Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Memberi Penjelasan


__ADS_3

Sambil menunggu anak buahnya datang membawa istrinya, Gabrielle meminta penjelasan dari Reinhard. Rasanya dia sangat ingin membunuh temannya ini karena sudah lancang membiarkan istrinya keluar diam-diam.


Reinhard yang di tatap seperti itu oleh Gabrielle merasa sedikit bersalah. Tapi dia melakukannya karena memiliki alasan yang kuat. Reinhard juga tidak bodoh membiarkan istri temannya berkeliaran di luar saat ada musuh yang sedang mengancam.


"Jelaskan semuanya sebelum aku meledakkan kepalamu, Rein!" ucap Gabrielle dingin.


"Jangan marah dulu. Aku tidak sekeji itu mengumpankan istrimu pada orang jahat. Aku terpaksa mengizinkan Levi membawanya keluar karena tadi keadaan cukup pelik. Gabrielle, trauma yang di alami Elea sepertinya benar-benar sangat mengerikan. Dia hampir melompat keluar dari jendela saat aku tidak sengaja menyinggung masalah dokter di hadapannya. Itu alasan kenapa Levi mengajaknya keluar. Dia perlu membaur di keramaian untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kalut tadi!" jelas Reinhard dengan mimik wajah yang sangat serius.


Mata Gabrielle melotot begitu dia tahu kalau istrinya hendak melompat dari jendela ruangannya. Dia lalu menuntut Reinhard untuk mengatakan sejelas-jelasnya tentang kejadian itu.


"Ceritakan padaku penyebab kenapa Elea ingin melompat dari jendela. Dan,dan separah apa kejiwaannya sekarang?" desak Gabrielle panik.


Reinhard menarik nafas berat sambil menatap kearah Gabrielle. Dia lalu menceritakan kejadian yang hampir membuat nyawa Elea berada dalam bahaya.


Flashback


"Elea, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Reinhard hati-hati.


Elea yang sedang menikmati cemilan mengangguk. "Boleh Kak".


"Saat Levi membawamu pergi ke rumah sakit, kau merasa takut tidak?".


Untuk sejenak Reinhard merasa cemas. Dia khawatir kalau Elea akan memberikan respon yang kurang baik terhadap pertanyaan barusan.


"Takut, tapi lebih takut lagi saat Kak Levi mengancam akan menyayat seluruh tubuhku supaya aku mati kehabisan darah. Dia,dia mengancam, dia mengancam....


Perkataan Elea mulai tak beraturan. Dia terlihat gelisah, wajahnya yang tadi terlihat biasa saja tiba-tiba mulai memucat.


"Hei Elea, jangan panik. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Elea, di sini hanya ada aku dan Levi, kami tidak akan menyakitimu!" ucap Reinhard pelan.


"Dia,dia..Dokter itu, dia menyakitiku.. Dia... Aaaaaaaaaaaaa....!".


Elea berteriak histeris sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Levi yang saat itu tengah berada di dalam kamar mandi terlonjak kaget mendengar suara teriakan tersebut. Dia lalu berlari keluar.


"Ada apa Elea, kenapa kau berteriak sekencang itu?".


Reinhard menoleh. "Bantu aku menenangkannya Lev. Gabrielle bisa membunuhku jika aku sembarangan menyentuhnya!".

__ADS_1


Sadar kalau teman kecilnya sedang ketakutan, Levi bergegas memeluknya. Dia jatuh terjungkal ke belakang saat Elea dengan kasar mendorong tubuhnya seperti orang tidak sadar.


"Astaga Elea, kendalikan dirimu!" teriak Levi panik melihat Elea menjambaki rambutnya sendiri. "Reinhard, bagaimana ini. Apa yang kau lakukan padanya saat aku berada di kamar mandi, hah!".


"Shittt, aku tidak melakukan apapun padanya, Lev. Aku hanya bertanya seperti apa perasaannya saat kau membawanya ke rumah sakit. Itu saja!" sahut Reinhard berusaha untuk tetap tenang.


"Omong kosong. Kau seharusnya bertanya pelan-pelan, Reinhard. Dia sedang sakit, kenapa kau malah membuatnya semakin tertekan!" sentak Levi sambil menahan tangan Elea yang ingin menyakiti dirinya sendiri.


Lagi-lagi Levi terjatuh saat Elea kembali mendorongnya. Matanya melotot melihat Elea yang tiba-tiba berlari kearah jendela.


"Elea jangaann!" pekik Levi histeris saat teman kecilnya membuka kaca jendela kemudian naik kesana.


Reinhard yang sadar kalau Elea sudah tidak mampu menguasai pikirannya lagi, tanpa pikir panjang segera menarik tangannya kemudian merengkuh tubuh mungil itu. Dia terus mendekapnya erat, mengabaikan ancaman Gabrielle yang akan mengirimnya ke Afrika jika berani macam-macam pada istrinya.


"Ssstttt tenanglah, relaks Elea. Di sini aman, aku akan melindungimu. Tenang ya!" ucap Reinhard sambil mengusap-usap punggung Elea yang terus bergetar.


Elea terisak pilu saat pikirannya kembali normal. Tapi tidak ada setetes pun airmata yang keluar dari matanya. Levi yang sedang gemetaran di lantai segera berdiri kemudian menghampiri Reinhard yang sedang mendekap Elea. Dia ikut memeluknya.


'Ya Tuhan Elea, tubuhmu dingin sekali. Kau pasti sangat ketakutan!'.


"Emm Elea, mau jalan-jalan tidak? Bagaimana kalau kita pergi keluar membeli kain dan benang untuk belajar merajut?" tanya Levi berusaha membantu Elea melupakan rasa takutnya.


"Tapi aku tidak punya uang, Kak" sahut Elea lirih.


Reinhard melepaskan pelukannya. Dia menelisik mata Elea untuk mencari tahu bagaimana kondisinya sekarang.


'Matanya kosong, tapi baguslah kalau pikirannya sudah teralihkan. Astaga, aku bisa mati di gantung Gabrielle kalau tadi terlambat menyelamatkannya. Syukurlah Tuhan, Engkau masih mengizinkan aku untuk hidup!'.


"Siapa bilang kau tidak punya uang? Ingat tidak kartu yang kau tunjukkan padaku tadi? Di dalamnya itu ada uang yang sangat banyak. Kau bisa membeli apapun yang kau mau dengan kartu itu" jawab Levi sembari membelai pipi Elea penuh sayang.


Elea terdiam ragu. "Tapi Kak Iel bilang aku tidak boleh kemana-mana. Berbahaya!".


Levi tersenyum. Dalam keadaan takut seperti ini pun Elea masih sempat memikirkan larangan suaminya. Benar-benar istri yang sangat patuh.


"Tidak akan terjadi apapun padamu selama ada aku. Ayo berangkat!".


"Tapi Kak, di depan sana pasti banyak paman-paman yang berjaga. Mereka akan langsung melaporkan pada Kak Iel kalau aku tidak patuh!" ucap Elea bimbang.

__ADS_1


"Jangan khawatir Elea, masalah mereka serahkan saja padaku. Kalian berdua pergi saja, bersenang-senanglah!" timpal Reinhard kemudian melirik penuh maksud kearah Levi.


Levi paham. Setelah Reinhard berhasil mengalihkan perhatian para penjaga, dengan cepat dia membawa Elea pergi keluar. Levi membawanya menuju taman yang tak jauh dari perusahaan. Jika kalian penasaran bagaimana mereka bisa melewati para penjaga yang berada di depan pintu masuk perusahaan, jawabannya adalah mereka mengenakan masker untuk menutupi wajah. Dan ternyata Dewi Fortuna juga sedang berpihak pada mereka, dengan mudah mereka bisa melarikan diri dari sana.


Flashback Now


Tubuh Gabrielle lemas seketika begitu Reinhard menjelaskan kronologi kejadiannya. Dia tidak bisa membayangkan seandainya Elea benar-benar melompat ke bawah.


"Gabrielle, saat istrimu kembali tolong jangan marah. Peluk dia, beri dia tempat senyaman mungkin. Elea pasti masih sangat tertekan sekarang!" ucap Reinhard.


"Sebenarnya siapa dokter yang sudah membuat Elea jadi seperti ini, Rein? Rasanya aku sangat ingin mencabik tubuhnya!" geram Gabrielle sambil meninju sofa tempatnya duduk.


"Aku tidak tahu, Gab" jawab Reinhard sambil menekan pelipis mata. "Kenapa kau tidak menyuruh orang-orangmu saja untuk menyelidiki hal ini. Ibu,adik dan para sepupumu sangat hebat. Mereka pasti tidak akan kesulitan untuk mencari tahu kejadian seperti apa yang menimpa istrimu dulu. Sekaligus mencari tahu identitas dokter bajingan itu!".


Gabrielle menghela nafas. Sejak awal dia tahu kalau ada yang tidak beres pada Elea, Gabrielle langsung meminta Ares untuk menyelidiki masa lalunya. Dan hasilnya nihil, tidak ada satupun jejak yang tertinggal dari kejadian yang sudah membuatnya trauma. Namun ada beberapa rekaman CCTV yang bagiannya terpotong, seperti ada orang yang sengaja menghapus rekaman untuk menghilangkan jejak. Dan itulah yang menjadi tanda tanya besar di benak Gabrielle sampai sekarang.


"Aku akan menangani masalah ini tanpa melibatkan keluargaku, Rein. Sebagian sepupuku itu pria, aku tidak mau mereka berinteraksi terlalu dekat dengan Elea. Bagaimana kalau sampai mereka menyimpan perasaan lebih pada istriku?".


Reinhard mendengus begitu dia kembali di suguhkan dengan keposesifan Gabrielle yang sudah tidak ada obat. Kecemburuan temannya ini sudah sampai pada taraf stadium akhir.


"Ck, mana mereka. Kenapa lama sekali!" gumam Gabrielle sambil melihat jam di tangannya.


"Ingat Gab, jangan membahas apapun tentang kejadian tadi pada Elea. Bersikaplah seolah kau tidak mengetahui apa-apa. Biasanya, mereka yang sedang mengalami tekanan akan lebih sensitif terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya" ucap Reinhard mengingatkan.


"Aku bukan orang gila yang akan menaburkan garam di atas luka istriku, Rein. Tapi terima kasih sudah mengingatkan" sahut Gabrielle santai.


"Eh, bisa juga mulutmu itu mengucapkan kata terima kasih? Waahh, harus masuk rekor muri itu Gab!" ledek Reinhard sambil memainkan kedua alisnya.


Keduanya tertawa. Mereka terus membicarakan tentang kondisi mental Elea sambil menunggu gadis itu kembali.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2