
Sementara itu, Langlang Cakra Buana yang sudah siap dari tadi bisa dengan mudahnya menahan dan menangkis serangan Kala Wira. Pertarungan antar tangan kosong tak dapat terhindari lagi.
Keduanya bertarung dengan cukup sengit. Kala Wira yang sudah terbawa emosi menyerang Langlang Cakra Buana dengan gerakan tak menentu. Makin lama gerakannya semakin kacau saja.
Langlang Cakra Buana pun tak mau kalah, Pendekar Maung Kulon itu mulai menyerang Kala Wira setelah dari tadi hanya menahan dan menangkis serangan yang diberikan oleh Kala Wira.
Tanpa mau berlama-lama lagi, pemuda serba putih itu langsung mengeluarkan jurus pertama dari Kitab Maung Mega Mendung yaitu Cakar Harimau.
Kedua jari dan telapak tangannya mulai mengembang sehingga berbentuk layaknya cakar seekor harimau. Dia mulai memberikan serangan yang cukup merepotkan dimata lawan.
Kedua tangan yang sudah membentuk cakar harimau itu dia ayunkan kesana kemari mengikuti gerakan Kala Wira. Setiap ayunan tangan itu selalu menimbulkan hawa panas dan angin yang cukup kencang.
Di sisi lain, rekan Kala Wira pun cukup terperangah saat melihat gerakan yang diperagakan oleh Langlang Cakra Buana. Meskipun mereka tidak mengetahui pasti jurus apa yang pemuda itu gunakan, tapi setidaknya mereka juga faham bahwa jurus silat itu merupakan jurus yang berbahaya.
Tapi namanya juga seorang pemimpin, tentu saja Kala Wira tidak bisa dikalahkan dengan cepat. Dia pun mulai membalas serangan yang diberikan Langlang Cakra Buana dengan jurus silat andalannya.
Hingga pada suatu ketika, kedua telapak tangan dua pendekar itu beradu dengan sangat keras dan menimbulkan deru angin yang lumayan kencang sehingga menyapu debu-debu yang ada disekitar itu.
"Desss …"
Keduanya terkenal mundur beberapa langkah. Bahkan Kala Wira terlihat sempoyongan setelah beradu tapak dengan Langlang Cakra Buana. Tapi di sisi lain pemuda serba putih itu hanya terpental tanpa terhuyung layaknya Kala Wira.
Dari sini saja bisa dibayangkan bahwa kepandaian murid Eyang Resi Patok Pati itu tidak bisa dianggap remeh.
__ADS_1
Kala Wira juga cukup kaget saat melihat pemuda yang menjadi lawannya tidak terhuyung seperti dirinya sendiri. Terlebih pemuda itu hanya terpental beberapa langkah saja.
Karena sudah mengetahui bahwa pemuda yang menjadi lawannya kini tidak bisa dianggap remeh, tanpa basa-basi lagi dia pun berniat untuk mengeluarkan ajian yang dia miliki.
Kala Wira mulai melakukan gerakan sedemikian rupa. Tangan kanannya ditaruh didepan dada seperti sedang menyembah, sedangkan tangan kirinya ditaruh dibawah tangan kanan itu.
Dia mulai memejamkan matanya. Mulutnya komat-kamit merapal sebuah ajian. Tiba-tiba saja muncul angin kencang ke arahnya sehingga rambut dan bajunya pun berkibar akibat angin itu.
Berselang satu tarikan nafas kemudian. Dia mulai membuka matanya. Bola mata Kala Wira menjadi hitam sepenuhnya. Dua taring yang tajam mendadak muncul.
"Kau makan Ajian Setan Gunung ini bocah …" ucap Kala Wira sambil bersiap untuk menyerang Langlang Cakra Buana kembali.
Dua pendekar itu sudah kembali bertarung. Tapi betapa kagetnya ketika Langlang Cakra Buana menahan serangan Kala Wira. Pemuda itu merasakan bahwa lawannya kini seperti memiliki tenaga berkali lipat lebih besar.
Karena terus diserang tanpa henti, perlahan pemuda serba putih itu mulai terpojok hingga akhirnya Kala Wira berhasil memberikan pukulan yang telak mengenai lehernya sehingga dia terpental sejauh lima tombak.
"Ughhh …"
Langlang Cakra Buana merasa lehernya seperti patah saja. Bahkan ada darah keluar di sudut kanan bibirnya. Bukan hanya itu, murid Eyang Resi Patok Pati itu juga merasakan adanya hawa panas yang mulai menggerogoti tubuhnya.
Buru-buru dia mengeluarkan hawa murni untuk menekan hawa panas itu. Dia perlahan kembali berdiri, tanpa menunggu lama pemuda itu langsung saja mengeluarkan ajian miliknya pula.
"Ajian Dewa Tapak Nanggala …"
__ADS_1
"Wushh …"
Pemuda itu langsung menyerang Kala Wira dengan kecepatan tinggi. Dia mulai memberikan serangan tapak yang sangat mematikan kepada lawannya tersebut.
Karena saking cepatnya serangan Langlang Cakra Buana ditambah bahayanya Ajia Dewa Tapak Nanggala, hanya beberapa gebrakan saja pemuda itu berhasil menjatuhkan ajian tersebut tepat ke ulu hati Kala Wira.
"Ahhh …"
Kala Wira terpental ke belakang lalu bergulingan. Dia memuntahkan darah agak kehitaman yang cukup banyak. Tubuhnya terasa terbakar saat menerima serangan Langlang Cakra Buana itu.
Melihat rekannya bisa dilukai parah oleh seorang pemuda yang tak mereka kenal bahkan belum pernah mendengar namanya di dunia persilatan, tentu saja kedua rekanya yang sama-sama seorang pemimpin tidak terima.
Keduanya langsung maju menyerang dan mengeroyok pemuda serba putih itu dengan amarah yang sudah memuncak. Keduanya langsung memberikan serangan yang berbahaya.
Dilihat dari gerakan dan serangan, kedua pemimpin ini agaknya lebih kuat daripada Kala Wira. Terutama pria tua pendek yang sebelumnya sempat bicara dengan Langlang Cakra Buana.
Meskipun badannya pendek, tapi tenaganya amatlah besar. Bahkan lebih besar daripada Kala Wira dan satu rekannya lagi. Kini ketiga pendekar itu berhenti sejanak dan saling berhadapan.
###
Jika ada saran dan komentar silahkan tulis dengan bijak. Jika novel ini dirasa cukup baik, mohon bantu untuk dijadikan referensi cersil nusantara ya, hehe … 🙏🙏
Salam Manis Buat Kalian☕
__ADS_1