Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pemakaman


__ADS_3

Suasana duka menyelimuti pemakaman dimana Kakek Karim akan di antar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tampak banyak tamu datang berbondong-bondong untuk sekedar mengucapkan belasungkawa. Deretan karangan bunga juga memenuhi hampir di sepanjang jalan menuju tempat dimana manusia terlelap abadi.


Bryan, Yura, dan Clarissa terlihat sangat terpukul dengan kepergian Kakek Karim. Bahkan Clarissa beberapa kali jatuh pingsan karena tak kuat di tinggal pergi oleh pria yang pernah mengisi hatinya meski Karim telah membuatnya kecewa. Di samping Clarissa, Cira selalu setia mendampingi. Matanya terlihat sembab, dia juga ikut merasakan kepedihan yang tengah di rasakan oleh semua orang.


"Bryan, kami turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Semoga Tuan Karim di berikan tempat yang paling indah di sisi Tuhan" ucap Samuel sambil menepuk bahu adik iparnya.


"Terima kasih,"


Yura menangis sesenggukan kemudian masuk ke dalam pelukan ibunya Levita yang hendak mengusap pipinya. Dia merasa begitu kehilangan, yang mana rasa ini mengingatkannya akan kematian orangtuanya dulu.


"Hiksss, aku tidak punya orangtua lagi Kak. Ayah sudah pergi meninggalkan kami semua."


"Ssssttt, tidak apa-apa. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk ayah mertuamu. Kau harus kuat ya, masih ada suami dan juga kedua putrimu yang membutuhkan kasih sayang darimu. Yang ikhlas supaya arwah mertuamu tidak merasa berat, oke?" sahut Lolita dengan lembut.


Di dekat nisan Kakek Karim, ada Patricia yang sedang duduk berjongkok dengan tatapan kosong. Matanya kering, dia sama sekali tidak menangisi kepergian sang kakek. Tidak ada yang tahu kenapa Patricia bersikap seperti itu. Tapi yang jelas, di matanya ada gurat penyesalan yang begitu besar. Yang mana hal itu membuat Junio merasa tak tega.


Ya, sejak memutuskan untuk membawa Patricia menemui Nyonya Yura, Junio selalu ada di sampingnya. Dia seperti mendapat firasat kalau sebentar lagi akan ada badai besar yang menghampiri keluarga Patricia. Dan benar saja, hanya berselang satu hari sejak Patricia bertemu dengan ibunya, wanita ini sudah langsung berpisah dengan sang kakek. Mungkin karena terlalu syok, Patricia sampai tak menunjukkan respon apapun saat tahu kalau kakeknya sudah meninggal dunia.


"Tuan Bryan, atas nama Keluarga Besar Ma dan Keluarga Besar Zhu, aku ingin mengucapkan rasa belasungkawa atas meninggalnya Tuan Karim Young. Dan maaf, untuk saat ini Gabrielle tidak bisa datang ke pemakaman. Putraku masih sangat terpuruk karena Elea masih belum sadar. Aku harap kau dan Nyonya Yura dapat memakluminya" ucap Greg sambil menepuk bahu besannya yang sedang berduka.


"Tidak apa-apa, Tuan Greg. Aku bisa memahami" sahut Bryan lirih. "Semoga saja setelah ini Eleanor bisa lekas sadar. Aku tidak siap jika harus terjadi hal buruk kepadanya."


"Yakinlah Elea pasti sadar, Tuan Bryan. Tuan Karim sudah berkorban sebegini besar untuknya, jadi sudah seharusnya Elea hidup dengan bahagia untuk membalas pengorbanan kakeknya. Aku harap kau tidak berpikiran negatif dulu, Tuan Bryan. Yakin dan percayalah kalau putri kita pasti akan segera tersadar dari komanya!.


Bryan menarik nafas panjang-panjang kemudian mengangguk. Dia lalu tersenyum kecut kearah Nyonya Liona.

__ADS_1


"Tuan Bryan, aku baru saja menerima kabar dari rumah sakit kalau ada sedikit perkembangan pada reaksi tubuh Elea. Dia menangis, dan tiba-tiba saja alat vitalnya menunjukkan pergerakan yang sangat bagus. Sepertinya tidak lama lagi kita akan segera melihat senyumnya" ucap Liona memberitahu semua orang tentang kabar yang di kirimkan Kayo barusan.


"Benarkah?.


Clarissa yang paling cepat bereaksi. Dengan wajah bengkak dia mencecar ibunya Gabrielle untuk memastikan kalau keadaan cucunya sudah mulai membaik.


"Nyonya Liona, apakah benar Eleanor akan segera sadar? Dia sudah melewati masa kritisnya kan? Dia akan segera berkumpul dengan kita semua kan?.


"Mari kita sama-sama menunggu, Nyonya Clarissa. Semoga saja kabar ini memang benar adanya" jawab Liona dengan sabar.


Semua orang merasa sangat lega setelah mendengar kabar tersebut. Namun, ada satu orang di pemakaman itu yang seperti tidak peduli apakah Eleanor akan segera sadar atau tidak.


Patricia, dia masih tenggelam dalam pikirannya. Dia tidak menyangka kalau kakeknya akan sesayang ini pada Eleanor hingga tega mengorbankan hidupnya demi gadis itu. Hati Patricia sakit, dia merasa terkhianati. Tapi sesakit apapun rasa yang sedang mendera benak Patricia, dia terus meyakinkan diri kalau Eleanor tidak bersalah. Semua ini terjadi atas kehendak kakeknya sendiri. Sebisa mungkin Patricia menahan bisikan iblis yang kembali mendesaknya untuk melakukan hal jahat pada Eleanor. Dia tidak mau melakukan sesuatu yang membuatnya harus menjalani hari-hari penuh penyesalan. Cukup sekali seumur hidup, Patricia tak mau merasakannya lagi.


Liona yang mendengar isi pikiran Patricia nampak tersenyum samar. Dia lega karena ternyata pilihan Elea untuk memaafkan kesalahan wanita ini tidak salah. Dalam hati, Liona amat sangat memuji kebaikan hati menantunya. Dia sungguh salut karena menantunya memiliki hati yang sangat luas, seluas semesta ini.


"Cia.."


Patricia menoleh. Dia saling bertatapan dengan mata ibunya yang terlihat begitu sembab.


"Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir" ucap Patricia kemudian berbalik menatap nisan kakeknya.


Yura melepaskan diri dari pelukan kakak iparnya kemudian meminta berkas yang dibawa oleh salah satu pelayan. Dengan langkah pelan Yura menghampiri Patricia kemudian ikut berjongkok di sebelahnya.


"Sayang, kakekmu meninggalkan ini untukmu. Dia juga berpesan agar kau mau menyayangi Eleanor seperti adikmu sendiri. Bacalah, baca baik-baik pesan yang di tinggalkan oleh kakekmu!.

__ADS_1


Awalnya Patricia diam tak bergeming. Dia tidak berminat untuk membacanya.


"Cia, ayo baca Nak!" bujuk Yura penuh harap.


Junio yang melihat kebebalan di diri Patricia segera ikut membujuknya. Dia mengusap bahunya pelan, sedikit memberinya kekuatan untuk membaca berkas tersebut.


Sambil menghela nafas panjang, Patricia akhirnya menerima berkas tersebut kemudian membacanya. Entah apa yang tertulis di dalam sana, karena tiba-tiba saja Patricia menangis histeris kemudian memeluk makam sang kakek yang masih basah.


"Hiksss, kenapa kau melakukan ini padaku, Kek. Aku sangat jahat pada kalian, aku kejam. Tapi kenapa Kakek masih sudi untuk menganggapku sebagai pewaris dari Keluarga Young? Hikss, aku tidak pantas, Kek. Aku tidak pantas!.


Sekarang semua orang tahu apa yang membuat Patricia menjadi begitu histeris. Rupanya Kakek Karim tidak menghapus nama Patricia dari daftar pewaris harta kekayaan milik Kelurga Young. Bryan yang memang tahu alasan kenapa ayahnya melakukan hal itu nampak tersenyum getir. Nama Patricia bisa ada di dalam berkas tersebut sebenarnya adalah karena keinginan Eleanor. Putrinya yang cantik itu tidak ingin kalau Patricia sampai merasa di anak tirikan. Jadi Eleanor membujuk almarhum ayahnya untuk membagi dua warisan yang seharusnya menjadi miliknya seorang. Tanpamu di sadari, sudut bibir Bryan terangkat keatas. Dia terharu akan kebaikan hati putrinya yang tidak tamak akan harta dan kekayaan. Sungguh, sikap Eleanor sangat mirip dengan sikap Sandara. Mereka berdua sama-sama wanita yang mempunyai hati putih seputih salju. Bryan merasa sangat beruntung karena kedua wanita ini merupakan bagian dari hidupnya.


Karena kelelahan menangis, Patricia akhirnya tertidur di atas makam sang kakek. Junio yang melihatnya pun segera meminta izin pada Tuan Bryan untuk membawa Patricia pulang ke rumah. Setelah itu semua orang pun beranjak pulang ke rumah masing-masing. Meninggalkan makam Tuan Karim yang kini arwahnya sudah berkumpul dengan putri yang dulu dia sia-siakan.


💜"Takdir hidup tiada siapalah yang tahu. Semua itu menjadi rahasia Illahi. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, namun tetaplah Tuhan yang Maha Berkehendak dan Maha Mengabulkan."💜


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: rifani_nini...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2