Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Empat Pendekar Kerajaan


__ADS_3

"Apakah kau juga merasa bahwa Prabu Ajiraga tidak percaya kepada kita?" tanya Cakra Buana lagi.


"Tepat seperti apa katamu. Menurutku mereka memang tidak percaya kepada kita. Aku tahu karena saat bicara, sesekali melirik wajahnya. Aku bisa melihat dari tatapannya," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Menurutku, ada sesuatu yang sudah terjadi sebelumnya paman,"


"Jelaskan," pinta Pendekar Tangan Seribu.


"Kemungkinan besar ada seseorang yang telah melaporkan kematian Sepuluh Pendekar Saudara sebelum kita. Dan apa yang orang pertama ini jelaskan, sepertinya bertolak belakang dengan apa yang baru saja kita sampaikan. Sehingga pihak Kerajaan Kawasenan tidak begitu kaget saat kau bicara tadi. Kemungkinan besar sudah tahu bahwa ada sesuatu di balik semua ini …," jelas Cakra Buana.


Pendekar Maung Kulon itu berhenti bercerita. Pesanan sudah siap dan baru saja datang. Pendekar Tangan Seribu berniat untuk segera mencicipinya, namum segera ditepis oleh tangan Cakra Buana.


"Kita pergi sekarang," bisik Cakra Buana.


"Tapi … aku baru saja mau makan pangeran,"


"Turuti kataku. Kita pergi sekarang," Cakra Buana kembali berbisik. Namun kali ini ucapannya agak ditekan.


"Haihh … baiklah, baiklah," kata Pendekar Tangan Seribu sedikit kesal.


Kemudian ia segera memberikan bayarannya di atas meja. Setelah itu, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu segera beranjak dari kedai tersebut.


Saat ini keduanya sedang berjalan di sebuah jalan setapak. Cakra Buana membawa Pendekar Tangan Seribu ke pelosok desa yang ada di sekitar kotaraja. Di tengah perjalanan, Pendekar Tangan Seribu mendadak berhenti dan bertanya kepada Pendekar Maung Kulon itu, ia penasaran sejak dari tadi.


"Pangeran, sebenarnya ada apa? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?" tanya Pendekar Tangan Seribu sambil memandang Cakra Buana sedikit agak tajam.


"Maaf sebelumnya paman. Karena aku, kau tidak jadi makan. Tapi asal kau tahu saja, ada beberapa orang yang menguping pembacaan kita tadi," kata Cakra Buana.


"Bagaimana bisa? Bukankah di sana keadaan ramai?"

__ADS_1


"Memang, tapi sepertinya mereka berilmu lumayan tinggi. Dan lagi …" Cakra Buana tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung memandang ke beberapa penjuru.


"Kalau memang sudah datang, segeralah keluar. Jangan bersembunyi seperti itu," ucap Cakra Buana agak kencang.


Pendekar Tangan Seribu sempat kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Cakra Buana. Padahal menurutnya, di sana hanya ada mereka berdua. Tapi tak lama, dari empat penjuru itu segera muncul empat orang yang memakai pakaian berbeda-beda.


Pendekar Tangan Seribu dan Cakra Buana cukup kaget, sebab yang mengikuti mereka adalah para pendekar Kerajaan Kawasenan. Namun kekagetan itu segera di tekan karena mereka mulai berjalan mendekat.


"Maaf, atas dasar apa kalian mengikuti kami?" tanya Cakra Buana. Suaranya ia ubah sedikit menjadi agak serak parau.


"Sebelumnya mohon maaf, kami hanya menjalankan tugas dari Yang Mulia Raja," kata seseorang yang memakai pakaian kuning. Ia memegang kipas berwarna hitam putih.


"Oh … begitu. Apakah ada pesan yang ingin di sampaikan oleh Yang Mulia Raja untuk kami?" tanya Pendekar Tangan Seribu.


"Tidak ada. Kami hanya sedikit heran saja, untuk apa kalian mampir ke kedai di pinggir danau. Dan untuk apa pula kalian jauh-jauh ke sini," kata seorang lagi. Dia memakai pakaian ungu, wajahnya terbilang masih muda. Di pinggangnya terselip seruling bambu kuning.


"Tidak usah berpura-pura lagi. Kalau memang kalian sudah mendengar apa yang kami bicarakan, untuk apa bertanya lagi?" Cakra Buana mulai agak kesal. Salah satu yant dibenci oleh Pendekar Maung Kulon adalah adanya orang lain yang berani menguping pembicaraannya.


"Hemm … sebenarnya apa yang kalian inginkan?" tanya Cakra Buana dengan sorot mata setajam golok.


"Tentu saja kami ingin pengakuan kalian yang sebenarnya. Ada apakah di balik ini semua? Yang Mulia Raja merasa curiga kepada kalian. Ia yakin ada sesuatu di balik semuanya. Asal kalian tahu saja, sehari sebelum kalian sampai di Kerajaan Kawasenan, seorang telik sandi sudah memberikan laporan terkait tewasnya Sepuluh Pendekar Saudara. Apa yang dia katakan, sangat bertolak belakang dengan apa yang kalian ucapkan," kata seorang berpakaian abu-abu. Kepalanya gundul, di pinggangnya terselip sebuah cemeti (cambuk) dengan ujung penuh duri tajam.


"Apa yang dia katakan?"


"Dia mengatakan bahwa Sepuluh Pendekar Saudara tewas di bunuh di dekat penginapan sekaligus kedai makan oleh seorang pendekar muda berpakaian serba putih. Dugaan sementara ini, pendekar muda yang dimaksud adalah si Pendekar Maung Kulon, Cakra Buana. Sebab menurut saksi mata, pelakunya menyoreng sebatang pedang yant dibungkus kain putih," kata orang itu melanjutkan.


'Ternyata ucapan pangeran benar-benar tepat,' batin Pendekar Tangan Seribu.


"Hemm … Apakah kalian yakin dengan cerita orang tersebut?"

__ADS_1


"Tentu saja. Sebab telik sandi itu orang-orang kami. Dan yang melaporkan kejadian, sekalipun ia bukan bagian Kerajaan Kawasenan, tapi setidaknya ia memiliki tujuan yang sama. Yaitu menginginkan Pendekar Maung Kulon tewas," katanya agak sedikit membentak.


Pendekar Tangan Seribu mulai berang. Dadanya turun naik dengan cepat. Nafasnya tidak beraturi. Telinganya sudah panas mendengar nama Cakra Buana disebut-sebut seperti itu. Untungnya Cakra Buana segera menahan tangan Pendekar Tangan Seribu. Ia memberikan kode supaya jangan dulu bertindak.


"Kalau begitu, kenapa orang yang kau maksud tidak membunuh si Pendekar Maung Kulon saat itu. Bukankah kau bilang bahwa dia sendiri ingin melihatnya tewas?"


"Kau jangan bodoh Pendekar Bertopeng. Cakra Buana si pemuda keparat itu memiliki kepandian yang tinggi. Bukan perkara mudah untuk membunuhnya, bahkan datuk dunia persilatan pun pernah ada yang tewas saat bertarung dengannya dulu. Meskipun sebelumnya si datuk itu terluka, setidaknya bukanlah hal mudah untuk membunuh tokoh dunia persilatan sepertinya," kata pendekar tua berpakaian hitam.


Cakra Buana tersenyum tipis di balik topengnya. Ia sedikit terkejut karena tidak disangka orang-orang seperti mereka mengakui kepandaian yang di milikinya.


"Lalu, kalau benar pelakunya dia, apakah kalian pikir bahwa kalian sanggup membunuhnya?" tanya Cakra Buana ingin mengetahui jawaban mereka.


Keempat pendekar Kerajaan Kawasenan itu terdiam. Mereka bingung harus menjawab bagaimana. Sebab sebenarnya mereka sendiri sangsi.


"Tidak ada jaminan bagi kami untuk bisa membunuhnya. Namun dengan keberadaan kami berempat, setidaknya kami bisa memberikan luka berat kepadanya,"


"Apakah itu sebuah kepastian?"


"Entahlah. Tapi kami yakin bisa memberikan luka berat jika bertarung bersama untuk melawannya," kata si pendekar tua.


"Bagus. Kalau begitu, mari kita segera mulai pertunjukan yang menarik," kata Cakra Buana.


"Maksudmu apa Pendekar Bertopeng?" tanya pendekar yang memakai pakaian ungu.


"Kita akan memulai pertunjukan menarik. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu dulu siapakah kalian ini? Tolong perkenalkan diri," pinta Cakra Buana.


"Untuk apa kau ingin mengetahui kami?"


"Lakukan saja," ucap Cakra Buana.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memberitahukan kepada kalian. Aku dikenal dengan sebutan Pendekar Tua, yang ini si Kipas Terbang, dia si Pendekar Seruling Bambu, dan satu lagi si Cemeti Iblis," kata kakek tua yang mengaku berjuluk Pendekar Tua.


__ADS_2