Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Rumah Sakit


__ADS_3

Reinhard yang memang sudah siap dengan segala kondisi darurat malam ini terlihat gelisah menanti kedatangan Gabrielle di depan pintu masuk rumah sakit. Dia tidak sendirian, Levi ada di sana bersama dengan tim medis yang lain.


"Rein, kenapa mereka masih belum sampai? Tidak lucu kan kalau mobil mereka kehabisan bensin?" tanya Levi sembari mengelap ingusnya.


"Jangan becanda, Levi!" sergah Reinhard sedikit kesal. "Puluhan penjaga mengikuti mobil Gabrielle dan Elea, mereka tidak mungkin kenapa-napa."


"Hiksss, tapi kenapa mereka belum sampai juga Rein? Aku ingin sekali melihat kondisi makhluk kecil itu" sahut Levi sesenggukan.


Reinhard menghela nafas. Tak tega, dia segera memeluk Levi yang terus terisak. Reinhard bahkan tak mempedulikan keberadaan perawat dan juga para dokter yang menyaksikan kedekatan mereka berdua.


Tak lama kemudian terlihat belasan mobil masuk ke halaman rumah sakit. Levi yang saat itu masih berada di pelukan Reinhard tanpa sengaja mendorongnya hingga hampir terjatuh ke belakang. Dia kemudian segera berlari mendekat kearah mobil yang berada di barisan paling depan.


"Elea, kau ba.... Oh Bibi Liona, Paman Greg!" ucap Levi menyapa kedua orangtuanya Gabrielle.


Liona dan Greg mengangguk sekilas kemudian segera membantu Gabrielle memindahkan menantu mereka keatas brankar rumah sakit. Mereka lalu menarik nafas panjang, tak tega menyaksikan keadaan Elea dan juga kepanikan Gabrielle.


Sebelum masuk, Liona terlebih dahulu menghampiri Reinhard. "Sebaiknya kau dampingi Elea sampai dia tersadar nanti. Bibi yakin dia akan mengalami sedikit syok akibat tragedi malam ini!."


"Baik Bibi Liona. Kalau begitu aku masuk dulu" jawab Reinhard kemudian berlari masuk mengejar Gabrielle dan para perawat.


"Bibi Liona, ke,kenapa bahu Elea bolong? Apa bajingan itu menembaknya?" tanya Levi tersendat sembari menepuk dadanya. "Tertembak itu rasanya benar-benar menyakitkan, makhluk kecil itu pasti sangat menderita sekarang!."


Meski sedikit aneh mendengar menantunya di panggil dengan sebutan makhluk kecil, Liona berusaha untuk memahami. Mungkin ini adalah bentuk rasa sayang gadis ini pada menantunya. Dengan naluri keibuannya Liona memberikan pelukan pada gadis yang sedang terisak dengan tubuh gemetaran.


"Sudah tidak apa-apa. Itu bukan luka tembak, tapi luka bekas sayatan pisau. Tenang saja, Elea itu gadis yang kuat, dia pasti sanggup melewati ini semua."


"Hiksss Bibi, tolong jangan biarkan bajingan itu hidup dengan baik. Jangan cepat-cepat membunuhnya, biarkan dia mati membusuk karena kelaparan. Hiksss, dia sudah menyakiti Elea sejak beberapa tahun yang lalu, aku ingin sekali menghancurkan biji telurnya supaya dia tahu seperti apa rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga!" imbuh Levi.


Greg tergelak mendengar ancaman mengerikan yang di lontarkan oleh putrinya Samuel Foster ini. Dia lalu menggelengkan kepala melihat istrinya melirik ke bagian bawah celananya. 'Jangan usik kedua biji telurku Hon. Mereka tidak salah apa-apa.'


"Ya sudah sekarang lebih baik kita masuk ke dalam. Kasihan Gabrielle, dia sedang membutuhkan banyak dukungan saat ini" ucap Liona seraya membersihkan wajah Levi dari sisa airmata. "Greg, coba kau tanya pada Grizelle akan dia kemanakan si Jackson. Jika dia belum membunuhnya, minta dia untuk membawanya pulang ke rumah. Sepertinya putra kita akan sedikit merasa tenang jika bisa mengambil separuh nyawanya!."


"Aku setuju Bibi. Nanti aku akan membantu Gabrielle menghajarnya untuk membalaskan rasa sakit yang Elea terima!" imbuh Levi semangat.


Wajah Greg masam saat dirinya di tinggal masuk oleh bidadarinya. Dengan langkah gontai dia berjalan masuk ke dalam mobil kemudian meminta Hansen untuk pergi menyusul putrinya.

__ADS_1


Di depan pintu ruang UGD, Gabrielle terduduk diam di lantai. Tangan dan pakaiannya di penuhi darah yang mulai mengering. Meskipun dia sudah berusaha untuk merubah takdir buruk, tetap saja istrinya terluka. Dia merasa gagal.


"Sayang, maafkan aku yang lagi-lagi terlambat datang untuk menyelamatkanmu. Seandainya aku tadi bisa sampai lebih cepat, aku yakin kau tidak akan terluka seperti ini. Semua ini salahku, aku yang tidak becus menjagamu!."


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Iel. Bukankah Elea bilang kalau hal ini akan tetap terjadi meski seberapa keras kita mencoba untuk melindunginya?" hibur Liona sambil membelai puncak kepala putranya. "Sekarang masalahnya sudah lewat. Dan juga luka di tubuhnya tidak terlalu serius. Menantu Ibu adalah gadis yang kuat, dia pasti akan sadar dengan cepat!."


"Iya Gab, yang di bilang Ibumu benar. Elea pasti baik-baik saja, dia pasti kembali lagi pada kita semua" timpal Levi ikut memberi penghiburan.


Gabrielle mengusap wajahnya kasar. Dia lalu menengadah, memeluk kaki ibunya dengan mata yang sudah siap untuk menangis. "Ibu, aku suami yang sangat bodoh bukan?."


"Tidak sayang, kau adalah suami terbaik yang hanya di miliki oleh Elea. Kalau kau tidak mengatur rencana ini sedemikian rupa, Ibu yakin takdir Elea tidak akan pernah bisa berubah. Dia pasti akan hidup menderita di tangan Jackson, sama seperti apa yang dia lihat dalam mimpinya" jawab Liona bijak.


Ceklek


Gabrielle langsung berdiri kemudian menghambur kearah Reinhard begitu pintu ruang UGD terbuka. Dia lalu mencecarnya dengan banyak pertanyaan hingga membuat Reinhard kebingungan untuk menjawab.


"Rein, bagaimana istriku? Dia baik-baik saja kan? Elea selamat kan? Bagaimana lukanya? Bisa di sembuhkan bukan? Tolong..


"Hei hei hei, tanya satu-persatu Gabrielle. Astaga, kau ini bicara sampai lupa untuk bernafas. Tenanglah, bicara perlahan-lahan" ucap Reinhard.


Levi dan Liona pun ikut mendekat. Mereka ingin segera tahu bagaimana kondisi Elea sekarang.


"Kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan Bi. Hanya saja...


"Hanya saja apa hah! Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuatku marah Rein. Kau ku bayar mahal untuk menjadi dokter di sini. Itu artinya kau harus bisa menyembuhkan istriku apapun caranya. Harus bisa Rein!" bentak Gabrielle kemudian mencengkeram kerah baju sahabatnya.


"Y,yakk, yaaakkkkk.. Apa-apaan kau Gab, kau sudah gila ya. Aku ini belum selesai bicara, cepat lepaskan tanganmu!" omel Reinhard sedikit kaget dengan serangan mendadak itu. "Ya Tuhan, bagaimana bisa aku memiliki teman sebodoh dia sih. Makanya jangan suka menyela orang lain yang sedang berbicara. Begini kan jadinya!."


"Jangan banyak bicara kau. Cepat katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Elea. Sekarang Rein, sekarang!" teriak Gabrielle seakan frustasi.


"Gabrielle, tenang dulu. Biarkan Reinhard bicara" ucap Liona lembut. "Reinhard, hanya saja apa yang kau maksud tadi? Tolong selesaikan perkataanmu."


Reinhard mengangguk sambil merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah gegabah dari sahabatnya. "Luka di tubuh Elea tidak terlalu berbahaya, Bi. Hanya saja dia kehilangan banyak darah dan harus secepatnya mendapat transfusi. Tapi sayang sekali golongan darah Elea sangat langka. Di rumah sakit ini tidak ada stok darah yang sama dengannya, hanya beberapa orang tertentu yang memiliki golongan darah tersebut!."


"Omong kosong. Rumah sakit sebesar ini bagaimana bisa tidak memiliki stok darah hah! Jangan memancing kemarahanku, Reinhard!" amuk Gabrielle sambil menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


Liona terdiam. Jika tebakannya tidak salah, maka seharusnya orangtua itu bisa menyelamatkan nyawa menantunya. "Gabrielle, minta ayahnya Elea datang kemari bersama dengan Tuan Karim. Hanya dia yang bisa menolong istrimu."


Gabrielle yang sedang kalut menatap kaget kearah ibunya. Dia tidak mengerti kenapa ibunya meminta kakek kejam itu datang kemari dan menyebut jika hanya dia yang bisa menyelamatkan Elea. "Bu, untuk apa Ibu memintaku mengundang kakeknya Elea? Kemunculannya hanya akan membuat emosiku semakin memuncak!."


"Ibu tahu, Nak. Tapi kau harus tetap memanggilnya datang kemari. Ini hanya tebakan, dan semoga saja tebakan Ibu tidak benar" jawab Liona penuh teka-teki.


"Tebakan? Maksud Ibu?" desak Gabrielle kebingungan.


"Sebenarnya ayah mertuamu itu bu...


"DOKTER, NONA ELEA KEJANG...!!!."


Reinhard segera berlari masuk ke dalam begitu mendengar suara teriakan dari dokter yang masih berjaga di dalam ruangan. Tapi sedetik kemudian dia kembali keluar menyembulkan kepalanya. "Gabrielle, keselamatan Elea tergantung egomu. Kalau kau mau dia selamat, sebaiknya kau turuti apa yang di katakan oleh Ibumu. Sekarang Gab, kita semua bertarung dengan waktu!."


"Ba,baik...." sahut Gabrielle dengan suara gemetar.


Saking paniknya Gabrielle sampai tidak bisa menggenggam ponsel di tangannya. Levi yang melihat hal itu pun berinisiatif membantunya dengan menekan nomor telepon milik pamannya.


"Halo Gabrielle, ada apa Nak?."


"A,Ayah... Elea, Elea butuh transfusi darah saat ini juga. To,tolong Ayah dan Kakek Karim datang ke rumah sakit. Sekarang" jawab Gabrielle terbata.


"Transfusi darah? Maksdumu Eleanor terluka, begitu? Ya Tuhan Gabrielle, apa yang terjadi dengannya? Bukankah kalian tadi baik-baik saja saat di pesta!."


Levi dengan kasar merebut ponsel dari tangan Gabrielle. Setengah mengumpat, dia melontarkan kata-kata yang langsung membuat pamannya berteriak panik dari dalam telepon.


"Paman, cepat bawa Kakek Karim datang ke rumah sakit atau kalian akan kehilangan Elea untuk selamanya. Cepatlah, dia sudah kejang karena kekurangan darah. Terlambat sedetik saja Elea akan langsung pergi menysul ibunya ke surga!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...ADA APAKAH DENGAN KAKEK KARIM???? KENAPA MOMMY LIONA BICARA SEPERTI ITU? APAKAH MUNGKIN ADA SOMETHING YANG TERSEMBUNYI TENTANG SIAPA AYAH KANDUNG ELEA....??? JENG,, JENG,, JENG,,,...


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2