Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Memaafkan


__ADS_3

Suasana di dalam butik kini di penuhi isak tangis yang berasal dari mulut Levi, Madam Yo, Cira dan juga Clarissa. Sementara Elea, gadis itu nampak membisu di pelukan suaminya. Elea benar-benar tidak menyangka kalau kenyataan ini akan terasa jauh lebih menyakitkan lagi dari apa yang sudah dia bayangkan. Sakit karena ternyata wanita tua ini juga mengalami nasib hidup yang begitu tragis, dan lagi-lagi ketragisan itu sendiri di picu akan perebutan harta.


"Sayang, kau baik-baik saja?" bisik Gabrielle yang juga sangat kaget mendengar kisah hidup Nyonya Wu.


"Tidak Kak, aku tidak baik-baik saja. Jantungku seperti ingin meledak, dadaku juga sangat sakit. Bagaimana ini Kak... Aku,aku ingin mati rasanya" jawab Elea dengan suara gemetar.


Clarissa menyeka air matanya, dia lalu berdiri, mencoba mendekati cucunya yang tadi sempat menolaknya. "Elea, apa Grandma boleh memelukmu? Sebentar saja, ya? Grandma sangat merindukan Mama-mu, tapi sekarang Grandma sudah tidak bisa lagi bertemu dengannya. Boleh ya sayang, satu menit saja..."


Elea kaku, dia masih belum siap untuk membuka hati. Levi yang melihat kecanggungan itu segera datang mendekat. Dengan lembut dia memberi pengertian pada teman kecilnya yang masih syok dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.


"Elea, aku tahu kau masih sangat kecewa dengan semua ini. Tapi Grandma-mu tidak salah, beliau juga di paksa oleh keadaan. Jangan marah lagi padanya ya, beri dia kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Kasihan Grandma-mu Elea, beliau sudah sangat tersiksa dengan perpisahan ini. Ya..."


Airmata Elea akhirnya meleleh. Ingin sekali dia berbalik kemudian memeluk neneknya, tapi masih ada bagian dalam dirinya yang berontak marah. Elea kecewa kenapa dulu neneknya tidak menunggu sedikit lebih lama demi mempertemukan ibunya dengan Kakek Karim. Seandainya saja ibunya tidak di tinggal begitu saja, ibunya pasti tidak akan mati di sia-siakan oleh Kakek Karim, ibunya pasti masih hidup sampai sekarang.


"Elea, berdamailah dengan masalalumu. Bukankah tujuan kita datang berlibur kemari untuk membuka lembaran hidup yang baru? Tidak apa-apa kalau kau masih sakit hati, tapi setidaknya berilah sedikit maaf pada Grandma-mu. Kasihan beliau Elea, dia sama menderitanya sepertimu" bujuk Levi sambil terisak sedih.


Madam Yo yang ikut menjadi saksi kepiluan keluarga itu ikut menimpali. Dengan suara gemulainya dia mencoba membujuk gadis kecil yang terlihat enggan untuk bicara dengan si ratu mode.


"Hiksss Nona cantik, aku ini hanya orang luar, tapi jika boleh memberi saran sebaiknya kalian berbaikan saja. Kalian sama-sama terluka oleh keadaan, bekerjasama lah untuk mengobati lara. Hiksss, hatiku sedih sekali hari ini. Aku tidak bisa membayangkan jika setelah ini kalian masih bermusuhan!."


Tak di sangka, ternyata ucapan Madam Yo mengenai lubuk hati Elea. Dia mulai terfikir untuk memberikan maaf pada neneknya. Elea kemudian teringat pesan almarhum ibunya yang pernah memintanya untuk memaafkan satu kenyataan pahit yang akan dia ketahui. Dan sepertinya maksud dari pesan itu adalah pertemuan ini. Masih dengan berurai airmata, Elea akhirnya berbalik badan. Suara tangisnya semakin kencang saat dia masuk ke pelukan neneknya.


"Sayangku, maafkan Grandma ya. Grandma yang salah, seharusnya Grandma tidak meninggalkan ibumu malam itu. Seharusnya Grandma tidak membiarkannya seorang diri di sana" ucap Clarissa lega karena cucunya bersedia membukakan pintu maaf.


"Hikssss.... Maaf" lirih Elea di tengah-tengah isak tangisnya. "Maaf karena sudah bicara kasar tadi. Aku terbawa emosi Grandma, aku tidak tahu kalau alasan ibuku di buang adalah untuk menyelamatkan hidupnya. Aku tidak tahu akan ada sesuatu yang begitu mengerikan di masa lalu!."


"Tidak apa-apa sayang, yang terpenting sekarang kau sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Grandma sangat menyayangi Mama-mu, benar-benar sangat menyayanginya" sahut Clarissa sambil menciumi puncak kepala cucunya.


Gabrielle dan semua orang yang ada di sana ikut merasa lega setelah Elea bersedia memaafkan Nyonya Wu. Dengan bangga Gabrielle membelai lengan istrinya, dia sangat bahagia karena istrinya bisa menguasai emosinya sendiri meskipun tadi sempat terjadi penolakan.


"Hiksss, benar-benar kisah hidup yang sangat mengharu-biru. Aku tidak menyangka akan menjadi salah satu saksi tentang rahasia besar yang di sembunyikan oleh Nyonya Wu" bisik Madam Yo sambil menyeka ingusnya.


Levi menoleh kemudian menatap tajam kearah Madam Yo. "Kalau kau berani menceritakan masalah ini pada media, aku bersumpah akan membuat mulutmu melebar hingga ke leher belakang. Aku juga akan meminta Gabrielle mengerahkan seluruh anak buahnya untuk membakarmu hidup-hidup. Ingat ini dengan baik, Madam Yo!."

__ADS_1


"Issshh, apalah kau ini Levita. Kau pikir aku sebodoh itu mencari masalah dengan mereka. Aku masih belum menikah sayang, burungku masih belum menemukan pasangannya!" gerutu Madam Yo jengkel.


"Masa bodo dengan burungmu itu. Pokoknya awas saja kalau kau berani membocorkan rahasia ini pada orang lain. Madam Yo yang terkenal akan segera menjadi Madam Joker. Aku tidak bercanda kalau kau mau tahu" ancam Levi.


Reinhard yang mendengar bisik-bisik antara Levi dengan Madam Yo tampak menggelengkan kepala. Dia lalu melihat kearah Elea, sedikit heran karena tangis gadis kecil itu sudah tidak terdengar lagi.


"Gabrielle..."


"Apa?" sahut Gabrielle. "Kenapa memanggilku?."


"Elea, dia baik-baik saja kan?" tanya Reinhard mulai khawatir.


Clarissa yang mendengar hal itu segera memeriksa keadaan Elea. Dia hampir mati jantungan saat tubuh cucunya hampir terjatuh begitu pelukan mereka terlepas.


"Astaga Elea, kau kenapa sayang!" pekik Gabrielle kemudian segera merebut tubuh istrinya yang sudah lemas di pelukan Nyonya Wu. "Elea, bangun Elea..!."


"Gabrielle, baringkan istrimu di sofa. Sepertinya dia terlalu kaget dengan semua ini. Tolong yang lain keluar dulu, biarkan Elea mendapat ruang yang banyak untuk menghirup oksigen!" teriak Reinhard kemudian segera memeriksa tekanan darah Elea.


Cira segera menghampiri majikannya yang sedang berdiri kepanikan di samping cucunya. "Nyonya, mari kita keluar dari sini. Biarkan dokter Reinhard dan Tuan Gabrielle yang menangani Nona Elea."


"Saya tahu, Nyonya. Tapi keadaan Nona...


"Nyonya Wu, tolong keluarlah. Istriku sedang tidak sadarkan diri, tolong jangan memperburuk keadaan!" sentak Gabrielle mulai emosi. "Levi, tolong bawa Nyonya Wu pergi dari sini. Kalian semua tunggulah di luar. Sekarang!."


Tanpa mempedulikan penolakan dari Nyonya Wu, dengan cepat Levi segera menariknya keluar dari ruangan tersebut. Dia cukup takut mendengar bentakan Gabrielle barusan.


"Nona tolong lepaskan tanganku. Aku ingin masuk menemani cucuku di dalam!" kesal Clarissa sambil terus berontak.


"Diam dan menurutlah Nyonya Wu. Kau tidak dengar betapa mengerikan suara suami Elea saat mengusir kita tadi. Jangan macam-macam Nyonya Wu, Gabrielle bisa menelanmu kalau kau tidak mau mendengar ucapannya. Apalagi itu menyangkut Elea, dia bisa berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan!" sahut Levi menakut-nakuti si ratu mode.


Clarissa langsung diam. Bukan karena takut, tapi karena takjub akan kepedulian pria yang menjadi suami cucunya. Setelah sampai di luar ruangan, Clarissa mengintip dari balik jendela kaca. Rasanya dia ingin sekali menerobos masuk untuk mendekap cucunya yang sedang pingsan.


"Sandara, putrimu cantik sekali Nak!."

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan, Gabrielle yang frustasi terus meremas rambutnya sendiri. Dia sangat khawatir terjadi hal buruk pada istrinya. "Bagaimana Rein, Elea tidak kenapa-napa kan?."


"Tenanglah, istrimu baik-baik saja. Dia hanya merasa sedikit tertekan yang menyebabkan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya" jawab Reinhard setelah selesai memeriksa.


"Sungguh tidak ada hal lain yang membahayakan nyawanya? Serangan jantung mungkin" ucap Gabrielle memastikan.


Reinhard tergelak. "Yang benar saja kau Gabrielle. Aku mengatakan jantungnya berdetak lebih cepat bukan berarti Elea terkena serangan jantung. Astaga, kau ini bodoh sekali sih!."


"Jangan menghinaku. Aku hanya sedang mengkhawatirkan kondisi istriku Rein!."


"Iya aku tahu tapi tidak seperti itu juga Gabrielle. Ya Tuhan!" keluh Reinhard tak habis fikir.


Gabrielle tak peduli. Dia kemudian menggenggam tangan istrinya yang begitu dingin. Dengan penuh sayang Gabrielle menciumi jarinya satu-persatu, memanjatkan rasa syukur dalam hati karena Elea-nya baik-baik saja. 'Istirahatlah dulu sayang, aku tahu hati dan perasaanmu sudah sangat lelah. Tidurlah, aku akan menjagamu di sini, aku tidak akan pergi kemanapun. Cintaku....!.'


☀️☀️☀️☀️


💖💖💖💖


💗💗💗💗


💞💞💞💞


💓💓💓💓


💕💕💕💕


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2