Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Jurus Nyeleneh


__ADS_3

Lusi tersenyum ke arah sang suami ketika mobil mereka berhenti di depan rumah megah yang dulu menjadi tempatnya bekerja. Sebenarnya Lusi masih sangat lelah, tapi dia memutuskan tetap datang kemari untuk menemani Elea. Kemarin saat di penginapan, Gleen benar-benar tidak melepaskannya barang sedetik. Pria itu seakan meluapkan segala hasrat yang sudah seminggu ini terpendam dalam jiwanya.


"Sweety, kau yakin tidak ingin istirahat saja di rumah?" tanya Gleen sembari menciumi punggung tangan istrinya.


"Aku ingin menemani Elea dulu, Gleen. Kasihan dia, dokter masih belum mengizinkannya untuk banyak bergerak. Elea pasti merasa sangat bosan jika di rumah sendirian," jawab Lusi dengan suara yang sangat lembut.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Gleen begitu istrinya selesai bicara. Sebenarnya dia masih ingin berduaan dengan Lusi, tapi istrinya ini terus saja merengek meminta untuk diantar kemari. Padahal kan Gleen masih ingin mengajaknya membuat adonan. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat Gleen junior tumbuh di rahim istrinya.


"Jangan marah, aku hanya sebentar saja di sini. Lagipula malam ini kita juga tidak bisa bermesraan dulu, Gleen. Lupa ya kalau besok adalah hari resepsi pernikahan kita?" bujuk Lusi saat menyadari kalau suaminya sedang merajuk.


"Memang apa hubungannya dengan resepsi pernikahan kita, Sweety?"


Lusi tersenyum. Rasanya aneh melihat suaminya yang buas berpura-pura tidak tahu begini. Dia masih ingat bagaimana Gleen terus mengajaknya melayang tinggi. Bahkan pria ini seakan tak memiliki rasa lelah sedikitpun meski sudah mendapatkan pelepasan beberapa kali.


"Gleen, apa kau berniat membuatku pingsan di pelaminan? Sisa yang semalam saja masih membuat kakiku gemetar. Apa jadinya nanti kalau malam ini kau kembali mengajakku bermesraan? Bisa-bisa saat resepsi besok aku tidak bisa berdiri."


Untuk beberapa saat Gleen hanya terdiam bingung mendengar ucapan Lusi. Namun setelahnya dia tak kuasa untuk tidak mengulum senyum.


"Sudah paham, hem?" tanya Lusi gemas.


"Tapi kau suka kan?"


Blusssshh


Wajah Lusi langsung memerah. Dengan malu-malu dia menganggukkan kepala.


"Hehehe, kau sangat menggemaskan, Sweety. Aku jadi semakin mencintaimu," goda Gleen kemudian mencium jari tangan Lusi dimana ada sebuah cincin berlian melingkar indah di sana.


"Ya sudah, kalau begitu aku turun dulu ya. Kau hati-hatilah di jalan. Nanti aku akan mengabarimu kalau sudah ingin pulang," pamit Lusi sebelum keluar dari mobil.


Gleen mengangguk. Dia mencium kening istrinya terlebih dahulu sebelum melajukan mobil menuju rumah Junio.


Setelah mobil suaminya berlalu dari sana, Lusi pun bergegas masuk ke dalam rumah Elea. Dia tersenyum gembira ketika teman-temannya datang dan memberinya ucapan selamat. Meski kini Lusi bukan lagi pelayan di rumah ini, dia tetap bersikap rendah hati. Karena bagaimanapun rumah dan semua orang yang ada di sini sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya sampai dimana Lusi di persunting oleh Gleen, suaminya yang tampan dan juga kaya raya.


"Oh iya, dimana Elea?" tanya Lusi setelah puas melepas rindu dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Nyonya Elea sedang beristirahat di kamarnya. Kau tidak lupa kan dimana kamar Tuan Muda Gabrielle?" jawab salah satu pelayan.


"Aku mana mungkin lupa. Kamar sakral, benarkan?"


Semua orang langsung tertawa begitu Lusi menyebut julukan kamar yang selama ini menjadi tempat paling keramat di rumah ini. Lusi kemudian berpamitan pada teman-temannya sebelum pergi menghampiri Elea di kamarnya.


"Selamat siang, Nun," sapa Lusi sopan.


"Selamat siang kembali, Nona Lusi," sahut Nun datar.


"Panggil Lusi saja, Nun. Aku masih orang yang sama seperti dulu."


Nun tersenyum samar. Dia sangat suka dengan kerendahan hati gadis ini. Paham kalau kedatangan Lusi adalah untuk menjenguk nyonyanya, Nun pun segera membukakan pintu kamar. Dia lalu mempersilahkan Lusi untuk masuk ke dalam.


"Hai Elea!" sapa Lusi begitu sampai di dalam kamar.


Elea yang saat itu sedang sibuk melihat rekaman video yang ada di kampusnya langsung menoleh ke arah pintu. Dia tersenyum semringah begitu tahu siapa yang datang berkunjung.


"Eyy pengantin baru, cantik sekali sih. Membuat iri saja,"


"Kau jauh lebih cantik, Elea."


"Tapi kan aku bukan pengantin baru lagi, Kak," sahut Elea lalu menepuk kasur. "Sini sini, duduk di sebelahku. Aku penasaran apakah pengantin baru mempunyai aroma yang manis atau tidak."


Lusi tergelak. Baru saja dia datang, Elea sudah langsung mengeluarkan kata-kata yang nyeleneh. Lusi kemudian duduk di samping Elea, sedikit salah tingkah ketika gadis ini terus menatapnya tak berkedip.


"Elea, kenapa memandangiku seperti ini sih? Ada kotoran ya di wajahku," tanya Lusi sambil mengusap-usap wajahnya.


"Luar biasa."


Kening Lusi mengerut.


"Apanya yang luar biasa?"


"Kau, Kak."

__ADS_1


Elea menunjuk ke arah kantung mata Lusi. Kemudian beralih ke arah bibir lalu turun ke bagian leher. Lusi yang melihat kelakuan Elea langsung menelan ludah. Dia tentu sadar kalau gadis ini sedang memperhatikan jejak kenakalan suaminya semalam.


"Paman Gleen pasti menyiksamu sepanjang malam. Benar tidak?" tanya Elea berlagak seperti seorang detektif. "Kantung mata Kak Lusi seperti lebah yang bergantung, terlihat kembung dan juga berwarna hitam. Lalu bibir Kak Lusi sedikit membengkak, tidak seperti yang biasa aku lihat. Kemudian di leher Kakak ada banyak jejak serangga berkepala hitam yang sudah berwarna keunguan. Ckckck, malam pertama sepasang pengantin baru sungguh mengerikan."


Lusi tak bisa berkata-kata lagi setelah semua kelakuan Gleen di bongkar dengan begitu gamblang oleh Elea. Ingin rasanya Lusi menyembunyikan wajahnya di bawah selimut, dia benar-benar sangat malu di t*lanjangi seperti ini. Tapi bukan Elea namanya jika tidak membuat orang lain sesak nafas. Belum hilang rasa malu di diri Lusi, Elea kembali mengeluarkan jargonnya yang mana berhasil membuat si pengantin baru memekik kaget.


"Hmmm, melihat dari cara berjalan Kak Lusi, aku yakin sekali kalau Paman Gleen pasti sangat suka menggunakan jurus kuda terbalik. Atau jangan-jangan Paman Gleen menggunakan jurus seribu bayangan dimana jurus itu membuat Kak Lusi hilang kesadaran? Tebakanku benar tidak Kak?"


Andai saja ruangan ini tidak kedap suara, Nun pasti akan langsung masuk ke dalam kamar ketika mendengar suara teriakan Lusi. Ya, tubuhnya seperti di bakar api saat Elea menyebutkan jurus-jurus aneh yang menjurus pada olahraga ranjang. Bukannya munafik, hanya saja Lusi merasa sangat malu mendengar hal tersebut. Dia benar-benar tidak habis pikir darimana Elea bisa menemukan kosakata aneh seperti tadi. Jurus kuda terbalik, jurus seribu bayangan... Ya Tuhan, hanya Elea-lah yang mampu berpikir seperti itu.


"Hehehe, jangan panik, Kak Lusi. Semua jurus yang aku sebutkan tadi belum ada apa-apanya jika di bandingkan dengan jurus yang sudah dipakai oleh Kak Iel. Mau dengar nama jurus yang sering kami pakai tidak?" tanya Elea terus menggoda Lusi yang sudah terlihat frustasi.


"Tidak!" sahut Lusi dengan cepat.


Hidung Elea kembang kempis menahan tawa. Rasanya menghibur sekali bisa menggoda si pengantin baru ini.


"Itu bisa jadi referensi Kakak lho saat sedang bercinta dengan Paman Gleen. Percaya padaku, rasanya benar-benar sangat enak. Aku saja ketagihan!" ucap Elea dengan sengaja.


"Elea..." sahut Lusi sembari mendesah pelan. "Bisa tidak kita membahas masalah yang lain saja? Aku malu mendengarnya."


"Hahahaaaa... Kak Lusi Kak Lusi. Memangnya apa sih yang membuatmu merasa malu? Kita ini kan sama-sama sudah menikah. Kau dan aku juga sama-sama sudah melihat seperti apa bentuk belut listrik milik suami kita kan? Jadi untuk apa masih merasa malu? Lebih baik kita bandingkan saja ukuran belut listrik milik Kak Iel dan Paman Gleen. Dengan begitu kita bisa saling mengoreksi kekurangan dari para pejantan kita. Bagaimana, ideku sangat brilian bukan?"


Lusi diam membisu seperti patung. Dia benar-benar sangat menyesal karena tidak mendengarkan ucapan Gleen yang memintanya agar beristirahat saja di rumah. Andai saja Lusi bersikap patuh, nasibnya pasti tidak akan semengenaskan ini.


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


✅Hai hai hai, emak mau minta bantuan kalian semua buat subrek, likes, dan comentar ke cenel yutub emak ni gaess... Di sana nanti juga akan ada giveaway nya lho. Nanti pemenangnya akan di pilih melalui komentar yang paling panjang dan juga unik. kemungkinan akan di ambil 10 orang pemenang. Jangan lupa juga share ke temen2 kalian dan ke akun medsos masing-masing ya?


Chanel emak masih tentang dunia pernopelan juga kok. Judulnya PESONA SI GADIS DESA.


Novel ini menceritakan tentang kisahnya Fedo Eiji, yaitu kakaknya Kayo, anak dari pasangan Mattheo Eiji dan juga Abigail, yang mengejar cinta seorang gadis desa bernama Luri. Luri sendiri adalah adiknya Lusi, istrinya Gleen. Penasaran kan kalian?? Kuylah di subrek, PESONA SI GADIS DESA bakalan mulai publish malem minggu besok. jangan lupa nyalakan loncengnya biar kalian gk pada ketinggalan ya... Di tunggu komentar unik kalian ya para gengss-gengss ku tercinta 💜💜💜💜💜


NAMA CENEL: RIFANI

__ADS_1



__ADS_2