
"Sayang, kau mau kemana?.
Langkah Patricia terhenti saat dia mendengar suara ibunya. Dia kemudian berbalik.
"Kau mau kemana?" tanya Yura lagi.
"Aku mau pergi ke apartemen saja, Bu. Rasanya sedikit aneh terus berada di rumah ini" jawab Patricia lirih.
"Tapi Cia, kau itu masih sakit. Lagipula ini juga kan rumahmu, aneh bagaimana maksudnya."
Saat sedang menyiapkan sarapan, Yura begitu kaget melihat putrinya yang keluar dari dalam kamar dengan kondisi yang sudah rapi. Ini masih pagi, tidak biasanya Patricia sudah bangun.
"Bu, setelah apa yang aku lakukan pada Ibu dan juga pada Eleanor, aku merasa sudah tidak pantas lagi untuk tetap berada di rumah ini. Aku merasa seolah kakiku sedang berjalan di atas tumpukan duri yang sangat tajam. Benar-benar sangat menyakitkan" ucap Patricia menjelaskan alasan kenapa ingin pergi dari rumah ini.
"Sayang, Ibu mohon tolong berhenti menyalahkan dirimu seperti ini. Baik Ibu maupun Eleanor, kami berdua sama-sama sudah memaafkanmu. Kami tidak pernah mempermasalahkan kejadian itu lagi. Sungguh!" sahut Yura sedih.
Maaf Bu, sebenarnya bukan itu yang membuatku ingin pergi dari sini. Aku kotor Bu, aku menjijikkan. Hati kalian pasti akan hancur jika Junio sampai datang kemari dan mengatakan kalau aku adalah bonek s*ksnya. Aku tidak mau mencoreng nama baik keluarga ini, Bu. Aku tidak mau.
"Terima kasih sudah mau memaafkan aku, Bu. Tapi aku tetap ingin keluar dari rumah dulu untuk menenangkan pikiran. Tolong Ibu bisa memberiku sedikit pengertian ya, aku mohon" ucap Patricia menghiba.
Patricia benar-benar sangat takut ayah dan ibunya mengetahui apa yang telah terjadi padanya selama tinggal bersama Junio. Dia tidak sanggup jika harus melihat hati keduanya hancur. Karena itulah Patricia lebih memilih untuk pergi dari rumah ini, jaga-jaga saja siapa tahu Junio akan nekad datang dan mengatakan semuanya.
"Ada apa ini?" tanya Bryan yang baru saja keluar dari dalam kamar. "Cia, kau mau kemana pagi-pagi begini? Kau masih belum sehat, istirahat saja di rumah."
"Cia ingin pergi dari rumah, Bryan" jawab Yura seraya menatap sedih ke arah suaminya. "Dia ingin tinggal di apartemen dulu katanya."
Kening Bryan mengerut. Dia segera menghampiri anak dan istrinya untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini ada apa, Cia? Kenapa juga kau harus kembali ke apartemen? Apa kau tidak kasihan pada Ayah dan Ibu? Tinggal di sini saja ya?.
__ADS_1
"Tidak, Ayah. Aku masih perlu waktu untuk menenangkan diri. Nanti setelah aku tenang aku janji akan kembali lagi ke rumah ini" jawab Patricia sembari tersenyum kecut.
"Tapi Cia....
Bryan menahan lengan Yura yang ingin kembali membujuk putri mereka. Dia lalu menggelengkan kepala saat Yura hendak memprotes tindakannya.
"Biarkan Patricia menenangkan diri terlebih dahulu. Kita tidak boleh memaksanya, Yura. Dia butuh waktu untuk menata hati dan pikirannya. Beri dia waktu ya?.
"Tapi Bry, Cia sedang sakit. Bagaimana nanti kalau tiba-tiba dia jatuh pingsan seperti semalam. Siapa yang akan merawatnya?" kekeh Yura tetap tak rela berpisah dengan putrinya. "Sayang, jangan kemana-mana ya. Ibu khawatir kau kenapa-napa Nak. Adikmu masih belum sehat, apa kau tega membuat Ibu terbebani dengan banyak pikiran? Tolong jangan pergi Cia, dengarkan kata-kata Ibu ya Nak!.
Nafas Patricia seakan tercekat saat ibunya menyebut Eleanor sebagai adiknya. Ada rasa haru, tapi juga malu yang sangat besar. Ingin rasanya Patricia memiliki kehidupan yang normal seperti dulu. Berkumpul bersama dengan ayah dan ibunya, juga bersama Eleanor. Tapi semua itu sudah tidak mungkin lagi. Patricia kotor, dia hanya seonggok sampah yang tak lagi pantas merasakan yang namanya kebahagiaan.
"Bu, aku itu tidak pergi jauh. Hanya ke apartemen saja, kan Ibu juga tahu dimana tempatnya. Bukannya ingin menambah beban pikiran Ibu, aku sungguh-sungguh masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Jadi aku mohon Ibu bisa mengerti ya, aku janji tidak akan lama" jawab Patricia berusaha untuk tetap tegar. Padahal hatinya hancur lebur.
Bryan menarik nafas. Dia lalu menarik Yura ke dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, sayang. Biarkan Patricia melakukan apa yang dia mau. Toh kita berdua bisa mengunjunginya kapanpun kita mau. Cia sudah dewasa, Yura. Kita tidak boleh selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Berilah dia waktu untuk menyendiri agar hati dan perasaannya tak lagi terbebani perasaan bersalah. Sebagai orangtua kita harus mendukungnya."
Patricia mengalihkan tatapan matanya ke arah lain. Rasanya sakit sekali melihat sang ibu menangis seperti ini. Andai saja dia....
"Cia, pergilah. Tenangkan dirimu sampai kau siap untuk pulang kemari. Dan untuk pekerjaan kantor, kau tidak usah memikirkannya dulu. Nanti berkas-berkas yang kau kirimkan biar Ayah saja yang mengambil alih" ucap Bryan seraya memperlihatkan senyum tulus di bibirnya.
Kening Patricia mengerut. Dia merasa sedikit aneh mendengar perkataan ayahnya barusan. Kapan-kapan dia menyerahkan berkas pekerjaan, selama ini kan dia di sekap oleh Junio.
Apa ini adalah perbuatan Junio? Ah, tapi tidak mungkin. Junio tidak mungkin tahu tentang berkas-berkas yang ada di apartemen. Tapi kalau bukan dia siapa? Selain aku, tidak ada orang lain yang tahu cara untuk membuka pintu kamar. Kira-kira siapa yang sudah mengirimkan berkas-berkas itu pada Ayah? Tidak mungkin maling kan?.
"Em, apa Ayah yakin berkas itu aku yang mengirim?" tanya Patricia penasaran.
"Iya, memangnya siapa lagi kalau bukan kau, sayang. Saat Ibumu sedang di rawat di rumah sakit, kau tetap melakukan pekerjaanmu dengan baik. Yah, meskipun kau melakukannya dari apartemen, hal itu tetap tidak mengurangi kinerjamu yang selalu menakjubkan. Kau bahkan berhasil memenangkan tender besar yang selama ini kita incar" jawab Bryan dengan raut wajah yang terlihat begitu puas.
__ADS_1
Jawaban ayahnya semakin membuat Patricia terheran-heran. Sungguh, dia sangat tidak paham dengan apa yang terjadi. Sejak Junio menyekapnya, tak sekalipun Patricia pernah menyentuh pekerjaannya lagi. Jangankan memeriksa berkas, ponsel pun dia tak punya. Lalu siapa yang mengambil alih posisinya selama beberapa waktu belakangan ini?
"Sudah, kau tidak usah mencemaskan masalah pekerjaan. Lebih baik sekarang kau tenangkan diri dulu, lalu setelah itu kembalilah ke rumah ini. Ingat Cia, kami tak sedikit pun memendam rasa benci terhadapmu. Semua yang sudah terjadi biarlah terjadi, mari kita sama-sama membuka lembaran baru yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Ayah ingin kita berkumpul bersama seperti dulu!.
"Bryan....
"Yura, tidak apa-apa. Aku yakin putri kita akan segera membaik setelah menenangkan pikiran. Kasihan dia, jangan menekannya dulu" bisik Bryan menyela ucapan istrinya.
Sambil terisak-isak Yura melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia kemudian beralih memeluk putrinya. Tangis Yura kian menjadi saat dia merasakan tubuh putrinya yang menjadi sangat kurus. Putrinya benar-benar sedang sangat tertekan.
"Sayang, jangan lama-lama ya. Ibu tidak bisa berada jauh darimu" ucap Yura merelakan.
Patricia tersenyum kecut.
"Akan aku usahakan, Bu. Datanglah jika Ayah dan Ibu merasa rindu."
"Pasti, Ayah dan Ibu pasti datang mengunjungimu Nak. Baik-baik ya di sana."
Yura dengan berat hati melepaskan pelukannya. Dia lalu mencium pipi dan juga kening putrinya. Mencoba untuk tersenyum meski hatinya terasa begitu hancur.
"Aku pergi dulu ya Bu, Ayah" pamit Patricia.
Bryan dan Yura mengangguk. Mereka mengantarkan Patricia sampai di depan pintu utama. Menyaksikan bagaimana putrinya pergi dengan membawa sejuta penyesalan dan juga penderitaan yang tak pernah mereka tahu.
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...π»IG: rifani_nini...
...π»FB: Rifani...