimbang pekerjaan. Istrimu itu sangat berharga, kau tidak boleh lengah menjaganya!."
Mata Gabrielle terpejam erat. Dia tahu kalau ibunya sedang memberinya sebuah peringatan. Gabrielle membuka mata kemudian menatap kearah ranjang. Dia merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa menjaga keselamatan istrinya sendiri. "Maafkan aku, Bu. Aku salah. Elea tidak seharusnya begini jika aku lebih hati-hati dalam menjaganya!."
Terdengar helaan nafas dari dalam telefon. Dan Gabrielle tahu kalau ibunya sudah merasa di kecewakan olehnya.
"Gabrielle, sejak kau menikahi Elea, dia sepenuhnya tanggung jawabmu. Mulai sekarang jangan pedulikan hal lain lagi selain keselamatan dan kebahagiaannya. Tolong jangan kecewakan Ayah dan Ibu Nak, kami tidak mau merasa gagal menjadi orantuamu. Elea adalah separuh dari jiwamu, kau harus lebih peka lagi setelah kejadian ini. Apa kau mengerti?."
"Sayang, maafkan aku yang lalai menjagamu. Maafkan aku" gumam Gabrielle sedih.
Bryan, Reinhard, dan Ares menatap iba kearah pria yang di kenal sebagai orang yang memiliki sikap dingin nan acuh itu. Sungguh sulit di percaya jika seorang Gabrielle bisa menjadi tidak berdaya di hadapan seorang gadis kecil bernama Eleanor.
Ceklek
"Ada keributan apa di sini? Elea baik-baik saja kan?."..
Semua orang yang berada di dalam kamar menoleh kearah pintu begitu mendengar suara teriakan yang cukup memekakkan telinga.
"Astaga Levi, apa yang kau lakukan di sini hah? Kau itu belum sembuh, kenapa sudah keluyuran sih!" omel Reinhard sambil berlari menghampiri Levi yang terlihat kesusahan menggerakkan kursi rodanya. "Kenapa tidak memanggil perawat untuk membantumu, hem?."
"Minggir kau!" usir Levi menepis tangan Reinhard yang ingin membantunya mendorong kursi roda. "Dasar kalian pria-pria tengik, kenapa tidak ada yang mengabari aku kalau penjahat itu kembali menyerang Elea? Kalau saja aku tidak mendengar para perawat bergosip, sampai mati pun aku tidak akan tahu kalau Elea di celakai!."
__ADS_1
"Levita, kau, kau juga mengenal Eleanor?" tanya Bryan kaget. "Sejak kapan? Kenapa tidak memberitahu Paman?."
"Kenapa tidak memberitahu Paman? Hah, Paman pikir Paman berhak untuk mengetahui keberadaan Elea setelah kalian membuangnya, iya!" amuk Levi semakin kesal melihat keberadaan suami bibinya. "Sudah lama aku menahan kemarahan pada Paman dan juga pada Kakek Karim, sekarang biarkan aku meluapkannya sepuas hati."
Gabrielle tak mengindahkan Levi yang sedang mengamuk pada ayah mertuanya. Toh wajar saja dia melakukan hal itu karena rasa sayangnya yang begitu besar terhadap Elea. Nanti, iya nanti setelah dia puas mengeluarkan semua unek-uneknya barulah Gabrielle akan memberitahunya jika ayah mertuanya tidak bersalah.
"Levita, Paman...
"Cukup, Paman. Jangan coba-coba untuk membela diri di hadapanku. Apa Paman tahu kalau selama ini Elea tinggal di tempat kumuh seperti gudang yang tidak layak pakai? Tidak kan? Apa Paman juga tahu kalau Elea menderita kekurangan gizi karena hanya mampu makan satu kali dalam sehari? Tidak juga kan? Apa Paman tahu....
"Levi, selama ini Ayah tidak tahu kalau Elea masih hidup. Dia juga sama menderitanya seperti Elea. Jadi jangan terlalu berlebihan dalam menghakiminya, dia tidak sepenuhnya bersalah!" bela Gabrielle yang tidak tega melihat raut terluka di wajah ayah mertuanya. "Ayah baru mengetahui rahasia ini setelah Kakek Karim mengungkapkan kejahatan yang telah dia lakukan sembilan belas tahun yang lalu. Itulah kenapa kalian bertemu Ayah saat di taman. Ayah sedang mencari Elea di sana!."
Mulut Levi terkatup rapat setelah mendengar penjelasan Gabrielle. Sorot matanya yang tadi memperlihatkan amarah dan kebencian, kini berangsur-angsur melembut. Dia lalu menatap kasihan kearah suami bibinya yang terlihat seperti sedang menahan tangis.
"Paman, apa itu benar?."
Bryan mengangguk pelan. "Iya. Paman juga baru tahu kalau anak Paman masih hidup. Paman, Paman benar-benar tidak tahu kalau Eleanor sudah menderita sampai seperti ini. Paman....
Tangis Bryan akhirnya pecah. Dadanya sesak sekali setelah tahu kehidupan seperti apa yang di lakoni oleh putri kesayangannya. Hati Bryan hancur saat Levi mengatakan jika putrinya kekurangan gizi karena tak mampu membeli makanan. Dunianya seakan runtuh.
"Ekhm maaf Tuan Bryan, Levi, sebaiknya kalian jangan membuat gaduh di sini. Kita bicara di luar saja, Elea perlu banyak istirahat sekarang. Biar Gabrielle saja yang menemaninya di sini" ucap Reinhard menengahi pembicaraan saat keadaan mulai tidak kondusif.
Meski tak rela, akhirnya Bryan dan Levi hanya bisa patuh saat Reinhard dan Ares mendorong mereka untuk keluar. Meninggalkan Gabrielle yang sedang meratapi kebodohannya karena lalai dalam melindungi Elea dari kejahatan Jack-Gal.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...