
Tiga bajak sungai yang melompat dengan bambu sudah tiba di perahu kecil yang ditumpangi Cakra Buana. Mereka langsung hinggap di depan dan belakang Cakra Buana. Seperti sudah terlatih, dan memang mereka sudah terbiasa melakukan hal ini.
Dua sampan pun sudah mengepung dari depan dan belakang pula.
Pada awalnya, jumlah mereka ada tujuh orang. Akan tetapi, tiba-tiba saja dari depan sana, muncul seorang lagi. Tapi bukan naik ataupun ataupun memakai bambu. Melainkan menaiki buaya.
Orang itu memiliki perawakan gagah. Usianya baru sekitar empat puluh tahunan, wajahnya angker, bajunya berwarna putih seperti terbuat dari kulit buaya. Bahkan ikat kepalanya juga seperti dari kulit buaya. Tangan kanannya menggenggam sebuah ekor buaya yang lumayan panjang. Sepertinya itu senjata orang tersebut.
"Serahkan barang-barang yang kalian bawa!!!" kata salah seorang yang ada dihadapan Cakra Buana.
"Hemmm … bolehkah aku tahu siapa ki dulur semua?" tanya Cakra Buana dengan tenang. Dia tidak mengindahkan sama sekali perintah orang tersebut.
"*******!!! Apa kau tidak pernah mendengar nama besar Perompak Bajak Sungai Buaya Putih?" orang itu menggeram marah dengan pertanyaan Cakra Buana tersebut.
"Maaf, aku tidak pernah mendengar nama itu," jawab Cakra Buana masih dengan tenang.
"Kurang ajar!!! Cepat serahkan semua barang yang kau bawa sebelum kami menurunkan tangan kejam kepadamu,"
"Tidak. Ini barang kami, dan kalian tidak ada hak soal itu,"
"Keparat!!! Kau cari ******," bentak orang itu.
Tiba-tiba saja, seperti mendapatkan komando, tiga orang yang didepan Cakra Buana langsung menerjang. Meskipun perahu itu kecil, akan tetapi ketiganya nampak tidak kesulitan dalam bergerak. Bahkan perahu pun hanya bergoyang sedikit.
Hal ini saja sudah menandakan bahwa mereka bukanlah pembajak sungai sembarangan.
Memang sebenarnya juga demikian, Perompak Bajak Sungai Buaya Putih sudah mempunyai nama yang cukup besar. Terlebih pemimpinnya yang selalu menaiki sekor buaya putih. Bukan hanya orang biasa, bahkan sebagian para pendekar sekalipun agak gentar menghadapi pemimpin itu. Apalagi jika bertarung diatas air. Kesempatan untuk menang sangat kecil.
Jika kemampuan Cakra Buana masih rendah, sudah pasti dia gentar melihat gerakkan ketiga orang itu. Akan tetapi Cakra Buana bukanlah pendekar muda sembarangan, dia sudah digembleng lahir batin oleh seorang pendekar tanpa tanding pada zamannya.
Maka menghadapi serangan ini, dia sama sekali tidak takut.
__ADS_1
"Plakkk …"
"Plakkk …"
"Plakkk …"
Kaki tangan ketiga orang itu terkena tamparan kedua telapak tangan Cakra Buana. Hanya sekali gebrak, ketiganya langsung terhuyung dan hampir tercebur ke sungai.
"*******!!!"
"Haittt …"
Mereka kembali menerjang. Akan tetapi Cakra Buana sudah tidak mau berlama-lama, apalagi ditambah wajah nelayan yang ketakutan. Dia merasa kasihan.
"Haittt …"
Cakra Buana melompat dan langsung memberikan tendangan memutar. Tendangan itu begitu cepat, sehingga tahu-tahu ketiga orang tersebut sudah tercebur ke sungai.
"Haittt …"
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Sebuah tendangan bersarang pada dada masing-masing dua orang. Keduanya kembali tercebur dan tidak berani kembali menyerang. Sedangkan sisanya yang berjumlah dua orang juga, hanya termenung melihat sepak terjang pemuda serba putih itu.
Cakra Buana masih berdiri diatas sampan perompak itu, dia memandang kepada seseorang yang berdiri diatas seekor buaya putih. Orang itu memang cukup kaget melihat bagaimana Cakra Buana menaklukkan anak buahnya, tapi kekagetan itu segera berubah menjadi senyuman.
"Hebat … hebat …" kata orang tersebut sambil bertepuk tangan dan tiba-tiba saja, entah bagaimana caranya, orang itu sudah ada dihadapan Cakra Buana dengan jarak sekitar tiga tombak.
"Kau pemimpin mereka? Siapa namamu?" tanya Cakra Buana sambil memandang tajam.
__ADS_1
"Benar, dugaanmu tidak salah. Aku biasa disebut ki Baya," jawab orang yang mengaku ki Baya tersebut.
"Oh … pergilah, kumohon jangan ganggu perjalananku. Aku juga tidak akan mengganggumu," kata Cakra Buana.
"Hahaha … enak sekali kau bicara seperti itu anak muda. Setelah anak buahku kau lemparkan ke sungai, kau menyuruhku pergi? Hahaha … berani sekali kau,"
"Aku melakukan semua itu hanya sebagai bentuk membela diri,"
"Tidak ada alasan untuk itu. Kau tetap harus mempertanggungjawabkan semuanya,"
"Hemmm … kau menantangku bertarung?"
"Apakah kau tidak berani kepadaku?"
"Hemmm … pantang bagiku untuk takut kepada orang sepertimu. Majulah!" tantang baik Cakra Buana.
Mendengar tantangan dari seorang pemuda, tentu saja kemarahan ki Baya langsung memuncak. Seketika itu juga, dia langsung melompat dari buayanya dan mengirimkan sebuah pukulan kepada Cakra Buana.
"Haittt …"
Cakra Buana yang memang sudah dalam posisi siap, dia tidak kaget lagi melihat serangan tiba-tiba ini. Kedua tangannya langsung bergerak untuk menyambut pukulan tersebut.
"Bukkk …"
Keduanya terpundur satu langkah ke belakang. Ki Baya sedikit tersentak karena ternyata pemuda itu mampu menahan pukulannya. Bahkan sampai membuat dia terpundur.
Cakra Buana semakin serius karena menyadari bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan. Dari adu pukulan saja dia sudah faham bahwa ki Baya memiliki kanuragan cukup tinggi.
###
Mohon maaf ya baru up mhehe. Kemarin ada urusan, semoga dimengerti ya😁
__ADS_1
Selamat membaca🙏