Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Uji Coba Yang Menjadi Sungguhan


__ADS_3

Dengan mudah saja murid Eyang Resi Patok Pati itu menghindari serangan pertama berupa sebuah tendangan tersebut, hanya dengan menggeser kakinya, tendangan Dewi Bulan hanya mengenai tempat kosong.


Akan tetapi dengan cepat sekali dia membalikkan tubuhnya lalu kembali memberikan tendangan susulan. Cakra Buana kaget melihat kecepatan nenek tua yang dijuluki Dewi Bulan itu, gerakannya sungguh cepat dan tiba-tiba.


Karena tidak ada waktu untuk menghindar, terpaksa pemuda serba putih itu menahan tendangan tersebut.


"Dukkk …"


tangan kirinya menangkis tendangan yang bergerak dari samping itu. Akibatnya adalah Cakra Buana terhuyung beberapa langkah karena ternyata tendangan itu mengandung tenaga dalam yang cukup kuat.


Sedangkan Dewi Bulan tetap diam tak bergeming setelah menarik kembali kaki kirinya yang tadi digunakan untuk menendang itu.


"Boleh juga kau anak muda. Kerahkan semua kemampuanmu, aku ingin tahu sampai dimana kepandaian yang kau miliki," kata Dewi Bulan dengan suara agak mengandung tekanan.


"Akan tatapi …"


"Jika kau ingin selamat, turuti semua ucapanku," katanya dengan nada berubah jadi dingin.


Cakra Buana tak mampu lagi membantah. Kali ini dia pun berniat untuk mengeluarkan kekuatan aslinya.


Dewi Bulan menancapkan tongkatnya hingga melesak masuk ke tanah beberapa jengkal. Kemudian dia sudah bersiap kembali untuk melanjutkan 'uji coba' itu.


"Bersiaplah …" teriaknya memberi peringatan.


Cakra Buana yang memang sudah siap, tak heran lagi mendengar peringatan itu. Dia sudah mengambil sikap kuda-kuda yang kokoh dan tak mudah ditembus lawan.


Serangan Dewi Bulan datang. Kedua tangannya memberikan pukulan beruntun yang mengincar bagian lemah Cakra Buana. Pukulan tangan kanan dan kiri terus bergantian beberapa saat lamanya.


Cakra Buana yang tadi hanya menghindari serangan saja, kini mulai membalas serangan-serangan itu.


Kedua tangannya mengikuti kemana tangan Dewi Bulan memberikan serangan. Sehingga serangan-serangan nenek tua itu bisa dipatahkan ditengah jalan. Akan tetapi setiap menahan serangan, Cakra Buana merasakan betapa tangannya selalu bergetar cukup kencang.


Sedangkan Dewi Bulan hanya merasa tangannya sedikit bergetar saja. Nenek tua itu semakin penasaran ketika semua serangannya gagal. Dia kembali menyerang dengan rangkaian jurus berbahaya.

__ADS_1


Tangan dan kakinya berkelebat menyambar ke segala arah. Dari atas ke bawah, dari samping kanan ke samping kiri.


Adu jurus pukulan dan tendangan tak terelakkan lagi. Semakin lama pertarungan Cakra Buana melawan Dewi Bulan semakin seru dan sengit. Hingga pada jurus ketiga puluh, Dewi Bulan memberikan sebuah serangan tapak yang mengandung jurus berbahaya.


"Tapak Kawah Bulan …"


"Desss …"


Deru angin yang mengandung hawa dingin bergerak ke arah Cakra Buana. Karena sadar bahwa serangan ini sangat berbahaya, dia pun tidak menghindarinya.


"Ajian Tapak Dewa Nanggala …"


"Desss …"


Dua jurus tingkat tinggi bertemu hingga menimbulkan suara seperti sebuah ledakan. Keduanya terpundur beberapa langkah.


"Anak muda, apa maksudmu ini? Kau bilang tidak memiliki kepandaian tinggi, ini buktinya apa? Kau bahkan mampu menahan jurus Tapak Kawah Bulan milikku. Hemmm … apakah kau mempermainkanku?" tanya Dewi Bulan dengan tatapan tajam menyelidik.


Kemudian matanya memandang Cakra Buana dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Tutup mulutmu bocah pembohong. Kali ini aku tidak akan bermain-main lagi melawanmu. Aku paling tidak suka dibohongi. Apalagi oleh seorang bocah kemarin sore sepertimu," katanya dengan nada marah.


Cakra Buana menjadi bingung sendiri, bukankah tadi dia sendiri yang menyuruhnya untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya? Lalu kenapa dia bisa marah ketika Cakra Buana mengeluarkan salahsatu ajian tingkat tingginya? Entahlah. Dia sendiri tidak mengetahui hal itu.


Sebenarnya, Dewi Bulan adalah seorang pendekar wanita tua yang namanya sudah dikenal luas didalam dunia persilatan. Siapapun pasti tahu siapa dan bagaiamana Dewi Bulan.


Jarang ada orang yang berani menantang ataupun berani melakukan hal konyol dengannya. Karena Dewi Bulan memiliki watak yang unik. Dia selalu bertindak sesukanya.


Entah berada dijalur lurus ataupun jalur sesat. Karena setiap saat, dia bisa saja berubah. Kadangkala dia membantu orang yang membutuhkan, namun tak jarang juga dia sendiri yang menjadi penggangu ketentraman orang lain.


Dewi Bulan melompat mundur ke belakang lalu mencabut kembali tongkat berbentuk bulan sabit yang tadi ditancapkan. Agaknya kali ini dia benar-benar akan melakukan sebuah pertarungan sungguhan.


Terlihat dari raut mukanya yang memerah menandakan bahwa dia sedang menahan amarah yang besar.

__ADS_1


Cakra Buana tidak melarikan diri. Karena menurutnya itu hanya akan memperumit masalah. Sebaliknya, dia akan berusaha menghadapi nenek tua itu meskipun kepandaian Dewi Bulan berada diatasnya.


Cakra Buana sudah siap kembali. Kali ini dia mengalirkan seluruh tenaga dalamnya ke anggota tubuh yang mungkin akan mendapatkan sebuah serangan dari lawan.


"Haittt …"


Dewi Bulan menerjang menggunakan tongkat bulan sabit miliknya sambil membentak dengan suara yang nyaring. Tongkat itu ditusukan ke arah jantung lawan. Cakra Buana menghindari serangan ini dengan melompat ke belakang.


Akan tetapi nenek tua itu sudah kembali menyerangnya dengan tongkat pusaka tersebut. Dia mengayunkan tongkatnya hingga sedemikian rupa. Nampak sinar hitam berkelebat ketika tongkat itu mulai digerakan.


"Bukkk …bukkk … bukkk …"


Cakra Buana menahan serangan tongkat Dewi Bulan menggunakan dua tangannya. Semakin banyak serangan yang ditahan, semakin nyeri juga rasanya.


Hingga pada suatu kesempatan, nenek tua yang berjuluk Dewi Bulan itu menghantam bahu kanan Cakra Buana dengan telak.


"Ughhh …"


Cakra Buana jatuh berlutut ketika tongkat Dewi Bulan mengenai bahunya. Ada rasa sakit dan perih yang dirasakan Cakra Buana disekitar area bahu kanannya.


Pemuda serba putih itu berusaha melepaskan diri dari tongkat bulan sabit yang terus menekannya. Beberapa kali mencoba, tapi hasilnya gagal.


Sehingga terpaksa Cakra Buana mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa lepas dari tongkat itu yang semakin lama semakin menekan itu.


"Haaa …"


Cakra Buana berteriak nyaring sehingga tongkat itu pun terangkat dari bahunya yang kini terasa lumpuh. Akan tetapi belum sempat ia berdiri dengan benar lagi, sebuah tendangan dengan telak menusuk dadanya dengan keras.


"Bukkk …"


"Ughhh …"


Cakra Buana terlempar ke belakang lalu bergulingan beberapa kali. Entah bagaimana caranya Dewi Bulan bisa melakukan hal seperti itu. Sepertinya dia sudah menduga bahwa pemuda itu bisa melepaskan diri dari tekanan tongkatnya.

__ADS_1


Sehingga ketika pemuda itu berhasil lepas, maka dengan gerakan mendadak, kedua kakinya diangkat lalu menjejak dada Cakra Buana dengan sangat telak. Dia terjatuh dengan posisi telungkup dan tangan kirinya sudah menopang tubuh. Sehingga dengan segera dia bisa berdiri kembali.


Sedangkan Cakra Buana masih berusaha untuk bangun. Ada sedikit darah yang keluar dari sudut bibir kirinya. Dadanya pun terasa remuk sehingga membuatnya kesulitan bernafas.


__ADS_2