
"Bebaskan semua tawanan sebelum aku bertindak lebih kejam daripada ini," kata Langlang Cakra Buana memberikan sedikit ancaman.
"Kau sangat kurang ajar sekali anak muda. Berani sekali kau membunuh semua pasukanku. Kau belum tahu siapa itu Darma Loka?" orang itu mulai marah atas apa yang dilakukan Langlang Cakra Buana.
"Aku tidak peduli siapapun kau. Yang jelas, jika para tawanan tidak dibebaskan sekarang juga, akan kupastikan bahwa kau akan menyusul semua pasukanmu ke neraka," ucap Cakra Buana.
"Kurang ajar. Habisi anak muda sombong ini," kata Darma Loka memberi perintah kepada dua pendekar yang berada disisinya.
Kedua pendekar itu maju dua langkah. Keduanya sudah berusia cukup tua, kira-kira umur mereka sudah mencapai lima puluh atau enam puluh tahunan.
Kedua pendekar itu memiliki postur tubuh sama tinggi. Memakai pakaian yang sama, yaitu berwarna hitam dengan ikat kepala pula. Ciri-ciri tubuh mereka sana persis.
Yang membedakan hanyalah ikat kepala yang terbuat dari kulit hewan yang mereka pakai.
"Perkenalkan, aku Rara Bodas," kata salah satu pendekar yang memakai ikat kepala yang terbuat dari kulit ular putih.
"Dan ini adikku, Rara Belang. Kami berdua sering disebut Sepasang Ular Kembar," katanya memperkenalkan saudaranya sambil memberitahu julukan mereka.
"Aku tidak peduli. Aku Langlang Cakra Buana, seorang pendekar muda yang akan membunuh Sepasang Ular Kembar sekaligus junjungannya," kata pemuda serba putih itu.
"Sombong kau anak muda. Bersiaplah!!" kata Rara Bodas maju menyerang.
Sedangkan Rara Belang masih berdiri memperhatikan kakaknya itu.
__ADS_1
Rara Bodas sudah mulai memberikan serangan pertama berupa pukulan yang mengarah kepada pelipis. Tapi dengan mudah saja Cakra Buana memiringkan kepalanya. Sehingga pukulan pertama itu luput.
Tak berhenti sampai disitu, Rara Bodas sudah menyerang kembali dengan ganas. Kali ini kedua tangannya digunakan. Dia mulai memberikan hujan pukulan yang dahsyat.
Cakra Buana belum melawan. Dia hanya menghindari semua serangan Rara Bodas. Pemuda serba putih itu ingin mengukur sampai dimana kekuatan lawannya saat ini.
Belasan jurus sudah dilancarkan. Tapi semuanya tidak ada yang mengenai sasaran. Bahkan Rara Bodas belum bisa menyentuh Cakra Buana walau itu seujung rambut.
Karena hal inilah dia menjadi marah besar. Rara Bodas mundur ke belakang lalu untuk mengubah gerak silatnya.
Dia kembali menyerang Cakra Buana. Tapi kali ini gerakannya lebih ulet dan susah diikuti karena saking rumitnya.
Kali ini Langlang Cakra Buana tidak menghindari serangan Rara Bodas karena semakin lama semakin merepotkan. Dia mulai menahan setiap serangan musuh.
"Bukkk …"
"Ughhh …"
Melihat kakaknya terpental, Rara Belang langsung menghampirinya.
"Raka tidak papa?" tanya Rara Belang.
"Tidak Rai. Anak ini memiliki kepandaian yang lumayan tinggi. Sepertinya kita harus menyerang bersama jika ingin mengalahkannya," kata Rara Bodas.
__ADS_1
"Baik raka. Aku akan ikut turun tangan," jawab Rara Belang sambil membangunkan kakaknya itu.
Rara Bodas dan Rara Belang sudah berdiri bersama-sama. Kedua mata pendekar yang ternyata kembar itu mencorong melotot tajam kepada Langlang Cakra Buana.
Terlihat sudah kebencian dalam diri mereka kepada pemuda itu. Akan tetapi meskipun ditatap demikan, tetap saja murid mendiang Eyang Resi Patok Pati itu tidak gugup. Bahkan dia menatap balik tatapan keduanya.
"Rai, kita gunakan Ajian Raja Ular Kobra," kata Rara Bodas kepada Rara Belang.
Ajian Raja Ular Korba adalah sebuah ilmu aliran hitam. Ajian ini ditandai dengan berubahnya warna sampai pergelangan tangan menjadi warna hitam keunguan.
Jika sudah mencapai tahap sempurna, maka akan tercium bau busuk dari kedua tangan si pengguna. Efek yang ditimbulkan oleh ajian sesat ini adalah korban akan tewas seketika dengan mulut mengeluarkan busa.
Jika lawannya masih memiliki kepandaian rendah, maka bisa dipastikan dia tidak akan selamat. Bahkan yang memiliki kepandaian rata-rata pun bisa saja terluka parah karenanya.
Dua pendekar saudara yang dijuluki Sepasang Ular Kembar itu mulai merapalkan ajian. Mulut mereka komat-kamit cukup lama dengan mata terpejam.
Setelah selesai, keduanya segera membuka mata perlahan. Kedua tangan sudah berubah warna. Bahkan pendekar saudara itu mulai mengeluarkan bunyi desis bagaikan seekor ular.
Langlang Cakra Buana yang mengetahui kehebatan jurus ini mulai waspada. Diam-diam dia juga mengeluarkan ajian yang tak kalah hebatnya.
Pemuda serba putih itu mengeluarkan Ajian Dewa Tapak Nanggala yang dikombinasikan dengan jurus dari Kitab Maung Mega Mendung yaitu Ekor Melilit Buruan.
Tiga pendekar sudah siap bertarung kembali dengan ajian-ajian yang dahsyat. Ketiganya saling pandang sebelum akhirnya benar-benar melanjutkan pertarungan.
__ADS_1
Sepasang Ular Kembar menyerang. Keduanya memiliki gerakan cepat dan lincah seperti layaknya seekor ular. Desisan dari mulut keduanya terus terdengar membuat bulu kuduk sedikit merinding.