Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tak Suka


__ADS_3

Greg dan Liona berdiri di depan pintu utama untuk menyambut kedatangan seorang bangsawan bermarga Wu yang sebentar lagi akan segera tiba bersama dengan anak dan juga menantunya. Sembari menunggu, kedua sejoli itu nampak bercengkerama dengan hangat. Yah, siapalah yang tidak tahu mengenai keharmonisan Tuan dan Nyonya Ma ini. Bahkan cinta keduanya sampai melegenda di beberapa kalangan.


"Honey, aku benar-benar tidak menduga kalau Elea adalah bagian dari keluarga bangsawan itu. Putra kita sangat beruntung karena bisa mendapatkan pendamping dari keluarga yang mempunyai latar belakang tidak biasa. Ya meskipun semuanya harus di awali dengan kesedihan, tapi setidaknya sekarang Elea sudah menemukan kebahagiaannya. Satu-satunya yang tidak bisa dia dapatkan adalah kasih sayang dari mendiang ibunya saja. Tapi semoga saya Nyonya Yura bisa menggantikan peran almarhum Nyonya Sandara ke depannya kelak. Kasihan menantu kita" ucap Greg kemudian menghela nafas panjang.


"Semua ini sudah menjadi takdirnya, Greg. Kita berdoa saja semoga Gabrielle bisa membahagiakan Elea. Untuk selebihnya kita hanya bisa berserah pada takdir. Dan mengenai Nyonya Yura, aku juga sependapat denganmu. Harusnya dia bisa mensyukuri apa yang sudah dia dapatkan saat ini. Tapi jika dia kembali berbelok, maka aku akan langsung menyingkirkannya. Aku tidak akan membiarkan ada lalat yang ingin mengotori rumah tangga anak-anakku. Karena hanya Tuhan-lah yang berhak untuk mencampuri urusan mereka " sahut Liona.


Tin, tin


Terdengar suara klakson mobil dari luar gerbang. Greg dan Liona langsung tahu kalau itu pasti tanda dari Ares jika tamu mereka sudah tiba. Dengan sangat tidak sabar Liona menanti Elea keluar dari mobil. Dia langsung merentangkan tangan begitu melihat senyum manis dari bibir menantunya.


"Kesayanganku, kemari Nak!.


"Halo Ibu Liona, halo Ayah Greg" sapa Elea sesaat setelah berada di dalam pelukan ibu mertuanya. "Izel ada di sini tidak?.


"Tidak sayang. Adikmu itu sedang mengganggu suaminya di kantor, lebih baik kita jangan mengganggunya" jawab Liona kemudian melihat kearah wanita tua yang sedang tersenyum kearahnya.


"Selamat siang, Nyonya Liona" sapa Clarissa ramah. "Selamat siang juga, Tuan Greg. Terima kasih sudah bersedia mengundangku datang ke istana megah ini."


"Jangan sungkan, Nyonya Clarissa. Kita adalah keluarga, sudah sepantasnya menghabiskan waktu bersama" sahut Liona tak kalah ramah.


Greg mengangguk kearah Nyonya Clarissa. Dia lalu menatap kearah seorang gadis cantik yang terlihat malu-malu.


"Nyonya, siapa gadis itu?.


"Dia adalah calon istrinya Ares, Ayah" jawab Gabrielle menimpali. "Namanya Cira. Bagaimana, cantik bukan?.


Liona langsung menelisik dalam kearah gadis yang di klaim sebagai calon suami Ares, asisten putranya. Meski di tubuh Ares tidak mengalir darah keluarganya, Liona selalu memperlakukannya seperti putra sendiri. Sudah tentu saat ini dia ingin memeriksa apakah gadis ini cocok menjadi pendamping Ares atau tidak. Tapi begitu Liona mendengar isi pikiran Cira, dia langsung tersenyum lega. Ares rupanya tidak salah memilih pasangan.

__ADS_1


'Ya Tuhan, rasanya aku seperti akan pingsan. Bagaimana nanti kalau orangtuanya Ares tidak menyukaiku karena aku tidak sekaya mereka? Apa aku akan mengalami patah hati? Oh God, help me, please.'


"Ares, kau bawalah Cira untuk bertemu dengan Ayah dan Ibumu. Mereka ada di halaman belakang sedang menunggu kalian. Nikmatilah waktu untuk kalian saling mengenal" ucap Liona dengan lembut. "Cira, Ares adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Kau tidak akan menyesal jika menikah dengannya karena dia besar di bawah pengawasanku. Jadi aku harap kau tidak akan menolaknya nanti."


Wajah Cira langsung memerah. Semua orang yang melihat hal itu langsung tertawa. Ares yang tak tega melihat wanitanya di goda oleh semua orang segera mengajaknya untuk pergi menemui orangtuanya. Tak lupa dia berpamitan terlebih dahulu sebagai bentuk kesopanannya.


"Ares ternyata bisa serakah juga ya Kak?" celetuk Elea sambil terus memperhatikan punggung Ares dan Cira yang semakin menjauh.


"Serakah bagaimana?.


Gabrielle menoleh ketika mendengar isi pikiran ibunya. Dia lalu mengangguk samar.


"Ya itu tadi. Dia terlihat marah saat kita semua menertawai Kak Cira. Iya kan Grandma, Ibu Liona, Ayah Greg?" jawab Elea.


"Wajarlah sayang. Ini adalah pertama kalinya Ares mengenal seorang wanita. Mungkin saja hal itulah yang membuatnya jadi seposesif itu pada Cira" jawab Liona sembari mengusap bahu menantunya.


"Ibu mertuamu benar, sayang. Tadinya Grandma malah ingin meminta bantuan dari suamimu untuk mempersatukan mereka. Cira selalu menolak setiap kali Grandma ingin menjodohkannya dengan seorang pria. Tapi bersama Ares, dia menunjukkan respon yang sedikit berbeda. Semoga saja mereka berdua bisa secepatnya menikah dan mempunyai anak" jawab Clarissa tanpa menyadari kalau saat ini ada awan mendung yang tengah menghiasi wajah cucunya.


Clarissa yang tidak tahu apapun sedikit bingung melihat cucunya yang tiba-tiba pergi begitu saja. Khawatir jika kata-katanya ada yang menyinggung, dia berniat meminta penjelasan dari Gabrielle. Namun belum sempat dia bicara, ibunya Gabrielle sudah lebih dulu menyela.


"Nyonya Clarissa, ada banyak hal yang belum kau ketahui tentang kekurangan Elea. Bagaimana kalau kita berbincang saja di dalam? Nanti aku dan suamiku akan menceritakan semua tentang Elea kepadamu" ucap Liona berusaha untuk tetap tenang meski dia tidak suka ada yang membuat menantunya bersedih.


"Baiklah. Maaf jika ada kata-kataku yang membuat kalian semua merasa tidak nyaman. Aku-aku adalah nenek yang sangat buruk untuk Elea" sahut Clarissa lirih.


"Tidak apa-apa, kami maklum. Ya sudah kalau begitu kita masuk saja ya. Dan kau Gabrielle, susul Elea sekarang. Hibur dia, Ibu tidak suka melihatnya bersedih!.


"Baik Bu" jawab Gabrielle kemudian segera berlari menyusul istrinya.

__ADS_1


Clarissa sedih.


"Saat aku selesai bicara tadi Elea langsung menunjukkan sikap yang berbeda. Apakah ini ada hubungannya dengan keturunan?.


"Ya. Karena kau sudah menyadarinya lebih dulu, maka aku tidak akan sungkan lagi padamu, Nyonya" jawab Liona dingin. "Sejak Elea di usir dari panti asuhan, dia hidup terlunta-lunta di jalanan. Dia memakan apapun yang bisa dia makan meski dia tahu kalau makanan itu tidak sehat. Saat pertama kali Elea jatuh sakit, kami semua baru tahu kalau cucumu itu menderita gizi buruk yang cukup parah. Dan tidak hanya itu, rahimnya sangat lemah. Kami bahkan harus sangat hati-hati dalam mengobatinya. Hidupnya begitu menderita asal kau tahu, Nyonya Clarissa. Di usianya yang masih begitu belia dia bahkan hampir menjadi korban pelecehan yang mana hal itu membuat Elea harus menderita truma selama bertahun-tahun. Kau pasti tidak akan pernah menyangka bukan kalau gadis yang terlahir dari rahim putrimu akan hidup dengan sebegini menderita?.


Liona dengan pedas menyindir neneknya Elea. Dia marah karena wanita bangsawan ini berani menyinggung sesuatu yang paling sensitif bagi menantunya. Liona tahu kalau Clarissa tidak bermaksud menyakiti hati Elea, dia hanya tidak terima saja melihatnya.


"Nyonya Liona, aku-aku.... aku tidak tahu itu. Tolong maafkan aku" ucap Clarissa dengan suara bergetar.


Greg langsung menggenggam tangan Liona begitu melihatnya ingin kembali berbicara. Dia lalu menggelengkan kepala.


"Nyonya Clarissa, aku harap kau tidak akan pernah lagi menyinggung tentang masalah ini di hadapan Elea. Cukuplah kita dengan memberinya banyak kebahagiaan, bukan kesedihan. Kasihan Elea, Nyonya. Dia juga berhak untuk bahagia seperti yang lain!" tegur Greg ikut tak terima.


Sambil menahan tangis Clarissa menganggukkan kepala. Dia tidak tahu, benar-benar tidak tahu kalau hidup cucunya di buat dengan begitu menderita oleh kakeknya sendiri. Tak kuat menahan sesak, hampir saja Clarissa jatuh ke lantai kalau saja ibunya Gabrielle tidak tanggap dan segera memegangi tubuhnya.


"Nyonya Clarissa, maaf jika kata-kataku tadi sedikit keras. Aku hanya tidak suka melihat menantuku bersedih" ucap Liona berlapang dada meminta maaf.


"Aku paham, Nyonya Liona. Kau tidak salah, akulah yang tidak becus menjaga putriku sendiri hingga nasib buruknya harus menurun pada Elea. Semua ini tidak akan terjadi jika seandainya aku lebih berani melawan almarhum Papa. Aku menyesal lebih memilih membuang Sandara daripada harus mati bersamanya. Aku menyesal Nyonya, aku menyesal " sahut Clarissa kemudian menangis lirih.


Tak tega melihat kondisi neneknya Elea, Greg akhirnya memberi saran agar mereka semua masuk ke dalam rumah. Kejadian menyedihkan ini tidak boleh sampai terlihat oleh menantunya. Elea pasti merasa bersalah dan akan kembali bersedih dan Greg tidak mau itu terjadi.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2