
"Yura, bagaimana keadaanmu?" tanya Karim pelan.
"Aku baik-baik saja, Ayah" jawab Yura dengan suara tertahan akibat luka robek di bagian bibir bawahnya. "Ayah bukannya sedang sakit ya? Kenapa datang kemari?.
Karim tersenyum kecut. Dia berasa tinggal di neraka sejak kejadian kemarin. Dengan hati-hati Karim duduk di kursi samping ranjang, lalu meminta asistennya untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Kau keluarlah dulu."
"Baik Tuan Karim. Jika ada apa-apa, saya ada di depan pintu ruangan ini."
"Iya, terima kasih sudah merawatku" ucap Karim tulus.
"Sudah menjadi kewajiban saya, tuan. Kalau begitu saya permisi. Nyonya Yura, saya pamit keluar!.
Yura mengangguk. Dia kemudian menatap kearah ayah mertuanya yang duduk dengan wajah lesu.
"Ayah, ada apa?.
"Eleanor, dia memaafkan Patricia. Gadis itu bahkan meminta Gabrielle untuk tidak melakukan apapun padanya. Ayah sangat malu, Yura. Sebagai orang yang di tuakan, Ayah merasa sudah sangat gagal karena tidak bisa mendidik Patricia dengan baik. Selama ini Ayah berfikir gadis itu adalah gadis yang polos dan penurut. Tapi siapa yang menduga kalau Patricia akan setega ini pada kalian berdua. Ayah bingung sendiri kenapa gadis itu jadi sebegini jahat. Apa iya hanya karena kurangnya kasih sayang dari Bryan dia bisa senekad ini. Rasanya Ayah sedikit tidak percaya kalau memang benar itu yang menjadi alasannya" jawab Karim kemudian menghela nafas panjang.
Terdengar desisan pelan ketika Yura ingin tersenyum. Dia tentu saja tahu kalau putri sambungnya itu pasti akan memaafkan kesalahan putri angkatnya. Sandara benar-benar beruntung karena bisa melahirkan seorang putri berhati malaikat seperti Eleanor. Dan Yura ikut merasa bangga karena bisa menjadi bagian dari gadis berhati malaikat tersebut meski hanya sebagai ibu sambungnya.
"Ayah, Patricia itu sebenarnya tidak jahat. Dia hanya terlalu sedih memikirkan aku dan juga dirinya yang selalu di abaikan oleh Bryan. Meski alasan itu terdengar sedikit konyol, namun rasa sakit karena di abaikan itu adalah sebuah luka yang cukup fatal. Pengabaian yang di terima oleh Patricia selama ini pasti sangat membekas di hatinya. Dia terluka, juga menderita melihatku yang tak di anggap oleh Bryan. Jadi aku mohon tolong Ayah jangan membencinya, kasihan Cia, Ayah" ucap Yura memohon pengampunan untuk putri angkatnya.
Deg
Bagai tertampar, Karim langsung diam mematung setelah mendengar penjelasan menantunya. Ternyata dia salah karena berfikir kalau Patricia sudah cukup mendapat kasih sayang darinya dan juga dari Yura. Siapa yang menduga kalau pengabaian yang di lakukan oleh putranya akan berbuntut panjang seperti ini. Sungguh, Karim tidak tahu kenapa para wanita yang berada di sekitarnya harus mengalami luka yang sama. Sama-sama di tolak dan di abaikan. Seperti Sandara dan Elea, Yura dan Patricia pun mendapat pengabaian dari putranya. Mungkinkah ini adalah karma yang harus dia terima atas apa yang sudah dia perbuat dulu? Sesak, itu yang Karim rasakan saat ini.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Bryan yang baru saja kembali dari membeli sarapan sedikit kaget melihat keberadaan ayahnya di dalam kamar. Dengan langkah cepat dia segera menghampirinya.
__ADS_1
"Ayah, kenapa Ayah bisa ada disini? Kondisi Ayah itu masih belum stabil, jangan kelelahan dulu."
"Tidak apa-apa. Ayah tidak bisa tenang memikirkan kondisi istrimu, Bry. Itulah kenapa Ayah diam-diam datang kemari tanpa seizin dokter" jawab Karim lirih.
Bryan maklum. Dia kemudian menatap kearah istrinya yang juga sedang menatap kearahnya.
"Lapar, hm?.
"Iya" jawab Yura malu-malu saat ketahuan oleh suaminya kalau dia sedang kelaparan.
"Tunggu sebentar. Aku tadi membelikan bubur spesial untukmu" ucap Bryan lalu bergegas memindahkan bubur ke dalam mangkuk lain.
Karim terkesima melihat betapa perhatiannya Bryan pada menantunya. Meski hubungan kedua orang ini sebelumnya sudah lumayan membaik, tapi Karim sadar kalau putranya hanya melakukan hal itu demi Eleanor. Merasa penasaran, Karim akhirnya berbisik pada menantunya yang tengah menatap Bryan dengan penuh cinta.
"Yura, ada apa dengan Bryan? Kenapa Ayah merasa kalau sikapnya menjadi begitu hangat padamu? Dia tidak sedang merencanakan sesuatu kan?.
"Tidak, Ayah. Semalam Bryan meminta satu kali kesempatan untuknya memperbaiki hubungan kami. Dia juga mengakui kalau apa yang dia lakukan selama ini hanya demi Eleanor saja. Tapi Ayah tenang saja, Bryan sudah meminta maaf padaku dan bersedia untuk menerima perasaanku. Dia akan pelan-pelan menyimpan nama Sandara di dalam hatinya dan membuka lembaran yang benar-benar baru bersamaku. Ini kabar yang sangat menggembirakan bukan?" jawab Yura dengan raut wajah yang di penuhi kebahagiaan.
Yura mengangguk.
"Bryan juga telah memaafkan kesalahan Patricia, Ayah. Dia bilang setelah aku sembuh kami berdua akan pergi menemui Cia dan berbicara secara baik-baik dengannya. Bryan juga bilang ingin meminta maaf padanya karena dia sadar kalau yang menjadi dasar alasan Cia melakukan semua ini adalah sikap abainya yang sudah sangat keterlaluan. Dia benar-benar terlihat sangat tulus saat mengucapkan semua itu, Ayah. Aku bahagia sekali, benar-benar sangat bahagia sampai ingin menangis!.
"Syukurlah kalau benar seperti itu, Yura. Ayah lega jika Bryan sudah bersedia untuk menerima perasaanmu. Semoga kali ini dia melakukan dengan kesungguhan hati, bukan karena demi Eleanor atau demi apapun lagi. Ayah turut bahagia untuk penyatuan kalian, sayang" ucap Karim sembari tersenyum hangat.
"Kalian ini sedang bicara apa sih? Kenapa berbisik-bisik?" tanya Bryan yang ikut menimbrung sambil membawa mangkuk berisi bubur hangat di tangannya.
"Biasalah, kau tidak perlu tahu. Ini adalah rahasia antara mertua dengan menantunya" jawab Karim.
Bryan mengerutkan kening lalu menatap kearah istrinya.
"Benar aku tidak boleh mengetahuinya?.
__ADS_1
"Seperti yang di katakan oleh Ayah barusan, Bry. Ini adalah rahasia antara menantu dan mertuanya. Jadi kau tidak boleh tahu" jawab Yura ikut berbohong.
"Haisshhh ya sudahlah terserah kalian saja. Sekarang ayo makan buburnya, mumpung masih hangat" ucap Bryan kemudian duduk di samping istrinya.
"Aku bisa makan sendiri, Bry" tolak Yura halus saat suaminya ingin menyuapinya makan. Dia merasa malu karena tidak terbiasa. Apalagi disana ada ayah mertuanya, membuat Yura menjadi kikuk.
"Kau sedang sakit, Yura. Jadi biarkan aku yang mengurusmu. Selama ini jika aku sakit kau juga selalu menyuapiku makan kan? Jadi kau jangan menolaknya atau aku akan marah!" ancam Bryan dengan sengaja.
Yura mengerjap beberapa kali. Tidak menyangka kalau Bryan yang biasanya bersikap dingin bisa bercanda seperti ini juga. Dengan penuh keharuan Yura akhirnya membuka mulut. Membiarkan bubur suapan dari tangan suaminya menghangatkan perutnya yang sudah menjerit meminta makanan sejak tadi.
Karim yang menyaksikan perhatian Bryan pada menantunya nampak tersebut senang. Sudah lama dia ingin melihat menantunya mendapat perlakuan layaknya seorang istri, dan akhirnya waktu membahagiakan ini tiba juga. Diam-diam Karim meratapi sebuah penyesalan dimana dia tidak bisa memberikan hak yang sama pada Clarissa, wanita cantik yang dulu menjadi kekasihnya dimana wanita tersebut mengandung seorang anak yang mati di tangannya sendiri. Mengingat kepahitan tersebut membuat Karim menghela nafas panjang.
"Ayah, ada apa?" tanya Bryan yang mendengar helaan nafas ayahnya.
"Tidak apa-apa. Ya sudah karena kau sudah ada di sini Ayah kembali saja ke kamar. Dada Ayah sedikit sesak" jawab Karim lirih.
"Apa?? Dada Ayah sakit? Bryan, cepat panggil dokter!" pekik Yura panik.
"Sudah tidak apa-apa, nanti biar asisten Ayah saja yang memanggil dokter. Kalian teruskan saja romantisme tadi, jangan hiraukan Ayah!" cegah Karim menggoda anak dan menantunya.
Bryan tersenyum, sedangkan Yura menunduk malu. Bryan kemudian membantu ayahnya berjalan menuju pintu. Setelah ayahnya di papah oleh asistennya, barulah dia kembali masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan kegiatannya yang sedang menyuapi Yura.
'Terima kasih Tuhan atas kebahagiaan ini. Terima kasih!.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Rifani...