Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Penjelasan


__ADS_3

Gleen terdiam seperti orang bodoh ketika melihat kemunculan Elea disana. Tangannya yang masih mengarahkan senjata ke mulut mertuanya Gabrielle terhempas ke belakang begitu Elea menendangnya dengan sangat kuat.


"Apa yang kau lakukan pada Ibuku hah! Kenapa Paman menyakitinya!" teriak Elea murka sambil menatap tajam kearah Gleen.


"Elea, kau tidak mati?" tanya Gleen kebingungan.


"Apa menurut Paman ada orang mati yang bisa menapakkan kakinya ke tanah? Tidak kan?.


"Tapi bukannya kau ada di dalam bangunan yang meledak itu ya? Aku melihatmu masuk ke dalam sana bersama wanita kejam ini" jawab Gleen sembari menunjuk wajah mertuanya Gabrielle yang terkapar di lantai.


"Turunkan jarimu atau aku akan mematahkannya sekarang juga!" amuk Elea kemudian segera berjongkok di samping ibu sambungnya. "Bibi, Bibi tidak apa-apa kan?.


Yura mengangguk lemah. Dia kemudian melihat kearah suaminya yang sedang tercengang. Yura tahu kalau suaminya sedang sangat syok melihat apa yang terjadi, suaminya pasti kebingungan melihat kemunculan anak sambungnya yang ternyata masih hidup dan baik-baik saja.


"B-Bryan...


Bryan mengerjapkan mata.


"Yura, ini sebenarnya apa yang terjadi? Ini, ini Elea kenapa bisa ada disini? Bukankah dia sudah mati? Dia-dia menjadi hantu atau bagaimana? Apa yang terjadi sebenarnya?.


Elea yang melihat ayahnya kebingungan segera memberi penjelasan. Namun sebelum dia berbicara, dia terlebih dahulu meminta Ares untuk membawa ibu sambungnya pergi ke rumah sakit. Elea benar-benar sangat tidak tega melihat banyaknya luka di wajah ibu sambungnya, belum lagi dengan luka yang tersembunyi di balik bajunya. Melihat Gleen yang begitu emosi Elea yakin sekali pastilah ibu sambungnya mendapat perlakuan yang sangat kasar darinya.


"Ares, tolong bawa Bibi Yura ke rumah sakit. Nanti aku akan menyusul kesana setelah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!.


"Baik, Nyonya" jawab Ares kemudian segera meminta para pelayan membawa Nyonya Yura ke dalam mobil.


Gabrielle kemudian berjalan menghampiri Elea yang masih berjongkok di lantai. Dengan penuh sayang dia membantunya berdiri kemudian memeluknya. Ada kekhawatiran di benak Gabrielle ketika menyaksikan emosi Elea yang tiba-tiba meledak. Dia tidak ingin istrinya kehilangan kendali di hadapan semua orang akibat apa yang di lakukan Gleen terhadap ibu sambungnya.


"Tarik nafas perlahan-lahan kemudian hembuskan. Kau harus tenang sayang, jangan emosi. Ada Ayah dan Kakek Karim disini, kau bisa membuat mereka terkejut jika tidak bisa menahan diri" bisik Gabrielle berusaha menenangkan.

__ADS_1


Elea segera mengikuti arahan suaminya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat di hutan tadi.


Flashback


"K-kau tahu rencana ini?.


"Iya. Patricia kan yang memaksa Bibi untuk membawaku ke tempat ini?.


Elea terus memperhatikan raut wajah ibu sambungnya yang terlihat sedih. Dia tahu kalau sebenarnya wanita ini tidaklah jahat, hanya saja ibu sambungnya sedang terjebak di dalam simalakama. Sadar kalau waktunya semakin menipis, Elea segera mengajak ibu sambungnya untuk keluar dari dalam bangunan melalui pintu belakang. Dan begitu mereka tiba di luar, bangunan itu langsung meledak.


"Astaga, ini-ini kenapa bangunannya bisa meledak?!" pekik Yura syok.


"Lho, memangnya Bibi tidak tahu kalau Patricia sudah memasang bom di tempat ini?" tanya Elea kaget.


Yura menggelengkan kepala. Dia mencoba mengingat-ingat percakapannya dengan Patricia semalam. Hingga akhirnya Yura jatuh terduduk di tanah begitu dia menyadari sebuah kenyataan pahit tentang dirinya yang ternyata juga sudah di targetkan untuk mati di tempat yang sama dengan anak sambungnya.


Tangan Elea terkepal kuat. Sedikit sulit untuk di percaya kalau wanita blonde itu ternyata juga berniat menyingkirkan ibu sambungnya. Sungguh tega, harta benar-benar membuat mata hati seseorang tertutup. Elea kemudian duduk di sebelah ibu sambungnya, mengusap bahunya yang sedang terguncang-guncang akibat tangisannya yang terdengar pilu.


"Jangan menangis lagi, Bi. Yang terpenting sekarang kita selamat dari rencana Patricia."


"Hikssss, Bibi tidak menyangka kalau Patricia akan setega ini pada Bibi. Selama ini Bibi berusaha untuk menuruti apa yang dia inginkan, bahkan Bibi dengan tega membawamu kemari hanya demi memenuhi keserakahannya yang tidak akhir. Tapi-tapi apa yang sudah dia lakukan? Dia tega ingin membunuh Bibi, dia tega mengumpankan Bibi ke dalam bahaya besar seperti ini" sahut Yura sedih. "Elea, tolong maafkan kesalahan Bibi ya. Bibi benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Bibi terjebak oleh kebodohan yang Bibi buat sendiri. Saat pertama kali kau datang, Bibi sempat menyetujui keinginan Patricia untuk menyingkirkanmu. Bibi takut Ayahmu akan mengabaikan Bibi. Tapi ternyata semua itu terjadi, Ayahmu malah berbaik hati ingin memperbaiki semuanya. Maafkan Bibi Elea, Bibi lah yang paling salah disini. Tolong ampuni Bibi Nak, ampuni kekhilafan yang sudah Bibi lakukan padamu!.


Elea tersenyum. Dia sudah tahu mengenai hal ini dari suaminya. Toh ibu sambungnya melakukan hal ini juga karena takut kehilangan ayahnya, bukan karena semata-mata ingin menyingkirkannya. Tak ingin berlarut membiarkan ibu sambungnya bersedih, Elea segera memberinya sebuah pelukan yang hangat. Rasa sayang di diri Elea rupanya sanggup melunturkan kekecewaan terhadap wanita yang sedang di peluknya. Dia memang kecewa karena wanita ini pernah memiliki niat jahat padanya, namun Elea terharu karena wanita ini mau mengakuinya secara terus terang meksipun sedikit terlambat. Elea mencoba memposisikan dirinya sebagai Bibi Yura dimana dirinya harus terjebak oleh hasutan anak angkat yang sudah di rawatnya sejak kecil, kemudian harus menerima kenyataan pahit kalau putrinya akan membiarkannya mati dalam ledakan bom yang sudah di pasang di tempat ini. Membayangkan hal itu membuat perasaan Elea menjadi sangat terenyuh. Hati Bibi Yura pasti sangat sakit sekarang.


Setelah tenang, Elea mengajak ibu sambungnya untuk pergi dari sana. Namun mereka di kejutkan oleh keberadaan seorang penjaga yang sedang terluka parah di sekitar bangunan yang baru saja meledak.


Flashback Now


"Begitu ceritanya Ayah, Kakek, Paman Gleen. Bibi Yura tidak bersalah, dia juga adalah korban, sama sepertiku. Kau sudah salah paham padanya, Paman Gleen. Kau sudah menyerang orang yang tidak bersalah!.

__ADS_1


Gleen tergugu. Dia jadi merasa bersalah karena sudah menghajar ibu mertuanya Gabrielle dengan membabi buta. Untung saja tadi dia tidak langsung melindas kepala wanita itu, bisa panjang urusannya kalau semua itu benar-benar dia lakukan.


"Eleanor, tapi kau baik-baik saja kan Nak? Kau tidak terluka kan?" tanya Bryan sambil berjalan menghampiri putrinya.


"Aku baik-baik saja, Ayah. Semua ini berkat Kak Iel dan Ares, merekalah yang sudah mengatur semua ini. Seandainya Bibi Yura tidak mengakui semuanya, mungkin aku akan membiarkannya mati di dalam ledakan itu. Dia sangat syok ketika tahu kalau Patricia sudah menargetkannya untuk mati di tempat itu. Ayah, kau harus memaafkan Bibi Yura, dia terpaksa melakukan ini semua karena takut kehilanganmu. Dia sangat mencintai Ayah, Ayah tidak boleh membencinya" jawab Elea penuh harap. "Ayah mau kan memaafkan kekhilafan Bibi Yura?.


Bryan terdiam. Kemarahan tentu saja masih menyelimuti hatinya. Namun melihat putrinya yang memohon agar dirinya mau memaafkan kesalahan Yura, dia akhirnya mengangguk setuju. Bryan berusaha memahami perasaan istrinya yang takut di abaikan meskipun selama ini Bryan memang selalu mengabaikannya.


"Jadi dalang dari ini semua adalah Patricia?" ucap Gleen penuh benci.


"Ya. Dialah orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Lusi dan penjaga itu" jawab Gabrielle.


"Hei Bung, tenang saja!" timpal Junio sambil menepuk pundak Gleen.


Sebelah alis Gleen terangkat keatas. Setelah itu dia menyeringai jahat begitu menyadari arti tatapan mata sahabatnya.


"Ayo pergi!" ajak Junio kemudian mengangguk kearah Gabrielle. "Tolong sampaikan permintaan maaf kami pada Nyonya Yura, Gab. Kami akan segera menjenguknya setelah urusan ini selesai!.


Gabrielle yang tanggap pun langsung menganggukkan kepala. Dia tersenyum, senang karena hidup Patricia akan segera berakhir di tangan dua orang pengidap kelainan aneh itu. Sepeninggal Gleen dan Junio, Gabrielle segera mengajak semua orang untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Lusi dan juga Yura.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2