
Clarissa berlari kencang menuju ruang pemeriksaan begitu dia mendapat kabar kalau cucunya sakit. Dia yang sejak kemarin terus mendampingi Karim sama sekali tidak mengetahui kalau cucunya mengidap penyakit yang sangat serius. Untung saja Cira datang dan memberitahukan hal ini kepadanya. Jika tidak, maka Clarissa akan kembali menjadi nenek yang tidak berguna.
"Dimana cucuku?" teriak Clarissa saat dia melihat Gabrielle tengah duduk sambil menundukkan kepala. "Gabrielle, dimana cucuku? Ba-bagaimana bisa dia sakit seperti ini? Kemarin Elea masih baik-baik saja, kenapa keadaan bisa berubah sebegini cepat? Apa yang sebenarnya terjadi, Gabrielle? Tolong beritahu Grandma!.
Ares dengan cepat menangkap tubuh Nyonya Clarissa yang hampir tumbang ke lantai. Dia kemudian membimbingnya untuk duduk sebelum memberikan penjelasan.
"Nyonya Clarissa, anda tenanglah dulu. Saat ini Nyonya Elea sedang melakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui bagaimana kondisi ginjalnya sekarang. Jadi nyonya jangan khawatir,"
"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir, Ares. Cucuku sakit parah, bagaimana jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya? Aku tidak mau ditinggalkan Elea, aku tidak mau" ratap Clarissa sambil terisak-isak.
Cira yang baru saja tiba nampak menahan tangis melihat kondisi majikannya. Ares yang melihat hal itu pun segera datang mendekat. Dia kemudian mengegnggam tangan calon istrinya, berusaha menguatkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Apa keadaannya sangat kritis?" tanya Cira lirih.
"Belum tahu. Tapi menurut penjelasan dokter Jackson kemarin, ginjal Nyonya Elea harus segera di operasi karena racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Kemungkinan besar yang tadi terjadi adalah reaksi dari racun-racun itu" jawab Ares. "Jangan khawatir, Nyonya Elea adalah wanita yang sangat kuat. Dia sudah menahan penyakit ini bertahun-tahun lamanya, dan sekarang pun aku yakin Nyonya Elea pasti bisa menahannya sampai waktu operasi pengangkatan ginjal dilakukan."
Cira mengangguk. Dia kemudian berpamitan pada Ares untuk menemani majikannya yang sedang bersedih.
Tak lama kemudian, Bryan dan Yura datang. Mereka terlihat begitu panik ketika melihat semua orang diam dengan wajah murung. Bryan dan Yura kemudian mendekati ibu mertua mereka yang sedang menangis. Keduanya tak bisa berkata apa-apa sampai dimana Cira memberitahu mereka tentang kondisi Elea.
"Tuan Bryan, Nyonya Yura... Nona Elea mengalami bocor ginjal sejak beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang efeknya baru mulai terlihat. Menurut hasil pemeriksaan kemarin, Nona Elea harus secepatnya melakukan operasi karena racun sudah menyebar ke seluruh tubuhnya."
"Ya Tuhan Elea!" pekik Yura syok kemudian jatuh pingsan di pelukan Bryan.
Semua orang terperanjat kaget melihat ibu sambung Elea yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Segera Ares berteriak memanggil dokter untuk memberikan pertolongan pada ibu sambung yang baik hati itu.
__ADS_1
Gabrielle sama sekali tak bergeming dari tempatnya duduk meski saat itu terjadi kegaduhan di dekatnya. Matanya yang sendu terus menatap kearah pintu yang menjadi penghalang antara dia dengan Elea. Gabrielle hampir mati berdiri saat di beritahu oleh Reinhard kalau keadaan Elea tiba-tiba memburuk. Dia yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan tanpa pikir panjang langsung datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi istrinya.
"Iel...,"
"Aku sedang tidak ingin di ganggu" ucap Gabrielle dingin.
"Ini Bibi" sahut Abigail sembari mengusap puncak kepala keponakannya yang sedang kalut. "Jangan khawatir, Elea pasti baik-baik saja. Bukankah istrimu adalah seorang gadis yang sangat kuat? Dia bahkan mampu bertahan hidup dari siksaan yang di berikan oleh kakek dan neneknya. Berpikirlah yang positif Iel. Yakinlah pada Tuhan kalau Dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk Elea. Oke?.
Abigail dengan sayang terus memberikan suport untuk keponakannya. Sementara di sebelahnya, Kayo, Fedo, dan suaminya nampak terdiam tanpa berniat untuk bicara. Mereka semua ikut terluka dengan kabar buruk ini.
"Bi, dimana Ayah dan Ibu? Kenapa mereka tidak terlihat sejak tadi?" tanya Gabrielle penasaran.
"Ayah dan Ibumu sedang sibuk meracik obat untuk Elea di rumah. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang mereka ya?" jawab Abigail.
Kayo berpindah duduk di sebelah kakak sepupunya. Dia kemudian mencoba untuk memberinya penghiburan.
Gabrielle mengangguk. Seulas senyum getir muncul di bibirnya saat dia teringat betapa bahagianya Elea ketika berhasil mengalahkan Levi dalam memiliki black card, atau yang biasa di sebut sebagai kartu hitam olehnya. Celoteh-celotehan ajaibnya membuat Gabrielle di dera perasaan rindu yang amat dalam. Dia sangat ingin memeluk istrinya saat ini juga.
"Kak Iel, sebenarnya kartu hitam sebanyak itu digunakan tidak sih oleh kakak ipar? Aku penasaran sekali" tanya Kayo lagi.
"Tidak, istriku tidak pernah menggunakannya. Dia memintanya hanya untuk pamer saja" jawab Gabrielle lirih.
"Pamer?.
"Iya. Levita Foster, dia adalah korban kejahilan kakak iparmu. Setelah puas mengerjainya, kakak iparmu tidak akan mempedulikan lagi keberadaan para kartu hitam yang di milikinya. Bahkan dia saja lupa dimana menyimpan black card yang Ayah, Ibu, dan aku berikan. Dia sangat unik bukan?.
__ADS_1
Kayo, Fedo, Mattheo dan Abigail terkesiap kaget. Bagaimana mungkin gadis itu bisa sampai melupakan keberadaan benda persegi panjang yang memilih nilai fantastis pemberian dari Tuan dan Nyonya Ma? Sungguh baru kali ini mereka bertemu dengan orang yang sama sekali tidak tertarik pada kekayaan.
"Lusa Elea akan masuk ke Universitas untuk yang pertama kalinya. Dia pasti akan sangat sedih jika tidak bisa hadir di sana. Apa yang harus aku lakukan, Bi? Elea benar-benar sangat menantikan hari itu tiba. Tapi sekarang, bahkan uangku pun tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Tidakkah menurut Bibi aku adalah seorang suami yang gagal?" tanya Gabrielle sedih.
"Kau bukan seorang suami yang gagal, sayang. Semua ini adalah kehendak Tuhan, ini di luar kendali kita semua. Jadi kau jangan menyalahkan diri sendiri ya, itu tidak baik!" jawab Abigail dengan bijak.
"Ternyata memang benar apa kata Elea kalau harta itu tidak bisa membeli segalanya. Ada beberapa hal yang nilainya tidak bisa di ukur dengan banyaknya emas yang kita punya. Dan contohnya adalah sekarang. Aku tidak bisa membeli waktu agar hari masuk kuliah bisa mundur dengan sendirinya sampai Elea sembuh dari penyakit ini. Uangku benar-benar tidak ada gunanya, Bi!.
Mattheo yang tidak tega melihat kesedihan keponakannya pun ikut turun tangan menenangkan. Dia duduk berjongkok di hadapan Gabrielle kemudian menggenggam tangannya yang terasa sangat dingin.
"Saat kita miskin, orang pasti akan menganggap kalau uang adalah segalanya. Namun ketika kita kaya, kita akan beranggapan kalau uang bukanlah segalanya. Semua itu bisa terjadi karena kurangnya rasa syukur kita terhadap Yang Maha Kuasa, Gabrielle. Dalam kondisi apa pun, entah itu miskin atau pun kaya, kita harus tetap mensyukuri semua rejeki yang di berikan oleh Tuhan. Dengan begitu kita baru bisa menghargai semua hal yang ada di sekitar kita!" ucap Mattheo. "Gabrielle, Paman tahu kau sedang kalut. Tapi meratap seperti ini bukanlah sesuatu yang benar. Kau harus bisa berpikir jernih demi Elea. Buang jauh-jauh rasa seperti itu, karena itu semuanya hanya akan membuatmu terjebak dalam keputusasaan. Renungilah nasehat Paman dengan pikiran yang tenang. Nanti kau pasti akan mendapat pencerahan dari Tuhan!.
Gabrielle mengangguk pelan. Dia kemudian termenung, memikirkan nasehat yang baru saja dia dengar.
'Tuhan, maafkan aku yang lupa untuk bersyukur kepadamu. Tapi aku mohon tolong selamatkan istriku. Aku masih ingin hidup bersamanya. Tolong kabulkan do'aku, Tuhan. Amiinn.'
πππππππππππππππππ
β Halo gengss... Jangan lupa mampir ke lapaknya Neng Rose ya.... Di tunggu dukungannya lho π€£
...π» VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...π» IG: rifani_nini...
...π» FB: Rifani...