Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Mawar Berdarah


__ADS_3

"Ekhmm Nona, apa kau menyukai bunga mawar putih?."


Elea yang saat itu sedang asik melihat-melihat bunga sedikit kaget saat ada yang bertanya padanya. Dia lalu menoleh, menatap bingung kearah pria yang sedang berdiri di sebelahnya.


'Kenapa suaranya seperti tidak asing ya?.'


"Nona, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Jack gemas melihat kelakuan gadis kecilnya.


"A, oh tidak tidak. Itu, apa kau sedang bicara denganku, Tuan?" jawab Elea sembari menunjuk hidungnya sendiri.


"Iya, aku sedang bicara denganmu" sahut Jack kemudian memetik setangkai mawar. "Kau suka bunga ini?."


Masih dengan memperhatikan pria di sebelahnya, Elea menganggukkan kepala. Aneh, tiba-tiba saja tengkuknya merinding. Seperti ada angin yang membisikan padanya jika ada hal buruk di sekitar tempat itu. Elea kemudian melihat kearah Levi, mulai gelisah karena wajah dokter itu terbayang di kelopak matanya.


"Elea, ada apa? Kenapa wajahmu jelek sekali?" tanya Levi khawatir.


"Kak Levi, perasaanku mendadak tidak enak. Aku takut sekali" jawab Elea mulai panik.


Tatapan Jack menajam saat Eleanor tak menyadari siapa dirinya. Dia merasa aneh, jelas-jelas malam itu Eleanor melihat wajahnya, tapi kenapa reaksinya seolah mereka tak pernah bertemu. Padahal Jack sangat berharap kalau gadis kecilnya akan langsung berteriak ketakutan begitu dia datang menyapa. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, entah Eleanor hanya berpura-pura atau memang benar tak mengingatnya. Jack tak mengerti.


'Sayang, tidak mungkin kau sudah melupakan aku kan? Ini aku sayang, pria yang malam itu meninggalkan kenangan manis untukmu.'


"Kau takut kenapa, hem? Ayo katakan padaku ada apa!" cecar Levi yang juga ikut merasa panik.


"Maaf Nona aku ikut menyela, ini ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu kalian?" tanya Jack mencari tahu.


Sejenak Levi menatap bingung kearah Jackson. Dia ingin bicara, namun ingat kalau mereka hanyalah orang asing yang tidak sengaja saling mengenal karena sebuah kesalahpahaman. Tapi melihat wajah Elea yang mulai memucat, mau tidak mau Levi akhirnya menjawab pertanyaan Jackson.


"Begini Jackson, temanku ini mengidap satu trauma buruk terhadap seorang dokter. Maksudku dia pernah terlibat satu kejadian dengan pria berseragam putih itu. Dan sekarang dia sedang di cari oleh dokter tersebut, makanya dia mudah merasa tidak nyaman berdekatan dengan orang lain!."


Jack tersenyum samar. "Tapi di sini kan tidak ada dokter?."


"Ada, kau" jawab Levi sambil menunjuk dadanya Jackson. "Untung saja kau tidak memakai seragammu. Jika iya, temanku ini pasti akan langsung histeris dan kehilangan kendali."


"Kenapa bisa begitu? Aku kan bukan orang yang bermasalah dengan temanmu? Kenapa dia harus histeris saat aku mengenakan seragam dokter?" tanya Jack menyelidik.


Levi menarik nafas kemudian melihat sedih kearah Elea. Dia lalu menarik makhluk kecil itu ke dalam pelukannya. "Karena di matanya orang-orang yang mengenakan seragam putih adalah orang jahat. Temanku sangat truma sampai dia menganggap kalau semua dokter memiliki niat yang sama seperti dokter yang telah mencelakainya. Itulah kenapa dia jadi seperti ini!."

__ADS_1


Tanpa Levi dan Elea sadari, di sudut bibirnya Jack muncul sebuah smirk yang sangat menakutkan. Dia sekarang tahu kenapa Eleanor tidak mengenalinya.


'Jadi pertemuan pertama kita begitu membekas di hatimu ya sayang? Aku pikir tadi kau sudah melupakan aku, ternyata karena hal ini ya. Hahhahha Eleanor sayang, tidak kusangka cintamu begitu besar padaku sampai-sampai menganggap semua orang sama sepertiku. Kau sangat manis, sayangku.'


"Oh, maaf Nona Levi. Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan pasienku seorang diri di sana. Aku permisi dulu dan Nona...


"Namanya Elea" imbuh Levi.


"Nona Elea, jangan takut. Aku yakin dokter itu tidak akan melakukan apapun padamu. Kau tidak sendiri, ada Nona Levi dan juga para pengawal yang menjaga anda. Tenanglah!" lanjut Jack seraya melirik kearah para pengawal yang sedang berjalan mendekat.


Elea yang berada di pelukan Levi segera mengangkat kepalanya untuk memastikan apakah benar di sana ada para pengawal. Dia lalu menarik nafas lega begitu melihat para penjaga yang sedang berjalan kearahnya.


"Syukurlah, syukurlah" gumam Elea sambil mengelus dada.


Tangan Jack mengepal kuat saat para penjaga itu menatap curiga kearahnya. Dia lalu berpura-pura terlihat biasa saja sambil memetik beberapa tangkai bunga mawar putih.


"Nona Levi, Nona Elea, aku permisi dulu. Senang berkenalan dengan kalian berdua" pamit Jack kemudian memberikan satu tangkai bunga mawar putih pada gadis kecilnya. "Anggap ini salam perkenalan dariku, Nona Elea."


Saat Elea hendak menerima bunga tersebut, tiba-tiba di matanya melintas sebuah gambaran dimana bunga mawar putih ini berubah menjadi mawar merah setelah tangannya berlumuran darah akibat tertusuk duri yang tersembunyi di balik tangan seseorang. Tapi karena tak ingin membuat Levi dan pria ini merasa curiga, dengan berat hati Elea menerima bunga tersebut.


"Jackson" sambung Jack cepat.


Elea mengangguk. "Terima kasih banyak untuk bunganya, Tuan Jackson."


Setelah itu Jack bergegas pergi dari sana. Dan dia benar-benar memberikan bunga tersebut pada wanita yang duduk di kursi roda saat menyadari kalau Levi dan Elea masih memperhatikannya dari jauh. Dia lalu mendorong kursi roda milik wanita itu untuk sedikit menjauh dari sana. Yakin kalau posisinya sudah aman, Jack segera pamit pada wanita tersebut kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya. Jack merasa sangat puas setelah mengetahui kalau gadis kecilnya ternyata menyimpan dengan sangat rapi kenangan indah di malam yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka.


Sedangkan Elea, dia merasa sedikit aneh dengan pria bernama Jackson itu. Tapi Elea juga tidak berani menuduhnya secara langsung karena dia sendiri tak memiliki bukti kalau Jackson adalah dokter yang mencelakainya beberapa tahun lalu.


"Elea, kau kenapa sih?" tanya Levi heran. "Kau menatap Jackson seperti dia adalah seorang penjahat saja!."


"Aku tidak tahu, Kak Levi. Hanya saja perasaanku terasa tidak nyaman berada di dekatnya" jawab Elea ragu.


Levi menghela nafas pelan. Dia lalu mengelus puncak kepala teman kecilnya ini. "Elea, Jackson itu berprofesi sebagai dokter. Dia bisa berada di taman ini karena sedang menemani pasiennya berjalan-jalan, jadi tidak mungkin kalau Jackson itu adalah Jack-Gal. Dia terlalu baik dan juga terlalu tampan untuk menjadi seorang penjahat!."


Kepala Elea tertunduk. Bukan karena mendengar penjelasan Levi, melainkan bayangan mawar berdarah yang kembali muncul di matanya. Takut terjadi sesuatu, Elea segera membuang bunga pemberian Jackson kemudian menatap kedua tangannya lama.


Melihat perilaku Elea yang terlihat janggal, Levi akhirnya memutuskan untuk segera mengajaknya kembali ke mobil. Dia khawatir kalau teman kecilnya ini akan hilang kendali seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


"Nyonya Elea, apa anda baik-baik saja?" tanya pengawal khawatir.


"Hah? Kenapa Paman?" sahut Elea balik bertanya.


Para pengawal saling menatap heran. Satu di antara mereka kembali bertanya. "Nyonya baik-baik saja?."


"Iya, aku aku baik-baik saja" jawab Elea.


Kening Levi mengernyit merasakan getaran di tangannya. Dia lalu menunduk, melihat betapa tangan Elea tengah bergetar kuat.


"Elea, tidak apa-apa. Dokter itu tidak ada di sini, jangan takut" ucap Levi sembari mengelus tangan yang sedang gemetaran itu.


"Ada Kak, dokter itu ada di sini. Aku, aku bisa merasakan kehadirannya, dia ada di sekitar kita" sahut Elea ketakutan.


"Elea hei, kendalikan dirimu. Di sini ada aku dan para penjaga, dia tidak akan berani mendekatimu!."


Saat Levi sedang menenangkan Elea dari ketakutannya, dari dalam taman muncullah seseorang dengan penampilan yang sangat mengenaskan. Rambutnya acak-acakan serta wajah dan pakaiannya terlihat begitu kotor karena debu. Seseorang itu melangkah terseok-seok dengan tatapan mata yang kosong. Tapi beberapa detik kemudian, matanya yang kosong itu tiba-tiba terbelalak lebar. Mulutnya ternganga dengan tubuh yang menegang kaku.


"El, Eleanor......."


Dari mata pria tersebut menetes beberapa cairan bening saat dia melihat seorang gadis yang sedang berdiri di samping mobil. Tak ingin kehilangan moment tersebut, pria itu segera berlari menghampiri. Dia bahkan hampir terjatuh karena matanya yang tidak memperhatikan jalan, terlalu fokus menatap kearah gadis kecil yang kini hendak masuk ke dalam mobil.


"Eleanor, t, tunggu..... Eleanor... Eleanor.....!!!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


SIAPAKAH SESEORANG ITU??? JENG JENG JENG..


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2